Showing posts with label puisi & prosa. Show all posts
Showing posts with label puisi & prosa. Show all posts

Tuesday, April 29, 2025

Menjadi Ibu

Sendiri, dirimu menguatkan diri
Tanpa tahu pasti
Apa yang akan menyambut di depan nanti

Gamang,
tapi dirimu terus meyakinkan diri
"Semua adalah yang aku ingin,"
begitu bisikmu lirih, untuk dirimu sendiri
Entah berusaha menipu,
atau memang berusaha menjadi kuat

Suara tangis yang melengking
Membuatmu tertegun cukup lama
"Apa benar aku akan bisa?"
Pertanyaan penuh keraguan mendadak muncul di sudut hati
"Bagaimana jika...?"
Semua skenario buruk menampakkan diri, kamu terus bertanya

Takut,
mulai kamu rasa
Namun bagaimana, mundur tak kuasa
Tangisan itu makin nyata
Kamu harus menghadapinya

Lalu kamu pun menghadapinya
Kedua tangan dan kaki mungil, sangat kecil
Pipi kemerahan dan mata yang tertutup
Hangat
Dan kehangatan itu memancar,
membuat dirimu juga menjadi hangat
Menghilangkan segala ragu dan takutmu,
menggantikannya menjadi perasaan bahagia
dan haru

Perjuanganmu nyata, walau masih harus panjang berjalannya
Kamu banggu, dan itu tidak apa
Pertarunganmu sebagian sudah selesai
Rasa nyeri yang tersisa samar,
air mata yang membekas menggenang,
semua itu tidak apa

Karena akhirnya kamu sampai di sini  
Dengan penuh sadar dan bahagia,
juga pantas dirayakan,
kamu (sudah) menjadi ibu 

Sunday, April 1, 2018

(Mencari) Keputusan. Bukan Keputusasaan.

Malam gelap mengiringku.
Berpikir dan merenung dalam.
Dalam diam.
Berpikir lagi, lagi, dan lagi.
Seakan tak ada henti.
Entah sampai kapan.
Karena yang kucari belum juga kutemukan.

Ini malam ke berapa?
Terasa begitu lama.
Terlalu lama.
Aku belum temukan apa-apa.
Kosong.
Buntu.

Gamang.
Masih kurasa.
Teringat kembali pembicaraan yang lalu.
Sudah lalu, namun masih berlaku.
Tidak bisa kutinggal lari, seperti biasa.
Karena tiap hari, aku menghadapinya.

Kabur, bukan solusi.
Diam pun, bukan.
Pura-pura lupa, apa lagi.

Ini tanggung jawabku.
Yang bukan anak kecil lagi.
Walau sulit untuk ku selesaikan.
Walau aku harus lebih sering mengerutkan kening.
Walau aku masih perlu waktu, lagi, dan lagi.
Akan tetap kuemban.
Akan tetap,
kucari jawaban.

Tunggu.
Dan bersabarlah.
Karena aku hanya ingin,
yang terbaik lah yang terlaksana.

Monday, October 24, 2016

Sepi

Kupandangi dinding dan langit-langit,
bukan bintang atau bulan
Kosong
Hampa kurasakan

Pikiran dan hatiku pun sepaham
Kosong
Tiba-tiba saja
semua isi menghilang

Aku termenung
Hanyut dalam gelap malam
yang sepi dan mencekam
Aku bosan sendirian

Friday, September 27, 2013

suatu tentang rindu

Gadis itu masih terdiam. Membisu. Terduduk begitu saja di bangku taman. Sesekali menengok ke kanan dan kiri, sesekali melirik jam tangan karet berwarna putih yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Namun pandangannya lebih banyak tertuju ke pada satu titik, sebrang. Halte bis yang berada persis di sebrang bangku taman.

Aku akan datang. Aku akan turun dari bis merah itu, yang menghubungkan jarak di antara kita.

Gadis itu kembali teringat, terngiang-ngiang, bahkan seakan ada suara-suara yang bergema di dalam benaknya. Suara orang itu. Suara pria itu. Suara dia, yang berkacamata. Suaranya, yang berambut pendek cepak kecokelatan, yang memiliki senyum begitu rupawan, dengan gigi putih berderet terawat baik. Suaranya, yang biarpun kekar badannya, namun bisa menjerit ketakutan melihat tikus got melintas di dapur rumahnya, yang entah kenapa tidak disukai oleh anak-anak kecil di sekitarnya, namun terlihat begitu tulus saat menidurkan keponakannya yang masih bayi. Suara bariton itu, suara yang belakangan ini hanya terdengar dalam benak gadis itu saja. Suara yang membuat si gadis rindu dengan pemiliknya.

Satu jam berlalu, namun si gadis masih terdiam. Terdiam dan tersenyum bahkan. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Ia masih terduduk manis, hanya sesekali berganti posisi, namun tetap setia dengan bangku taman, dan pandangan ke halte bis sebrang. Dua jam berlalu, tiga jam berlalu. Yang gadis itu harapkan masih belum terjadi. Ia mulai menggigil. Dingin. Di musim seperti ini, wajar jika jaket dan syal yang ia kenakan masih belum bisa menyamarkannya. Senyumnya perlahan memudar.

"Bisnya terlambat.. Mungkin karena badai di sana." ucap gadis itu pelan, mengembalikan senyum yang sempat hilang dari wajahnya itu. Ia mendongak, kembali memandang lekat-lekat halte bis di sebrang.

Jika aku terlambat, sekiranya kau mau menunggu. Tapi jika kau mulai merasa dingin, pergilah. Aku yang akan menemuimu kemudian.

"Tapi aku tahu, kamu tidak akan menemuiku kemudian.." ujarnya lirih, entah bicara dengan siapa. Ia kembali melihat jam tangannya, lalu mengembuskan nafas dalam. Air matanya menggenang.

Akan tetapi, yang ia tunggu akhirnya tiba. Bis merah, berhenti di halte bis kecil itu. Si gadis tersenyum, manis, namun air matanya tak lagi terbendung. Haru. Senang. Rindu. Semua perasaan bercampur aduk dalam hatinya. Tak lama, bis merah itu pergi, berlalu. Meninggalkan seorang pria, berkacamata, berbadan tegap, namun kini memegang tongkat di tangan kirinya. Dia berdiri terdiam di halte sebrang. Dia. Dia, yang gadis itu cari-cari. Dia, yang berhasil membuat gadis itu menangis sambil tersenyum. Dan dia lalu melemparkan senyum. Senyum yang sudah sangat lama rasanya, gadis itu tidak lihat. Si gadis juga berdiri, ingin sekali ia berlari, menyebrang jalan dan menghambur ke pelukan si pria berkacamata. Namun niatnya terhenti, melihat si pria yang berjalan tertatih-tatih, menyebrangi jalan raya yang sepi itu, menuju bangku taman. Dengan senyum, yang entahlah, tidak menggambarkan suatu kebahagiaan. Lalu si pria berhenti, hanya beberapa jarak dengan si gadis. Si gadis menangis, memberanikan diri, mengeluarkan tenaga untuk bicara, terbata-bata.

"Kamu.. Kamu kemana? Selama ini kemana?"

Namun siapa sangka, pria itu juga menangis. Awalnya perlahan, namun semakin lama, semakin sesenggukan. Si gadis mulai khawatir, ia bergegas ingin mendekat, namun aneh, ia tidak bisa beranjak dari bangku taman itu. Bahkan hanya untuk beberapa langkah.

"A.. Aku takut.. Aku selama ini takut, sayang. Aku takut menghadapi kenyataan. Menghadapi kenyataan bahwa dirimu sudah tiada..."

Si gadis memucat. Ia hanya bisa diam, memandang nanar kekasihnya yang penuh pilu berbicara di sela tangisan. Dengan air matanya sendiri, yang belum berhenti mengalir..

"Tiga tahun ini.. Tiga tahun, sayang.. Sejak peristiwa itu.. Sejak kamu menyelamatkanku yang sembrono menyebrang jalan ini. Sejak aku harus kehilangan.. Kamu.."

Pria berkacamata itu berlutut. Melepaskan kacamata nya yang berbingkai tebal, menghapus bulir-bulir air mata yang sudah tumpah sedari tadi. Dan si gadis? Ia masih terdiam di tempatnya, namun air matanya mengalir deras, sangat deras.

"Aku.. Selalu ingin lari. Selalu.. Aku malu. Aku hancur. Aku mendadak benci bangku taman ini, yang padahal adalah tempat kesukaanmu, saat kamu membaca buku-buku Meg Cabbot, atau sekadar mengerjakan tugas dari dosenmu, atau.. sekadar menungguku datang dari kota sebelah.. Aku membenci tempat ini, tempat pertama kita dipertemukan oleh takdir, sayang.. Aku membenci tempat ini, tempat di mana kamu mau menerimaku yang kikuk dan kaku ini untuk menjadi suamimu.."

"Ja.. Jadi selama ini kamu?" Emosi pun membelenggu si gadis. Pedih, itu yang ia rasakan, walau tidak ada luka terbuka pada tubuhnya.

"Selama ini aku sembunyi, sayang.. Aku mengunci diri.. Aku menyalahkan diriku sendiri..."

"Bukan.. Bukan salah kamu, sayang.. Bukan.." gadis itu pun sesenggukan.

"Aku bahkan.. Sempat ingin pergi saja dari dunia ini.."

"Jangan! Jangan sekalipun kamu memikirkan hal itu lagi!" gadis itu sedikit berteriak, namun sebenarnya percuma, karena si pria toh tidak bisa mendengarnya.

"Tapi.. Aku lalu membaca pesan-pesanmu, sayang.. Aku.. Bahkan akhir-akhir ini selalu bermimpi, bertemu dirimu, yang masih begitu cantik dan memesona.. Dan kamu bilang, 'tidak apa-apa'.. Aku.. Aku membaca semua pesan yang kamu tinggalkan, sayang.. Yang sengaja, maupun tidak.. Cerita-cerita pendekmu, curahan-curahan hatimu, kata-kata semangatmu di lembaran post it milikku yang tak sengaja aku tinggalkan padamu.. Membuatku malu, akan kelakuanku yang berlebihan ini.. Dan aku lalu ingat sayang, akan janjiku, yang seharusnya aku penuhi saat terakhir kali kita bertemu itu.."

Si pria berkacamata itu lalu kembali berdiri, beranjak menuju bangku. Ia lalu meletakan sebuah buket bunga anggrek bulan dan lily putih, dan merogoh saku jaznya, mengeluarkan kalung perak dengan bandul kuda bersayap. Dan ia kembali menangis, namun lalu tersenyum.

"Selamat ulang tahun, sayang.. Maafkan aku, atas segala kebodohanku, keegoisanku, atas segala kesalahanku terhadapmu. Maafkan aku, atas tindakanku yang ceroboh, yang membuat kita semua celaka saat itu. Maafkan aku, jika terlalu lama aku menyerahkan kalung ini, di bangku taman ini, untuk ulang tahunmu. Tolong, maafkan aku..." Pria itu kembali menangis, tersedu-sedu.

"Terimakasih banyak sayang.. Terimakasih atas semua cinta yang telah engkau berikan kepadaku. Terimakasih atas semua ilmu yang kau bagi, terimakasih mau belajar bersamaku, walau ternyata waktu kita bersama begitu singkat di dunia. Terimakasih banyak, engkau pun telah menyelamatkanku, berkali-kali.. Bahkan setelah kau tiada.. Terimakasih, sayang.."

"Aku berharap, kita bertemu lagi di dunia yang lain.. Dengan perasaan yang masih sama.. Sayang, berbahagialah di sana, dan aku pun akan kembali berbahagia dan melanjutkan hidupku di sini.. Aku.. Aku cinta padamu.. Sangat.. Cinta padamu.."

Dalam hitungan detik, si gadis memeluk pria berkacamata itu, yang kini kembali berlutut, menangis, tersedu.. Gadis itu pun masih menangis, namun sebuah senyuman yang sangat manis kini menghiasi wajahnya. Dengan lirih ia menguatkan diri untuk berkata,

"Terimakasih, sayang.. Aku juga cinta padamu.. Sangat cinta padamu.. Berbahagialah.."

Dan sebuah kecupan lembut ia daratkan pada pipi pria itu, dan perlahan seberkas cahaya membungkusnya, membawanya pergi, ke tempat yang penuh damai.

***
Malang, 2013

Wednesday, September 21, 2011

Hei Kamu....

Hei kamu..
Iya, kamu, yang item manis..
Yang sering bikin saya galau..
Bikin kepikiran..
Kadang bikin saya cengengesan..
Hei kamu..
Iya, kamu, yang lagi sibuk nolong orang, siapa lagi..
Yang bisa saya kangeni sehari tiga kali..
Ck ck, udah kaya kena infeksi, antibiotik tiga kali sehari..
Hei kamu..
Iya, kamu..
Kamu, yang lebih suka kata daripada bicara..
Siapa lagi selain kamu?
Tanggung jawab hayo..
Saya jadi kaya adiksi begini..
Adaaaa aja kepikiran kamu tiap hari..
Ck ck ck..
Saya juga heran kok bisa sebegitunya..
Karena sayang, suka, atau cinta, atau apa..
Tapi entah lah, saya nggak terlalu mikir juga kenapa..
Hei kamu..
Iya, kamu, nggak noleh-noleh sih dari tadi?
Sadar nggak kenapa saya berkali-kali manggil kamu?
Saya cuma ingin lebih yakin dan percaya,
kamu tetap terlihat dan ada di hidup saya..
Makanya, kamu..
Jangan jauh-jauh banget ya, dari saya..
...

ps: hem.. ini ceritanya semacam puisi. hahaha.. maap gajel, biasaa, mood tengah malam nyambi tugas begini ini jadinya ^__^ (tidak ditujukan untuk siapa-siapa, boleh percaya boleh enggak ;p)

Friday, September 16, 2011

intermezo!

Sedikit percakapan antar-saudara di sebuah ruang keluarga..

Anak ke-3 (SMA kelas X): Gimana ya caranya ngumpulin uang 450 ribu dalam 1 bulan? Buat acara sekolah nih. Disuruh senior gue.
Anak ke-1 (kuliah semester VII): Jualan sana. Bikin bola-bola cokelat kek, nasi kuning kek. Kan laku tuh pasti kalo lo jual di kelas lo yang lantai 4 waktu istirahat.
Anak ke-2 (kuliah semester I): Cari sponsor laaah.. Lo mau gue kasih link? Kemaren lumayan tuh dapetnya waktu acara sekolah gue.
Anak ke-4 (SMP kelas VII): Bikin kotak aja, Kak. Ntar ditulis deh buat sumbangan gempa..
Anak 1, 2, 3: Masyaoloh Ndut.. *geleng-geleng kepala

ps: sebuah cerita nyata yang masih sering bikin saya tertawa dan geleng-geleng kepala.. hahahaha.. anak kecil nggak selamanya polos ternyata. apa karena saking polos nya makanya bisa kepikiran gitu? hahahaha..

Monday, April 25, 2011

ini kamu, menurutku..

kamu..
laksana bulan dan matahari,
seperti bintang dan pelangi,
bagai kupu-kupu dan kolibri,
warnai hariku,
siang dan malamku,
perindah hidupku..

suaramu..
alunan musik nan merdu..
senyumanmu..
hilangkan gundah, begitu indah..

kamu, ada..
temaniku, setia..
ajari aku cinta,
buatku merasa bahagia..

kamu,
cahayaku yang berharga..

ps: yak.. sedikit mellowdrama untuk menutup belajar saya di tengah malam ini.. :-)

Saturday, December 4, 2010

Hujan

hujan..

buat bumi ini basah..

langit kelabu..

sendu..

angin berembus..

dingin menusuk kalbu..

hilangkan kehangatan..

sepi..

sendiri..

sedih..

hujan, permainkanku..

ia tertawa di atas emosiku..

yang perlahan hancur menahan rindu..

puaskah kau tertawa, hujan?

berhenti, tolong..

sudah cukup kau bawaku ke duniamu..

Monday, December 21, 2009

Ketika Aku Bertanya

pengen berbagi dikit neh. sekalian menuhin blog jugaa.. haha..

Ketika Aku Bertanya

Ketika aku sadar ada sesuatu yang salah
Ketika aku sadar semua terlalu berat untuk kujalani
Ketika aku sadar aku menyesal
Ketika itu aku bertanya
Bodohkah aku?
Salahkah aku?

Ketika aku sadar, egoku terlalu besar
Ketika aku sadar, perkataanku terlalu kasar
Ketika aku sadar, pikiranku terlalu berlebihan
Ketika itu aku bertanya
Bodohkah aku?
Salahkah aku?

Aku memang bodoh, jawabku
Aku memang salah, jawabku
Aku telah salah memberi penilaian
Aku telah jatuh ke dalam lubang yang besar
Aku salah mengambil keputusan

Tidak nyaman
Perasaanku saat ini
Meski banyak orang meyakinkan,
aku benar
Dan semua perasaan bersalah ini,
hanya risiko yang memang selalu ada
Yang membayangi hidup manusia
Dan aku telah memutuskan untuk mengambilnya

Ketika itu aku bertanya
Haruskah ku menangisinya?
Dan seseorang menjawabnya,
"Tidak, kau harus tegar menghadapinya,
Jangan lari dan takut seperti seorang pengecut
Karena pasti ada pelangi,
di balik hujan badai dengan petir menyambar-nyambar
Carilah pelangi itu,
dengan terus berikhtiar dan tawakal
Insyaallah.."
Dan aku pun mengangguk lemah,
mencoba tersenyum mengiyakannya

Ini puisi yang gue buat waktu merasa bersalaaaaaah banget sama seseorang.. Dan gue menjadi jauh lebih lega setelah curhat sama Mama tersayang.. Thx a lot for helping me, Mom..

Wednesday, October 28, 2009

iseng-iseng..

ada sedikit hasil corat-coret gue nih.. lumayan buat bacaan iseng.. hehe xp

well, terinspirasi dari kisah nyata sebenarnya.. hoho

Bertahun-tahun sudah, kupendam dalam-dalam perasaan ini
Berkali-kali, hendak membuang atau mengganti
Menyemangati diri, dengan sesuatu yang tak murni dari hati
Menyombongkan diri, seakan dengan mudah semua dapat hilang dan pergi

Namun tahun adalah waktu yang lama
Rasa itu terlalu mengakar seiring waktu yang berjalan
Dengan mataku yang terbiasa menyaksikan hadirmu
Dengan hatiku yang bertahap mulai mencari-carimu
Kekagumanku muncul begitu saja
Perasaan ini mengalir tak tertahan

Bukan jarang, aku menyangkal semua
Bukan jarang, aku meragukannya
Namun, aku terus memikirkannya
Aku memilih mempertahankannya
Sampai sekarang, entah mengapa…

Melihatmu, mataku berbinar-binar
Mendengarmu, bibirku tersenyum tiada henti
Berbicara denganmu, hatiku terlonjak kegirangan
Dan saat kau mendiamkanku, jantungku terus berdebar
bertanya-tanya salah apa yang telah kulakukan
karena aku terlalu menyukaimu, itulah kebodohanku
Bibirku tak mudah terbuka saat hanya kau yang ada
Perasaanku tak tertata saat hanya kau yang ada
Rasa ini menahanku untuk mengenalmu lebih jauh,
Aku mengenalmu secukupnya, hal yang sangat kusesali

Mungkin, kamu hanya serpihan memori putih-abu-abu ku
Sepenggal kisah masa lalu,
dan aku harus terus maju tanpa menghiraukan itu
Sejak kita semakin jauh
Kini, semua seakan hanya dongeng bagiku
Tak mungkin lagi kupertahankan mimpiku
Kau pun hanya diam,
meluluhlantakkan harapan yang dulu sempat berkembang
Ketika dulu kita tertawa bersama
Saling berbagi mimpi dan cita-cita
Bersama mengejar tujuan walau berbeda
Bersaing memperoleh kejayaan
Bersusah payah memecahkan masalah
Berkembang bersama mencapai kedewasaan

Satu tahun sudah, sejak kita terpisah jarak
Dengan awal yang tidak pasti,
penuh dengan teka-teki,
yang hanya dipenuhi tebakan dan harapan,
Seharusnya kau hilang,
setidaknya perasaan ini memudar
Tapi yang terjadi justru berlawanan
Tak jarang, aku terus memikirkanmu
Tak jarang, aku sangat merindukanmu
Merindukan ucapanmu yang memotivasiku
Merindukan tindakanmu yang mengagumkanku,
dan juga membingungkanku
Merindukan tawa candamu yang menyenangkanku
Merindukan saat-saat menyenangkan bersamamu
Merindukan semua tentangmu

Beritahu aku mengapa!
Mengapa aku tak bisa melupakannya
Mengapa aku masih menyimpan butir-butir harapan
Mengapa jarak tak membuatku lupa
Apa karena semua yang kau tinggalkan SANGAT membekas?
Membekas dalam, tertanam di relung hati
Karena engkau yang pertama?
Atau semua hanya perasaan sesaat semata?

Mungkin akan kubiarkan perasaan ini terus ada
Membiarkan waktu yang menjaganya
Entah akan terus kokoh tertanam,
atau mulai goyah dan lantas hilang
Tergerus arus waktu dan kedewasaan
Dengan pilihan yang ada di tangan
Memperjuangkan perasaan manis yang bertabur kepahitan,
atau beralih merelakannya melayang

Dan mungkin kau mau berbaik hati memberitahuku
Apa kau merasakan hal yang sama?
Karena entah mengapa, dulu aku sempat percaya,
kau pun merasakannya
Walaupun besar kemungkinan,
semua hanya sekadar angan
Setidaknya beri tahu aku kebenaran
Agar aku dapat tenang,
melanjutkan perjalanan

Denganmu, atau tanpamu…
:’)