Showing posts with label random thoughts. Show all posts
Showing posts with label random thoughts. Show all posts

Wednesday, August 20, 2025

Just My Two Cents and Ascariasis

First of all, disclaimer dulu, yang akan gue tulis di sini mostly adalah opini gue sebagai seorang tenaga medis dan kesehatan, yang juga bekerja di rumah sakit, atau fasilitas rujukan tingkat lanjut menurut istilah dari pemerintah. Dan ya, saya masih bekerja di Indonesia, hampir 10 tahun belakangan ini. Yang kedua, jujur perasaan gue campur aduk mengetahui ada kasus ini. Sedih, iya. Marah, iya. Heran, juga iya. Turut mendoakan, iya. Gue termasuk golongan yang percaya, after life itu ada. Gue yakin, adik kecil saat ini sudah dalam perjalanannya menuju after life, dalam kondisi sudah tidak sakit. Aamiin.

Apa masih bertanya-tanya, kira-kira gue bahas apa atau siapa? Iya, gue menyoal adik kecil yang viral karena sakit parah, yang juga ditemukan infeksi parasit cacing di tubuhnya. Banyak cacing, yang dalam istilah medis disebut askariasis. Innalillahi wainnailaihi rojiun, turut berduka cita nggih, Dik. Sangat sedih rasanya mengetahui, ada kasus seperti ini. Terinfeksi banyak cacing tentu bukan perkara tiba-tiba. Ada jeda waktu sampai infeksi sudah parah. Kenapa gue beropini sudah parah? Karena sudah ada migrasi ke organ, dan juga ada kondisi penurunan kesadaran. Iya, cacingnya keluar dari hidung, juga dari bagian lain. Keluar dari hidung, artinya cacing yang awalnya berhabitat di usus pindah ke sistem pernafasan. Gue pun miris, mengetahui bahwa adik ini adalah anak dari ODGJ. It takes a village to raise a child, but in her case? Orangtua dia bahkan juga memerlukan perhatian khusus.

Gue sedih, iya. Tapi jujur saja, sedikit juga agak emosi, setelah mengamati sebuah artikel online yang lewat di beranda sosial. Komentar para netizen, entah mengapa, seperti biasa, rumah sakit yang menanganinya yang jadi paling salah. Dan setelah gue teliti lagi, akhirnya ketemu kalimat-kalimat populis yang rasanya sering ditemui dilempar ke publik, "Namun harapan sembuh terhambat karena persoalan administrasi," Maka, akan jadi wajar, respons para warga adalah, "Ya ampun, udah urusan nyawa kok masih dipermasalahkan administrasi," Dan ditujukan ke siapa? Yak, pihak RS yang menangani. Padahal, kalau diperhatikan lebih teliti, si Adik dibawa ke RS dalam kondisi penurunan kesadaran dan tensi drop. Untuk dewasa saja kondisi tersebut artinya bahaya, dekat nyawa, apalagi untuk anak usia 4 tahun dengan riwayat tumbuh kembangnya di bawah kurva. Kondisi gizi kurang, artinya kemungkinan besar sistem imun tidak baik. Sistem imun tidak baik, tubuh rentan terserang infeksi, yang bisa komplikasi menjadi berat. Bisa saja terdapat sepsis, syok, atau perforasi organ yang menyebabkan kondisi si Adik sangat buruk. Dalam kondisi tersebut, si Adik dibawa ke RS, walau tanpa memiliki dokumen kependudukan dan tidak punya jaminan sosial. Namun, apa iya karena hal tersebut lalu si Adik didiamkan saja? Bukankah sudah dilakukan penanganan di IGD yang dilanjutkan perawatan intensif di PICU (Unit Rawat Intensif Anak)? Di media disampaikan bahwa batas pengurusan status pembiayaan pasien adalah 3 hari, dan jujur dari pengalaman selama ini berkutat dengan BPJS Kesehatan di RS, memang begitu peraturan untuk dapat menggunakan BPJS Kesehatan dalam suatu layanan rawat inap di RS. Harus bisa diaktifkan dulu dalam kurun waktu maksimal 3 hari setelah pasien dapat perawatan, baru bisa dianggap penjaminannya menggunakan BPJS Kesehatan. Ini terlepas dari kekhususan-kekhususan yang ada di masing-masing daerah ya. Maksudnya gimana? Maksudnya, ada beberapa daerah di Indonesia yang sudah menerapkan 100% Universal Health Coverage (UHC), di mana jika ada warga daerah tersebut yang membutuhkan bantuan penjaminan kesehatan namun belum terdaftar / aktif BPJS Kesehatannya, pemerintah daerah akan hadir dan membantu, mengupayakan aktivasi tersebut dengan menjadikan pasien menjadi peserta BPJS Kesehatan dengan jenis Penerima Bantuan Iuran bersumber APBD (PBI APBD). Jujur, hal ini menjadi salah satu pengalaman gue di Kota Malang, Jawa Timur. Walau memang komunikasi dan koordinasi yang dilakukan ekstra, karena harus lintas dinas, Alhamdulillah terbayarkan dengan akhirnya pasien saya saat itu, bisa dijaminkan ke BPJS Kesehatan.

Akan tetapi, pada kasus Adik ini, yang juga membuat saya tergelitik adalah, apakah pihak RS lantas menghentikan perawatan yang diberikan karena administrasi tersebut? Opini sotoy gue, keyakinan gue, enggak. Bukan begitu kasusnya, sepertinya. Apalagi RS tsb RSUD, mereka ada untuk provide. Even RS swasta pun standar etiknya tidak begitu. Perawatan pasti lanjut, hanya saja urusan pembiayaan akan menjadi di luar BPJS Kesehatan. Kenapa? Karena lewat 3 hari, Surat Eligibilitas Pasien (SEP) yang merupakan syarat untuk mendapatkan layanan BPJS Kesehatan, tidak akan bisa dicetak sesuai dengan tanggal perawatan yang diterima. Sementara BPJS Kesehatan di sini, bagi banyak RS dan pasien adalah sumber harapan karena dapat menjadi payor untuk banyak masyarakat yang membutuhkan. Dan tahukah Anda, bahwa nakes-nakes itu banyakan juga gemes dan sering dilema kalau sudah ada kasus terkait biaya begini. Kaya di RS tempat saya kerja, belum ada anggaran khusus untuk menjamin pembiayaan pasien-pasien yang tidak mampu dan tidak memiliki jaminan sosial, karena apa? Uangnya terbatas. Sumber daya terbatas. Untuk jasa manusia nya, mungkin bisa beberapa nakes mengikhlaskan (jujur ada kok yang begini, cuma gak koar-koar aja). Tapi untuk sarana berupa obat, bahan habis pakai, makanan, minuman? Butuh beli. Untuk 1 pasien saja dapat begitu besar sumber daya yang diperlukan.

Jujur, agak menyayangkan akhirnya. Kenapa harus ada redaksi tersebut, hingga akhirnya banyak warga yang malah menyalahkan pihak yang sudah memberi penanganan. Kontrak dengan layanan kesehatan itu, in my opinion, never, gak akan pernah tentang hasil berupa kesembuhan. Gue pribadi sebagai dokter, selalu diwanti-wanti. Bukan kesembuhan yang kami berikan, tapi upaya maksimal yang bisa dilakukan agar penyakit dapat ditangani. It is always "art and medicine" to me. Kasus ini menurut gue pun masalahnya sistemik, gak cuma satu dua pihak saja. Di banyak titik, di banyak rentang waktu. Pun masalah administrasi, baiknya dapat menjadi bahan evaluasi oleh pemerintah setempat. Ternyata butuh > 3 hari untuk aktivasi BPJS Kesehatan si Adik? Dilempar dari satu instansi ke instansi lain? Ayok, yang berwenang, rembuk bareng evaluasi. Bagian alur yang mana yang bisa diperbaiki? 

Lalu, menurut gue yang nggak kalah penting, agar tidak lagi berulang kasus yang sama, bagaimana cara mencegahnya? Bagaimana agar tidak ada lagi warga yang parah dulu baru dibawa periksa? Bagaimana agar tidak ada lagi warga yang tidak memiliki identitas? Bahkan orangtua si Adik juga tidak punya KK. Mengapa bisa dibiarkan? Apa mereka tidak dianggap warga karena kondisi khususnya? Bagaimana agar ada sistem jaminan sosial yang baik yang dapat menjangkau keluarga-keluarga lain yang serupa dengan si Adik? Apa yang bisa kita lakukan, baik sebagai lingkungan terdekat sampai lingkungan yang terjauh? Kalau menurut gue, yang gerak harus banyak. Nggak bisa kalau sudah sistem, lalu yang di"glendoti" cuma satu-dua saja. Harus bareng. Warganya dibekali ilmu pengetahuan dan pemahaman lebih, lalu yang menjabat membuat sistem yang lebih manusiawi dan efisien.

Kasus ini menjadi atensi, sangat wajar. Kita geram, sangat wajar. Tapi tolong, tidak perlu memperkeruh dengan saling lempar kebencian. Apalagi kebencian nya salah dasar. Gue rasa atensi publik ini baiknya dapat lebih berperan sebagai "control" agar pihak-pihak yang terkait juga bisa serius berbenah. Tetap berisik, tapi jangan sampai salah marah-marah ya. Sometimes yang kita jadikan lawan itu, sebenarnya punya tujuan dan visi yang sama. Hm, kayanya segini dulu ya "koin-koin" yang gue utarakan. Hope (in some ways) it helps. Doa tulus gue, agar kejadian seperti ini, tidak ada lagi. Aamiin.  

Wednesday, December 27, 2023

Taking Side

Dulu, when I was a young girl, I used to think that, being "neutral" is the best and coolest choice to do. Kamu tidak perlu berpihak pada siapapun, di saat ada suatu konflik, di saat ada pertentangan antara beberapa pihak. Netral. Indeed, back then, "neutral" is sooo cool for me. Just stay in the middle. Cukup. Kaya gitu aja, kamu sudah "baik", kamu sudah keren. Kamu sudah tidak ikut bertikai.

Tapi itu dulu. When I was a naive girl.. Sekarang, di akhir tahun 2023, tidak kusangka terjadi kejahatan luar biasa yang benar-benar menyayat hati ini. Sudah masuk di bulan kedua, namun belum ada tanda semua itu akan berhenti. Pembantaian rakyat di Palestina, yang ternyata sudah dimulai sedikit demi sedikit dari beberapa puluh tahun silam. 

Orang banyak bilang, itu perang. Perang yang rumit. Perang antara dua pihak, dimana Palestina yang memulainya duluan. Tapi, perang macam apa, yang menargetkan anak-anak bahkan bayi dan balita? Menyerang rumah sakit, tempat masyarakat sipil yang sudah terluka dan tidak berdaya mencari perlindungan? Perang macam apa, yang sudah korban meninggal, masih pula dirampas organ-organ tubuhnya? Bukankah itu semua tindakan kriminal keji? All is fair in love and war? No. 1000% NO. Dan bagaimana bisa, yang diusir dari tanahnya adalah yang memulai duluan?

United Nation says..

"War crimes are those violations of international humanitarian law (treaty or customary law) that incur individual criminal responsibility under international law. As a result, and in contrast to the crimes of genocide and crimes against humanity, war crimes must always take place in the context of an armed conflict, either international or non-international.

From a more substantive perspective, war crimes could be divided into: a) war crimes against persons requiring particular protection; b) war crimes against those providing humanitarian assistance and peacekeeping operations; c) war crimes against property and other rights; d) prohibited methods of warfare; and e) prohibited means of warfare.

Some examples of prohibited acts include: murder; mutilation, cruel treatment and torture; taking of hostages; intentionally directing attacks against the civilian population; intentionally directing attacks against buildings dedicated to religion, education, art, science or charitable purposes, historical monuments or hospitals; pillaging; rape, sexual slavery, forced pregnancy or any other form of sexual violence; conscripting or enlisting children under the age of 15 years into armed forces or groups or using them to participate actively in hostilities."

Lalu untuk apa, aku berada di tengah-tengah antara si penjahat perang dan korban? Bukankah aku semua pihak harusnya ada di pihak korban? Bukankah ini waktunya, yang salah dihukum dan yang benar dibela? Bukankah seharusnya yang salah yang dilawan? Mungkin masih bingung, siapa pelaku dan siapa korban? Namun, bukankah jelas dan terang benderang, siapa yang sedang membantai siapa?

Aku tahu, lokasi terjadinya kejahatan itu sangat jauh dari diriku saat ini. Aku tidak mengerti bahasa yang mereka gunakan. Aku tidak kenal mereka. Tapi, mereka kan saudaraku juga, sesama manusia.. Ada pula saudara seimanku di sana. Mereka sedang dijajah, bertaruh nyawa hari demi hari, untuk makan dan minum saja sulit. Apakah hatimu tidak ikut merasa sakit, melihat sekian banyak manusia tidak berdaya dan dipermainkan begitu saja, hidupnya? Bahkan satu kasus penyiksaan anak di negeri sendiri saja, rasanya membuat darah ini mendidih. Lalu bagaimana dengan ribuan anak-anak di sana yang pergi begitu cepat karena dibunuh?

Di saat begitu banyak orang berada di tengah, bersikap netral, bukankah mereka yang sedang menjajah akan menjadi lebih leluasa? Karena yang dijajah ini yang bersikap menerima agresi yang datang kepada mereka. Yang hidup dalam teror. Yang hanya bisa bertahan dan membalas sebisanya, sebisanya yang mereka lakukan. Mereka sudah kehilangan banyak, kenapa harus pula kehilangan dukungan. Apakah mereka memang harus begitu saja hilang? :( Setidaknya, sedikit tepukan di punggung dan doa yang tulus, bukankah bisa tetap menyalakan secercah harapan bagi mereka? Harapan untuk semuanya segera usai, dan merdeka.

Aku tidak bisa bantu apa-apa. Tapi setidaknya, dari sedikit yang dapat kulakukan, kepada mereka lah aku berpihak. Karena penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Aku mendukungmu untuk merdeka. Free Palestine, Viva Palestina.

Tuesday, January 26, 2021

Luka

Ternyata, untuk merasa sakit, kamu tidak harus jatuh atau dipukul terlebih dahulu. Rasa sakit yang mengenai organ tidak terlihat, ternyata nyata. Sialnya, luka itu tidak bisa dilihat. Kalau luka biasa yang bisa kita lihat, terpampang di kulit kita, bisa dirawat tiap hari. Diberi obat. Lalu perlahan menyembuh. Kita tahu prosesnya. Kita tahu kapan proses itu terganggu, ketika luka lambat laun menjadi bernanah, misalnya. Ada infeksi kuman yang mengintervensi, dan yah, masih bisa kita atasi lagi kemudian. Beri obat antiinfeksi. Tapi luka di batin? Hanya dapat dirasakan.

Rasanya juga bisa berbeda-beda. Ada yang mirip nyeri dada, tapi entah dimana. Ada yang hanya merasa hampa. Di sisi lain, mungkin hanya merasa tidak nyaman. Rasa nyeri dan tidak nyaman itu nyata, tapi butuh jiwa yang jeli, untuk dapat mengawasinya berproses. Jeli, super jeli. Apakah luka itu akan sembuh sempurna, kembali seperti sedia kala, atau meninggalkan bekas yang tak hilang selama proses penyembuhannya, atau.. Tidak sembuh dan masih menganga.

Hanya saja, kita tidak bisa lihat.

Jadi kalian, yang sedang sakit hatinya, yang sedang luka batinnya, bertahanlah. Bersikap lebih baiklah dengan dirimu yang sedang luka. Istirahatkan organ yang sedang sakit itu, beri waktu baginya untuk berduka, namun jangan berlarut. Karena rasanya eman sekali jika satu hidup yang kita punya, hanya dipakai untuk berduka. Kamu berhak, dan bisa sembuh. Kamu berhak bahagia.

Semangat, semoga kalian segera menemukan obatnya.

Tuesday, July 2, 2019

Tidak Minta Dilahirkan - Sekelumit Pemikiran

Once, gue pernah curhat sama Emak, lewat telpon, masalah sepele aja sebenernya, tapi cukup bikin baper. Masalah apa? Asa. Ya, anak kesayangan gue yg selalu pinter dan lucu itu. Yang dipermasalahin apa? Tingkah dia. Yang padahal yah, cuma tingkah normalnya anak-anak. Ngambeknya balita gak mau makan, ngambeknya balita gak mau ganti popok, ngambeknya balita yang tiba-tiba nangis minta hal absurd, atau tingkah dia yang bolak balik ngajak main atau cari perhatian di saat badan gue remuk seremuk-remuknya (efek pulang jaga atau as usual, ada masalah di BPJS). Rasanya waktu itu kaya beraaaaat amat dah ah cobaan gue. But then my Mom said, "Sabar. Anak kan nggak pernah minta dilahirkan,"

And now, habis melihat beberapa kejadian, entah kenapa pikiran ngalor ngidul gue ini kembali mengingat momen curhat itu tadi.

Iya, ya. Mana ada anak minta dilahirin? Mana ada anak bisa milih ortunya siapa? Not in a negative way, yang terus seakan-akan anak ya nggak ada hubungan atau nggak perlu berterimakasih dengan ortu ya, tapi, lebih ke, anak itu, lahirnya mereka, adalah tanggung jawab orangtua. Mereka lahir ke dunia, kosongan. Kaya kertas putih baru beli dari toko, bersih. Mereka lahir dalam keadaan tidak berdaya, rapuh, ringkih, yang lalu berkembang, bertumbuh, belajar, dimana tiga proses itu rasanya sebagian besar porsinya dipegang oleh ortunya kan? Atau siapapun yang merawat mereka. Jadi kan harusnya, ya orangtua harus sabar. Karena mereka yang kosongan, kita yang sudah keisi. Mereka sedang belajar menyampaikan, kita yang sudah lancar bicara dan mengenal apa itu emosi. Lagipula, anak bukanlah orang dewasa dalam ukuran kecil. Mereka newbie di dunia yang serba kompleks ini.

And children see, children do. Gue percaya parah sih sama ini. Karena meniru itu ya proses belajar mereka. Dari yang kosongan, jadi keisi. And that's why, sebagai orangtua, atau orang-orang yang berada di sekitar anak, yang sedang berproses menjadi lebih berisi itu, yang sel-sel otaknya secara ilmiah sedang berkembang pesat, menurut gue nih, harusnya lebih berhati-hati.

Jujur aja, pemikiran kaya gini muncul dari satu dua kejadian yang baru aja gue alami. Pertama, gue ditemukan dengan anak balita, usia 3 tahunan, yang bisa dengan mudahnya ringan tangan memukul dengan keras balita yang lain. Cuma karena mau ngambil mainan dari balita lain itu? And then, di lain waktu, gue ditemukan lagi dengan balita lain, usia 2 tahunan, yang gue kaget dia bisa jawab "bodo amat" begitu dapat pertanyaan siapa namanya dari orang yang lebih tua di sekitarnya. Dan mirisnya, orang-orang lebih tua itu rata-rata tertawa, seakan itu hal yang lucu. Kenapa malah jadi lucu? Bukankah itu nggak sopan? Jujur deh gue nggak paham. And then, mirip-mirip, seorang anak yang dengan semangat cerita ke keluarganya dengan bahasa kasar, menjelek-jelekkan gurunya. Tapi ya terus gitu, keluarganya tertawa, seakan itu hal yang lucu dan menghibur. Why? Jujur ya, gue bersyukur menjadi salah satu orang dewasa, dimana saat gue menjadi anak, gue memegang teguh nilai bahwa guru adalah pengganti ortu gue selama di sekolah. Nggak pernah merasa rugi dengan itu, thanks to my beloved parents.

Gue nggak tahu juga sih, ini apa gue yang lebay apa gimana. Tapi deep down inside, gue percaya, di saat kebiasaan sudah menjadi watak, maka jangan harap watak bisa diubah. Apalagi setelah anak itu jadi dewasa. Maka, bukankah lebih baik membiasakan yang baik semenjak dini? Semenjak mata anak-anak itu masih membelalak lebar mengamati sekitar, merasa heran, merasa penasaran, merasa kagum dengan ortunya, dan juga merasakan.. cinta. Cinta yang tak terbendung, tanpa syarat, dari orangtua yang sedang merawat mereka. Bukan berarti menjadikan mereka robot juga, yang tunduk perintah ini itu. Tapi, lebih ke transfer ilmu, begini lo sayang, kalau jadi manusia.. Jadi manusia yang baik. Toh mereka nantinya tidak akan selalu jadi anak. Merekalah yang kelak menggantikan kita-kita yang menua. Mereka yang akan jadi dewasa, jadi tulang punggung suatu peradaban juga kelak.

Karena ya itu tadi kan, anak tidak pernah minta dilahirkan. Jadi, ya ayuk lah, kita sebagai ortu, bisa lebih sabar lagi, lebih bertanggung jawab lagi, lebih giat berdoa dan berusaha lagi, untuk merawat titipan Yang Maha Kuasa tersebut dengan sebaik-baiknya. Membekali mereka dengan baik. Karena mereka ndak akan hidup sendirian nanti. Mereka manusia, yang mana manusia adalah makhluk sosial. Jika ada pilihan menjadi baik, kenapa tidak diusahakan? Iya kan?

Tuesday, November 20, 2018

Change! Usaha untuk Jadi Lebih Baik

Disclaimer: I don't have any intention to tell you about right or wrong. Simpel, aku cuma mau sharing. Just want to express what's inside my mind. So I hope you all don't mind, yes..;-)

Ini cerita saya, tentang sebuah perubahan yang saya lakukan. Hehe. Iya, orang sedatar saya, bisa juga memutuskan untuk berubah. Orang seskeptis saya, yang selalu memiliki paham bahwa "berubah belum tentu lebih baik" bisa juga ternyata berubah. Bisa dibilang saya termasuk orang yang enggan berubah atau bergerak. Tapi ternyata, bisa juga. Hehe..

Perubahan apa? Tidak banyak. Hanya memutuskan untuk mulai menggunakan jilbab untuk sehari-hari. Ya, beberapa saat setelah bulan Ramadhan tahun ini. Alhamdulillah. Jujur, bukan sesuatu yang mudah. Jujur, di awal pun jelas bingung, bimbang, apalagi dengan pemahaman-pemahaman yang tertanam pada saya semenjak muda. "Jilbab itu, wajib untuk isteri para mukmin. Jadi ya pas kamu udah jadi isteri, isteri orang mukmin, baru pakai," begitulah kira-kira ucapan seseorang yang selalu terngiang-ngiang..:-) Walaupun di saat belum menikah pun aku merasa, memakai jilbab itu bukan sesuatu yang buruk, justru cenderung ke arah baik. Yah, walaupun pada kenyataannya saya juga tidak langsung berjilbab setelah menikah. Hehe..

Long story short, sampailah saya pada keputusan ini. Di saat saya sudah setahun lebih berumah tangga, saya putuskan untuk berjilbab. Kenapa? Karena ingin. Kenapa ingin? Hm, sulit saya jelaskan. Haha.. Sebutlah tiba-tiba saya ingin. Hahahaha.. Yes, saya orangnya kind of impulsive kok emang. Apa disuruh suami? Tidak. Tapi betapa bahagia saya, begitu mendiskusikan hal ini dengan suami, dan dia sangat mendukung. Papa saya juga. Papa senang sekali begitu tahu anak perempuan pertamanya ini mau pakai jilbab. Saya jadi lebih bahagia gitu, bisa semacam bawa kabar baik ke orang-orang tercinta. Huehehehe..

Awal-awal saya pakai jilbab, jujur saja, perjuangan sekali. Mana sebelumnya kan kesan saya selebor banget ya, asal gitu lho. Dan secara kan ada norma tidak tertulis jika pemakai jilbab itu tuh harus "(selalu) baik" ya. Hahaha.. Kind of beban, tapi gue sepaham sih. Secara dengan pakai jilbab kan identitasmu makin jelas. Mungkin, di saat orang lihat kamu pertama kali, dia akan membatin, "Oh, orang Islam.." Get it? Yes, mau nggak mau, orang memakai jilbab jadi semacam representative dari agama Islam ini. Walaupun gue juga percaya nggak ada namanya manusia yang sempurna, terlalu hitam, atau terlalu putih, menjaga nama baik Islam itu penting. Dan ini make sense menurut saya. Yah, makanya kalau ada orang-orang bilang "Jangan salahkan jilbabnya, tapi orangnya," di mata saya hal tersebut 11:12 sama "Pakai jilbab kok nyolong,". Karena memang norma yang berlaku seperti itu gaes, normal dan masuk akal. People will judge anyway, and then generalisation sometimes occured. Seperti pada kasus ada teroris yang beragama Islam, kan akhirnya jadi ada yang beranggapan "Islam agama teroris". Makanya lah, boleh kan berharap jangan sampai ada bibit-bibit seperti itu lagi. Setidaknya mulai dari saya sendiri. Hehe..

Aaaand that's why saya bilang kalau di awal-awal pakai ini tuh, berat. Hahahaha.. Selain yang saya ceritakan sebelumnya, perintilan-perintilan yang menunjang keseharian baru saya juga ternyata challenging. Iya lho, mulai dari harus bisa tahan sumuk (di mana saya orangnya nggak suka panas), milih style jilbab yang pas sama muka, belajar pakai peniti sendiri, cari outfit yang juga menunjang, ndak ketat, ndak tabrak warna, cocok sama warna jilbabnya, waktu persiapan di depan cermin jadi makin lama, belum lagi awal-awal waktu periksa pasien. Kenapa periksa pasien jadi ribet? Stetoskop man! Hahaha.. Iya, periksa fisik pasien buat dokter umum kaya saya tuh wajib ada auskultasi pakai stetoskop. Bisa bayangin kan, awal-awal gimana saya bingung untuk menempatkan kedua ujung stetoskop di telinga tanpa harus merusak tatanan jilbab yang syuda paripurna. Kalau ditaruh di luar jilbab, saya malah jadi nggak dengar. Haha.. Well ya, intinya ternyata semua butuh latihan dan pembiasaan. Jujur aja, sutres juga saya dengan perintilan-perintilan kaya gitu. Iya, saya anaknya gampang sutres, nggak apa lah ya. Tapi Alhamdulillah, sudah mulai terbiasa. Hehe..

Begitu pun awal-awal mendapati komentar orang-orang. Dari yang memuji sampai mempertanyakan, jujur aja sih, awalnya risih banget. Sempet awal-awal nanggapinnya pakai bercandaan pula, kaya edisi Ramadhan lah, nutupin bad hair cut lah, padahal mah, engga. Hehe. Mungkin karena saya anaknya punya kenangan buruk sama keramaian ya. Haha. Makanya MPE nya semi-semi kabur nyelimur gitu #maafkanya. Jadi yaa even orang muji-muji, saya risih. Pengennya nggak usah dianggap beda, gitu. Biasa aja, gitu. Anggap kaya pakai topi aja, gitu. Yah tapi sekali lagi, common sense lah yaaaa.. Udah hukumnya mah, manusia, kalau ada yang beda, atau yang baru. Eh tapi, kalau dikomennya ditambahin doa, saya seneng sih. Doanya baik-baik pula, ya saya amini. Hehehe..

Apa saya bisa dikatakan berhijrah? Hmmmmm, ndak terlalu suka pakai istilah itu sih. Berat gitu rasanya kata-katanya. Wkwk.. Tapi, anggap saja saya sedang berusaha. Berusaha keras. Menuju sesuatu yang lebih baik. Hehe.. Iya, di samping hal-hal yang bikin saya sutres tadi, toh ya makin lama saya makin nyaman dan terbiasa dengan gaya baru saya ini. Dan lucunya, sekarang kalau lewat di depan tukang-tukang udah jarang disuit-suit lagi. Hahaha. Bagus lah. Walau harusnya sih oknum-oknum tsb sungkannya sama semua wanita apapun pakaian mereka ya. And then, somehow, for me, jilbab ini menjadi semacam alarm, yang mengingatkan saya. Mengingatkan untuk bisa lebih baik, lebih bijak, lebih taat. Dan ya, I'm happy for it. Sudah baik kah saya? Mungkin belum, mungkin sudah. I never know. Orang lain yang menilai kan ya. Cuma, ya itu, saya berusaha ke arah sana. Berusaha sebaik-baiknya dan semoga Allah SWT meridhoinya.. Aamiin YRA..:-)

Tuesday, April 3, 2018

Something About ...

Tbh, agak nggak yakin sih mau nulis gini. Tapi makin lama, kok makin nggak bisa tidur gue. Kayanya pengen aja gitu melampiaskan semacam, huh, apa ya, kekesalan? Kebingungan? Ketidakpahaman? Ke-kok-bisa-sih-kejadian-kaya-gitu-an? You named it apa pun lah ya, terserah.

Intinya mungkin lebih ke, gue kecewa. Baru aja, gue melihat sesuatu yang viral di sosial media, yang bikin gue nyesek (dan mungkin juga nggak suka). Nggak usah gue jelasin lebih lengkap deh itu apaan. Gue kasih clue dikit-dikit abis ini juga pasti pada paham.

Harusnya nih ya, gue suka sama yang namanya puisi. Pun setelah gue baca kata demi kata yang terangkai dalam puisi viral tsb, jujur, indah. Pemilihan diksinya bikin gue terpengarah. Apalagi dibawakan di acara besar, yang gegap gempita, dengan segenap orang-orang penting terlibat di dalamnya. Yang membawakan juga orang sama penting kan.

Tapi kenapa deh? Kenapa isinya harus begitu? Harus banget menyinggung agama? Apesnya lagi, kenapa agama gue deh? Jelas banget itu. Entah maksudnya sebaik apa pun, entah kenapa logika dan perasaan gue kok jadi merasa "diserang" mendengarnya. Gue merasa ada suatu perbandingan yang ditaruh di situ. Kenapa harus membandingkan sesuatu yang menurut gue nggak seharusnya dibandingkan? Membandingkan agama dengan budaya maksudnya kah..? Aneh. Jujur aja, menurut logika seorang gue, itu aneh. Bahkan yang judulnya sama-sama agama saja, menurut gue mending jauh-jauh dibandingin deh. Lha ini, malah dua substansi yang menurut gue (lagi) adalah berbeda. Jadi mirip aja gitu, sama menilai kejeniusan ikan dan gorila dari kemampuan mereka memanjat pohon.

Yah, gue tahu sih, gue juga random banget bahas ginian yak. Pakai cadar aja enggak. Haha. Kualitas ibadah gue? Yah, biar Allah S.W.T dan gue yang tahu deh (melipir, nangis di pojokan, berdoa semoga bisa menjadi lebih baik). Well ditanya gue udah ngelakuin apa buat negara sampai bisa nulis gini pun, paling jawaban gue standar. Hidup, kerja, bayar pajak, bayar zakat. Udeh. Nah makanya, gue bahas di awal kan. Murni karena gue ngerasa nggak enak aja, dan yah, ingin ngeluapin apa yang ada di otak dan hati ini. Jadi, gue cuma bisa minta maklumnya. Haha.. Dan, yah, gue cukup nggak suka ternyata dengan (isi) puisi tsb, dan yah, heran itu tadi. Enggak habis pikir aja. Sangat disayangkan aja, jika memang niatnya baik, tapi ternyata justru menimbulkan perpecahan kan.

Dan satu lagi, masih nggak habis pikir, bagaimana yang mengucapkan menolak jika ia dikatakan SARA, padahal jelas yang dia ucapkan adalah salah satu agama? SARA = suku, ras, agama, kan? Yang intinya nggak boleh menyinggung itu kan? Berkemas di balik kata "fakta" dan "budayawati"? I don't get it. Mungkin memang ilmu gue yang masih kurang, atau umur gue yang masih terlalu muda. But if I can say one more thing again, kalau memang konteks puisi tsb adalah dari orang-orang Indonesia yang tidak tahu agama ini, kenapa, kenapa yang dibahas adalah konde dan kebaya? Selama ini gue kira kebaya dan konde itu aslinya dari Jawa aja padahal (and maybe gue salah yah). Dan kenapa satu agama itu saja yang dibahas? Nggak sekalian agama yang lain? Apa karena oleh penyair, memang hanya itu yang bermasalah? Kenapa mengatakan adzan tidak semerdu tembang? Sementara di saat yang sama, gue sendiri cukup dengar "Allahu Akbar", sudah menjadi lebih tenang. Walaupun jujur, gue juga masih menikmati merdunya tembang jawa yang diputar di nikahan-nikahan. Rasanya cukup kan, dengan katakan jika kidung Ibu Indonesia begitu merdu. Meninggikan saja, tak apa, tapi jangan rendahkan yang lain kan bisa?

Ah sudahlah. Gue sendiri berharap, dan berdoa tentunya. Semoga nggak lagi-lagi ada lah kaya gini ini. Jangan lagi please.. Apalagi di era sosmed kaya gini kan, berita APAPUN gampang sekali nyebar. Yang nggak penting macam ABG joget-joget aja bisa jadi bahan omongan banyak orang, apalagi yang kontroversial macam ini. Imho, people jaman now lebih gampang terprovokasi juga. Rasanya akan lebih bijak untuk tidak memancing perseteruan kan. Hehe..

Saturday, January 6, 2018

Let It Go (Trying To)

Tbh, ini udah kejadian ke sekian kali. Dari seumur-umur gue koas, iship, lanjut jadi dokter praktik. Harusnya mah, kan usah biasa ya. Pattern nya pun mirip-mirip. Tapi kenapa? Kok rasa yang sama selalu berulang. Rasa yang sama selalu membekas. Dan bahkan rasa-rasa sama yang baru muncul itu kembali menyeret datang rasa-rasa yang dulu sudah saya rasakan. Why.....?

And guess what the best part is. Complicated. Untuk ke sekian kali, saya dapat pasien yang complicated. Rumit. Bahkan sebenarnya, pasien ini bukan murni pasien saya. Saya tidak tangani dari awal. Tapi selalu sama. Not always, though. Sering. Sama seringnya. Sama rumitnya. Rumit, lalu memburuk. Rasanya sudah sekuat tenaga berusaha, tapi at the end, saya masih merasa ada yang kurang.

I know this isn’t professional. I’m trying to be, tapi susah. Di saat saya berusaha kembali mengingat-ingat terapi apa saja yang sudah diberikan, lalu menarik nafas lega, karena setidaknya hal tersebut sudah sesuai dan sudah atas persetujuan supervisor, di saat yang sama (sepersekian detik setelahnya), entahlah nafas kembali berat. Bayangan wajah pasien tadi, yang menyahut saat saya panggil, yang masih berkenan membuka matanya saat saya memeriksa GCS, tangan beliau yang di ambulans entahlah seperti menjabat tangan saya, ucapan terima kasih dari keluarga pasien yang saya terima –(yang rasanya berlebihan untuk saya terima saat itu), sulit sekali ya, saya lupakan. Inginnya saya tinggalkan semua, selepas saya selesai jaga pagi ini dan kembali ke rumah. Tapi ternyata, sulit juga untuk saya lepaskan.

Menjadi dokter memang tidak boleh menjanjikan kesembuhan. Kesembuhan hanyak milik Allah S.W.T., saya percaya itu. Saya hanya perantara, yang bisa berusaha semaksimal mungkin. Tapi jujur, saya sedih sekali. Di saat saya sempat merasa optimis karena menurut saya terdapat perbaikan, dalam sekejap mata, terjadi perburukan. Memang, semua yang terjadi adalah atas kehendak Allah S.W.T. Saya hanya bisa berdoa, semoga yang terjadi, adalah yang terbaik untuk semuanya. Aamiin YRA...

Diketik saat hujan besar, saat masih terperangkap di IGD, dengan segala memori tadi pagi..

Tuesday, September 6, 2016

Becoming Mom, Becoming Better Person

That's rite! Di kehamilan 22 - 24 wks ini, gue merasakan banget hal tsb. Ingat posting gue tentang amanah dan anugrah? Yup, beneran terbukti deh, kalau Dedek di dalam perut gue ini adalah amanah dan anugrah dari Yang Maha Kuasa. Jujur aja, awal-awal hamil, gue kagok berat. Bahkan hal sepele yang biasa gue lakukan, di mata orang-orang yang sudah lebih berpengalaman, dianggap nggak baik buat si Dedek. Like what? Naik turun tangga, naik motor, makan mie instan, minum kopi atau teh, capai, atau stres. Yaah, capai sama stres mah sahabat gue sih ya. Manusiawi toh, kalau orang hidup ketemu capek dan stres. Bahahaha.. Iya loh, segitunya, kita kudu hati-hati kalau udah menyandang status Mom Gonnabe or Bumil. Sayangnya, gue ini anaknya bandel. Dan kadang suka nekat. Even sana-sini bilang jangan sampai kecapaian, melihat aktivitas gue yg isinya bolak-balik jaga, gue mah pede aja ngerasa kalau gue nggak capai. Rasanya hampir selalu gue ngebatin, gue kuat, Dedek pun lebih kuat lagi. Huehehehe.. Sampai suatu waktu, pressure lebih besar datang. Gue berada di titik emotionally and physically drained. And guess what, buat gue, capai fisik itu masih bisa ditolerir, tapi, kalau udah capai hati,, walah. Disaster lah itu. Dan sayangnya Dedek pun ngikut Mamanya. Di suatu waktu, gue bleeding. Frankly I'll say, that's one of the scariest moment in my life. Gue beneran ngerasa bersalah banget sama Dedek. *Maapin Mama yaa Deek >.< Juga sama suami gue, sama ortu gue, karena yaah gue akui, gue kadang bandel, nggak ngejalanin nasihat-nasihat mereka.

Setelah insiden itu terjadi, langsung lah, gue rombak jadwal-jadwal yang memeluk gue seperti biasanya. Bed rest total! Haha. Suami jadi jauh lebih concern dan strict. Naik turun tangga nggak boleh, jalan kaki jauh nggak boleh, berdiri lama nggak boleh, dan dia jadi rajin beliin gue es krim. Haha. Gue juga diminta jangan pusing-pusing lagi mikirin jadwal jaga gue, yang memang waktu itu lagi banyak masalah. Disuruh kasih ke teman gitu deh, padahal ya temannya juga lagi sibuk. Hahaha.. Tapi seenggaknya, Alhamdulillah jadwal gue masih bisa tercover sama teman-teman gue. Ada sih, satu kali yang nggak bisa digantiin siapapun. Pas persis hari kejadian lagi. Pas banget juga bolak-balik dikasih tahu ada pasien. Huaaah sampai stres jadi tambah tambah rasanya, pas ada telpon panik dari RS. Mau gimana lagi deh, di saat masih bleeding jalan juga ke RS. Pengen nangis.. Ngerasa takut Dedek kenapa-kenapa. Untung saja, begitu sampai di RS ternyata pasien belum datang dan bisa ditangani dulu sama direktur. Huff langsung cuss rumah lagi deh, ngelanjutin terapi..

Di masa recovery, gue total tiduran doang seharian. Rasanya tuh ya gimanaa gitu.. Soalnya jujur, gue nggak ngerasa badan gue sakit-sakit banget, tapi nggak boleh ngapa-ngapain. Minum obat pun kudu rutin tiap hari. Padahal, gue paling cuma ngerasa perut sakit-sakit sedikit dan masih ngeflek bolak-balik. Tapi justru itu gue jadi parno. Gue nggak tahu kan, si Dedek apa kabarnya. Kondisi gue yang seperti itu kalau nggak segera ditangani, bisa bahaya buat Dedek. Hiks.. Stres. Bawaannya pengen ngelungker doang sama suami, terus ngelus Dedek seharian.. Akan tetapi, sebenarnya di masa istirahat tersebut, gue juga jadi introspeksi. Banyak merenung juga. Pun banyak berdoa. Ada Dedek di dalam perut gue itu, beneran suatu keberuntungan. Lewat Dedek yang bahkan gue belum bisa sentuh fisiknya, gue diingatkan lagi untuk tidak egois. Ya, gue nggak boleh seenaknya lagi mikirin diri sendiri doang. I'm becoming a Mom, and I should be serious with that. Gue dititipi amanah luar biasa oleh Allah SWT, yang tidak semua wanita bisa mengalamainya. It's such a blessing for me. And guess what, walaupun kedengeran serem karena gue nggak bisa sekarep dewe lagi (haha), jujur aja, proses kehamilan ini memicu gue untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Gue jadi mau nggak mau lebih teratur makan, lebih bergizi juga makannya, nggak sering begadang lagi, mengurangi aktivitas berat, menjauhi hal-hal yang nggak baik buat tubuh kaya asap rokok atau pengawet pemanis buatan (even minimal menghindari), dari segi emosi pun gue sedikit demi sedikit berusaha untuk menjauhi stres, mencari inner peace (walaupun untuk kasus ini masih struggling banget, hehe). Walaupun semua judul awalnya "demi Dedek", dan kesannya badan gue jadi jauh lebih ringkih dari sebelum hamil, pada akhirnya semua bermuara kepada kebaikan gue sendiri. Iya kan, dengan do and don'ts yang banyak itu, gue berbenah diri juga akhirnya, dan gue akui, jadi lebih sehat (atau at least teratur) dibanding sebelumnya. Walaupun yaa yang namanya perubahan anatomis dan fisiologis pasti ada pada saat hamil, and sometimes they're not flattering. Tapi serius deh, dibawa enjoy aja, disyukuri, dinikmati, karena semua itu anugrah. Haha..

And then, sebagai penutup, gue mau tulis ini buat Dedek yang sekarang lagi hobi nendangin perut gue. Haha..

Thank you so much yaa Dedek..:) Terima kasih sudah memicu Mama berusaha lebih keras untuk jadi pribadi yang lebih baik. Mungkin nggak sempurna ya Dek, tapi buat kamu, buat kita, Mama akan berjuang sebaik-baiknya. Sama-sama semangat ya Deek, sehat-sehat terus yaa kamu di perut Mama, sampai siap kamu lahir ke dunia ini. Hehe.. I really really hope, kamu tumbuh sehat, cerdas, jadi anak yang berbakti, berbudi pekerti luhur, bertaqwa kepada Allah SWT, juga tampan kaya Papamu yaa (lebih aja juga gak apa-apa, hihi). Love you Dedek..:)

Saturday, September 3, 2016

Sepatah Dua Patah Kata dari Pecandu Olshopping

"Be a smart buyer, please!"

Hayo.. Teman-teman di sini siapa yg nggak asing dengan kalimat tersebut? Apalagi kalau teman-teman hobi online shopping, entah beneran belanja atau sekadar cuci mata. Pasti sering yaa lihat kalimat yg imho mengandung makna peringatan itu. Peringatan gimana? Ya peringatan dungs, soalnya gue sendiri sering banget nemuin ini kalimat nangkring di olshop, ditulis oleh owner olshop yg gregetan. Hahaha.. Kok bisa geregetan? Hmm banyak hal sebabnya, menurut gue. Tapi kalau ditarik satu garis besar, kebanyakan sebab utama adalah, buyer malas membaca. Misal nih, si owner udah mencantumkan keterangan lengkap dan detail dari suatu produk di caption foto, namun ada buyer yg menanyakannya lagi dengan mudahnya di kolom komentar. Yaa walaupun nggak semua owner atau seller akan memusingkan hal tsb, atau ada aja buyer yg beranggapan "Tinggal jawab aja susah amat," kan wajar juga toh, kalau ada yang nggak sabar dgn hal tsb. Apalagi kalau yg berkelakuan macam itu nggak cuma satu dua, tapi ratusan. Ratusan komentar datang, yg mungkin juga bertumpuk dgn notif ratusan like. Belum lagi kalau pas seller nya banyak kerjaan. Wahaha.. Wajar lah kalau seller gregetan.

Selain karena malas baca tsb, gue perhatikan juga ada sebab lain yg bikin seller suka gregetan dan jadi kelihatan galak. Komunikasi tanpa etika. Buat contoh aja nih, kamu abis ngiklan barang di IG. Tetiba ada yg nge PM kamu, ngechat "Brp?" Gue pribadi sih eneg sama yg begitu. Kamu siapa? Berapa apa? Iya si gue abis ngiklan, tapi kan nggak begitu juga. Apa sulitnya kasih salam, jelaskan maksud Anda apa, lalu beri terima kasih di akhir. Akan jauh lebih menyenangkan membalasnya kan. Mau pakai alasan karena "pembeli adalah raja"? Let me tell you something in ny mind. First, kamu masih dlm masa negosiasi dgn seller untuk membeli barang tsb, artinya belum tentu kamu fix seorang pembeli. Kamu masih jadi penawar lah (istilah sotoy gue ini haha). Second, raja itu, santun. Bukan berarti kamu punya uangnya, kamu jadi bebas untuk bertindak tidak sopan. Ngespam chat bolak-balik atau menggunakan kata kasar atau melakukan tindakan yg menyulitkan seller, bukan tindakan yg patut kalau memang alasanmu kamu itu raja. Dilayani, bukan berarti diladeni kekurangajarannya. Di sini seller dan buyer adalah sama manusia. Dari pada hubungan raja dan budak, lebih tepat hubungan mereka adalah partner. Rekanan bisnis. Kan jauh lebih nyaman belanjanya toh, kalau seller dan buyer bisa saling menghargai satu sama lain.

Btw kalau ngebaca celotehan gue di atas, kesannya gue tuh pernah punya pengalaman jadi seller gregetan yak. Tbh, gue blm pernah sik. Haha.. Cuma, ini hasil observasi gue aja, yg saban hari mantengin dunia olshop. Gue bisa ngerti perasaan seller-seller gregetan. Hahaha.. Dan, tbh lainnya, gue lebih banyak punya pengalaman sebagai buyer. Dikecewain sama olshop pun pernah. Wkwkwk.. Makanya nih, menurut gue lagi, kata-kata "be a smart buyer" tuh sebenarnya juga semacam pelindung untuk kita para customer lho. Masih bicara tentang belanja di dunia online ya ini. Jujur aja deh, gue banyak nemu kasus penipuan berkedok online shop. Kadang miris banget pas tahu kasusnya, banyak yg ketipu anak sekolah yg belanja pakai uang ortu mereka, dan banyak aja gitu yg imho bisa dicegah sebenarnya. Makanya, be smart itu penting sekali buat kita-kita yang mau membelanjakan uang lewat dunia maya. Penipuan di sini nggak cuma perkara uang ludes barang nggak sampai lho ya. Ada juga penipuan terkait orisinalitas barang, atau kondisi barang. Atau kondisi di mana seller tidak mau tanggung jawab dengan kesalahan yg ia lakukan kepada customer. Hiii.. Amit-amit kan ya kalau sampai kita kaya gitu.. Nah makanya nih, gue mau berbagi sedikit saran atau tips atau triks sotoy gue lah biar kita aman dan nyaman berbelanja online..

  1. Pastikan olshop trusted. Gimana? Lihat followers nya (kalau di IG), lihat rating nya (kalau di situs e-commerence misal La**da, Tok****ia, atau Sho**e, dll), dan lihat testimoni dari cust nya juga. Btw untuk testimoni, kita juga kudu cermat ya, karena akhir-akhir ini, kasus pencomotan testimoni atau endorsan artis lumayan banyak kejadian. Semacam palsu kan jadinya itu testimoni. Jumlah followers juga, karena jasa beli followers di IG pun marak. Jadi emang kudu repot juga kitanya, buat nentukan apa olshop tsb jujur atau tidak.
  2. Survey dulu harga di pasaran. Harga barang yg terlalu murah, bisa jadi salah satu indikasi ada yg tidak benar. Walaupun bisa juga menandakan sellernya baik hati dan mungkin lagi butuh duit. Haha.. Eh serius tapi. Survey harga pasar ini perlu. Misal dalam kasus kosmetik, apa mungkin lipstick import USA dgn harga counter Rp 125.000 dijual dengan harga Rp 200.000 selusin online? Barang asli apa gimana nih? Kita wajib waspada kalau memang beda harga jauh banget sampai bikin kita tergiur. Biasanya sih, harga online memang lebih murah, tapi tidak sampai setengahnya.
  3. Hindari belanja barang mewah. Misalnya, alat elektronik, perhiasan mahal, atau handphone. Kalau kamu nggak yakin itu olshop beneran trusted, mending nggak usah menurut gue. Kecuali kamu pernah lihat toko fisik mereka atau pernah sebelumnya belanja di situ dan aman-aman saja, atau kamu beli di olshop besar yg jelas udah punya nama. Deg-deg an banget nggak sih, kalau kita udah transfer sekian juta atau sekian ratus ribu, tapi terus barang nyampenya lama? Atau pas nyampe ada yg rusak gimana? Atau malah lebih buruk, barang nggak nyampe, gimana? Naudzubillah deh ya..
  4. Hati-hati belanja barang yg sedang digandrungi. Mungkin karena demand tinggi, jadi yg usaha tipu-tipu pun ikut tinggi. Lagi banyak lho kasus penipuan samyang atau i-phone gitu. Hati-hati aja lah pokoknya, lihat olshopnya, lihat harga yg ditawarkan. Kalau bisa murah banget, kira-kira kenapa itu? Apa mungkin? Apalagi kalau udah ada iming-iming yg bikin kita ngeces, macam: transfer 500 ribu, i-phone langsung dikirim, free ongkir. Itu kasus beneran btw. Kan masa iya, jualan barang tapi nyari rugi? I-phone aja harganya berapa lho.
  5. Perhatikan bahasa chat si seller. Pas kita masuk ke tahap tanya-tanya nih, ketika kita tertarik dgn barangnya. Ada yg aneh nggak? Sellernya kesannya maksa nggak? Kalau iya, kita patut waspada. Karena seller yg baik biasanya tidak memaksa dan memburu-buru customer untuk segera transfer. Contoh chat aneh, pernah kejadian, ada cust mau beli I-phone kredit, begitu ditanya proses kreditnya gimana, si seller malah ngebalas kalau hal tsb bisa dibicarakan belakangan dan langsung menanyakan alamat si cust. Suspicious nggak sih? Apalagi si cust hanya diberi syarat untuk serahkan fotokopi KTP untuk proses kredit tsb.
  6. Gunakan rekening bersama atau belanja via e-commerece. Lumayan membantu kalau ada apa-apa setelah kamu transfer pembayaran. Misal barang tidak sampai-sampai, atau barang yg dikirim cacat, atau salah varian. Dengan memakai rekber, uang kita tidak langsung berada di tangan seller, dan masih bisa kembali. Kalau yg ini gue punya pengalaman nggak enak nih. Salah juga sih ya, belanja buru-buru. Untung uang masih ketahan di e-commerece dan pengembalian dana bisa diajukan. Mungkin next time gue bakal cerita lebih detail yak.
  7. Bisa COD? Yaudah COD aja.. Sepengetahuan gue yg aotoy ini, metode COD itu metode paling safe di dunia belanja online. Sesuai namanya, COD adalah cash on delivery, yg artinya, kita bayar uang ke kurir, begitu barang sampai ke kita. Yap. Cash nya ya on delivery yaa.. Jadi, kalau namanya COD tapi bayarnya kudu via e-banking, m-banking, atau transfer manual dulu baru barang sampai ke kamu mah, itu sami mawon, duduk COD namanya. Apalagi kamu sama si seller atau kurirnya gak ada tketemunya juga. Sisi menguntungkan dari COD ini sih menurut gue, kita bisa cancel di saat nggak sreg begitu lihat barang. Tapi yaa siap-siap aja seller jadi kesel sama kamuh. Hahaha.. Walaupun menurut gue masih wajar aja sih, masalah nggak sreg itu. Misal, kasus ukuran tidak cukup, atau warna tidak sesuai. Dulu gue pernah belanja COD, dan emang sellernya sendiri yg nawarin ke gue, untuk pilih ukuran di waktu COD-an. Jadi awalnya gue pesan S, tapi begitu kurir datang, si seller udah ngebawain juga ukuran XS yg ternyata lebih pas di gue. Sesuai kesepakatan kan, gue enak, seller juga enak. Nah tapi, sebagai buyer yang smart dan beretika, kasus-kasus ketidaksesuaian tsb harusnya yaa udah melalui kesepakatan sama seller dulu ya. Jangan asal seenak jidat kita aja. Misal nih, udah fix pesan warna biru, udah ngomong ke seller nya, eh ya kok pas datang warnanya biru tiba-tiba pengen warna merah. Atau udah fix mau COD, tiba-tiba ngancel begitu aja karena kamu ada urusan, padahal si seller atau kurirnya udah otw. Seller juga manusia kali. Bayangin kalau kalian di posisi mereka lah, mana enak ketemu buyer semena-mena atau php kan. Terus, even judulnya COD, sebagai buyer smart dan beretika pun menurut gue penting untuk mengikuti rule of the games nya olshop yg berlaku yaaa..
  8. Google it. Apa yang di-google? Nama dan nomor rekening seller ybs. Ini tips dari sebagian buyer, dan lumayan ampuh juga. Terutama sih kasus jual beli barang elektronik ya. Katanya sih, kalau si seller ternyata penipu kelas kakap dan sudah lama berkecimpung di dunia penipuan, kecatat tuh nama dan no rek nya di jagad dunia maya. Mungkin di semacam forum, atau blog dari para korban. Lumayan lah ya, bisa bikin lebih waspada. Tapi tetep, hati-hati. Gak mutlak semua penipu bisa kita dapatkan infonya lewat google.
  9. Kalau punya IG, bisa tuh, dikepoin akun Black List Olshop. Buat buka wawasan dan saling tukar info kalau menurut gue. Di akun tsb biasanya banyak laporan-laporan dari buyer dan juga seller yang melaporkan tindakan penipuan atau ketidakpuasan dari suatu transaksi olshop. Olshopnya yg ada di IG biasanya, biar ada efek jera juga kali ya, namanya masuk akun black list kan otomatis kepercayaan calon-calon buyer pada hilang. Kita juga jadi tahu mana-mana aja seller bermasalah. Walaupun, tetep ya, kudu bijak kitanya. Ditelaah baik-baik dulu sebelum mutuskan, itu seller bermasalah bener apa enggak. Karena somehow, dengan ada akun begini, muncul juga efek samping nggak enak, macam kasus sengaja sikut-sikutan dan jatuhin nama baik sesama olshop atau buyer-buyer emesh nggak sabaran.
  10. Take your time, ojo kesusu. Yas. Ini salah satu point penting dalam belanja online menurut gue. Survey itu perlu, dan itu perlu waktu. Lihat-lihat testimoni, chat sama seller, memastikan barang yg kita mau itu bener, itu perlu waktu. Apalagi kalau mau belanja agak banyak ya.. Jangan gegabah lah intinya. Mentang-mentang harganya paling murah sejagad instagram, jangan buru-buru transfer. Cek ricek dulu. Bandingin juga, lebih worthed mana dibanding sama kamu belanja offline? Misal nih, kasus beli foundie. Nyesek loo kalau beli foundie online, udah bagus, mahal, eh shade nya terlalu gelap atau terang. Banyak tuh yg kejadian. Rata-rata buyer yg pada beli foundie tsb untuk pertama kali hanya dengan modal googling hasil swatch. Beleive me, it can't be used as patokan. Pardon my blepotan English ya, wkwkwk. Walau jatuhnya lebih murah dari pada beli di counter, kan mubadzir kalau ujung-ujungnya nggak bisa dipakai. So, take your time before purchase ya gaes.. Kalau nggak dapat barangnya karena kelamaan mikir gimana? Yaaaa anggap aja belum rejekimuuuh.. Huahahahaha.. #dilemparsandalsamareaders
  11. Last but not least, berdoa. Penting tuh brooh.. Biar belanjanya aman dan barokah. XD
Well gaes.. Itu aja dulu lah yaa, sharing sotoy dari gue, sebagai seorang pecandu belanja online. Disclaimer niii, yg gue tulis di atas murni hasil pemikiran gue ya. Pemikiran dari sekian pengalaman jual beli di dunia online. Kalau ada yg nggak setuju, yaa mohon maafkan. Kalau ternyata bermanfaat, yaa Alhamdulillah, ada gunanya juga gue nulis panjang-panjang. Wkwkwk.. Last but not least, gue tetap berharap tulisan sotoy ini bisa sedikit banyak membantu para readers (yg nyasar ke sini, haha) yg punya ketertarikan tersendiri dengan dunia belanja online. Till next post yee, salam! xD

Thursday, July 28, 2016

Mereka yang Dihina

Evening, Bloggie. Here I come again. Miss me? Hehe.. Disclaimer nih, yg akan gue tulis dalam posting kali ini, murni opini hasil gue mikir ngalor ngidul ya.. Setelah sebelumnya berselancar di dunia maya, dan pada akhirnya menjadi miris. Hahaha..

Mereka yang dihina. Siapa? Banyak. Mau kamu orang baik, orang jahat, orang cantik atau tampan, orang jelek, beragama, tidak beragama, yang namanya dihina mah apes-apesan ya, bisa semua kena. Siapa yg menghina? Bisa siapa saja, sesuai keapesanmu dapat siapa. Orang yg nggak dikenal, bisa, orang yg dekat sama kamu pun bisa. Alasannya dihina? Nah ini juga lucu, bisa macam-macam juga! Tanpa alasan pun bisa lho, imho. Ciyusan? Kenapa gue sampai mikir kaya gini? Well, berawal dari gue yg suka baca ya.. Hobi suka bacain apapun ini juga bikin gue jadi suka penasaran sama apapun yg berbentuk tulisan. Apalagi di zaman internet begini, haha, tulisan bisa ditemui di mana-mana (kalau zaman dulu kan paling ketemu tulisan tuh di buku atau koran aja yak). Dari sering baca ini itu lah, gue jadi kepikiran sesuatu..

Beberapa kali, gue nemu akun haters artis yang ada di instagram. Reaksi pertama gue sih kaget ya. Ada ternyata, orang yg segitunya punya effort, mengeluarkan waktu, pemikiran, dan tenaga demi "menghina" seseorang yg mungkin dia sendiri tidak kenal. Iyalah, akun haters tsb mana ada yg masang nama asli di akunnya. Rata-rata mereka menamai akun tsb dengan nama artis yg diberikan tambahan huruf, angka, atau karakter (spasi) yang sedikit berbeda dgn akun ig asli si artis. Pertanyaan pertama, untuk apa? Pikiran suudzon gue nih, buat nyari followers kali yak. Mungkin ada aja kan fans yang memang mencari tahu idola mereka pada akhirnya akan nyangkut di akun tsb dan pada akhirnya larut dengan segala posting yg ada di akun haters tsb. Lucu. Buat apa? Nyari banyak orang agar sepaham, agar sama-sama membenci si artis? What for? Segitunya ya, sampai rela edit foto sana-sini, bikin caption panjang-panjang, cari-cari foto si artis tsb terus direpost dengan tambahan edit atau caption, kan itu effortnya nggak sedikit. Untuk apa? Demi lihat si artis jatuh? Miris. Lucunya lagi, ada saja momen di mana mimin akun tsb semacam ngeles. Haha.. Pakai bilang nggak maksud ngehina, berlindung dgn alasan menyampaikan kebenaran. Sampaikan kebenaran harus dengan menjelek-jelekkan orangnya? Harus dulu berlindung di balik akun anonim? Harus dulu ngajak orang banyak untuk percaya dengan dirinya, di belakang si artis itu? How coward.

Sekarang gini deh, even si artis yg dihujat itu punya salah, apa benar juga memperlakukan dia sebagai manusia yg perlu untuk dihina selamanya? Seandainya salah itu dilakukan di masa lalu, dan yang bersangkutan sudah bertobat tidak akan lagi mengulangi kesalahannya, apa pantas kesalahan di masa lalu tersebut terus diumbar demi menjelek-jelekkan dia? Lagian, apakah yakin, yang akun tsb bilang "kebenaran" adalah sesuatu yg benar? Testimoni dari sekian orang random, bisa dijadikan patokan kebenaran? Bukankah masih ada kemungkinan kalau semua yg disampaikan itu rekayasa? Lagipula, terlepas dari salah dan benar, Allah S.W.T. saja Maha Pengasih dan Pengampun, apalah hak kita sebagai makhluk untuk saling menghakimi dan menjatuhkan satu sama lain? Miris.

Disclaimer: gue bukan fans artis tersebut ya. Jarang bgt gue ngefans sama yg namanya public figure. Palingan gue ngefans sama guru-guru gue, supervisor di kampus dan RS tempat gue menimba ilmu. Ngalamin momen-momen semacam fangirling sama spv sendiri pun pernah. Cuma nggak pernah deh rasanya yg gue jadi keki atau ilfeel berat cuma karena saat gue sapa, Beliaunya cuek. Hahaha.. Di balik ke-luar-biasaan Beliau sampai gue jadi ngefans, wajar lah ya kalau Beliau punya satu dua sisi yang agak pahit. Itu manusia! Wkwkwk.. Makanya suka heran sama para (mereka yang mengaku) fans yang gampang baper dan menuntut si idola menjadi seperti apa yg mereka inginkan. Nggak semua memang, tapi emang ada kan yang gitu. Hmmh.. Lika-liku dunia entertainment ya, kadang nggak masuk di logika gue. Hehe.. Well, balik ke disclaimer di awal paragraf tadi ya, artinya, bukan gue mau ngebela si idola juga ya, bukan mau membenarkan atau menyalahkan si idola juga, karena jujur, gue kan nggak tahu yg sebenarnya terjadi itu gimana. Sebagai manusia, gue cuma bisa beropini sesuai dengan apa yg gue lihat. Dan di sini yg gue garis bawahi adalah, gue miris ngelihat fenomena akun-akun haters ini bermunculan di dunia maya. Yang nimbrung pun nggak sedikit. Kan sayang, kalau medsos yg punya tujuan baik saat diciptakan, malah jadi ajang untuk saling menjatuhkan dan nyinyir.. Dan lagi, gue selalu percaya, Allah S.W.T. mboten sare. Allah Maha Adil, dann hati-hati lah dengan apa yg kita lakukan. Bahkan sebatas komen di medsos pun gue yakin, kelak akan dimintai pertanggungjawaban..

Akhir kata, setelah panjang lebar gue bertutur, *ceilah bahasa guee, gue tutup posting kali ini dengan, mohon maaf jika ada yg tersinggung yaa.. Posting ini tidak dibuat untuk menyulut apapun. Murni ngutarain opini (sekalian uneg-uneg) gue ajah. Hoho.. See ya in the next post, salam peace, love, and gaul! :D

Sunday, May 15, 2016

Bahagia

Bahagia itu, menurut gue, sesuatu yg absurd. Kenapa? Karena gue yakin, bahagia bagi tiap orang pasti beda-beda. Makanya, bahagia mah, menurut gue lagi, nggak usah diumbar. Untuk apa diumbar-umbar? Demi dapat pengakuan banyak orang jika kita bahagia? Demi memperoleh kesan bahwa hidup kita sempurna? Apa pentingnya? Jangan-jangan, jauh di lubuk hati kita yang terdalam, malah sebenarnya kita sedang merasa insecure. Makanya kita butuh penegasan deh kalau hidup kita bahagia-bahagia saja..

Bahagianya tiap orang kan beda. Ada yang bisa makan nasi pakai kerupuk sudah bahagia, ada yang perlu beli tas LV keluaran terbaru dulu baru bahagia. Ada yang main clash royale menang terus aja, sudah bahagia, ada yang punya rumah sendiri dulu, baru bahagia. Dan itu sih hak masing-masing juga ya, menetapkan standar bahagianya. Bukan apa-apa sik, gue pribadi suka jengah aja kalau lihat bahagia dipamerin dengan agak lebay gitu di dunia maya. Ah-pa-la-gih, kalau pamer bahagianya berbau materi dan dunia. Haha.. Abis, kalau ini hati lagi evil (yeah, I'm not that perfectly kind people :p), yang ada gue nya malah nyiyir. Ish kok pamer sih, ish emang kamu aja yg bisa gitu, ish gak tau apa gue lagi nabung susah payah buat ke luar negeri, dan ish-ish yang lain. Bikin sirik daaah. Haha.. Hati kecil sih nggak pengen, tapi apa daya, kadang emosi jadi menghalalkan segalanya.. #ampuniakuYaAllah

Haha.. Jadi mah, menurut gue lagi nih, kalau kita bahagia, daripada dipamerin, lebih baik disyukurin aja deh kepada Yang Maha Segalanya. Bersyukurnya juga yaa sebaiknya nggak usah lewat update sana sini juga sik menurut gue. Lebih personal dengan Sang Pencipta kan lebih indah. Hehe.. Atau, kalau lagi bahagia, berbagi juga boleh banget. Berbagi ilmunya tapi, ojok cuma ngiming-ngimingi bikin mupeng ae. Ahahaha.. Misal nih, kasih kiat atau tips lah gimana kamu bisa sampai sebahagia itu, atau misal lain, kamu share info tentang tempat liburan yang kamu senengin itu. Kalau ada bagi-bagi ilmunya kan, lumayan lah, cenderung lebih bermanfaat toh jadinya. Mengumbar dengan bijak lah istilahnya, nggak seberapa bikin jengah deh. Hihihi..

Saturday, August 29, 2015

selentingan ke sekian...

I'm wondering...

What if..

Ucapan kita, baik secara langsung atau sekadar melalui update status di media sosial, secara tidak sengaja melukai hati seseorang, tapi kita tidak tahu bahwa orang tersebut tersakiti...

Dosa nggak sih?

Thursday, May 14, 2015

untitled

Kenapa ya, manusia itu punya sisi unik, "eman"an. Maksud gue, dalam merayakan sesuatu gitu. Bilanglah, ngerayain ultah ke 17. Sekali seumur hidup, eman kalau gak keren ngerayainnya. Sumpah dokter, sekali seumur hidup, eman kalau nggak bagus kebayanya, kalau nggak kelihatan cantik, kalau nggak foto di studio. Atau nikahan. Sekali seumur hidup, harus mewah dong. Warna kebaya harus cetar, gedung yang bagus, makanan harus enak. Gak, gak mewah kok. Cuma harus bagus aja. Tapi di jaman begini mah, bagus itu, nggak dapet 50 juta. Karena sekali seumur hidup yaa, mau nikah harus super kaya dulu? Hmm.. Jd kepikiran sama orang2 yg bilang lah hidupnya rata2 ke bawah. Apa kepikiran, saya nikahnya nanti dulu, kalau punya uang ratusan juta. Atau simply, ya udah ayo nikah. Yang penting kan kamu sama saya sudah sah.. Hmm.. Wondering and wondering.. Di saat mau yang banyak itu ada, karena embel-embel sekali seumur hidup, pasti lah, biaya yang diperlukan makin besar. Kalau pas memang ada biayanya, gak masalah lah ya. Tapi kalau pas nggal ada? Apa akan jatuhnya jadi memaksakan ada, karena sekali seumur hidup? Atau mungkin karena hampir semua orang akan melakukan demikian? Akan worthed kah? Hmm.. Manusia itu unik.

Wednesday, May 6, 2015

Selentingan..

Suka heran sama orang yang memilih bunuh diri, sementara saya di sini bertemu baaaaanyaaaak orang sakit yang sangat berharap dirinya bisa kembali sehat wal'afiat. Gagal paham..

Ps: Turut berduka cita kepada keluarga Bapak Je.. Semoga amal ibadah Almarhum diterima di sisi-Nya. Amin..

Tuesday, April 7, 2015

Jadi Ceritanya...

Jadi ceritanya, ini tulisan random aja. Haha.. Yah, random aja tiba-tiba saya pengen aja gitu, nulis-nulis lagi di sini. Mungkin karena udah seharian ini gak main SW kali ya. ATM rusak, kalau malam di sekitar juga sepi, warung-warung tutup jadi nggak bisa beli pulsa, jadi otomatis seharian nggak bisa internetan dari smartphone dan main Summoner's War kaya biasanya. Hahaha.. Oke lah, penting banget itu saya ceritain segala. Haha. Harap maklum deh, karena visi saya saat ini adalah bukan untuk menulis sesuatu yang berbobot yah, tapi memang murni karena pengen aja tulas tulis apa yang dari tadi lewat-lewat mulu di benak saya.

Hmmh.. Oke. Jadi ceritanya, saya baru saja kesal. Kesal kenapa? Kesal karena hal yang nggak penting sebenarnya. Kesal karena ternyata saya sudah membuang cukup banyak waktu dan energi demi menyimak sesuatu yang hanya memancing emosi saya. Dan sebenarnya kalau dipikir-pikir lagi, ih nggak penting banget saya emosi cuma karenanya! Huff.. Tapi, gimana ya, saya gampang banget emosi sih. Apalagi di masa-masa pergejolakan hormonal ini. Hahaha.. Sebenarnya, bukan emosi yang marah-marah nggak jelas gitu sih. Sebenarnya, lebih ke arah, kecewa. Semua berawal dari berita online. Berita online dengan headline yang sedap dan gurih, yang tanpa membaca isinya aja, udah kebayang, akan seperti apa reaksi-reaksi yang muncul dari pembaca. And thanks to technology, reaksi pembaca itu pun bisa langsung ketahuan, terpampang jelas di kolom komentar, walaupun bisa saja yang meninggalkan komen di sana bukan pembaca sebenarnya. Yah, thanks to technology lagi ya, seakan-akan semuanya bebas dan berhak berbicara apapun. Cuma sayangnya, nggak jarang, yang terjadi malah akun-akun yang (mengaku) pembaca itu, meninggalkan komentar dengan tidak bijak. Iya, tidak bijak. Bukan jadi ajang diskusi yang enak, malah jadi ajang saling ejek dan menjelekkan. Saling hina, saling caci. Ini lah beberapa contohnya..

"Kaum berakhlak emang tipikal *** ini, otaknya di pangkal paha..."

"Eh guoblok! klo Korupsi merugikan negara&rakyat. tp ***blablabla*** (-skip.karena.kepanjangan) termasuk mensubsidi kunyuk2 bodoh seperti anda!!!"

"You know what else they are famous for? For being 100x smarter than smartass like you.." 

Hm.. Cuma karena satu berita itu aja. Idealnya kolom komentar itu kan, biar bisa diskusi nggak sih? Kalau ada yang pro kenapa, kontra kenapa. Siapa tahu dari diskusinya muncul solusi gitu. Tapi kayanya itu cuma ada di angan-angan. Kebanyakan yang kejadian tipikal kaya yang di atas itu deh. Udah akunnya anonim nggak jelas semua. Kita nggak tahu toh, mereka-mereka itu apa benar memang pembaca atau pihak-pihak lain yang 'bekerja' karena ada kepentingan tertentu? Misi untuk mengadu domba? Bisa jadi. Menjatuhkan pihak tertentu? Bisa jadi. Well, di era dunia tanpa batas kaya sekarang, skenario apapun rasanya masuk akal dan bisa kejadian toh. Ya itu lah makanya. Kecewa aja, masih banyak nemu beginian. Walaupun sekarang siapapun berhak untuk bicara, apa harus bicara dengan segitu kasarnya? Kan nggak bertanggung jawab. Jadi kayaknya tuh, orang-orang nggak peduli lagi sama pepatah "mulutmu, harimaumu". Gak takut efek buruknya apa ya? Bisa melukai hati orang lain kan? Bisa juga dituntut terus urusan sama penjara kan? Iya gak? Itu tuh, udah banyak kejadian kan yang cuma karena tulisan di dunia maya, jadi dikurung penjara di dunia nyata. Bisa toh artinya? Apa karena mereka bicara di dunia maya, dan nggak akan bisa ketahuan mereka siapa? Padahal lho, nggak nyaman banget dih ngeliatnya. Bikin kesel lho. Jadi bikin mbatin, Ya Allah, segini rendahnya ta moral orang-orang di negeri saya? Segini nya nggak beretika kalau bicara? Mana yang katanya negara Indonesia, adatnya orang timur, penuh sopan dan santun.. Mbatin ya, mbatin.. Apalagi masa-masa saya gampang emosi begini. Haha.. 

Eh terus ya, abis kesel baca itu berita online, saya nonton TV. Eh lha ya kok, sama.. Yang saya tonton pun, sedang memperlihatkan suasana di mana ada dua orang berseteru. Dua orang, dalam acara pencarian bakat, yang digadang-gadang adalah suatu tampilan acara yang real tanpa rekayasa skenario apapun. Haduh. Cuma karena beda pendapat, harus banget teriak-teriak nggak jelas? Dan kalau pun, pendapat kamu nggak bisa diterima sama orang lain, harus kah tetap memaksakan kalau pendapat kamu itu yang paling benar? Sementara batas benar dan salah itu, dalam menilai seseorang, sulit sekali rasanya untuk dilihat. Menilai seseorang, seobjektif mungkin, pasti ada subjektifnya. Kecuali kalau kaya kita menilai seseorang dengan ujian tertulis misalnya, itu kan jelas, nilainya ya dilihat dari benar salah nya dia jawab pertanyaan. Thaaat's why, nggak usah berlebihan lah kan bisa. Acara itu kan ratingnya tinggi, katanya ditonton baaanyaaaaak orang, anak-anak, dewasa, tua, muda, iya toh? Masa memperlihatkan hal nggak dewasa begitu? Kurang pantas rasanya. Demi apa sih? Rating? Karena kebanyakan masyarakat kita terhibur kalau lihat orang ribut? Sensasi? Harga diri? Padahal udah bagus-bagus itu acara, jadi rusak kan. Karena kesannya jadi urakan. Yang bicara juga jatuhnya, jadi bicara seenak jidat. Bagaimana pun faktanya, kalau dia bicara A, ya yang benar adalah A itu. Orang lain juga harus bilang A itu yang benar. Lho kok maksa?

Sampai sini, kelihatan kan bodohnya saya.. Bisa emosi hanya karena dua hal nggak penting ini. Haha.. Kalau pacar denger, pasti deh saya diceramahi lagi. Ha ha ha.. :p Hm, eh tapi sebenernya saya juga melakukan semacam generalisasi ya.. Belum tentu semua orang seperti itu, walaupun kebanyakan yang saya temui seperti itu. Yah, positive thinking saja, siapa tahu, emang apesnya saya ketemunya sama orang-orang yang sukanya bikin kesal seperti itu. Haha.. Karena toh buktinya, saya juga nemu kok, yang bikin adem di dunia maya. Hehe.. Salah satunya, tumblr milik seseorang, yang entah lah, selalu sukses membuat mata saya siaga membaca seluruh posting barunya yang belum saya baca. Menghibur, mengedukasi, mengetuk pintu hati kadang. Membuat saya bisa lebih sadar lagi, dengan esensi hidup. Iya. Baca tumblr itu, jadi seperti bicara sama Mama, di mana selalu ada transfer ilmu di dalamnya. Alhamdulillah kan ya.. Hehe.. Mau tau akunnya apa? Bisa dilihat di following list saya di blog ini yak. Hehehe..

Nah. Jadi ceritanya, sampai di sini dulu yak. Saya ngantuk. Hahaha.. Dan, belum sempat bikin kuisioner untuk besok dikonsulkan. Hahahaha.. So, thanks for reading this. Bah ha ha ha ha.. Dan, maaf lah ya, kalau saya terlalu nyampah.. :p Akhir kata, see ya next post! ^^

Sunday, January 11, 2015

Dua Tiga Kata Sebelum Tidur

Dari berbagai macam hal yang saya alami, tercetus suatu pemikiran oleh saya, bahwa bahagia itu simple. Simple, karena semua itu hanya permainan sudut pandang. Mungkin seperti melihat bunga mawar. Kita tahu, bahwa bunga mawar itu indah, sangat indah, tapi kadang, kita terlalu fokus memperhatikan duri yang ada di sepanjang tangkainya. Kita lupa, bahwa mahkota bunga mawar yang indah itu ada. Bersyukur, mungkin itu kuncinya. Cukup syukur. Syukuri apa yang ada. Jangan sampai kita lupa dengan apa yang kita punya. Di saat gelap adalah suatu ketiadaan cahaya, saya yakin, bahwa duka dan gundah dulana adalah suatu ketiadaan bahagia. Maka jangan jadikan ketiadaan itu ada, hanya karena sudut pandang kurang bijak yang kita gunakan. Bersyukurlah, berbahagialah, karena hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dengan bermuram durja, kawan..:)

p.s.: untuk mereka yang sedang "nggak enak perasaan", do not worry, be happy :)

Friday, July 4, 2014

Di Antara Pilihan

Hari ini air mata gue tumpah. Dua kali. Hmm semoga nggak berpengaruh ke puasanya deh ya. Hehe.. Sebabnya apa? Karena membaca dua buah artikel, yang entahlah, menurut saya adalah petunjuk dan pencerahan dari Yang Maha Esa. 

Hidup itu pilihan. Sehari-hari manusia, tidak lepas dari proses memilih. Entah dari dua, tiga, atau lebih pilihan yang ada. Terkadang, kita ditempatkan pada posisi di mana seakan lebih baik tidak memilih. Misalnya, ketika dihadapkan oleh dua pilihan yang sama bagus, atau sama jelek. Tapi pada akhirnya, pasti kita akan memilih. Dan tiap pilihan mempunyai risiko masing-masing, yang berbeda tentunya. Gue pribadi, cukup sering rasanya, dipusingkan oleh pilihan-pilihan yang ada. Dari dulu, entah mengapa, gue lebih sering dihadapkan oleh pilihan yang sulit daripada yang mudah. Jatuhnya, gue sering banget galau dan bingungan. Hehe.. Tidak jarang juga, gue membatin, "Kok ketemu situasi kaya begini lagi? Kok harus milih yang sulit lagi? Kok mesti buat keputusan lagi?" Dan untuk menjawab itu semua, biasanya gue ber-rasionalisasi, kalau itu semua hanya hukum sebab akibat, karena gue masih belum mahir untuk menghadapi situasi "simalakama" tersebut. People said practices makes perfect, right?

Galau juga kadang menghampiri gue, di saat pilihan sudah gue tentukan. Ada aja, saat-saat gue termenung dan merasa gue salah pilih. Kadang, kecewa. Dan yang paling nggak enak, kadang muncul perasaan bodoh. Ya, gue jadi merasa seseorang yang bodoh, ceroboh, dan itu salah. Walau sebabnya simpel mungkin, karena kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan, tidak sesuai dengan rencana awal yang diinginkan. Ujung-ujungnya, gue pasti kesal dan sakit hati karenanya. Walaupun beberapa orang bisa dengan mudahnya berkata, "Ya udah sih," bagi gue, kesalahan tersebut nggak bisa lewat begitu saja. Jujur deh, susah buat  gue terima. Gue pribadi pengen banget bisa mengurangi kelemahan gue itu, yang sering gue sebut "wrong syndrome".

Di saat-saat galau-galau begitu lah, gue biasanya mencari pertolongan. Bisa dalam bentuk apapun dan dari siapapun sebenarnya. Walaupun, ada beberapa saat gue salah mencari. Dan dari sekian kali gue mencari, pertolongan Allah adalah yang terbaik. Di saat gue galau, bingung, gundah, dengan curhat se-curhat-curhatnya kepada-Nya, perasaan gue akan membaik, dengan lebih cepat. Dan selain itu pun, tak jarang, gue merasa Ia menunjukan jalan dengan membimbing gue ke suatu tempat, atau menemukan sesuatu. Just like today. Gue sempet galau, apakah pilihan yang selama ini gue pegang teguh salah? Apalagi begitu membandingkan dengan situasi orang lain, rasanya jadi seperti menyedihkan. Tapi itu tadi, Alhamdulillah, saya ber-Tuhan, Allah S.W.T. :-) Pencerahan itu datang. You will know how it feels when it comes.

Kedewasaan bukan sesuatu yang diperoleh begitu saja. Gue pun nggak sependapat jika dikatakan hal tersebut berbanding lurus dengan bertambahnya usia. Imho, kedewasaan bisa didapat dengan terus berlatih. Dan salah satu cara tersebut adalah dengan berada dalam situasi di antara pilihan-pilihan. Di mana pada akhirnya, kita sendiri yang harus menentukan apa yang kita pilih, yang juga dapat berarti, akan seperti apa kita nanti. Dapat memutuskan dengan berlapang dada menerima segala risiko dari pilihan tersebut, adalah salah satu bentuk kedewasaan yang menurut gue diperlukan. Dan jika untuk menemukan hal itu kita memerlukan bantuan, kenapa tidak meminta? Tentunya dengan sebelumnya sudah kita imbangi dengan usaha yang setimpal. Ya, berusaha. Dengan mencari tahu lebih banyak, mengkaji, menimbang, melihat dalam berbagai sudut pandang, dan menghitung baik-buruk yang akan didapat. Walau ujung-ujungnya mungkin akan membuat kecewa, gue percaya, jika kita dewasa, kita akan selalu melihat hikmah di balik itu semua. Jika memang salah, kita akan belajar menjadi lebih baik. Atau mungkin, di lain waktu, dalam situasi berbeda, kita akan tersenyum dan berkata, "Alhamdulillah saya memutuskan demikian." Siapa tahu kan? :-)



Tuesday, July 1, 2014

Tong Kosong

Seiring dengan atmosfer pilpres yang makin panas, entah kenapa saya teringat-ingat suatu peribahasa:
"Tong kosong nyaring bunyinya."
Mungkin karena saya merasa sedikit terganggu ya, dengan kebisingan dari salah satu calon. Ya, ada salah satu, yang membuat saya merasa begitu. Entah kenapa seperti sudah over dosisnya di media nasional. Entah itu dari Beliau langsung, atau timsesnya, atau siapapun, jatuhnya sama saja dalam benak saya. Pernyataan-pernyataan yang saya dengar pun, sering menggelitik logika dan membuat saya heran. Tak jarang membuat jengah. Dan ya, membuat saya teringat-ingat peribahasa tersebut.
Well, semoga tidak demikian ya.. :)

Thursday, June 12, 2014

Nite All...

Nite all.. Phew. Jujur, gue lagi galau. Wahaha.. Sebabnya? Banyak hal sih. Mungkin bisa dibilang post graduate syndrome kali ye.. Apalagi barusan diajak menggalau juga sama seorang sahabat. Hihi.. Dan bawaan gue kalau galau itu, jadinya pengen nyerocos panjang lebar, mengomentari sesuatu. Hm, sebenernya pengen deh ngeluarin sumpah serapah eh maap, komentar dan opinin maksudnya, terkait pilpres 2014 ini. Udah mendem sih dari tadi pagi. Apalagi, gue sering banget memantau lini masa, yang isinya seringkali nyebelin. Haha.. Tapi, jangan ngomongin itu dah. Ntar ada yang serius gitu bacanya (haha siapa jugaa yang bakal baca :p) ribet deh. Mari kita bicarakan yang masih fresh ada di pikiran gue aja, sinetron. Ralat, sinetron religi. Haha..

Jadi ceritanya, entah sejak kapan, keluarga gue (baca: mama, papa, adek paling kecil) suka sama salah satu sinetron yang tayangnya jam-jam segini ini. Kayanya sih udah lama tayang itu sinetron, dari bulan puasa kemaren paling yak, haha.. Dengan judul yang bisa dibilang bersaing dengan sinetron di stasiun tv tetangganya. Kita sebut saja sinetron itu M. Haha.. Di awal tadi gue bilang, 'M' ini adalah sinetron religi. Kenapa? Penilaian gamblang gue aja sih sebenernya. Pertama, dari judul yang bawa-bawa bau ibadah haji. Kedua, banyak ustad di dalamnya, yang dialognya ya dialog ustad. Ketiga, pemeran cewek mostly berkerudung. Hehe.. Mungkin di awal-awal, pas yaa jika dibilang ini sinetron religi. Tapi makin ke sini, entah kenapa, makin ngaco aja itu sinetron. Nuansa agama nya semakin hilang aja menurut gue, dan jalan cerita pun melenceng jauh dari judul utama. Sekarang malah banyak banget dagelan di sinetron 'M' itu. Sinetron komedi, lebih tepat rasanya. Mungkin memang pasar lebih suka yang lucu-lucu ya.. Tapi seenggaknya, yang buat lucu-lucuan itu, dibuat lebih benar dong. Abis, banyak banget printilan-printilan yang bikin saya ngebatin, "ah salah tuh" atau "ya kali orang bisa kaya gitu". Dari episode yang malam ini aja nih (yang masih tayang dan lagi ditonton sama adek gue di depan), ada beberapa yang bikin gue geleng-geleng. Terutama yang tentang printilan medisnya nih. Masa ada gitu, pasien luka bakar sekujur tubuh, dengan perban di semua badannya, dia kabur dari rumah sakit, terus jalan-jalan keliling kampung, terus nyungsep di tong sampah dan sebelumnya nyebur ke empang, tapi, masih survive. Oke, dari awal aja, luka bakar di sekujur tubuh, yang bahkan bibirnya meleleh dan daerah genitalia juga terkena, itu prognosis buruk lho. Bisa menyebabkan kematian. Bisa karena trauma inhalasi, infeksi, ketidakseimbangan elektrolit, yang kalau dirawat di rumah sakit pun belum tentu pulih. Lha ini, uda berapa hari lewat, masih ada aja, masih bisa nulis apa yang dipikirin, gerak-gerak, tanpa pakai oksigen pula. Dan terus dia kabur dari rumah sakit, sempet jalan-jalan pula keliling kampung? Heeeeloooo.. Iya kali, bisa kabur dari rumah sakit gitu aja, dengan perbannya masih putih. Gak berdarah-darah itu pas cabut infus? Oke lah itu sekian dari printilan yang ada medisnya, yang cukup bikin gue, begitulah. Yang lain nih, ada gitu ya, orang nih, dia hidup, terus mati, terus hidup, terus mati, terus hidup lagi? Hidup lagi pun setelah ada anak kecil yang mendoakan, dan dia bangkit dari kuburnya. Oke lah, mungkin si yang punya cerita mau bicara tentang mukjizat, tapi yaa nggak gitu juga lah. Emang lampu jalan, mati hidup mati hidup berkali-kali gitu? Dan bahkan setelah dia hidup lagi, si orang itu masih berniat membalas dendam ke tetangga-tetangga yang nggak mau membantu pemakamannya saking kejamnya perlakuan orang itu semasa hidup. Itu cerita dia dikasih kesempatan hidup lagi yaa, setelah arwahnya nangis-nangis berdoa minta kesempatan. Speechless ada kaya begituan di sinetron ini. -.- Belum lagi, ada adegan cowok-cowok yang pergi ke kuburan si orang itu, berniat mau ngambil tali pocongnya, biar kaya. Itu cowok-cowok ceritanya beragama Islam lho, pakai baju koko sama peci, di beberapa adegan digambarin solat, rajin berdoa, ya kaliii ngomongin tali pocong biar kaya? Tolooong.. Keganggu beneran deh ngeliatnya. Dan masih banyaak lagi adegan-adegan atau perintilan-perintilan di 'M' ini yang menurut gue gak masuk akal. Sampai-sampai gue sama adek cowok gue bikin tagline buat ini sinetron, "beyond human's logic". Hahaha..

Haaah.. Sekian dulu lah sesi komen-komen-karena-galau ini. Berharap ada manfaatnya sih, siapa tau gitu, produsernya gak sengaja baca, terus diperbaiki deh itu sinetron. Haha.. Wes wes, ya sudah, sampai sini dulu, disambung ke posting selanjutnya. After all, good night all ^^

Tuesday, April 29, 2014

another galau moment :p

Galau. Galau yang kali ini, agak berat rasanya. Kalau diibaratkan mau pipis, anyang-anyangan rasanya. Haha.. Padahal perkara pindahan aja loh. Harusnya kan saya senang ya, akhirnya, selesai sudah semua kewajiban dan perjuangan saya, belajar di perantauan. Akhirnya saya bisa pulang. Iya, pulang. Kembali ke rumah. Ah, tapi kenapa rasanya malah jadi menggalau begini? Ada rasa berat hati, meninggalkan kota yang tenang ini. Apa karena tanpa sadar, saya juga sudah menganggapnya rumah ya? Kota ini dan segala isinya, dengan segala memori yang terbentuk di dalamnya, entah sejak kapan, akhirnya menjadi sama berharganya dengan kota kelahiran saya, Jakarta, beserta segala isinya. Iya, jadi sama.. Dan entahlah, saya merasa seakan-akan kedua tempat itu, saling menarik saya ke arah yang berbeda. Dan akhir-akhir ini, saya jadi sering membatin, "Seandainya, jarak Jakarta - Malang sama seperti Jakarta - Bogor atau Malang - Blitar.." Hehehe.. Kayanya saya kualat ya, hahaha..