Showing posts with label curhaat... Show all posts
Showing posts with label curhaat... Show all posts

Wednesday, December 30, 2015

little confession

My dear Gie.. Guess what. I'm kinda miss wearing my coat again. I miss my med life. Hahaa silly me.. Padahal kalau pas dulu ribet di IGD, bawaannya sambat mulu. Dasar manusia, gak pernah puas.. Gue juga heran sebenernya, bisa kangen gini. Haha.. Mungkin karena udah keburu eneg sama suasana deket-deket ini yah.. Hehe.. Well Gie, doain aja lah. Masa - masa meng-eneg-an ini bisa segera berganti dengan kebahagiaan. Amin!! ^^

Saturday, December 26, 2015

GKDCSGMDKR@#%$$16&*!

Ya Allah.. maapkeun kalau masih nyampah aja di blog ini. Tapi seriusan Ya Allah, tolong beri hamba kesabaran buat menanggapi ini semua.. Kalau pas lagi fokus sendiri sama keluarga sih senang-senang aja rasanya, entah kenapa tapi, begitu kejadian kejadian ini itu, serasa kaya ketemu dementor.. T_____T

Thursday, April 16, 2015

23 :)

Tanggal 14 April kemarin, saya ulang tahun. Nggak kerasa sudah 23 tahun. 23 tahun, usia yang akhirnya saya capai juga. Haha.. Usia ini spesial menurut saya. Haha.. Kenapa? Karena saya menjanjikan seseorang sesuatu di usia itu. Yang Alhamdulillah, semoga dalam waktu dekat dapat terpenuhi. Amin.. :)

Dan, di ulang tahun ke 23 ini, saya dapat surprise dari teman-teman. Haha.. Surprise, lilin di atas es krim durian. More than enough for me, to feel happy and grateful. Mereka.. Masih mau repot-repot buat saya. It's such an honor for me. Di hari itu pun, aliran doa dari Mama, Papa, adik-adik, teman-teman, dia, rasanya membuat hari saya benar-benar menjadi indah. I do feel sooo grateful..

After all, harapan saya masih nggak beda dari harapan-harapan sebelumnya. Menjadi lebih baik dan dewasa lagi di usia yang bertambah (atau berkurang? hehe) ini. Semoga semakin berkah dan bisa menjadi manusia bermanfaat.. Dan Ya Allah, tolong jaga selalu keluarga, teman, dan dia.. Doa yang sama untuk mereka semua. Aaamin.. :)

Tuesday, April 7, 2015

Jadi Ceritanya...

Jadi ceritanya, ini tulisan random aja. Haha.. Yah, random aja tiba-tiba saya pengen aja gitu, nulis-nulis lagi di sini. Mungkin karena udah seharian ini gak main SW kali ya. ATM rusak, kalau malam di sekitar juga sepi, warung-warung tutup jadi nggak bisa beli pulsa, jadi otomatis seharian nggak bisa internetan dari smartphone dan main Summoner's War kaya biasanya. Hahaha.. Oke lah, penting banget itu saya ceritain segala. Haha. Harap maklum deh, karena visi saya saat ini adalah bukan untuk menulis sesuatu yang berbobot yah, tapi memang murni karena pengen aja tulas tulis apa yang dari tadi lewat-lewat mulu di benak saya.

Hmmh.. Oke. Jadi ceritanya, saya baru saja kesal. Kesal kenapa? Kesal karena hal yang nggak penting sebenarnya. Kesal karena ternyata saya sudah membuang cukup banyak waktu dan energi demi menyimak sesuatu yang hanya memancing emosi saya. Dan sebenarnya kalau dipikir-pikir lagi, ih nggak penting banget saya emosi cuma karenanya! Huff.. Tapi, gimana ya, saya gampang banget emosi sih. Apalagi di masa-masa pergejolakan hormonal ini. Hahaha.. Sebenarnya, bukan emosi yang marah-marah nggak jelas gitu sih. Sebenarnya, lebih ke arah, kecewa. Semua berawal dari berita online. Berita online dengan headline yang sedap dan gurih, yang tanpa membaca isinya aja, udah kebayang, akan seperti apa reaksi-reaksi yang muncul dari pembaca. And thanks to technology, reaksi pembaca itu pun bisa langsung ketahuan, terpampang jelas di kolom komentar, walaupun bisa saja yang meninggalkan komen di sana bukan pembaca sebenarnya. Yah, thanks to technology lagi ya, seakan-akan semuanya bebas dan berhak berbicara apapun. Cuma sayangnya, nggak jarang, yang terjadi malah akun-akun yang (mengaku) pembaca itu, meninggalkan komentar dengan tidak bijak. Iya, tidak bijak. Bukan jadi ajang diskusi yang enak, malah jadi ajang saling ejek dan menjelekkan. Saling hina, saling caci. Ini lah beberapa contohnya..

"Kaum berakhlak emang tipikal *** ini, otaknya di pangkal paha..."

"Eh guoblok! klo Korupsi merugikan negara&rakyat. tp ***blablabla*** (-skip.karena.kepanjangan) termasuk mensubsidi kunyuk2 bodoh seperti anda!!!"

"You know what else they are famous for? For being 100x smarter than smartass like you.." 

Hm.. Cuma karena satu berita itu aja. Idealnya kolom komentar itu kan, biar bisa diskusi nggak sih? Kalau ada yang pro kenapa, kontra kenapa. Siapa tahu dari diskusinya muncul solusi gitu. Tapi kayanya itu cuma ada di angan-angan. Kebanyakan yang kejadian tipikal kaya yang di atas itu deh. Udah akunnya anonim nggak jelas semua. Kita nggak tahu toh, mereka-mereka itu apa benar memang pembaca atau pihak-pihak lain yang 'bekerja' karena ada kepentingan tertentu? Misi untuk mengadu domba? Bisa jadi. Menjatuhkan pihak tertentu? Bisa jadi. Well, di era dunia tanpa batas kaya sekarang, skenario apapun rasanya masuk akal dan bisa kejadian toh. Ya itu lah makanya. Kecewa aja, masih banyak nemu beginian. Walaupun sekarang siapapun berhak untuk bicara, apa harus bicara dengan segitu kasarnya? Kan nggak bertanggung jawab. Jadi kayaknya tuh, orang-orang nggak peduli lagi sama pepatah "mulutmu, harimaumu". Gak takut efek buruknya apa ya? Bisa melukai hati orang lain kan? Bisa juga dituntut terus urusan sama penjara kan? Iya gak? Itu tuh, udah banyak kejadian kan yang cuma karena tulisan di dunia maya, jadi dikurung penjara di dunia nyata. Bisa toh artinya? Apa karena mereka bicara di dunia maya, dan nggak akan bisa ketahuan mereka siapa? Padahal lho, nggak nyaman banget dih ngeliatnya. Bikin kesel lho. Jadi bikin mbatin, Ya Allah, segini rendahnya ta moral orang-orang di negeri saya? Segini nya nggak beretika kalau bicara? Mana yang katanya negara Indonesia, adatnya orang timur, penuh sopan dan santun.. Mbatin ya, mbatin.. Apalagi masa-masa saya gampang emosi begini. Haha.. 

Eh terus ya, abis kesel baca itu berita online, saya nonton TV. Eh lha ya kok, sama.. Yang saya tonton pun, sedang memperlihatkan suasana di mana ada dua orang berseteru. Dua orang, dalam acara pencarian bakat, yang digadang-gadang adalah suatu tampilan acara yang real tanpa rekayasa skenario apapun. Haduh. Cuma karena beda pendapat, harus banget teriak-teriak nggak jelas? Dan kalau pun, pendapat kamu nggak bisa diterima sama orang lain, harus kah tetap memaksakan kalau pendapat kamu itu yang paling benar? Sementara batas benar dan salah itu, dalam menilai seseorang, sulit sekali rasanya untuk dilihat. Menilai seseorang, seobjektif mungkin, pasti ada subjektifnya. Kecuali kalau kaya kita menilai seseorang dengan ujian tertulis misalnya, itu kan jelas, nilainya ya dilihat dari benar salah nya dia jawab pertanyaan. Thaaat's why, nggak usah berlebihan lah kan bisa. Acara itu kan ratingnya tinggi, katanya ditonton baaanyaaaaak orang, anak-anak, dewasa, tua, muda, iya toh? Masa memperlihatkan hal nggak dewasa begitu? Kurang pantas rasanya. Demi apa sih? Rating? Karena kebanyakan masyarakat kita terhibur kalau lihat orang ribut? Sensasi? Harga diri? Padahal udah bagus-bagus itu acara, jadi rusak kan. Karena kesannya jadi urakan. Yang bicara juga jatuhnya, jadi bicara seenak jidat. Bagaimana pun faktanya, kalau dia bicara A, ya yang benar adalah A itu. Orang lain juga harus bilang A itu yang benar. Lho kok maksa?

Sampai sini, kelihatan kan bodohnya saya.. Bisa emosi hanya karena dua hal nggak penting ini. Haha.. Kalau pacar denger, pasti deh saya diceramahi lagi. Ha ha ha.. :p Hm, eh tapi sebenernya saya juga melakukan semacam generalisasi ya.. Belum tentu semua orang seperti itu, walaupun kebanyakan yang saya temui seperti itu. Yah, positive thinking saja, siapa tahu, emang apesnya saya ketemunya sama orang-orang yang sukanya bikin kesal seperti itu. Haha.. Karena toh buktinya, saya juga nemu kok, yang bikin adem di dunia maya. Hehe.. Salah satunya, tumblr milik seseorang, yang entah lah, selalu sukses membuat mata saya siaga membaca seluruh posting barunya yang belum saya baca. Menghibur, mengedukasi, mengetuk pintu hati kadang. Membuat saya bisa lebih sadar lagi, dengan esensi hidup. Iya. Baca tumblr itu, jadi seperti bicara sama Mama, di mana selalu ada transfer ilmu di dalamnya. Alhamdulillah kan ya.. Hehe.. Mau tau akunnya apa? Bisa dilihat di following list saya di blog ini yak. Hehehe..

Nah. Jadi ceritanya, sampai di sini dulu yak. Saya ngantuk. Hahaha.. Dan, belum sempat bikin kuisioner untuk besok dikonsulkan. Hahahaha.. So, thanks for reading this. Bah ha ha ha ha.. Dan, maaf lah ya, kalau saya terlalu nyampah.. :p Akhir kata, see ya next post! ^^

Thursday, January 29, 2015

Curhat Mereka

Saya orangnya seneng curhat. Hampir ke semua orang yang saya kenal, pasti kalau ada apa-apa saya cerita sama mereka. Biar bisa lebih lega. Walaupun emang masalahnya nggak selesai sih. Tapi tadi siang, gantian. Saya yang dicurhati. Dicurhati sama orang yang baru saya temui di hari itu. Sama pasien saya, waktu mereka datang berobat ke saya..

"Suami saya nikah lagi, Dok. Saya lagi sakit, tapi malah ditinggal suami.." ujar salah seorang ibu, yang memiliki kelainan liver.

"Anak saya baru meninggal, Dok. Anak pertama saya.." ujar seorang ibu yang lain, yang sedang berjuang melawan diabetes dan hipertensi nya.

And guess what.. Saya bingung mau respons bagaimana. Padahal udah bolak-balik saya sering curhat. Dicurhati temen-temen juga sering.Tapi kalau udah nangani pasien yang curhat, saya agak mati kutu. Saya hanya boleh berempati, tidak bersimpati. Dan entahlah, dalam beberapa kesempatan, rasanya sulit. Saya takut salah ngomong.

Saya cuma bisa bilang, "Sabar ya Bu.." atau "Biar dibalas di akherat ya Bu.." and another cliche soothing words. Did it help them? I don't know. I just can hope, it did help. I wish.. 

Dan pastinya, saya juga berharap, advis demi advis yang saya berikan, obat demi obat yang saya resepkan, juga pemeriksaan demi pemeriksaan yang saya lakukan, bisa membantu mereka, para pasien saya, untuk bisa sembuh dari sakit yang mereka derita.

Amin. Amin Ya Rabbal Alamin..

Sunday, January 11, 2015

Setelah Sekian Bulan

Good evening, people.. Halo Gie! Gak kerasa ya, udah lewat beberapa bulan aja nih, semenjak posting terakhir waktu Lebaran kemarin. *nyengir Setelah sekian bulan berlalu, banyak cerita rasanya yang bisa saya sampaikan. Terlalu banyak malah. Hahaha.. Banyak yang berubah, banyak yang baru. Hehe..

Eh, apa? Oh, tidak tidak, kalau dia, masih sama kok. Masih, saya sama dia. Dan saya pun (sampai saat ini) selalu berharap dia bisa terus sama saya. Huehehehehe.. Kalaupun ada yang berubah, mungkin taraf kedewasaan kami berdua, yang rasanya sih bertambah. Sudah nggak seberapa sering galau-galau seperti a-be-ge (bukan nama angkot) ababil lah. Walaupun tetep, masih ada sisi-sisi bocahnya, hehe. Hmm, bicara dia, otomatis saya jadi kepikiran dua kata, yaitu: masa dan depan. Masa depan. Posisi sekarang sih, saya lagi punya banyak rencana dan angan-angan untuk ke depannya, bersama dia, tentunya. Hehehe.. Tapi nggak usah cerita banyak dulu deh, mohon bantu doanya aja yak, moga-moga rencana dan angan-angan yang saya pasang di benak saya ini direstui oleh Yang Maha Kuasa dan bisa terlaksana dengan baik. Amin..

Oh ya, sekarang ini, saya udah resmi bukan anak Malang lagi loh. Alhamdulillah, setelah melalui berbagai proses yang panjang, penuh ketidakpastian, rumit, pelik, dan sedikit drama (HAHA), akhirnya saya terpilih (sebenarnya lebih tepat memilih lalu disetujui) menjadi dokter internsip selama 1 tahun di Kabupaten Blitar, tepatnya, RSUD Ngudi Waluyo Wlingi dan Puskesmas Sutojayan. Alhamdulillah, doa saya dikabulkan. Hehe.. Kebetulan emang pengen banget dapat Wlingi (setelah sebelumnya banting setir dari Kepanjen karena takut kalah saing), karena lokasinya yang terdekat kedua dari Malang. Dibandingkan dengan wahana-wahana isip lain yaa..

Nah, jadi, dihitung sejak pertengahan Oktober, kalau nggak salah sudah 2 bulan-an, saya merasakan manis pahitnya menjadi dokter internsip di sebuah rumah sakit daerah. Sekitar 2 bulan ini, saya dengan teman-teman kelompok kecil saya menjalankan hari-hari sebagai dokter umum yang bertugas di poliklinik RS. Alhamdulillah, saya cukup senang dengan apa yang saya jalani ini. Walaupun nggak selamanya perjalanan dirasa mulus, so far, I'm happy. Iya, nggak selamanya mulus. Ada aja loh, rasa-rasa kesel, capek, malas, marah, bingung, sedih, yang muncul dari bermacam situasi berbeda selama program internsip ini. Dipatolin TS senior, pernah. Dicuekin perawat waktu mau ngerujuk pasien gawat, pernah. Disangka mahasiswa perawat sama keluarga pasien, pernah. Didatangi pasien psikosomatis yang sama berulang kali, sampai mulut berbusa karena bolak-balik KIE, juga pernah. Pengalaman pahitnya yaa istilahnya, tapi tetep aja, senyum-senyum sendiri jadinya kalau saya ingat-ingat lagi. Karena dari pengalaman-pengalaman absurd itu, saya belajar hal baru. Dan jujur, saya mulai menikmati profesi saya sebagai dokter. Entah kenapa, rasanya senang bisa membantu pasien-pasien yang datang ke saya. Senang sekali rasanya, begitu pasien membaik dengan terapi yang saya berikan. Perasaan "ternyata-saya-bisa-bermanfaat" itu loo, yang epic banget rasanya. Hehe.. Dan pada akhirnya pun, kalimat wejangan dari Papi, untuk kami para dokter, memang benar adanya. To cure sometimes, to relieve often, and to comfort always, yes that's my duty, as a doctor. :-)

Oke deh, Gie, dan pembaca sekalian, sampai sini dulu saya cerita-cerita yak. Dilanjut lagi kapan-kapan. Dan doakan saya yaaa, agar bisa lebih bersyukur terhadap nikmat dan nggak sedikit-sedikit sambat. Hehe.. Jujur kok, saya bersyukuuuur banget bisa jadi dokter, dan semoga saja saya bisa makin istiqomah dengan profesi saya ini. Amin.. o:) Well then, good night everybody..^^

Friday, July 4, 2014

Di Antara Pilihan

Hari ini air mata gue tumpah. Dua kali. Hmm semoga nggak berpengaruh ke puasanya deh ya. Hehe.. Sebabnya apa? Karena membaca dua buah artikel, yang entahlah, menurut saya adalah petunjuk dan pencerahan dari Yang Maha Esa. 

Hidup itu pilihan. Sehari-hari manusia, tidak lepas dari proses memilih. Entah dari dua, tiga, atau lebih pilihan yang ada. Terkadang, kita ditempatkan pada posisi di mana seakan lebih baik tidak memilih. Misalnya, ketika dihadapkan oleh dua pilihan yang sama bagus, atau sama jelek. Tapi pada akhirnya, pasti kita akan memilih. Dan tiap pilihan mempunyai risiko masing-masing, yang berbeda tentunya. Gue pribadi, cukup sering rasanya, dipusingkan oleh pilihan-pilihan yang ada. Dari dulu, entah mengapa, gue lebih sering dihadapkan oleh pilihan yang sulit daripada yang mudah. Jatuhnya, gue sering banget galau dan bingungan. Hehe.. Tidak jarang juga, gue membatin, "Kok ketemu situasi kaya begini lagi? Kok harus milih yang sulit lagi? Kok mesti buat keputusan lagi?" Dan untuk menjawab itu semua, biasanya gue ber-rasionalisasi, kalau itu semua hanya hukum sebab akibat, karena gue masih belum mahir untuk menghadapi situasi "simalakama" tersebut. People said practices makes perfect, right?

Galau juga kadang menghampiri gue, di saat pilihan sudah gue tentukan. Ada aja, saat-saat gue termenung dan merasa gue salah pilih. Kadang, kecewa. Dan yang paling nggak enak, kadang muncul perasaan bodoh. Ya, gue jadi merasa seseorang yang bodoh, ceroboh, dan itu salah. Walau sebabnya simpel mungkin, karena kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan, tidak sesuai dengan rencana awal yang diinginkan. Ujung-ujungnya, gue pasti kesal dan sakit hati karenanya. Walaupun beberapa orang bisa dengan mudahnya berkata, "Ya udah sih," bagi gue, kesalahan tersebut nggak bisa lewat begitu saja. Jujur deh, susah buat  gue terima. Gue pribadi pengen banget bisa mengurangi kelemahan gue itu, yang sering gue sebut "wrong syndrome".

Di saat-saat galau-galau begitu lah, gue biasanya mencari pertolongan. Bisa dalam bentuk apapun dan dari siapapun sebenarnya. Walaupun, ada beberapa saat gue salah mencari. Dan dari sekian kali gue mencari, pertolongan Allah adalah yang terbaik. Di saat gue galau, bingung, gundah, dengan curhat se-curhat-curhatnya kepada-Nya, perasaan gue akan membaik, dengan lebih cepat. Dan selain itu pun, tak jarang, gue merasa Ia menunjukan jalan dengan membimbing gue ke suatu tempat, atau menemukan sesuatu. Just like today. Gue sempet galau, apakah pilihan yang selama ini gue pegang teguh salah? Apalagi begitu membandingkan dengan situasi orang lain, rasanya jadi seperti menyedihkan. Tapi itu tadi, Alhamdulillah, saya ber-Tuhan, Allah S.W.T. :-) Pencerahan itu datang. You will know how it feels when it comes.

Kedewasaan bukan sesuatu yang diperoleh begitu saja. Gue pun nggak sependapat jika dikatakan hal tersebut berbanding lurus dengan bertambahnya usia. Imho, kedewasaan bisa didapat dengan terus berlatih. Dan salah satu cara tersebut adalah dengan berada dalam situasi di antara pilihan-pilihan. Di mana pada akhirnya, kita sendiri yang harus menentukan apa yang kita pilih, yang juga dapat berarti, akan seperti apa kita nanti. Dapat memutuskan dengan berlapang dada menerima segala risiko dari pilihan tersebut, adalah salah satu bentuk kedewasaan yang menurut gue diperlukan. Dan jika untuk menemukan hal itu kita memerlukan bantuan, kenapa tidak meminta? Tentunya dengan sebelumnya sudah kita imbangi dengan usaha yang setimpal. Ya, berusaha. Dengan mencari tahu lebih banyak, mengkaji, menimbang, melihat dalam berbagai sudut pandang, dan menghitung baik-buruk yang akan didapat. Walau ujung-ujungnya mungkin akan membuat kecewa, gue percaya, jika kita dewasa, kita akan selalu melihat hikmah di balik itu semua. Jika memang salah, kita akan belajar menjadi lebih baik. Atau mungkin, di lain waktu, dalam situasi berbeda, kita akan tersenyum dan berkata, "Alhamdulillah saya memutuskan demikian." Siapa tahu kan? :-)



Tuesday, July 1, 2014

Tong Kosong

Seiring dengan atmosfer pilpres yang makin panas, entah kenapa saya teringat-ingat suatu peribahasa:
"Tong kosong nyaring bunyinya."
Mungkin karena saya merasa sedikit terganggu ya, dengan kebisingan dari salah satu calon. Ya, ada salah satu, yang membuat saya merasa begitu. Entah kenapa seperti sudah over dosisnya di media nasional. Entah itu dari Beliau langsung, atau timsesnya, atau siapapun, jatuhnya sama saja dalam benak saya. Pernyataan-pernyataan yang saya dengar pun, sering menggelitik logika dan membuat saya heran. Tak jarang membuat jengah. Dan ya, membuat saya teringat-ingat peribahasa tersebut.
Well, semoga tidak demikian ya.. :)

Wednesday, June 4, 2014

#ngelantur-tengah-malam

Saya sih orangnya kaku, saklek, kata mama saya. Jadi, kalau menurut saya tidak jujur, ya sudah tidak jujur. Kalau menurut saya tidak amanah, ya sudah tidak amanah. Alasannya apa, itu urusan paling belakang. Yang pertama itu, masalah prinsip menurut saya. Saya juga punya kebiasaan yang agak aneh. Saya cenderung nggak suka sama yang namanya ketidakadilan. Dan tidak adil versi saya ini, biasanya lebih ekstrim definisinya. Haha.. Bilang lah di saat ada dua orang sedang bertarung, dan satu orang tersebut diserang dengan segala kejelekan yang ia punya, tapi yang satunya tidak. Saya pasti kesal. Harusnya kan sama-sama diserang. Begitupun jika hanya satu yang diangkat-angkat dan dipuja-puja, saya juga kesal. Kenapa tidak mengangkat kebaikan yang satu lagi? Saya ini memegang prinsip, sebaik-baiknya orang baik, pasti ada busuknya juga, dan sebusuk-busuknya orang jahat, pasti ada baiknya juga. Makanya, saya juga suka kesal kalau ada orang nyinyir-nyinyiran yang lebay. Emang dia Tuhan yang tahu segalanya? Bahkan segala informasi yang tersaji di depan kita saja, belum tentu itu fakta. Kita bisa tahu dari mana itu benar atau tidak? Bahkan opini yang dikatakan berulang-ulang dan (hanya) dipercayai banyak orang saja bisa kita anggap fakta. Saya suka nggak nyambung deh sama logika orang kebanyakan. Akhir-akhir ini buka sosmed, bukan terhibur, malah tambah gerah aja. Haha.. Tapi ini apa sayanya yang berlebihan apa gimana yaa.. Hahaha

Tuesday, April 29, 2014

another galau moment :p

Galau. Galau yang kali ini, agak berat rasanya. Kalau diibaratkan mau pipis, anyang-anyangan rasanya. Haha.. Padahal perkara pindahan aja loh. Harusnya kan saya senang ya, akhirnya, selesai sudah semua kewajiban dan perjuangan saya, belajar di perantauan. Akhirnya saya bisa pulang. Iya, pulang. Kembali ke rumah. Ah, tapi kenapa rasanya malah jadi menggalau begini? Ada rasa berat hati, meninggalkan kota yang tenang ini. Apa karena tanpa sadar, saya juga sudah menganggapnya rumah ya? Kota ini dan segala isinya, dengan segala memori yang terbentuk di dalamnya, entah sejak kapan, akhirnya menjadi sama berharganya dengan kota kelahiran saya, Jakarta, beserta segala isinya. Iya, jadi sama.. Dan entahlah, saya merasa seakan-akan kedua tempat itu, saling menarik saya ke arah yang berbeda. Dan akhir-akhir ini, saya jadi sering membatin, "Seandainya, jarak Jakarta - Malang sama seperti Jakarta - Bogor atau Malang - Blitar.." Hehehe.. Kayanya saya kualat ya, hahaha..

Tuesday, April 22, 2014

Flower For You


Untuk semua kesabaranmu menghadapi aku, untuk semua jiwa besarmu yang kau tunjukan padaku, untuk semua nasihat dan solusi yang kau tawarkan, yang masih cukup sering aku bantah karena kepala batu, dan untuk tingkah lakumu yang juga cukup sering menyebalkan namun menambah warna hari-hariku..
Terima kasih.. :-) 

And just like the text in the picture above, thank you for your thoughtfulness..

-----------------------------------------------------------------------------------------------------
ps : semoga kamu suka bunganya, walaupun kayanya gak mungkin suka sih. hehe :p

Kata Miko

"Kata orang, cuma Tuhan dan supir yang tahu kapan bajaj akan belok. Masih seperti itulah apa yang gue rasakan selama pacaran. Cuma Tuhan dan pasangan yang tahu, kapan hubungan kita akan berubah arah. Tapi yang bisa kita lakukan bukanlah menunggu dengan ketakutan. Yang bisa kita lakukan adalah memegang tangan pasangan kita, tumbuh bersama guncangan di dalamnya, dan turun berdua, ketika sama-sama sampai di tujuan." 

-Miko @ Cinta dalam Kardus

Sunday, March 23, 2014

Sunday Night :)

Hari Minggu malam nih. Hari ini, tadi siang abis nganterin Mama balik ke Jakarta. Yup, si Mamam lagi ada kerjaan gitu di Trawas, deket Malang katanya, jadinya mampir deh. Seneng banget, punya quality time sama Mama sama si Nonon, adek gue.. Mana sebelumnya juga abis ber-quality-time sama pacaar, ahahahay.. So much happiness..:D

And now, sekarang gue lagi leyeh-leyeh aja nih. Santai, sambil surfing internet, update info dari milis, yaah sambil mengistirahatkan anggota tubuh yang udah beberapa hari ini sering sakit kaya orang jompo. Haha.. Oh ya, sambil nonton sekilas stand up-nya Pandji di Kompas TV. Sayangnya, gue telat nonton nya bro. Udah mau abis, makanya cuma sekilas. Haha.. Tapi even sekilas, bagian closingnya, tetep keren loh. Kata-kata penutup dia itu, motivasional sekali.. Lebih top dibanding pak Mario Teguh menurut gue. Kelihatan banget tulusnya.. Keren lah.. :) Even gue bukan stand up comedian, pesan dia nyampe ke gue..

"Kalau anak yang semasa sekolah yang dibilang bandel, bodoh, bisa berdiri di sini sekarang, elo pasti juga bisa. Asal lo mau disiplin. Buat orang percaya sama elo, sama effort elo."

Well, kayaknya sih gak begitu juga sih, si Pandji ngomongnya, hehe.. Tapi kira-kira, pesan seperti itu lah yang nancep di memori gue, dan ngena di hati gue.. :)

Oke deh, itu dulu cerita pendeknya yaaak.. Semoga, hm, ada manfaatnya yak baca posting gue yang ini. Hehehe :D

Monday, March 17, 2014

Halo Again Bloggie :)

Hai Gie! Kangeeeeen.. Ahahaha.. Maap yaa, gue tinggal-tinggal terus, sampe nggak terurus.. Hehe *bersih-bersih-sarang-laba-laba Hm, ada banyak banget deh Gie, yang pengen gue ceritain ke elo nih. Update status, eh update info maksudnya. Hehe.. Lo kangen kan pastinya? Hahaha..

First of all Gie, bilang congratz dong ke guee.. Alhamdulillah Gie, akhirnyaaa, setelah bertahun-tahun gue kuliah, akhirnya Gieee, gue lulus UKDI! :D Uji Kompetensi Dokter Indonesia, Gie, yang sekarang ini sifatnya sebagai exit exam. Which means, itu ujian akhir gue, biar gue bisa lulus dari Univ. Brawijaya ini. Makanya Gie, Alhamdulillah, Allahuakbar! Allah Maha Baik Gie.. Doa gue dikabulkan.. Usaha gue selama ini, akhirnya berhasil Gie.. Jujur ya, gue udah takut banget. Soalnya, waktu ngerjain 200 soal itu, gue galau.. Gak bisa dibilang gampang Gie. Begitu juga pas ujian prakteknya (OSCE) yang ada 12 station itu. Ada beberapa station yang gue ngerasa gatot, walaupun di station yang lain, Alhamdulillah, diberi kemudahan dan gue cukup yakin dengan performa gue. Cuma ya itu, gue minderan sih orangnya. Little bit paranoid too, haha.. Gue takuut banget kalau gak lulus Gie.. Kalau sampe gue gak lulus, gue mesti bayar SPP lagi lho, belum lagi, harus kembali bayar biaya ujiannya yang jutaan itu.. Naudzubillah, gak mau gue. Kasihan Mama Papa kan Gie? Makanyaaaaa.. Gila gue seneng banget Gie.. Alhamdulillahirobbilalamiin.. Terimakasih banyak Ya Allah.. Beneran Gie, kelulusan ini gue persembahkan buat Mama dan Papa.. Untuk Mama dan Papa yang udah mati-matian, banting tulang nyekolahin gue. Yang udah mendidik gue, dari gue yang gak bisa apa-apa, sampai gue jadi seperti sekarang ini. Gue tahu Gie, mungkin masih kurang yaa, hadiah buat Mama Papa gue ini. Tapi Insyaallah Gie, ini masih awal.. Kelulusan ini adalah awal buat gue. Gue akan berusaha lebih giat lagi, untuk bisa menjadi seorang anak yang bisa membahagiakan dan dibanggakan oleh mereka, amin.. :") Dan pastinya, gue juga akan terus berusaha Gie, untuk menjadi dokter yang bener. Dokter yang pandai, terampil, berakhlaq baik, dan sukses tentunya. Semoga, gue bisa menjadi dokter yang amanah, yang akan bermanfaat bagi agama, bangsa, negara, dan keluarga. Amiiin :) Doain juga yo Gie, hehe.. Oh ya, sama satu lagi. Gue pengen banget bisa menjadi orang besar, yang juga bisa menyumbangkan sesuatu yang besar untuk sesama. Semoga, dengan jalan yang terbuka untuk gue sekarang, gue bisa mencapai itu semua ya.. Hehe.. Amin Ya Robbalalamiin.. :)

Nah, yang kedua nih Gie.. Sekarang ini lagi hot-hot nya pemilu loh.. Tanggal 9 April 2014, bakal ada pemilu legislatif, yang milih anggota DPR, DPRD, dll itu tuh. Terus beberapa bulan setelahnya, pemilu presiden deh. To be honest, gue masih bingung lho milih siapa. Kalau kata adek gue yang kuliah di Fisip nih, malah dibilang baiknya golput aje. Hahaha.. Males lah gue, bukan gue banget kalo golput. Gue kan hobinya ikut-ikutan melakukan sesuatu. Hahahaha.. Udah ada beberapa pikiran sih yang gue yakini tentang beberapa calon. Tapi yaa, belum tentu itu 100% bener, makanya gue masih cari-cari lagi. Well, even suara gue cuma dihitung 1, dan 1 itu adalah dari sekian ratus juga rakyat, gue mau berkontribusi Gie. Berkontribusi untuk menentukan masa depan negara gue ini, di mana gue adalah rakyat yang tinggal di sana. Ini sebenernya yaa, tentang masa depan gue sendiri kan? Haha.. Well then, gue berharap Gie, semoga diberi pencerahan oleh Allah, untuk memilih yang paling baik dari yang ada. Harapan gue, pemimpin gue nanti bisa adil. Adil dulu lah. Maksud gue, menangani rakyatnya ya adil. Gak pilih kasih, atau cuma mementingkan segelintir golongan. Gak gembar-gembor bela wong cilik aja, tapi yang lain-lain gak dipikirin. Dan semoga juga, pemimpin gue nanti adalah seorang yang amanah, cerdas, dan tegas. Wes itu cukup lah. Semoga pemimpin gue nanti juga adalah beneran pemimpin. Yang niat awalnya gak neko-neko, tapi cukup, ingin memajukan Indonesia. Kalau bisa mencerdaskan, lebih baik. Hehe.. Semoga ya Gie, rakyat Indonesia bisa memperoleh yang jauh lebih baik dari yang sudah-sudah. Dan nggak begitu aja kemakan penggiringan opini dari berbagai media, dengan segala jenis pencitraan di dalamnya. Amin. Hehehe..

Well then, itu dulu ya Gie, cerita-cerita gue.. Lain kali, gue cerita-cerita lagi.. See ya again Bloggie! :D

Wednesday, December 11, 2013

Dear Gie..

Gie, gue ini, apa emang gak jodoh ya temenan sama siapa2? Gak tau lah. Belakangan ini, gue semacam hilang kepercayaan sama yang namanya teman. Apalagi, sejak ribet jadi anggota kelompok di lab koas yang terakhir ini. Gue sering banget kecewa. Gue sering ngerasa capek. Gue sampe mikir, ini apa gue nya yang lebay, kok bisa sih sampai perasaan separah ini. Gak usah bahas yang dulu-dulu lah, tadi pagi aja gue udah (dibuat) kecewa lagi. Ceritanya, besok itu, hari presentasi laporan akhir tugas lab terakhir gue. Itu tugas kelompok. Nilai pun, nantinya nilai kelompok. Gue, dapet tugas untuk edit beberapa bab, begitu pun yang lainnya. Untuk bab pembahasan, dulu sepakatnya kerjain bareng. Gue bilang, gue coba kerjain sedikit, kalau stuck, minta bantuan. Tapi endingnya, yah makalah mangkrak di gue. Sampe detik2 akhir mau konsul pun, pembahasan yang dipakai itu punya gue aja. Total dari 4 orang temen sekelompok gue, ga ada tuh yang itikad baik mau bantu bikin pembahasan. Alasannya apa? Gak tau juga gue. Yang pasti 1 orang sakit. Sisanya? Pada ribet sama tugas individu masing-masing, paling. Tau lah. Itu spekulasi gue. Oke lah, akhirnya dikirim makalah seadanya itu ke pembimbing, yang sayangnya, Beliau pun sibuk, sampai gak dibalas2 e-mail itu, dan otomatis, gue gak tau juga ini salah atau benar. Dan tau apa yang bikin gue jengkel? Besok ini jadwal kelompok buat maju presentasi. Presentasi akhir, yang nilainya sangat diperhitungkan. Tapi temen-temen gue pada kemana? Gue minta tolong buat finishing makalah aja susah banget. Gue udah rela wes, yang ngerjain presentasi laporan besok. Masa buat ngurusin yang lain tinggal dikit itu aja masih harus gue? Butuh waktu berapa jam sih emang? Alasan besok maju ujian lisan? Emang gue nggak ujian lisan? Suruh minta tolong yang lain? Elo itu anggota kelompok apa bukan? Cuma mau cari enaknya gitu? Minimal lah, gue stuck di pembahasan. Itu pun udah sebagian gue kerjain. Bantu mikir kek.. Ada pula yang karena sakit. Yah, bukan berarti gue gak simpati, tapi, gue nggak minta banyak.. Bantuin mikir aja.. Gue pas presentasi proposal kemaren juga mati-matian berjuang ngerjain sampe begadang. Itu pas badan gue panas meriang, maag kumat, pusing pula. Rasanya mau mati aja, begitu inget masih ada tugas itu. Tapi gue seenggaknya usaha. Dan bisa. Kenapa kalian enggak? Dari kemarin malam, gue hubungin susah. Begitu dibalas pagi ini pun, respons lama. Gue minta tolong, masih dikomenin ini itu. Ini tugas siapa sih sebenernya? Kenapa nggak ada kesadaran banget ya? Dan sekarang gue pengen tau perkembangannya gimana.. Minimal persiapan buat konsul hari ini. Tapi kenapa gak ada kontak sama sekali? Gue BBM, SMS gak dibales. Apa masalahnya ada di jaringan komunikasi, bbm pending dan sebagainya? Kenapa gak SMS atau telpon aja? Gue udah nyantumin nomor hp gue kok di status itu. Ah. Kecewa gue. Bahkan konsul terakhir hari ini pun, 2 orang udah gak ikut. Sakit, dan besok ujian. 1 orang lagi? Gak tau kabarnya gimana. Yah, emang gak semuanya, dan gak selamanya temen-temen sekelompok gue begitu. Ada yang baik dan ok. Tapi so far, entahlah. Lebih sering bikin gue ngerasa beban daripada enggak. Entahlah. Somehow gue merasa terkhianati. Sakit. Gue udah tekad, masa bodo, besok pada mau komen apa. Biar slide nya dibilang aneh atau apa, biar. Gue gak peduli. Mereka bahkan gak mikirin dari awal. Banyak yang gak peduli. So why do I care to them?

Dan seenggaknya, tinggal 2 hari, aku bareng kelompokan sama mereka. Semoga segera selesai. Amin.

Thursday, November 21, 2013

The Man that's Running

Nama acaranya Running Man. Variety show asal Korsel. Udah populer dari dulu sih, tapi gue nya aja yang kebiasaan, lola. Baru ngerti, begitu jaga puskesmas, ada temen yang sering nonton ini. Jadi ikutan suka. Abis lucu banget. Gue seneng ngeliatnya, bikin rileks.. Walau kadang, jadi kaya semacam over juga sih. Masa nonton itu masih lebih bikin gue lebih lega dan berasa enakan dibanding sama ... Yah, kalau dipikir-pikir jadi so sad aja gitu. Gue ini kok loner amat, lebih bisa dibikin seneng sama film, haha. Tapi mau gimana lagi, abis yang ... itu kadang malah bikin gue jadi tambah bete karena ... nya. Nah lo, bingung ya sama "..." maksudnya apa? Hm, gak usah tahu lah. Sedih gue ceritanya. Hahahahaha :-p

ps: ini posting dibuat dengan suasana hati yg tidak karuan

ps lagi: isinya abaikan aja. cuma "nggacoran" saya yg lagi kesel, sama semuanya.. yah, terutama (sedihnya) ke saya sendiri sih keselnya .__.

buat Gie, pendengar setia gue..

Gie ganteng.. Malem ini, enggak tahu lah kenapa, gak semangat rasanya. Hm.. Sindrom besok ngumpul tugas individu kali ya.. Yah, sekarang ini, gue lagi koas di lab terakhir Gie, Public Health. Harusnya menyenangkan sih. Well, yah, emang menyenangkan kok. Gue seneng, tiap hari bisa nanganin pasien, berinteraksi dengan nakes lain, seperti dokter sebener-benernya dokter lah. Cuma, masih dalam supervisi dokter senior tentunya. Orang-orang di sana ramah-ramah dan baik-baik bangeet.. Sopan, mau membantu kalau gue sama temen-temen ada kesulitan. Dari kapusnya, dokter fungsional, perawat, bidan, akper, sampai sak pasien-pasien, semuanya oke banget deh. Bikin kerasan tiap stase, hehe.. Makanya, sebenernya PH itu menyenangkan. Kalauuu aja puskesmas nya nggak sejauh ini, yang jarak dari Malang kota itu minimal 1 jam, dan kalauuu aja gue bisa nyetir dan punya mobil atau motor sendiri, dan kalauuu aja tema diagnosis komunitasnya bukan tentang kespro dengan sasaran remaja cowok, PH ini akan jauuuh jauh jauh lebih menyenangkan menurut gue. Dan oh ya, satu lagi, kalauuu aja, tugas individu PH nggak harus 4 biji, dengan tugas home visit di dalamnya. Huh, JAUH lebih nyenengin lagi deh. Soalnya, seriusan, dibanding dx kom yang emang dasarnya udah bikin pusing, the real depressing task itu, ya, tugas individu. Ralat, tugas individu, dengan kondisi gak ada kendaraan. Udah gue gak bisa nyetir dan gak punya mobil atau motor, temen satu kelompok juga nggak ada yang punya dan bisa bawa motor. Ada yang punya mobil sih emang, nyetir sendiri, tapi ... yah begitulah. Gak perlu deh gue cerita kenapa sungkan gue mau minta tolong. Khasnya koas lah. .__. Seharusnya sih gue nggak se-stres ini yak. Gue lho kalau baca bukunya koas sana, isinya seneng-seneng semuanya. Asik-asik deh. Bersyukur took isinya.. Tapi seriusan deh, lingkungan sekitar gue, depressing banget. Ini gue udah keluar dari keadaan tentang tugas dan fasilitas ya. Bicara yang lain. Yah, kalau berminggu-minggu terpapar sama aura orang-orang panikan, pesimis parah, emosian, dan dikit-dikit ngeluh & nyalahin gitu, gimana gue nggak jadi depressed? Huff.. Gue sering ngebatin tau Gie, di PH ini, gue ngerasa tekanan batin paling parah sepertinya. Well, atau bisa dibilang terparah kedua setelah psikiatri. Haha.. Tapi ya udah lah, tinggal 2 minggu lagi. Mau se-nggak enak bagaimana pun, tetep harus selesai dijalanin. Dan gue nggak mau give up gitu aja, asal selesai kaya yang lain pengen. Pokoknya, finishing nanti, dan ujian harus bagus. Iya nggak Gie? Udah jauh-jauh, susah-susah, belum lagi tenanga, waktu, dan uang yang dikeluarkan, pokoknya harus all out, dan ada dampaknya di masyarakat. Gak rela gue, kalau endingnya sia-sia, hehe.. Dan semoga, finishing pas ujian pun, akan menyenangkan dan lancar. Dapet A, AMIN! :-D Well Gie, wish me luck yak, and then, see ya when I see ya :-) 

Sunday, September 29, 2013

Honey and Clover














Gue semacam nostalgia. Gara-gara nemu live action series nya Honey and Clover, yang dulu sempet gue sukaaa banget animenya. Well, bukan sempet sih sebenernya. Emang gue suka sih sampai sekarang. Cerita tentang lima orang, Yuta Takemoto, Hagumi Hanamoto, Shinobu Morita, Ayumi Yamada, dan Takumi Mayama. Tentang persahabatan, cinta, dan pencarian jati diri. Tentang perjuangan dan penantian. Tentang keberanian dan ketulusan. Haha.. Lebay lagi nih bahasa gue.. Well, so far, gue udah nonton 5 episode dari 11, dan so far juga, gue kasih nilai 8,5 dari 10 buat live action series ini. Ceritanya bagus. Pemaparannya indah, nggak kalah indah dengan anime nya yang bagus banget menurut gue. Cuma, ya, kadang gue nggak tahan kalau lihat nasibnya lima orang itu, terutama Takemoto. Sedih sih.. Just like, life is sooo unfair to him! Tapi, kalau gue perhatikan lebih jeli lagi, banyak nilai moral yang bisa diambil dari cerita ini, aahaha.. Makanya gue kasih nilai bagus deh. Hehe.. Awalnya gue punya pikiran, "Honey" itu terlalu manis buat judul cerita ini. Haha.. Karena menurut gue, cerita ini gak sekadar "sweet", tapi "bitter sweet". Hehehe.. Chocolate and Clover mungkin lebih pas kali ya? Atau Cappuccino and Clover. Hehe.. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, memang cerita ini toh secara keseluruhan manis, semanis judulnya, Honey and Clover..

huff day

Bloggie.. Kenapa sih gue sering banget ngerasa sepi? Ngerasa sendirian? Padahal gue gak tinggal di kuburan kali Gie. Kosan gue, rame. Anak-anaknya cerewet-cerewet semua. Hehe.. Bukan gue nggak mau gabung sama mereka. Gue ngobrol kok, bercandaan. Cuma kalau udah ada yang omong-omongan tentang suatu yang gue nggak ngerti, gue jadi ngerasa minder aja buat gabung lagi. Kebiasaan jelek. Haha. Apalagi kalau kos lagi sepi gini. Di kamar aja, nggak ada kerjaan, cuma ngenet, tidur, dengerin lagu. Rasanya sesek aja gitu. Mau jalan-jalan, ngajak temen, eh lagi gak bisa. Hm.. Alamat sendirian lagi. Hehe. Begitu curhat, tanggapannya gitu-gitu aja. Harapan gue, nggak sesimpel itu mungkin. Nggak yang cuma di "haha hehe" in doang. Hehehe. Jadi berasa makin kecil ini hati. Malah jadi bete sendiri, ngerasa kaya.. nggak dingertiin. Tuh kan, aneh banget gue Gie. Huff.. Kebiasaan jelek yang susah banget ilang. Sebenernya gue udah biasa banget sendirian kaya gini lho. Cuma, nggak tau lah. Belakangan ini rasa seseknya kaya progresif gitu deh, tiap ketemu situasi yang sama. Mesti ngapain gue ya Gie?

Tuesday, September 17, 2013

feel like a broken heart

Selama ini sudah 11 semester saya lalui, dengan besaran SPP 4 juta tiap semesternya, tapi itu pun belum selesai studi saya.. Bukan berarti saya molor atau apa, itu memang normalnya gelombang pertama di program studi yang saya jalani ini. Tapi semester ini adalah yang terakhir, harus terakhir! Karena toh memang masa studi saya, sudah sampai ke tahap akhir. Tinggal 3 bulan lagi, studi profesi saya selesai, yang harus dilanjutkan dengan suatu ujian akhir, yang terdiri dari ujian teori (CBT) dan ujian praktik (OSCE), yang ternyata, untuk tahun ini perlu membayar 4 juta untuk mengikutinya. Dengan tambahan iuran sekian untuk bimbingan dan try out, namun yah, siapa yang bisa menjamin bahwa dengan itu semua ujian itu semua bisa terlewati? Ah, bukan, bukan saya bermaksud pesimis. Saya hanya berpikir menggunakan logika saya, saya berhitung. Walau ya memang, dengan adanya bimbingan dan try out yang sekarang berbayar (karena tahun lalu tidak dikenakan biaya), tentu besar harapan saya, akan ada dampak positif yang besar untuk ujian kami kelak. Kuliah saya ini, mahal amat amat mahal sekali rupanya. Dari masuk, saat di dalam, bahkan saat mau keluar pun, yang namanya uang, selalu saja menjadi mm persoalan. Memang itu semua konsekuensi, dari apa yang saya pilih. Hanya saja, sudah selama ini saya berdamai, bersabar, diam dan menunduk saja dengan harus ini harus itu, tapi perlukah lagi saya dibayang-bayangi dengan kebijakan-kebijakan yang menurut saya tidak sesuai logika? Diancam lagi, perlukah? Jika tidak lulus, tidak boleh yudisium, masih wajib membayar SPP. Diancam lagi, masih perlukah? Saya muak. Bosan. Hidup penuh dengan ancaman ini, ancaman itu. Kekhawatiran ini, kekhawatiran itu.. Walau memang kedua orangtua saya hanya bilang, ya sudah. Tapi tetap saja, saya tahu kondisi keuangan mereka berdua.. Dan haruskah sekarang? Kenapa harus saya yang terkena kebijakan lucu ini? Kenapa hanya selang 1 tahun, semuanya bisa sangat berbeda? Kenapa harus di saat adik-adik saya juga perlu uang yang banyak? Untuk melanjutkan studi ke SMA dan universitas? Kenapa? Kenapa??

Tapi lihat! Akan saya tunjukan, saya akan lulus dalam 1 kali ujian saja. Gelombang pertama, Februari 2014. Tidak akan saya terjebak dalam kebijakan aneh itu. Tidak akan saya memberi keuntungan untuk sebagian pihak tidak bertanggung jawab. I'll do my best for sure! I'll do it very well! Saya akan berusaha semampu saya, dan tentunya juga berdoa dan berharap. Bismillah.. Bisa.. Dan jika nanti saya jadi orang besar, saya akan berusaha untuk punya kekuatan dan kekuasaan. Akan saya pakai nanti, untuk menghilangkan kebijakan-kebijakan bodoh yang menyengsarakan entah banyak atau sedikit orang. Tidak akan saya lupa, tidak semua anak kedokteran itu dari keluarga berada, yang bisa seenaknya dijadikan objekan. Sekian..