Ha~lo! Masih dalam edisi #maternityleave #babynumber3 nih, dan akhirnya ada waktu buat buka laptop lagi. Haha. Boleh lah ya, sekian menit gue cerita-cerita di sini, mumpung Alfa dalam kondisi kondusif dan mata ini nggak lagi seberat biasanya yhaa (bayangin mata abis begadang lebih dari 2 malam deh).
Oh ya, pada percaya sama istilah "ucapan adalah doa" nggak? Atau istilah "mulutmu harimau mu" atau "senjata paling tajam adalah lidah"? Ketiga istilah tadi kan kesannya kaya beda jauh ya maknanya, tapi menurut gue prinsip dasarnya sama sih. Sama-sama menekankan bahwa kata-kata / ucapan adalah se-powerful itu. Gue pribadi jujur percaya sih. Dan hm, alasan gue mulai percaya itu pun, masih gue inget sampai sekarang. Jujur aja karena pernah ngalamin sih, haha, jadi event pertama gue ngalamin hal itu tuh, masih gue inget banget.
Dulu banget, waktu gue masih SMA, gue ikut suatu ekskul dengan segala tradisi dan event nya. Hehe. Ada satu masa di saat gue udah senior, giliran junior gue yang nyiapin event ulang tahun sekaligus tanggung jawab nyiapkan kue tart buat dimakan bareng-bareng. Standar kue tart waktu itu di ekskul gue adalah birthday cake ber-layer dengan krim dan hiasannya macam kue-kue ulang tahun yang dijual di Harvest. Tapi waktu itu, gue inget sempat ada kaya delay waktu acara berlangsung dan gue ketawa-ketawa bercanda sama temen gue, "Wah jangan-jangan ini cake nya yang dibeli salah, bukan birthday cake yang biasa tapi kue tradisional kaya lapis gitu lagi," yang entah kenapa saat itu gue anggep lucu haha. Dan yha, betulan kejadian dong apa yang gue bercandain itu. Persisss kaya apa yang gue omongin ke temen gue. Hahahaha. Dan jujur aja, gue ini (apalagi masa-masa masih bocil remaja labil) adalah tipe orang yang lihat segala sesuatu nya itu hitam / putih, dan banyak orang yang bilang kalau gue "suka pakai kacamata kuda" haha. Yah artinya gue tuh semacam selurus itu sampai polos / naif dah. Jadi udah bisa ditebak dong, kejadian kue itu jadi semacam titik balik buat gue pribadi, buat lebih hati-hati lagi saat ngomong, walaupun lagi bercanda. Wkwkwk.
Nah, akhir-akhir ini jujur ada hal-hal yang menggelitik gue buat nulis ini sih, berawal dari share-an status medsos seseorang yang gue lihat. Ada beberapa video pendek yang dijadikan status gitu deh, dan intinya membandingkan negara sendiri dengan negara lain, dimana kesannya negara sendiri tuh jelek banget gitu loh. Bukan gue denial dengan fakta sih ya. Karena emang faktanya, banyak siswa dan guru yang bikin konten joged-joged di tiktok. Tapi kan bukan berarti semua-mua nya begitu nggak sih? Gue agak jengah aja, kalau yang dilakukan itu cherry picking data dan terus dipakai buat menjelek-jelekkan. Nggak ada fungsi nya juga ngejelekin gitu, dan jadi semacam generalisasi juga nggak sih? Bayangin lah gimana perasaan siswa dan guru yang tidak melakukan itu dan belajar dengan serius di mostly of their time? Mempunyai visi misi yang mulia yang memang ingin menjadi orang berpendidikan? Mungkin kaya siswa yang jujur dituduh nyontek cuma perkara ada beberapa teman lain yang ketahuan nyontek? Kan bisa jadi sakit hati ya (personal experience, pernah merasakan galau nya digeneralisasi wkwk). Lagian emang nggak takut ya dengan kekuatan ucapan? Bolak-balik share, meyakini bahwa negara nya sejelek itu, nggak takut kah akan benar-benar "ter-amin-i" menjadi buruk? Malah nambah serem kan ya. Kayaknya mending diganti dengan ucapan baik dan afirmasi positif, doa agar negara kita bisa berbenah dan menjadi lebih baik lagi kan.
Like I said before, ucapan tuh kuat banget, gue percaya. Kalau tujuannya ningkatin awareness, rasanya nggak perlu sampai bolak-balik share nya dengan caption yang downgrading nggak sih? Entah lah mungkin cara mengekspresikan perasaan tiap orang beda-beda ya, mungkin karena kecewanya sudah menumpuk juga. Hanya saja, imho, kurang bijak sih jadinya. Rasanya better kalau fokus ke solusi nya instead of masalah nya, tapi tetap tanpa kita melupakan masalahnya itu apa ya. Yah, disampaikan dengan santun lah kalau ada kritik, kan masih manusia ya judulnya. Manusia kalau nggak santun tuh, entah lah, menurut gue kaya kureng manusiawi jadinya. Selain ucapan adalah doa, gue juga termasuk yang percaya kalau segala sesuatu yang berlebihan itu nggak baik, ibarat gue kata, semua-mua hal itu ada dosisnya. Terlalu berlebihan membenci sesuatu tidak baik, terlalu berlebihan menyukai sesuatu juga tidak baik. Jadi nggak perlu juga lah mengkritik secara berlebihan, sekecewa apapun dirimu (again, ini personal opinion gue ya).
Well sementara itu dulu deh ya, cerita ngalor ngidul gue hari ini. Kalau bermanfaat memberi kebaikan, Alhamdulillah, kalau dirasa tidak, monggo di skip saja wkwkwk. Intinya emang gue cuma pengen cerita ngeluarin uneg-uneg aja sih ehehe. See ya at next post (semoga ada) yes! ;D