Showing posts with label trip note. Show all posts
Showing posts with label trip note. Show all posts

Monday, November 9, 2015

Perjalanan Kembali ke Jakarta

16 Oktober 2015. Akhirnya. Selesai juga, tugas saya dan teman-teman dokter internship Jawa Timur dan sekitarnya selama 1 tahun ini. Pada tanggal tersebut, kami dilepas oleh Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur. Walaupun, tanggal selesai dari tiap wahana berbeda-beda, tergantung dari keBIJAKan daerah masing-masing. Ah, ya sudah lah. Apapun itu, saya bersyukur, akhirnya tugas kerja ala pengabdian ini bisa selesai juga tanpa perlu mengulang. Hehe..

Hm.. Mungkin segala cerita tentang internship ini akan saya tuangkan di lain post, di lain waktu. Kepikiran buat bikin versi seru nya nih, maybe semacam top 5 cases, atau top 5 bad experiences, atau top quotes by spv. Gimana? Rasanya seru ya. Haha.. Well, next time saya coba bikin tulisannya. Karena jujur aja, 1 tahun jadi iship itu, too much to describe lah buat saya. Like a candy, rame rasanya. Dan mirip-mirip koas, tidak indah untuk diulang dan indah (tapi juga ada yang tidak) untuk dikenang. Huehehe.. Sneak peak, satu kata tentang iship ya, "belajar". Yep. I learnt A LOT selama setahun iship di sini. Baik dari segi medis maupun non medis. Hehe..

Ah, jadi saya mau cerita apa? Saya mau cerita pengalaman saya kembali ke rumah, tanggal 21 Oktober silam. As you all know, saya ini mah statusnya anak perantauan selama beberapa tahun belakangan. Dari tahun 2008 sampai 2013, saya kuliah di Malang. Dari tahun 2013 sampai awal 2014 pun, persiapan untuk segala macam ujian juga di Malang. Saya sumpah dokter di pertengahan April 2014, disusul wisuda beberapa selang waktu setelahnya, itu pun posisi di Malang. Begitu Oktober, saya lanjut lagi jadi anak perantauan selama 1 tahun, kali ini di Wlingi, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Sooo I'm so excited that finally I can go home for real. Not just for a short moment like holidays, I'm moving bro. Haha.. Walaupun sebenarnya, pulang saya ini juga bisa dibilang.. hmm.. yah.. pulang untuk kembali sih. Haha.. Anyways, akhirnya setelah membereskan urusan packing dan beberes rumah kontrakan, pamit sana pamit sini, akhirnya berangkatlah saya ke Jakarta, naik bis. Just like my dream, saudara-saudara. Akhirnya setelah sekian lama, saya nge-bis lagi.^^

Pilihan saya akhirnya jatuh pada bis Rosalia Indah (Rosin) kelas eksekutif, setelah sebelumnya galau memilih antara Rosin atau Lorena. Fyi, sebelumnya saya lumayan sering naik Lorena untuk perjalanan Jakarta-Malang atau sebaliknya. Kenapa? Karena di zaman itu, cuma Lorena yang punya kelas super eksekutif (SE) dengan seat 2-1. Hei, perjalanan Jakarta-Malang tuh nggak sebentar yaa, kalau apes, bisa lebih dari 24 jam kita di perjalanan. So, comfy is a must for me. Dan seat 2-1 cukup menjamin itu. Saya kalau naik Lorena SE mesti ngambil seat yang tunggal itu saudara, dan agak depan. Udah tempat duduknya lapang, nggak usah canggung juga kalau di sebelahnya ada penumpang lain. Pardon me for not being so socially active while in a trip, especially when I'm alone. Hehe.. Jujur, kalau lagi pergi-pergi sendiri, saya prefer buat gak banyak omong atau ajak-ajak ngobrol penumpang lain. Tingkat waspada lagi tinggi-tingginya soalnya. Haha.. Oke, lanjut ke masalah bis. Ternyata saudara, saya baru tahu, kalau ternyata sekarang Lorena udah nggak punya kelas SE lagi. Cyediiih.. Jadi, saya makin ragu deh buat naik Lorena lagi. Kalau sama-sama adanya kelas eksekutif kaya po-po bis lain, kenapa nggak sekalian aja saya nyoba po bis baru? Alasan ke dua, cukup banyak orang yang merekomendasikan Rosin ke saya. Yang paling banyak disebut-sebut sih, kru nya profesional dan tempat pemberhentian nyaman. Sebenernya saya sempat ragu mau pakai Rosin apa enggak, karena begitu saya tanya-tanya, tidak ada bis yang langsung ke Jakarta (Lebak Bulus) dari Malang. Harus transit dulu di Solo. Dari segi waktu, rasanya lebih lama kan. Tapi, jujur saya nggak terlalu mempermasalahkan, karena tujuan saya naik bis lebih ke nostalgia dan menikmati sekali lagi perjalanan darat dari Malang-Jakarta, dan saya cari nyaman. Cuma, waktu itu kan, namanya lagi pindahan, barang bawaan saya banyaaak.. Ada 1 kardus gede, 1 koper gede, 1 tas baju jinjing, dan 1 ransel lengkap dengan notebook di dalamnya. Bisa aja sih saya bawa semuanya sekalian, cuma kan beeraaaaaaat.. Apa nggak rempong nanti kalau perlu transit-transit di Solo? Hmmm..  

Anyway, setelah diyakinkan sama admin tiket Rosin kalau nggak usah khawatir masalah banyak barang, dan dipertegas lagi setelahnya oleh kenyataan kalau Lorena nggak punya kelas SE lagi, akhirnya mantap lah saya pilih Rosin. Saya menggunakan Rosin kelas eksekutif, dengan tiket Rp 290.000, dan transit (ganti bis) di kantor pusat Rosin di Solo. For the first time, numpak Rosin dari Malang ke Jakarta. Huehehe.. Saking antusiasnya, karena ini sesuatu yang baru buat saya, saya sampai bikin catatan perjalanan. Hahaha.. Maunya sih, bikin posting ala-ala blogger gitu, yang apik include foto-foto di dalamnya, tapi maafkan diriku yang masih cupu dan pemalu. Kan saya ceritanya sendirian nih pulkam, agak isin gimana gitu lho, kalau tiba-tiba jepret ini, jepret itu. Hahaha.. Jadilah, antusiasme ini saya tuangkan dalam kata-kata dulu ya. Hahaha.. So, here we go..

Penampakan Rosin kelas eksekutif (gambar nyomot dari web yaa :p)

Oh ya, saya diharuskan siap di pool bis Rosin di Bunul Rejo Malang jam 07.30, karena pemberangkatan jam 08.00. Tapi dasar mental ngaret ya, jam 07.30 saya baru berangkat menuju pool. Untung ini Malang, bukan Jakarta, gak akan kejebak macet lama-lama lah. Haha.. Sempet ngebatin sih, "Ah gak apa-apa telat dikit ini, berangkat jam 8 ini, lagian kan bis biasanya ngaret (pengalaman pakai Lorena yang 90% mesti ngaret jam penjemputannya)." Tapi saya salah saudara.. Karena sekitar jam 07.40, saya ditelpon dari pool dan dibilang sudah ditunggu. Sampai di sana untungnya masih jam 8 kurang. Hahahaha.. Daaan, voila, Rosin ini on time lho. Karena saya ingat, bis berangkat dari pool pada saat jam digital di bis menunjukkan 08.00. Acung jempol deh..

08.00 : Berangkat dari pool Bunul Rejo Malang, yeaaay on time..^^
09.46 : Sampai di Wlingi (lewat) --> Ternyata, nggak seperti yang biasanya saya alami kalau naik bis, Rosin ini nggak lewat Surabaya, tapi Blitar, Kediri, dst sampai Solo. Sebelum lewat Wlingi, bis ini mampir di agen resmi Kepanjen dan menaikkan penumpang.
10.57 : In the middle of Blitar city, abis pick up penumpang di kantor agen Rosin Blitar. So far, gak ada angkut-angkut penumpang selain dari kantor agen. Plus point lagi deh.

Saya bisa tidur nyaman di bis ini. Saya duduk di seat 3A, lumayan depan lah ya, may fav seat too (gak terlalu depan, gak terlalu belakang).. Bis nya bersih, jarak antar jok pun lapang, wangi, dan cover jok nya kiyut ada motif mawar dengan warna elegan. Sesuai kan sama nama bis nya. Haha.. AC juga kenceng, dan sebelum berangkat kru mengecek satu persatu penumpang. Emang sih, beda ya seat 2-2 sama 2-1. Apalagi, pas banget, di sebelah saya ada penumpang lain. Istilahnya, eksklusifitas agak terganggu. Bahahahaha *hadeh bahasa gue hiperbola -.- Tapi, seperti yang sudah saya sampaikan, bis nya masih tergolong super nyaman buat saya yang cupu ini. Ditambah badan yang kecil *tsaaah, tidur saya pun juga semakin nyaman karena gak perlu desek-desekan sama penumpang sebelah. :D Ah, ini ada catatan yang saya tulis pada jam segitu (me from the past! :p): So far, bisnya ciamik. Semoga, yang baik-baik aja terus yang kejadian selama perjalanan ini. Still looooong way to go to Jakarta. Ciayo! :D

 11.13 : Sudah sampai Sambi, Kabupaten Kediri.
14.21 : Madiun kota. :)
16.32 : Sragen.. Lama juga yaa nyampe Solo.. Lapaaaar TT-TT
  
Nah! Ini salah satu kekurangannya saudara. Ternyata, di Rosin ini sudah tidak ada kebijakan pemberian snack dan air mineral yang seinget saya dulu ada (pernah numpak Rosin dari Malang ke Purwokerto, dapat snack dan makan malam 1 kali). Jadi, cuma dapat makanan 1 kali, itu juga malam dan pas di Solo. Jadi bayangin dong, perut saya udah kaya apa.. Secara dari jam 8 pagi udah duduk manis di bis, nggak bawa bekal pula. Untung saja sudah sarapan, jadi ini perut nggak perih-perih banget lah ya. Saya juga sempat bingung urusan solat. Tapi untungnya saat sekitar jam 5 sore, bis berhenti sebentar di pom bensin. Jadi bisa disempetin deh buat solat Dzuhur dan Ashar.

17.11 : Stop di pom bensin. Kayanya udah masuk wilayah Solo nih..
17.28 : Welcome to Kantor Pusat Rosin, Solo Palur!^^

Oke. Mungkin pengakuan saya ini terdengar norak, tapi jujur, saya benar-benar dibuat terkagum-kagum dengan kantor pusat ini. Wah. Rasanya kaya nggak kalah sama bandara. Hahaha.. Tempatnya luaaaas, ada minimarket, restoran, juga toilet dan tempat ibadah yang memadai, dengan 8 jalur terpisah yang diisi bis-bis keren Rosin dari berbagai jurusan. Oh ya, di sini juga ada tempat tunggu yang luas, lengkap dengan pusat informasi beserta petugasnya. Di sini saya harus berganti bis. Setelah mengemas seluruh barang bawaan, saya diminta untuk melapor dulu ke pusat informasi, untuk re-check-in dan memastikan bis mana yang akan saya naiki nanti. Untungnya, jarak dari bis yang pertama ke pusat informasi adalah tinggal ngesot. Haha. Jadi, nggak terlalu lama deh saya jalan sambil bawa-bawa kardus dan koper segede gaban.

Setelah melapor, saya diberitahu bahwa bis yang akan membawa saya ke Lebak Bulus belum siap. Memang sih, sejak awal petugas Rosin di Malang sudah memberitahu saya bahwa akan ada jeda menunggu yang cukup lama saat transit di Solo. Saya dianjurkan untuk beristirahat terlebih dahulu, makan dan bersantai, sambil menunggu. Dan untungnya lagi, barang bawaan saya yang banyak itu boleh dititipkan dulu di pusat informasi. Akan ada kernet yang nantinya membantu saya memindahkan barang-barang dari pusat informasi ke bagasi bis yang baru. Yeay..^^ Oh ya, dan di sini saya bertemu partner perjalanan baru. Seorang ibu-ibu dari Madiun, yang juga sama-sama harus ganti bis seperti saya. Lumayan, ada teman ngobrol selama istirahat. Hehe..

18.32 : Masih transit di Solo, nunggu bis yang ke Lebak Bulus!  
18.42 : Akhirnya berangkat lagii dari Solo, Bismillah..

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya, bis berangkat. And guess what. Saya dapat kursi paling depan, belakang supir persis, dengan kursi sebelah yang kosong! Hahahaha.. Lucky daaaay..:D Perjalanan pun berlanjut dengan menyenangkan. Beberapa kali saya tidur-bangun. Sampai akhirnya saya benar-benar tertidur agak lama..

01.46 : Kebangun.. Tau-tau udah di Tegal..

Di jam-jam segini, saya banyakan tidur saudara-saudara. Haha.. Secara yaaa, bisnya super comfy dan saya abis makan besar, gimana nggak ngantuk.. Oh ya, di saat saya kebangun di Tegal ini, for the first time after many months, saya akhirnya melihat hujan juga. Hehe..

02.08 : Melewati Brebes yang padat lancar.

Dan... catatan perjalanan saya (yang saya ketik di notes handphone) berakhir jam 02.08 di Brebes. Hahaha.. Setelah itu, saya lebih memilih buat tidur, bahkan sampai saya datang di Jakarta. Oh ya, sebelumnya saya sempat berhenti di tempat peristirahatan untuk solat Subuh, cuma lupa di mana tempatnya. Hehe.. Dan akhirnya lagi, dengan ajaib, saya sampai di Terminal Lebak Bulus Jakarta, tepat waktu seperti yang diinformasikan oleh petugas Rosin Malang, yaitu jam 08.00 pagi. Lama yak, 24 jam! Hahaha.. Tapi trust me, it's worthed, terutama buat kamu yang emang suka naik bis dan nggak lagi buru-buru..:D

After all, saya cuma bilang, Rosalia Indah ini, recommended by me. Buat yang suka touring jalur barat, atau yang bosen naik kereta untuk perjalanan jauh (maybe gara-gara bosen pemandangan gitu-gitu aja atau harus duduk terus selama perjalanan :p) boleh banget deh dicoba Rosin ini. Akhir kata, see ya at next post! ^^ 

Thursday, February 17, 2011

Pengalaman Singkat Nemenin Anak Teknik

Hai dunia.. Honestly, sekarang saya lagi suntuk. Nafas saya entah mengapa masih megap-megap, muka saya masih kusam, badan saya masih pegal-pegal, dan yang paling parah, entah mengapa lagi, perasaan saya masih tidak karuan. Padahal, sampai malam kemarin, saya cukup yakin endorfin yang ada dalam tubuh saya sedang luap-luapnya. Secara saya ketawa-ketawa sendiri kaya orang bego waktu SMSan sama pacar. Haha.. Yah, mungkin saya hanya capek. Karena kebetulan, tiga hari kemarin saya baru melanglang buana ke Poncokusumo. *oke, jangan protes dengan pemilihan diksi saya kali ini. :p

Capek sih emang, tapi saya tidak memungkiri kalau semua itu menyenangkan. Hahaha.. Benar-benar satu pengalaman baru yang jarang-jarang bisa saya temui. Nah, mungkin untuk menghibur diri sendiri, saya ingin bercerita sedikit tentang pengalaman saya menjadi tim kesehatan untuk KKM Fakultas Teknik Universitas Brawijaya di sebuah desa (lupa namanya :p) di Kecamatan Poncokusumo.

Namanya KKM. Kepanjangannya, saya lupa. Hehe.. Intinya, acara itu masih merupakan rangkaian Probinmaba (Program Pembinaan Mahasiswa Baru) di Fakultas Teknik Universitas Brawijaya. Saya menganalogikannya dengan Pengmas di FKUB. Heheehe.. Well, untuk detail acaranya, saya tidak akan berbicara banyak, maklum tidak terlalu mengerti. Hehehe..

Sebentar, saya ganti gaya bahasa dulu ya. Bosen juga lama-lama ngomong pake 'saya', kaya pembaca berita aja ntar, kelewat formal. Hahaha..

Oke, lanjut, jadi, ceritanya, Lakesma dimintai bantuan untuk menjadi tim kesehatan di acara tersebut, dari tanggal 12-17 Februaru 2011, ikut membantu panitia divisi kesehatan menjaga adek-adek yang ber-tujuh-ratus-an turun ke desa. Hoho.. Dan lagi-lagi, gue jadi PJ untuk mengumpulkan teman-teman Lakesma yang berminat gabung jadi timkes. Awalnya, gue lega, ternyata cukup banyak yang berminat. Tapi, berhubung ada perubahan yang mendadak, teman-teman mundur satu-persatu. Akhirnya, dari belasan teman-teman Lakesma yang berminat, hanya sembilan orang yang akhirnya maju, menjadi timkes yang dibagi menjadi dua shift. Hehe.. Dan saya, eh gue (dengan sedikit tidak tahu diri), memutuskan untuk join di shift pertama. Bersama Irene, Sendy, Yessa, dan Zen, berangkatlah kami ke bumi Poncokusumo. Hahaha..

Gue yang awalnya menyangka akan diantar mobil ke TKP harus agak kaget mendengar kenyataan bahwa transportasi yang disediakan oleh panitia ternyata truk tentara, dan kami harus berbaur dengan maba. Hahaha.. Okai laah, nggak apa-apa. Udah sering juga naik truk kaya begitu. Salah gue juga sih, over ekspektasi. *bentar, apanya ekspektoran yak itu ekspektasi? :p Weew, oke laah maksud gue, salah gue juga sih, terlalu banyak berharap. Haha.. Nah, sampai di desa, kami beristirahat dulu di balai desa. Sembari berteduh karena ternyata di sana hujan deras!

"Bawa ponco nggak Mbak?" tanya si kordi kesehatan waktu itu ke gue.

"Waaah.. Nggak Mas. Kelupaan," jawab gue sambil ketawa bloon. Langsung si kordi kelihatan merasa bersalah. Apalagi waktu tahu ternyata kita berlima nggak ada yang bawa ponco. Kedodolan berjamaah.

"Tenang aja, Mas. Kalo kita mah udah biasa. Ini juga tinggal mbalik jaket aja kok," ujar gue sedikit menyombongkan jaket Lakesma yang baliknya berbahan parasut (atau apa lah itu namanya). Padahal ya, nggak begitu ngefek juga sih. Tetep aja basah ngerembes ke lapisan yang dalam kalau kena ujan. Hahaha..

Akhirnya, setelah selesai urusan ponco-memonco (dengan ending anak-anak Lakesma nekat nerobos ujan), berangkat juga kami menuju camp. Dan di sini gue lagi-lagi kaget. Ya, karena dengan dodolnya gue nggak nyangka kalau perjalanan ke camp itu, sekitar 30 menit jalan kaki dari balai desa. Toeeeeeng.. Well, gue pribadi cukup panik karenanya. Satu, hujan nya bukan nambah reda tapi malah nambah deres. Dua, jalan kaki setengah jam (bahkan lebih, gue yakin) ujan-ujanan? You must be kidding.. Tiga, hari itu gue lagi hari pertama (you know laah what I mean :p), kebayang nggak sih risihnya lagi begitu terus ujan-ujanan? Hahaha.. Tapi..

"Gue pasti bisa! Begitu doang mah ceteeek. Gengsi dong sama temen-temen teknik yang udah bolak-balik lewat jalan kaya begitu. Panitia loh bahkan 2 bulanan mondar-mandir lewat itu jalan, sambil ujan-ujan pula katanya. Masa gue nggak bisa? Semaangaaat! Tinggal lewat aja looh. Terus nyampe camp deh.. Ujan mah bukan halangan!!"

Iya, begitulah Saudara-saudara.. Si dodol ini pun hanya bisa menyemangati diri sendiri, membuat sugesti dalam hati. Dan tidak bisa berbuat banyak tentunya, selain mengikuti panitia (yang sebelumnya saling berkoordinasi satu sama lain dengan mbulet) menuju tempat yang dimaksud. Yah, fyi, setelah berkali-kali merubah rencana, akhirnya ditetapkan bahwa kami stand by di beberapa pos yang akan dilalui maba selama hiking.. Oh, hiking ini maksudnya jalan kaki 30 menitan ke camp itu, Saudara-saudara.. Dan lagi-lagi, si dodol ini dengan ajaibnya tidak menyangka jika.. hiking (yang dimaksud).. bukanlah.. jalan-jalan santai seperti waktu survey Diklat Lakesma di Coban Rondo....

Iya, bukan.. -_-
Apalagi, waktu survey diklat dulu gue cuma kebagian jaga tenda sama ikut jalan-jalan sedikit. Itu pun nggak ikut tracking yang buat jalur tandu.. Dan gue menyangka kalau hiking nya KKM itu, nggak jauh beda sama pengalaman survey gue yang.. begitulah.. Dan, keputusan gue untuk nyendal (pakai sandal Crocs yang kegedean pula) bukanlah keputusan yang tepat. Ya, sangat tidak tepat kecuali kamu yang tidak ingin membiarkan kaki terbungkus ketat oleh sepatu basah..

Oke, bijim.. Tuh kan, bener deh, suntuk gue udah lumayan ilang ngebayangin kedodolan-kedodolan waktu KKM kemaren. Hahahaha.. Ini aja belum semua gue bongkar. :pp

Btw gue istirahat dulu yak. Ntar gue lanjutin lagi deh ceritanya. Gue pengennya sih nyeritain sampe selesai. Tapi apa daya, punggung gue udah kambuh lagi ini linu-linu nya. Sindroma abis ngetik banyak, biasaa.. Hahaha.. Soo, buat yang masih penasaran, stay tuned yap! :D

Friday, July 30, 2010

My One Night Trip to Gading Kulon (part 2)

Waah.. Kayaknya kelamaan ya, jeda antara cerita yang pertama dengan kedua ini. Haha.. Biarlah, yang penting gue selesaiin ceritanya biar gak 'to be continued' lagi. Mudah-mudahan aja gak lupa.. :D

...Waktu pun berlalu. Detik menjadi menit, menit menjadi jam, dan jam menjadi beberapa jam *entah mengapa kok kedengeran gak nyambung gini yah? -_-a Intinya, waktu terus berjalan dan tanpa sadar hari sudah semakin siang. Perut yang tadi pagi diisi sekadarnya, pelan-pelan mulai berbunyi. Panggilan azan pun berkumandang, saat untuk Zuhur sudah datang. Gue, Pras, dan Mas Arifin akhirnya berjalan kaki sebentar, turun dari balai desa mencari masjid. Yere sama Mas Deny jaga posko. Waaah.. Ternyata desa nya 'lumayan maju' juga. Di sepanjang jalan, gue melihat tempat sewa terop, rumah berparabola, salon kecantikan, mobil Terios parkir di garasi, rumah besar, digital printing, dll.. Hm.. Entah mengapa, menurut pandangan subjektif gue, desa ini beberapa langkah lebih maju daripada desa Gunung Rejo tempat gue penmas tahun lalu. Menurut Pras, bahkan desa ini bisa dibilang mewah. Lebih-lebih Mas Arifin yang angkatan 2007 (gue sama Pras seangkatan, 2008-red), yang menurutnya desa Gunung Rejo aja udah mewah. Yaah.. Emang kesannya agak gimana gitu sih. Sempet terbersit pikiran jelek, penmas tahun ini kurang 'nendang' atau kurang tepat sasaran. Tapi yah, gak adil juga sih mikir begitu.. Siapa tahu toh memang ternyata banyak warga yang membutuhkan, hanya saja di lain tempat di desa itu dan tidak terlihat oleh kami. Siapa tahu, walaupun ternyata warga desa tersebut berkecukupan, kesadaran kesehatan mereka masih kurang. Atau siapa tahu, yang kami lihat hanyalah tempat bisnis saudagar-saudagar kaya desa yang jumlahnya hanya beberapa.. Sepertinya kita memang perlu melihat sesuatu sebagai bola yang punya sisi tak terbatas.. Yah, segala kemungkinan bisa terjadi, daripada terjebak dalam prasangka buruk, jauh lebih baik melihat sesuatu dengan cara berpikir yang lebih luas dan terbuka. *Halah, bahasa saya sotoi mode on banget deh :p


Oh yaa.. Diitung-itung antara siang sampai agak sorean, ada lumayan banyak pasien yang minta obat. Cuma alhamdulillah gak ada yang parah-parah banget. Tapi sempet sih, agak sorean (setelah makan siang) ketemu kasus baru yang belum pernah kami (atau minimal gue lah) tangani sebelumnya. Nyeri kolik menjalar dari ulu hati sampai tembus ke punggung, simetris kanan-kiri, nyeri hilang timbul, tidak ada nyeri tekan, tidak ada riwayat maag, tidak sedang datang bulan, sudah makan sesuai dengan waktunya, pasien belum pernah merasakan sakit yang sama. Pasien nya sakit sampe gulung-gulung. Hmmm.. Gue yang kebagian tugas anamnesis, bingung juga dibuatnya. Agak panik, gue konsul ke anak-anak timkes lain. Eh, ternyata yang lain juga sama kaya gue. Masih belum ngerti itu sakit apaan.. Maag? Nyerinya bukan nyeri maag, dia juga gak ada riwayat maag (setidaknya begitulah pikiran gue saat itu). Anaknya juga gak mual dan sebelumnya udah makan.. Hmmm.. Pikir pikir pikir.. Akhirnya kami menghubungi dr. Dearisa, the doctor on call, berharap memeroleh pencerahan. Si dokter pun memutuskan untuk memberikan antasida dengan monitor 30 menit ke depan. Setengah jam lewat, dan si adek masih ngerasa gak enak.. Nah terus disuruh kasih lagi antasid sama.. hmm.. apa ya? wah gue agak lupa nih. Tapi kayaknya sih cimetidine.. Yah pokoknya dikasih 2 jenis obat lagi deh, terus dimonitor perkembangannya.. Gak lama, si adek muntah, makan siangnya keluar semua.. Tapi alhamdulillah nya, abis itu dia malah lega dan baikan. Akhirnya balik ke wisma dengan tenang.. Huray! :D

Nah, tinggal anak-anak timkes deh, yang mulai ribut dan berpikir, kena apakah si adek itu barusan?? "Keracunan pasti. Ada apa-apanya tuh di makanan, apalagi ikan nya tadi rasanya agak asin," ujar si satu.. "Bukan lah, mungkin aja dia yang alergi makanan, buktinya saya gak kenapa-kenapa abis makan itu ikan," kata si dua. "Hm, mungkin aja dia jajan sembarangan, terus gak kuat perutnya. Mungkin kan, tuh banyak yang jual cilok gitu di SD," khayal si tiga, yang notabene saya. :p Kami pun melanjutkan diskusi dengan asik.. Walau ujung-ujungnya, yaa, ngegosip juga. Haha.. Fitrah manusia kan untuk bersosialisasi dengan mengobrol? Haha.. Biarpun geje, lumayan juga obrolan kami di siang menuju sore itu. Dari yang tentang 'mau jadi apa di kepengurusan nanti', 'suka duka jadi direktur', sampai yang geje sekalian.. haha.. Lumayan.. Lumayan.. Dapet bekal buat nanti mengikuti jejak Mas Arifin.. (Lho?) Ahaha.. Sudahlah tidak usah dibahas di bab ini..


Yang namanya waktu, pasti lah bergulir.. Karena di saat itu pun, lagi-lagi tanpa gue sadari, malam sudah datang, menawarkan kesejukan yang setia menemaninya. Yah.. Malam di Gading Kulon cukup dingin menurut gue. Di awal malam, anak-anak timkes masih berbincang-bincang dengan teman-teman SC (yang kata temen saya manusia setengah dewa.. karena apapun perkataannya dituruti. hahahaha.. ada2 aja temen saya :p) Lumayan ngalor ngidul, apa yang bisa diomongin, ya diomongin.. Mulai deh, ada yang nyindir-nyindir perihal status baru saya waktu itu. Yah, tapi gue udah mulai biasa kok menanggapinya. Maklum, biasa ngartis dari kecil. Ahahahahaha.. Xp

Kembali ke benang merah, gue kira, jam 9an itu gue udah bisa free, dan siap-siap ke wisma, nunut panitia numpang tidur. Ternyata, masih ada juga yang sakit jam segitu.. Hm.. Bahkan di satu waktu gue sampai di drop di wisma salah satu penduduk karena ada peserta yang pingsan (again). Mana si korlap nya panik bukan main.. Jadi agak gimana gitu deh gue. Haha.. Nah ya, pas nyampe sana, ternyata si adek udah siuman.. Dan dia pasien yang tadi pagi pingsan juga.. Wah, dia memang lagi dalam masa pengobatan sih, udah punya obat pribadi. Dan entah mengapa gue merasa agak gak guna begitu sampai di sana. Lha wong dia udah ada obat dan gak perlu obat lagi? begitu batin gue saat itu.

Gak mau makan gaji buta, dan demi kredibilitas seorang tim kesehatan, gue pun berusaha melakukan apa pun yang bisa membantu. Oh ya, gue perlu tahu tensi dan nadinya, takut ada apa-apa. Begitu gue dengan pedenya bermaksud menghitung tensi si adek, eh yaaa kok tensimeternya ngadat.. Jedar! Perasaan panik perlahan menjalar di sekujur tubuh. Gue mencoba menenangkan diri, berharap jika gue tenang si tensi akan berdamai.. Pelan, namun pasti.. Eh lah kok masih ngambek dia.. Dan setelah agak lama berkutat dengan tensimeter yang bandel itu, gue nyerah. Dan gue yakin emang tensimeter itu rusak. Gue apes..

Gue berusaha untuk stay cool dan meminta maaf atas keterbatasan alat. Akhirnya gue pun cuma menggali ulang riwayat sakit si adek, dan juga menginterogasi teman-teman sewismanya. Setelah merasa cukup tahu duduk permasalahan, gue sedikit memberikan advis kepada teman-temannya, untuk terus mengingatkan si adek yang ternyata sering memaksakan diri dan lupa minum obat. Dan juga terus mengingatkan si adek untuk memakan suplemen vitamin.. Dan berbasa-basi lagi, blaa blaa blaa.. Yeah, I think that's the only one that I can do.. (sad)
Well, tapi minimal, saat itu gue belajar untuk bisa lebih baik menguasai diri.. Malam itu, entah mengapa gue merasa agak bangga karena bisa keluar dari kebiasaan panik gue. Hehe.. Karena tidak seperti biasanya gue tidak menampakkan diri seperti orang bodoh di depan mereka. Haha.. Dan setelah kejadian itu juga, gue berjanji akan memeriksa tensimeter sebelum dipakai. Hahahahaha :p


Akhirnya.. Selesai juga waktu jaga gue di tanggal 10 Juli.. Hm.. Malam sudah semakin larut. Kantuk pun mulai datang dan menyerang dengan luar biasa.. Gue akhirnya pamit sama anak-anak timkes lain, menuju wisma penduduk, nunut panitia yang baru saja selesai evaluasi.. (waah, salut banget deh gue sama panitia waktu itu, yang bener-bener all out deh, evaluasi sampe malem banget begitu lagi...hehe) Gue berjalan beriringan dengan teman-teman panitia, menyusuri jalan menurun dari balai desa.. Dan seperti biasa, gue gak bisa jalan begitu saja dengan pandangan lurus atau menunduk. Gue harus melihat langit. Gue pun mendongak, memandangi langit yang hitam kelam, dan subhanallah.. Perasaan lelah gue seakan hilang begitu melihat langit yang luar biasa indah. Indah, sangat indah.. Dengan mata berbinar, gue pandangi lekat-lekat bintang-bintang yang bertaburan dengan indahnya itu. Berkerlap-kerlip dengan warna-warni menawan.. Gue cukup yakin melihat planet mars dan venus malam itu.. Perasaan gue pun begitu meluap dan luar biasa kaget begitu melihat 'sesuatu' yang seakan-akan jatuh, dengan ekor bercahaya dan dengan kecepatan luar biasa.. "Bintang jatuh! Bintang jatuh! Ada bintang jatuh!" Teriak gue dengan noraknya. Gue apit tangan adek tingkat yang ada di sebelah gue, dengan mulut yang tak berhenti mengoceh, dengan mata yang tak berhenti memandang, dan dengan kaki yang terus menuruni jalan.. Ah, gue udah gak peduli deh, bersikap norak di depan adek tingkat gue sendiri waktu itu. Gue bahagia banget bisa diberi kesempatan melihat fenomena alam yang luar biasa indah tersebut. Apalagi gue lihat sampai 2 kali.. Subhanallah.. Dan di saat itu juga, gue langsung kepikiran dengan seseorang.. :) Rasanya gue pengen banget dia ada di sebelah gue buat melihat pemandangan yang menurut gue dahsyat itu. Sampai gue mengkhayal buat ngasih salah satu dari bintang jatuh yang gue lihat itu buat dia. Hahahaa..


Yaaaaaah... Begitulah sedikit (eh, kayaknya gak bisa dibilang sedikit ya, melihat panjangnya tulisan saya kali ini :p) cerita gue, sewaktu bertugas di Gading Kulon.. Begitu banyak cerita, begitu banyak berita, begitu banyak pelajaran bermakna. Tiada sesal gue kira, dan gue harap gue bisa kembali merasakan saat-saat indah itu di lain waktu. Di lain tempat, lain kesempatan. Dengan berjuta keindahan, ilmu pengetahuan serta wawasan baru di dalamnya.. Amiin :))

Sunday, July 11, 2010

My One Night Trip to Gading Kulon

Baru balik dari desa nih saya. *gaya hahaha.. Ceritanya barusan jadi timkes buat Penmas 2010. Yah, sekilas cerita, Penmas itu termasuk salah satu rangkaian Probinmaba (program pembinaan mahasiswa baru) di kampus gue.. (eh, tapi ini setahu gue lho, soalnya pernah denger2 Penmas mau dipisah gitu dari Probinmaba) Inti acaranya itu, sesuai namanya, pengabdian masyarakat. Jadi, maba-maba FK nantinya bakal tinggal beberapa hari di desa, sambil melaksanakan pengabdian itu sendiri.. Anggap saja, sedikit membantu para warga, di ranah mahasiswa FK, di bidang kesehatan. Acara-acara yang diadakan antara lain pengobatan gratis, sunatan masal, penyuluhan kesehatan, dll.. Nah itu sekilas tentang Penmasnya. Cuma, sekarang saya mau cerita yang lain dulu nih. Hehe..

Kebetulan, di Penmas tahun ini, Lakesma kebagian job buat jadi tim kesehatan. Dan kebetulan lagi, gue ditunjuk buat jadi PJ buat ngumpulin anak-anak yang mau ikutan. Untuk 4 hari 3 malam, dengan petugas shift per harinya 3 orang, total butuh 12 orang.. Sebenernya pengen cerita sih, gimana ribetnya gue ngumpulin orang-orang buat ikutan jadi timkes, waktu itu. Tapi, gak jadi deh. Cerita gak enak ngapain juga diumbar-umbar kan? Gue kan mau tobat gak pengen ngeluh-ngeluh lagi. *jiahahahaha.. Nah, terus, kebetulan lagi, karena yang menawarkan diri terbatas, dan kebetulan (kok jadi banyak pake kata kebetulan gini yah gue?) gue juga lagi punya waktu luang (thanks to anatomy, my best enemy :p), gue ikutan deh jadi timkes. Dan setelah mengutak-atik jadwal shift, gue menempatkan diri gue sendiri di tanggal 10 Juli. Nginep sampe besoknya.. Dan terpaksa, di shift itu, gue cewek sendiri.. Haha..

Awalnya, gue nyangka gak bakal ada adek2 gue yang sakit di sana. Secara, itu acara kan gak disuruh mendaki gunung kaya diklatsar.. Hidup tenang di desa, ketemu penduduk yang ramah-ramah, yah, kalo gue lebih menganggap itu rekreasi malah. Paling yang sakit ya, panitia dan itu kecapekan tok, batin gue waktu itu.. Apalagi terakhir gue cek ke shift pertama, keadaan ya kondusif2 aja, gak ada yang aneh2. Tapi yaa.. Namanya batinan gue emang suka salah, yang kejadian malah sebaliknya. Waktu pertama dateng, baruuu aja gue buka nasi sama tempe gue, sambil nyantai baca God Hand Teru, eh udah ada yang pingsan.. Wah, buyar wes kesibukan (apa lebih tepat dibilang kesantaian y? :p) gue waktu itu. Awalnya sempet bingung juga mau ngapain. Ikut ke lapangan apa stand by di posko apa nyiapin obat apa tetep lanjutin makan sampai pasien dateng? Hahaha.. Gue yang berusaha buat jaim dan ogah makan gaji buta, sok-sok pergi ke lapangan bareng anak-anak (niatnya mau bantu ngangkat gitu). Eh, sampe sana ternyata udah rame. Ada mobil pula.. Gue pun berpikir, lapo gue lari-lari ke sana? Lah anak itu juga mau dibawa ke pos.. Haha.. Entah mengapa pengen ngetawain kedodolan gue waktu itu.

Anak itu pun segera diantarkan ke pos kesehatan, nah baru deh abis itu timkes yang nanganin. Alhamdulillah juga, anak itu jadi mendingan setelah diistirahatkan dan diberi penanganan sederhana di pos kesehatan. Gue juga jadi belajar banyak menangani pasien pingsan (thanks a lot to Mas Deny)..

***

to be continued.. (terganjal jam malem nih. ntar gue lanjutin lagi deh. hehe)