Tuesday, April 3, 2018

Something About ...

Tbh, agak nggak yakin sih mau nulis gini. Tapi makin lama, kok makin nggak bisa tidur gue. Kayanya pengen aja gitu melampiaskan semacam, huh, apa ya, kekesalan? Kebingungan? Ketidakpahaman? Ke-kok-bisa-sih-kejadian-kaya-gitu-an? You named it apa pun lah ya, terserah.

Intinya mungkin lebih ke, gue kecewa. Baru aja, gue melihat sesuatu yang viral di sosial media, yang bikin gue nyesek (dan mungkin juga nggak suka). Nggak usah gue jelasin lebih lengkap deh itu apaan. Gue kasih clue dikit-dikit abis ini juga pasti pada paham.

Harusnya nih ya, gue suka sama yang namanya puisi. Pun setelah gue baca kata demi kata yang terangkai dalam puisi viral tsb, jujur, indah. Pemilihan diksinya bikin gue terpengarah. Apalagi dibawakan di acara besar, yang gegap gempita, dengan segenap orang-orang penting terlibat di dalamnya. Yang membawakan juga orang sama penting kan.

Tapi kenapa deh? Kenapa isinya harus begitu? Harus banget menyinggung agama? Apesnya lagi, kenapa agama gue deh? Jelas banget itu. Entah maksudnya sebaik apa pun, entah kenapa logika dan perasaan gue kok jadi merasa "diserang" mendengarnya. Gue merasa ada suatu perbandingan yang ditaruh di situ. Kenapa harus membandingkan sesuatu yang menurut gue nggak seharusnya dibandingkan? Membandingkan agama dengan budaya maksudnya kah..? Aneh. Jujur aja, menurut logika seorang gue, itu aneh. Bahkan yang judulnya sama-sama agama saja, menurut gue mending jauh-jauh dibandingin deh. Lha ini, malah dua substansi yang menurut gue (lagi) adalah berbeda. Jadi mirip aja gitu, sama menilai kejeniusan ikan dan gorila dari kemampuan mereka memanjat pohon.

Yah, gue tahu sih, gue juga random banget bahas ginian yak. Pakai cadar aja enggak. Haha. Kualitas ibadah gue? Yah, biar Allah S.W.T dan gue yang tahu deh (melipir, nangis di pojokan, berdoa semoga bisa menjadi lebih baik). Well ditanya gue udah ngelakuin apa buat negara sampai bisa nulis gini pun, paling jawaban gue standar. Hidup, kerja, bayar pajak, bayar zakat. Udeh. Nah makanya, gue bahas di awal kan. Murni karena gue ngerasa nggak enak aja, dan yah, ingin ngeluapin apa yang ada di otak dan hati ini. Jadi, gue cuma bisa minta maklumnya. Haha.. Dan, yah, gue cukup nggak suka ternyata dengan (isi) puisi tsb, dan yah, heran itu tadi. Enggak habis pikir aja. Sangat disayangkan aja, jika memang niatnya baik, tapi ternyata justru menimbulkan perpecahan kan.

Dan satu lagi, masih nggak habis pikir, bagaimana yang mengucapkan menolak jika ia dikatakan SARA, padahal jelas yang dia ucapkan adalah salah satu agama? SARA = suku, ras, agama, kan? Yang intinya nggak boleh menyinggung itu kan? Berkemas di balik kata "fakta" dan "budayawati"? I don't get it. Mungkin memang ilmu gue yang masih kurang, atau umur gue yang masih terlalu muda. But if I can say one more thing again, kalau memang konteks puisi tsb adalah dari orang-orang Indonesia yang tidak tahu agama ini, kenapa, kenapa yang dibahas adalah konde dan kebaya? Selama ini gue kira kebaya dan konde itu aslinya dari Jawa aja padahal (and maybe gue salah yah). Dan kenapa satu agama itu saja yang dibahas? Nggak sekalian agama yang lain? Apa karena oleh penyair, memang hanya itu yang bermasalah? Kenapa mengatakan adzan tidak semerdu tembang? Sementara di saat yang sama, gue sendiri cukup dengar "Allahu Akbar", sudah menjadi lebih tenang. Walaupun jujur, gue juga masih menikmati merdunya tembang jawa yang diputar di nikahan-nikahan. Rasanya cukup kan, dengan katakan jika kidung Ibu Indonesia begitu merdu. Meninggikan saja, tak apa, tapi jangan rendahkan yang lain kan bisa?

Ah sudahlah. Gue sendiri berharap, dan berdoa tentunya. Semoga nggak lagi-lagi ada lah kaya gini ini. Jangan lagi please.. Apalagi di era sosmed kaya gini kan, berita APAPUN gampang sekali nyebar. Yang nggak penting macam ABG joget-joget aja bisa jadi bahan omongan banyak orang, apalagi yang kontroversial macam ini. Imho, people jaman now lebih gampang terprovokasi juga. Rasanya akan lebih bijak untuk tidak memancing perseteruan kan. Hehe..

Sunday, April 1, 2018

(Mencari) Keputusan. Bukan Keputusasaan.

Malam gelap mengiringku.
Berpikir dan merenung dalam.
Dalam diam.
Berpikir lagi, lagi, dan lagi.
Seakan tak ada henti.
Entah sampai kapan.
Karena yang kucari belum juga kutemukan.

Ini malam ke berapa?
Terasa begitu lama.
Terlalu lama.
Aku belum temukan apa-apa.
Kosong.
Buntu.

Gamang.
Masih kurasa.
Teringat kembali pembicaraan yang lalu.
Sudah lalu, namun masih berlaku.
Tidak bisa kutinggal lari, seperti biasa.
Karena tiap hari, aku menghadapinya.

Kabur, bukan solusi.
Diam pun, bukan.
Pura-pura lupa, apa lagi.

Ini tanggung jawabku.
Yang bukan anak kecil lagi.
Walau sulit untuk ku selesaikan.
Walau aku harus lebih sering mengerutkan kening.
Walau aku masih perlu waktu, lagi, dan lagi.
Akan tetap kuemban.
Akan tetap,
kucari jawaban.

Tunggu.
Dan bersabarlah.
Karena aku hanya ingin,
yang terbaik lah yang terlaksana.