Showing posts with label #emotionallywritten. Show all posts
Showing posts with label #emotionallywritten. Show all posts

Tuesday, April 22, 2025

Cerita Ngalor Ngidul Ke Sekian, Kekuatan Ucapan

Ha~lo! Masih dalam edisi #maternityleave #babynumber3 nih, dan akhirnya ada waktu buat buka laptop lagi. Haha. Boleh lah ya, sekian menit gue cerita-cerita di sini, mumpung Alfa dalam kondisi kondusif dan mata ini nggak lagi seberat biasanya yhaa (bayangin mata abis begadang lebih dari 2 malam deh).

Oh ya, pada percaya sama istilah "ucapan adalah doa" nggak? Atau istilah "mulutmu harimau mu" atau "senjata paling tajam adalah lidah"? Ketiga istilah tadi kan kesannya kaya beda jauh ya maknanya, tapi menurut gue prinsip dasarnya sama sih. Sama-sama menekankan bahwa kata-kata / ucapan adalah se-powerful itu. Gue pribadi jujur percaya sih. Dan hm, alasan gue mulai percaya itu pun, masih gue inget sampai sekarang. Jujur aja karena pernah ngalamin sih, haha, jadi event pertama gue ngalamin hal itu tuh, masih gue inget banget.

Dulu banget, waktu gue masih SMA, gue ikut suatu ekskul dengan segala tradisi dan event nya. Hehe. Ada satu masa di saat gue udah senior, giliran junior gue yang nyiapin event ulang tahun sekaligus tanggung jawab nyiapkan kue tart buat dimakan bareng-bareng. Standar kue tart waktu itu di ekskul gue adalah birthday cake ber-layer dengan krim dan hiasannya macam kue-kue ulang tahun yang dijual di Harvest. Tapi waktu itu, gue inget sempat ada kaya delay waktu acara berlangsung dan gue ketawa-ketawa bercanda sama temen gue, "Wah jangan-jangan ini cake nya yang dibeli salah, bukan birthday cake yang biasa tapi kue tradisional kaya lapis gitu lagi," yang entah kenapa saat itu gue anggep lucu haha. Dan yha, betulan kejadian dong apa yang gue bercandain itu. Persisss kaya apa yang gue omongin ke temen gue. Hahahaha. Dan jujur aja, gue ini (apalagi masa-masa masih bocil remaja labil) adalah tipe orang yang lihat segala sesuatu nya itu hitam / putih, dan banyak orang yang bilang kalau gue "suka pakai kacamata kuda" haha. Yah artinya gue tuh semacam selurus itu sampai polos / naif dah. Jadi udah bisa ditebak dong, kejadian kue itu jadi semacam titik balik buat gue pribadi, buat lebih hati-hati lagi saat ngomong, walaupun lagi bercanda. Wkwkwk.

Nah, akhir-akhir ini jujur ada hal-hal yang menggelitik gue buat nulis ini sih, berawal dari share-an status medsos seseorang yang gue lihat. Ada beberapa video pendek yang dijadikan status gitu deh, dan intinya membandingkan negara sendiri dengan negara lain, dimana kesannya negara sendiri tuh jelek banget gitu loh. Bukan gue denial dengan fakta sih ya. Karena emang faktanya, banyak siswa dan guru yang bikin konten joged-joged di tiktok. Tapi kan bukan berarti semua-mua nya begitu nggak sih? Gue agak jengah aja, kalau yang dilakukan itu cherry picking data dan terus dipakai buat menjelek-jelekkan. Nggak ada fungsi nya juga ngejelekin gitu, dan jadi semacam generalisasi juga nggak sih? Bayangin lah gimana perasaan siswa dan guru yang tidak melakukan itu dan belajar dengan serius di mostly of their time? Mempunyai visi misi yang mulia yang memang ingin menjadi orang berpendidikan? Mungkin kaya siswa yang jujur dituduh nyontek cuma perkara ada beberapa teman lain yang ketahuan nyontek? Kan bisa jadi sakit hati ya (personal experience, pernah merasakan galau nya digeneralisasi wkwk). Lagian emang nggak takut ya dengan kekuatan ucapan? Bolak-balik share, meyakini bahwa negara nya sejelek itu, nggak takut kah akan benar-benar "ter-amin-i" menjadi buruk? Malah nambah serem kan ya. Kayaknya mending diganti dengan ucapan baik dan afirmasi positif, doa agar negara kita bisa berbenah dan menjadi lebih baik lagi kan.

Like I said before, ucapan tuh kuat banget, gue percaya. Kalau tujuannya ningkatin awareness, rasanya nggak perlu sampai bolak-balik share nya dengan caption yang downgrading nggak sih? Entah lah mungkin cara mengekspresikan perasaan tiap orang beda-beda ya, mungkin karena kecewanya sudah menumpuk juga. Hanya saja, imho, kurang bijak sih jadinya. Rasanya better kalau fokus ke solusi nya instead of masalah nya, tapi tetap tanpa kita melupakan masalahnya itu apa ya. Yah, disampaikan dengan santun lah kalau ada kritik, kan masih manusia ya judulnya. Manusia kalau nggak santun tuh, entah lah, menurut gue kaya kureng manusiawi jadinya. Selain ucapan adalah doa, gue juga termasuk yang percaya kalau segala sesuatu yang berlebihan itu nggak baik, ibarat gue kata, semua-mua hal itu ada dosisnya. Terlalu berlebihan membenci sesuatu tidak baik, terlalu berlebihan menyukai sesuatu juga tidak baik. Jadi nggak perlu juga lah mengkritik secara berlebihan, sekecewa apapun dirimu (again, ini personal opinion gue ya).

Well sementara itu dulu deh ya, cerita ngalor ngidul gue hari ini. Kalau bermanfaat memberi kebaikan, Alhamdulillah, kalau dirasa tidak, monggo di skip saja wkwkwk. Intinya emang gue cuma pengen cerita ngeluarin uneg-uneg aja sih ehehe. See ya at next post (semoga ada) yes! ;D

Monday, April 14, 2025

Pertengahan Syawal 1446 Hijriah, 14 April

Sampai juga di hari ke 14 bulan April, pertanda umur bertambah 1 tahun lagi. Alhamdulillaah, Allah SWT masih kasih aku rezeki. Di usia ke 30-an ini (kaburin dikit usia asli boleh lah ya wkwk), jujur aja, isi kepala masih sama ramai nya kaya di usia-usia sebelumnya hahaha. Cuma, berasa ada kekhawatiran lebih gitu sih, kaya ada rasa something yang dorong-dorong dari belakang. Mulai makin berasa tuntutannya, yang entah tuntutan dari mana ya, untuk bisa melakukan ini dan itu, untuk ambil sikap dan keputusan yang sangat mungkin efeknya besar di kemudian hari. Kaya berasa (harus) diburu-buru, keburu momentumnya hilang. Tahu kok, iya, aku tahu kok arahnya kemana. Tinggal aku nya aja, mau ambil arah yang kaya gimana. Tinggal.. hmm.. keberanianku aja. Gimana ya, haha. Keluar dari zona nyaman / tidak nyaman ternyata emang susah ya, baru relate deh kenapa banyak motivator-motivator ngejadiin hal itu bahasan haha. Oh kenapa aku tulisnya zona nyaman / tidak nyaman? Ya, karena bisa jadi emang zona nya gak nyaman, cuma ditahan-tahan aja karena sudah terbiasa dan rutin, jadi sudah tahu cara menghadapinya, sudah bisa berkompromi gitu ceunah.

Yah, walau kadang dorongan-dorongan dari luar bikin nggak nyaman, tapi aku sadar kok, itu semua karena pada peduli. Niatnya baik, dan aku bersyukur juga. Semacam ada yang jadi pengingat kan, Alhamdulillah. Cuma ya itu tadi, gimana caranya deh biar gak dikit-dikit takut? Kerasa sih, makin tua tuh makin apa-apa serba dipikir dan ditakutin. Dulu umur 20-an kayaknya, walau ada takut-takut di awal, tetep ditrabas gitu. Haha. Any suggestion?

Well, apapun itu, setidaknya satu hal yang aku sepakati, aku bersyukur. Syukur Alhamdulillah atas semua nikmat dan rezeki yang Allah SWT berikan. Alhamdulillah Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini sangat membahagiakan, keluarga kecilku bertambah besar dengan kehadiran baby number 3. Kakak-kakak si baby juga happy dan welcome banget sama si anggota baru. Selamat datang yaa, my little baby Al kesayangan. Sehat sehat dan bahagia lah selalu ya Nak.. Paksu juga Alhamdulillah, tetaplah paksu kesayanganku dengan segala lebih dan kurangnya dia. Lebaran kemarin pun Alhamdulillah masih diberi kesempatan berkumpul dengan keluarga kesayangan, baik dari keluarga mama papa ku maupun keluarga mertua. Allah Maha Baik. Dan di kesempatan birth-day ku hari ini, aku berdoa, semoga saja, galau-menggalau ku tentang masa depan bisa mereda. Ketakutan tak berdasarku bisa hilang, dan aku dapat segera memberanikan diri untuk bergerak dan mengambil keputusan yang terbaik. Untuk kebaikan ku, juga untuk orang-orang yang kusayangi. Semoga juga ke depan, semua akan berjalan dengan jauh jauh lebih baik lagi. Aamiin YRA.

PS: happy birthday to me :) bahagia itu kita buat sendiri, tenang aja. kado tinggal beli, kue tinggal pesan. ndak perlu nunggu dirayakan, merayakan juga gak masalah. semangat terus diriku! ^^

Wednesday, December 27, 2023

Taking Side

Dulu, when I was a young girl, I used to think that, being "neutral" is the best and coolest choice to do. Kamu tidak perlu berpihak pada siapapun, di saat ada suatu konflik, di saat ada pertentangan antara beberapa pihak. Netral. Indeed, back then, "neutral" is sooo cool for me. Just stay in the middle. Cukup. Kaya gitu aja, kamu sudah "baik", kamu sudah keren. Kamu sudah tidak ikut bertikai.

Tapi itu dulu. When I was a naive girl.. Sekarang, di akhir tahun 2023, tidak kusangka terjadi kejahatan luar biasa yang benar-benar menyayat hati ini. Sudah masuk di bulan kedua, namun belum ada tanda semua itu akan berhenti. Pembantaian rakyat di Palestina, yang ternyata sudah dimulai sedikit demi sedikit dari beberapa puluh tahun silam. 

Orang banyak bilang, itu perang. Perang yang rumit. Perang antara dua pihak, dimana Palestina yang memulainya duluan. Tapi, perang macam apa, yang menargetkan anak-anak bahkan bayi dan balita? Menyerang rumah sakit, tempat masyarakat sipil yang sudah terluka dan tidak berdaya mencari perlindungan? Perang macam apa, yang sudah korban meninggal, masih pula dirampas organ-organ tubuhnya? Bukankah itu semua tindakan kriminal keji? All is fair in love and war? No. 1000% NO. Dan bagaimana bisa, yang diusir dari tanahnya adalah yang memulai duluan?

United Nation says..

"War crimes are those violations of international humanitarian law (treaty or customary law) that incur individual criminal responsibility under international law. As a result, and in contrast to the crimes of genocide and crimes against humanity, war crimes must always take place in the context of an armed conflict, either international or non-international.

From a more substantive perspective, war crimes could be divided into: a) war crimes against persons requiring particular protection; b) war crimes against those providing humanitarian assistance and peacekeeping operations; c) war crimes against property and other rights; d) prohibited methods of warfare; and e) prohibited means of warfare.

Some examples of prohibited acts include: murder; mutilation, cruel treatment and torture; taking of hostages; intentionally directing attacks against the civilian population; intentionally directing attacks against buildings dedicated to religion, education, art, science or charitable purposes, historical monuments or hospitals; pillaging; rape, sexual slavery, forced pregnancy or any other form of sexual violence; conscripting or enlisting children under the age of 15 years into armed forces or groups or using them to participate actively in hostilities."

Lalu untuk apa, aku berada di tengah-tengah antara si penjahat perang dan korban? Bukankah aku semua pihak harusnya ada di pihak korban? Bukankah ini waktunya, yang salah dihukum dan yang benar dibela? Bukankah seharusnya yang salah yang dilawan? Mungkin masih bingung, siapa pelaku dan siapa korban? Namun, bukankah jelas dan terang benderang, siapa yang sedang membantai siapa?

Aku tahu, lokasi terjadinya kejahatan itu sangat jauh dari diriku saat ini. Aku tidak mengerti bahasa yang mereka gunakan. Aku tidak kenal mereka. Tapi, mereka kan saudaraku juga, sesama manusia.. Ada pula saudara seimanku di sana. Mereka sedang dijajah, bertaruh nyawa hari demi hari, untuk makan dan minum saja sulit. Apakah hatimu tidak ikut merasa sakit, melihat sekian banyak manusia tidak berdaya dan dipermainkan begitu saja, hidupnya? Bahkan satu kasus penyiksaan anak di negeri sendiri saja, rasanya membuat darah ini mendidih. Lalu bagaimana dengan ribuan anak-anak di sana yang pergi begitu cepat karena dibunuh?

Di saat begitu banyak orang berada di tengah, bersikap netral, bukankah mereka yang sedang menjajah akan menjadi lebih leluasa? Karena yang dijajah ini yang bersikap menerima agresi yang datang kepada mereka. Yang hidup dalam teror. Yang hanya bisa bertahan dan membalas sebisanya, sebisanya yang mereka lakukan. Mereka sudah kehilangan banyak, kenapa harus pula kehilangan dukungan. Apakah mereka memang harus begitu saja hilang? :( Setidaknya, sedikit tepukan di punggung dan doa yang tulus, bukankah bisa tetap menyalakan secercah harapan bagi mereka? Harapan untuk semuanya segera usai, dan merdeka.

Aku tidak bisa bantu apa-apa. Tapi setidaknya, dari sedikit yang dapat kulakukan, kepada mereka lah aku berpihak. Karena penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Aku mendukungmu untuk merdeka. Free Palestine, Viva Palestina.

Wednesday, March 30, 2022

Kesan Pesan dari yang Lagi Isoman

Akhirnya. Yup. Finally, setelah 2 tahun-an pandemi mampir di dunia ini, gue ngerasain juga, tertular Covid-19. Nggak tanggung-tanggung, kena ber 4, bareng anak-anak gue dan mbak ART. Sesuatu yang menyebalkan dan menyakitkan memang, apalagi sebelumnya suami duluan kena sampai 2 kali, yang membuat keluarga kecil gue harus saling nggak ketemu dalam waktu cukup lama karena isolasi. Tapi setidaknya, Alhamdulillah, kondisi gue dan anak-anak juga si mbak tidak sampai memerlukan perawatan di rumah sakit. 

Anyway, hari ini hari ke 10 gue jalanin isolasi. Alhamdulillah lagi, gue dan rombongan positif Covid-19 kali ini masih bisa melakukan isolasi mandiri di rumah. Iya, fasilitasnya ada dan mencukupi, jadi gue nggak perlu terlalu pusing juga untuk nyari tempat isolasi terpusat di luar. Such a privilege memang, and I'm grateful for that. Dan karena regulasi isolasi yang gue pakai sekarang, bisa dibilang adalah regulasi post gelombang 3 di Indonesia, waktu isolasi yang gue perlukan pun sedikit lebih singkat dibanding zaman awal-awal pandemi, well, which is in my opinion, it's not because the virus changed, but it's our knowledge that developed. Yang (sekali lagi) tentu sesuai dengan kaidah sains itu sendiri. Sesuatu yang baru, perlu banyak penelitian, riset, diskusi, konsensus, untuk menemukan kebenaran-kebenaran baru juga kan. Makanya di era gelombang 3 saat ini, muncul regulasi isolasi khusus nakes, untuk melakukan isolasi sampai hari ke 5, dan jika hari ke 6 hasil pemeriksaan PCR sudah negatif, maka si nakes bisa kembali bekerja. Risky sih, kalau menurut opini pribadi gue. Cuma mungkin ya karena banyak pertimbangan (misalnya karena shortage pegawai di instansi kesehatan yang adalah ujung tombak pandemi ini sendiri, atau beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa kultur virus setelah hari ke 5 dapat negatif), maka regulasi ini ditentukan. Sayangnya, tidak berlaku buat gue. Yes, gue dan si mbak, masih positif hasil swab PCR dan antigen bahkan (gue orangnya suka double check biar lebih aman aja rasanya) di hari ke 6 kami isolasi. Jadilah isolasi dilanjut sampai hari ke 10, dengan 3 hari sebelum selesai isolasi harus sudah tidak ada gejala. 

Hari ke 6 isolasi, Alhamdulillah hasil swab anakku sudah negatif. Dan memang dari 3 hari sebelumnya, gejala mereka sudah hilang. Tidak demam tinggi yang tidak turun-turun dengan obat seperti di awal sakit, atau batuk dan pilek. Fun fact, gue yakin banget Covid-19 mampir ke gue ini karena tertular dari anak-anak. Karena memang hanya di rumah dan saat dengan keluarga, gue nggak menjalankan protokol kesehatan. Bayangkan di saat Kamis pagi gue swab antigen di RS tempat kerja dengan hasil negatif dan tidak ada gejala, lalu sore sampai besoknya, anak-anak sakit demam tinggi. Gue rawat anak-anak, nggak pakai masker, karena entahlah, saat itu sesimpel gue merasa nggak sakit maka nggak perlu pakai masker, dan memang gue kecolongan juga, tidak menyangka itu Covid-19. Mungkin karena gejala saat itu anak-anak hanya demam, dan kemakan omongan orang-orang juga, yang bilang Covid-19 udah nggak ada. And then Minggu, gue merasa muncul gejala yang tidak seperti biasa, inisiatif untuk cek, dan betul ternyata positif Covid-19, pun anak-anak gue.

Setelah sekian hari menjalani isolasi, jujur sih, gue bener-bener bersyukur setidaknya kasus yang mampir ke gue dan keluarga saat ini masuk ke golongan ringan. Tapi tetap aja, gue nggak akan pernah setuju dengan mereka yang bilang Covid-19 ini cuma flu, dan karena kata "cuma" itu jadi kesannya seperti meremehkan. Karena apa, to me, demam tinggi 2 hari lebih tidak turun-turun dengan obat, itu scary, apalagi kejadian di anak-anak. Kena Covid-19 dengan kondisi ternyata kamu punya DM tidak terkontrol, yang saat dicek ternyata gula darah mu di atas 300, itu scary (yap, ternyata si mbak ART yang baru kerja sama gue ini, punya sakit DM yang nggak diobati). Things could go wrong. Dan nyeri tenggorok yang bertahan sampai 5 hari terus-menerus, walau segala obat dan suplemen sudah kamu minum, itu scary. Senyeri itu, bahkan sampai kamu sentuh dari leher aja, terasa nyerinya. Bikin nggak mau makan dan susah tidur. Belum lagi ditambah vertigo bolak-balik, sakit kepala, dan pusing. Jangan lupakan batuk dan pileknya juga.  Bener-bener beda, sama yang kata mereka, flu biasa. Gue sendiri si alergian dan punya atopi. Pilek, bersin, hidung meler tiap dingin dikit atau debu, atau pas kecapean, cukup sering gue alami. Asma pun pernah. Dan Covid-19 beda sama itu semua. It's painful and kinda depressing. Mungkin bagi sebagian orang gue terdengar so negative and pathetic, but no, that's not what I mean. I'm just trying to be realistic and tell you experience that I had. You don't need to sugarcoat everything in your life tho. Iya, mental harus kuat, jangan kalah sama sakit. Tapi kalau sampai meremehkan, tidak jaga diri sendiri dan orang sekitar mu untuk tidak tertular virus ini, hanya karena merasa virus ini membawa sakit yang remeh, menurut gue itu egois. Kita nggak pernah tahu, virus ini akan jadi seperti apa di orang lain kan. Banyak orang-orang lain dengan kondisi imun yang kurang, yang masih bisa berakibat fatal bagi mereka jika terkena virus ini. Why not doing something that we can do, to help other? Toh di saat kita menahan diri, akhirnya laju penyebaran sakit ini bisa turun dan itu yang kita semua harapkan kan? Lagian, sakit itu, mau ringan sedang berat, ya sama-sama sakit. Sama-sama nggak enak. Alangkah lebih senang jika semuanya, bisa saling jaga.

But again, Alhamdulillah untuk semua yang gue lalui ini. Serius, Alhamdulillah. Gue bener-bener belajar banyak dari terkena Covid-19 ini (blessing in disguise itu selalu ada kalau dalam kamus gue, hehe). Semoga hasil swab nanti malam sudah negatif dan besok bisa balik aktivitas seperti biasa, dalam kondisi sehat dan segar bugar tentunya. Aamiin.. Oh ya, gengs, untuk kalian semua yang baca tulisan ini, semoga sehat selalu ya! And last but not least, my forever pray, semoga Covid-19 bisa segera musnah dari dunia ini, dan tidak ada lagi muncul wabah-wabah lainnya. Aamiin! ^^   

Monday, January 3, 2022

Tahun Ke 6

 Hi, Dear. Haha. Ya siapa lagi Dear selain kamu yak.

Nggak nyangka juga, masuk tahun ke 6 jadi isteri kamu. Kalau ditambah masa-masa kita kenalan di tahun 2010, waw 12 tahun udah yak. Hehe. Bukan yang nggak nyangka karena nggak ngarep juga ya maksudnya, lebih ke.. hmm.. wow time flies ya! Mayan lama juga kita saling bertahan dan saling-saling yang lain juga tentunya. Hehe. And I'm truly grateful for that. :)

Thank you for being with me selama itu ya. Dan semoga kita masih saling membersamai untuk tahun-tahun selanjutnya. Bener-bener berharap dan selalu berdoa, semoga kita jodoh, di dunia maupun di akhirat. Semoga keluarga kecil yang kita punya saat ini, akan selalu menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warohmah. Aamiin..

Dan semoga, perasaan ke kamu nggak akan berkurang dari perasaanku ke kamu di hari yang sama, 6 tahun lalu. Di mana pagi itu entah kenapa, mood ku hancur, dan aku nggak bisa sembunyikan. Tapi dengan ajaib, begitu lihat kamu di situ, kamu senyum ke aku yang saat itu sedang dirias, perasaan jelek itu hilang begitu saja. Berganti jadi sesuatu yang membuncah, membuatku tersenyum dan bahagia. Hehe..

Dan di tahun ke sekian, aku tetap akan bilang, I am so lucky to love you, and so happy to love you!^^ 

Sunday, March 7, 2021

Finally I Wrote This Pandemic Things

Sejujurnya gue cenderung menjauhi bahasan tentang ini. But, hey, I can not stand lagi deh kalau begini ceritanya. Kayak ada banyak banget unek-unek, gerundelan, yang kayaknya hampir setiap hari mengisi relung hati, sedikit demi sedikit, dan relung itu sudah penuh. Haha. So, gue butuh buat "mencurahkannya" biar tetap waras.

Ini cerita tentang pandemi, yang sudah setahun lebih terjadi, di dunia, di negeri yang gue tinggali. Yes, it's about Covid-19. Situasinya sekarang, di Indonesia, jumlah kasus harian mencetak rekor. Jujur, situasi akhir-akhir ini bikin ngelus dada banget sih. Jenuh, iya. Tapi jujur bukan jenuh sama penyakit ini aja, gue juga jenuh sama tingkah laku masyarakat banyak yang gue lihat.

Disclaimer dulu ya, back ground gue saat ini, gue kerja sebagai dokter IGD di sebuah rumah sakit kota, bukan rumah sakit rujukan, pun dengan jumlah shift yang paling sedikit dibanding teman-teman gue yang lain, karena sekarang main job gue adalah mengurus klaim pelayanan asuransi plat merah di rumah sakit (termasuk mengurus klaim-klaiman pelayanan kesehatan terkait pandemi ini). Minggu ini, gue jaga IGD sudah 2 kali, dan jujur, ikut stres. Dulu, sebelum dapat amanah jadi pentolan klaim-klaim-an, gue full di IGD. Jujur ya, kayaknya kok belum pernah ada yang ngalahin rasa lelahnya jaga UGD di era pandemi ini, terutama 2 shift silam. Harusnya gue nggak sambat ya, karena yang gue alami itu masih jauh sama teman-teman sejawat lain yang waktu paparan dengan pasiennya lebih banyak, yang shift nya lebih sering, lebih-lebih yang bergumul di fasilitas rujukan. But hey, I'm sorry, the struggle and pain is real!

Sekarang, fasilitas kesehatan dipenuhi banyak orang, pasien. Kami dari rumah-rumah sakit pun bukan yang mengundang mereka semua datang dengan sengaja. Mereka datang ke kami karena membutuhkan bantuan. Mereka sakit. Bisa dilihat di banyak tempat kan, pasien-pasien luber, diperiksa di tenda darurat. Bed pasien habis, oksigen tipis, kematian pun meningkat. Bukan bermaksud nakutin ya, tapi memang itu kenyataan yang sedang terjadi, mungkin tidak di semua tempat, tapi di banyak tempat. Tidak di semua ya, jadi jangan lah kau lihat ada rumah sakit yang sepi ndak ada pengunjung, lalu kau koar-koar keadaan chaos di banyak faskes hanyalah hoax atau fear mongering belaka. Hey tidak seperti itu. Faktanya memang banyak pasien yang datang sakit barengan ke rumah sakit. We didn't invite them tho.

Mereka yang bicara Covid-19 ini tidak berbahaya, rasanya lupa lihat ke orang-orang lain. Setahun lebih berdampingan dengan penyakit ini, sebagai nakes yang tidak mengenal WFH (yha walau jaga IGD sebulan cuma sekian kali, tapi tetep masuk kantor bos, ngerjakan klaim layanan kesehatan yang makin banyak dan turah-turah), gue saat ini berpegangan kepada, penyakit ini sebagian tidak berbahaya memang, tapi sebagian lain bisa mengakibatkan fatal alias membahayakan. Terus kan ada aja tuh yang komen, "matinya karena sakit komorbidnya, kok dibilang covad covid aja," Hmm, begini Pak. Seumur-umur jadi dokter nih, jarang banget ya gue nemu pasien dengan DM meninggal karena dia terinfeksi common cold (batuk pilek biasa) di saat sedang sakit DM itu. Atau ibu hamil tiba-tiba infeksi paru-paru dan saturasi oksigennya turun? Lalu meninggal? Padahal sebelumnya seger buger? Seriusan, hampir nggak pernah ketemu kasus begitu. Kasus pneumonia aja termasuk jarang gue temui selama jaga ya. But nowdays? Kasus itu mendominasi.

People, please, be a human. Human with the humanity. Jagalah sesama mu. Sadar diri, kalau kamu habis melakukan hal yang berisiko tinggi terpapar virus, ya jaga orang lain sekitarmu, agar tidak ikut sama seperti kamu, mengalami risiko tinggi. Dengan apa? Jaga jarakmu, pakai maskermu, batasi aktivitas komunalmu, cuci bersih tanganmu, jalankan etika batukmu, periksakan diri saat merasa sakit, isolasilah dirimu jika terjangkit. Kita-kita ini yang nakes, serius, nggak pengen Covid-19 itu lama-lama dan terus ada. Seriusan. Dan kita-kita ini yang nakes, juga bagian dari kalian, masyarakat. Kalau memang tujuan kita sama, ayok, sama-sama perang, sama-sama sabar dan tahan diri. Sampingkan sedikit ego nya. Kalau bisa bareng dan kompak, Insyaallah bisa selesai kan pandemi nya.

Semoga pandemi ini bisa segera selesai dari dunia. Aamiin..

PS: Tulisan ini pertama ditulis pada 7 Maret 2021, dengan situasi pandemi sesuai dengan tanggal tersebut, dan tentunya situasi hati penulis yang menyesuaikan apa yang terjadi saat itu. Diselesaikan dengan menambah beberapa kalimat akhir pada 30 Maret 2022.

Saturday, January 6, 2018

For You, My Lil Smoochie :*

I'll make this one as quick as possible. It's deadlines day for me! Tapi tenang, biar bikinnya cepat, isinya nggak kurang nggak lebih dari apa yang mau Mama sampaikan kok. Mama? Yes, ini posting buat kamu, Nak, Angkasa, Asa nya Mama..:)

Angkasa, kalau kamu besar nanti, terus jadi warganet kekinian dengan segala gadgetnya, jangan heran ya, kalau Mama jarang posting foto-foto Adek waktu kecil. Yah, mungkin bakal ada banyak foto kamu di IG Mama, tapi captionnya nggak menarik atau amburadul. Haha.. Nggak kaya Mama-mama kekinian lain, yang dengan rajin dan niatnya merangkai kata-kata untuk sekadar merekam memori dengan anaknya. SOO SOORRY FOR THAT, YA, SON! TwT Apalagi, kalau kamu jarang nemu Mama posting or sharing kamu udah bisa apa aja umur segini, makan apa aja umur segitu, udah bisa ngomong kapan, atau bisa jalan kapan. Harap maklum ya Nak.

Sesungguhnya, bukan Mama nggak ngerekam itu semua. Bukan Mama pas nggak ada di samping kamu, di saat kamu tumbuh dan berkembang dengan begitu bahagia. Mama cuma malas aja orangnya. Wkwkwk.. And yeah, I don't do share that much. Kalau kamu mau tahu, memory hp Mama itu full sama kamu lho, Dek. Hehehe.. Dan Mama selalu inget, kapan Adek begini, kapan Adek begitu. Hehe..Cuma yah, karena kemalasan Mama itu tadi, semuanya tersimpan begitu aja. Nggak (belum) dirapiin, sampai enak dipandang mata. Hehehe.. Sekali lagi, harap maklum ya Sayang.

Bukan karena kamu nggak hebat lho. Wih, kamu tuh, bayi ajaib laah yaaa buat Mama. Anak Mama yang paling ganteng! Haha, ya iya lah, karena sekarang anak Mama ya baru kamu aja Dek. Dan setiap Mama pastilah memandang anak lelakinya sebagai yang tertampan di dunia. Wkwkwkwk.. Oh ya, ajaibnya di mana? Di semua-semua deh. I don't say that you are perfect, nah, far from that (and yes, I do believe that 'perfect' is only belong to Allah SWT). But you're my best. Best in the world, for me. Kamu adalah jawaban doa-doa Mama, Dek. Makasih ya.. Btw, nih, Mama bocorin sedikit di sini keajaiban kamu menurut Mama yaa. Haha..

Pertama, kamu itu pintar. Hihi.. Lepas dari akan jadi apa kamu nanti, dan walaupun kamu baru berusia 9 bulan-an per hari ini, yes, kamu itu pintar Dek. Feeling Mama bilang sih, kamu itu tipe yang cepat belajar. Kebalikan Mama yang lola nya minta ampun. Mungkin nurun dari Papamu ya Dek. Haha.. Buktinya aja nih, kamu udah bisa ngambil benda kecil pakai 2 jari dari kamu umur 6 bulan lho. Di umur segitu pun, Adek juga udah bisa genggam makanan dengan baik, dan makan sendiri. Haha.. Kalau Mama seriusin BLW paling ya kamu bisa Dek. Tapi maap, Mamamu ini nggak setelaten mama-mama kekinian lain. Jadi ya, kamu makan pakai metode konvensional aja, win-win solution sama yang jagain kamu dan juga beres-beres di rumah. Hehe.. Seenggaknya Mama nggak mau maksa kamu makan ya Nak, Alhamdulillah sampai sekarang kita baik-baik aja dengan cara seperti itu. Hehe.. Ngomong-ngomong pintar, ya itu salah satu kepintaran Adek. Makan. Jujur, kamu tuh nyenengiiin banget kalau pas lagi makan. Semua masakan Mama, yang kalau kata orang lain sih, bisa aja nggak enak dan nggak jelas, mau kamu makan. Baru akhir-akhir ini aja, Mama lihat kamu tutup mulut waktu makan, tapi itu pun cuma sebentar, beberapa saat kemudian kamu mau makan lagi, tanpa Mama paksa. Thank you very much for that ya Dek. Padahal kamu pas lagi sakit. Tapi kok ya kaya ngerti, kalau makan itu penting. Mama terharu..

And then, Adek juga udah paham lho, cara naik-turun kasur dengan baik, dari Adek umurnya sekitar 8 bulan. Awal-awal kamu turun dari kasur itu kepala dulu lho. Tapi lama-lama dibilangin, sekarang tiap turun kasur udah pakai kaki dulu. Udah lebih aman deh. Dan kalau naik kasurnya, wah itu mah Adek udah pinter, bisa sendiri nggak pake diajarin. Haha.. Kamu rajin ngeliatin Mamamu kali ya Nak. Hehehe.. Padahal, dulu Mama sempet worry gitu, kamu kok kayaknya agak telat buat tengkurap dan balik badan dari tengkurap. Yes, apalagi dulu kan kamu seringan digendong ya Dek, jadi parno deh Mama. Tapi ternyata, dari umur 5 bulanan kamu udah bisa duduk sendiri, kepala tegak pula. Dan sekarang, wah umur 9 bulan udah curi-curi berdiri, lumayan bisa berdiri sambil joged tangan di atas selama beberapa detik, hihi. Kamu juga udah bisa jalan merambat, merangkaknya udah kemana-mana, manjat-manjat apapun, buka-buka buku, wah bikin Mama seneng deh. Bisa dibilang pesat juga perkembanganmu ya Nak.

Oh ya, dan satu lagi, kamu itu penyayang yaa.. Hihi.. Jadi, ada satu malam, Mama begadang ngompresin Adek, karena Adek tiba-tiba demam tinggi. That's the first time, kamu sakit demam Dek, tanpa sebelumnya imunisasi. Which is, yes, ini beneran sakit. Malam itu, Adek lagi tidur enak, tiba-tiba kebangun, rewel. Mimik lah Adek seperti biasanya. Tapi, kok udah lama mimik kaya masih gelisah. Mama cek, kok panas, terus Mama ukur panasnya pakai termometer, walah 38.4 Dek.. Ditambah kamu kaya ngelindur gitu, mana Papa lagi jaga malam, panik lah Mama. Langsung aja Mama ambil paracetamol, Mama minumin ke kamu, lha eh kamu malah muntah. Banyaaaaak.. Aduh, rasanya baru itu Mama panik Dek. Biar Mama dokter ya, tetep aja deh, begitu menghadapi anak sendiri yang sakit, kalang kabut ini pikiran. Soalnya itu baru pertama kali kamu sakit sampai kaya gitu Dek. Untunglah Papamu masih bisa dihubungin, seenggaknya langsung kasih saran dan bisa nenangin Mama. Juga pas ada eyang-eyang mu di rumah, jadi Mama nggak terlalu bingung deh. And then kamu berhasil bobo lagi, lebih pulas. Cuma demam mu masih naik-turun, jadi lah Mama semalaman kompres kamu. And guess what, besok paginya, kamu bangun duluan dek. Dan Mama teler-seteler-telernya. Dan ada satu hal yang nggak bakal Mama lupa dari kamu waktu itu. Kamu meluk Mama lumayan lama, sambil senyum-senyum maniiiis banget. Mama kira waktu itu kamu glendotan minta naik ke kasur, ternyata enggak. That was just so sweet, Dek. Hilang sudah lah, capek nya Mama. Hehe..

Jadi, Angkasa, kalau suatu hari nanti, kamu lagi down, nggak semangat, ngerasa minder, mungkin kamu bisa baca tulisan Mama ini. Haha.. Kamu harus ingat, selalu ada Mama dan Papa di belakang kamu. Tambahin, bukan Mama Papa aja lho Dek. Kamu punya keluarga yang selalu sayang sama kamu. Yang bahkan kamu ngeberantakin ini-itu aja semua nggak marah. Kesel sih, tapi ditahan, hahaha.. Yes, karena kamu si Little Precious kami semua.. Ada Eyang, ada Onty, Oncle, Tante, Om, semua sayang Angkasa. Keluargamu (terutama Mama dong :p) ini yang tahu kamu, dari kamu masih berbobot lebih ringan dari beras 5 kg Ind*maret. Hwhwwhw.. Banyak orang sayang dan doain kamu, Dek.. Jadiiiii, semangat terus ya Sayaaaang! :D Semangat dan tumbuh kembanglah jadi anak yang hebat dan berbahagia. I will happy if you're happy too..

So, segini dulu deh tulisan Mama buat kamu. Kapan-kapan Mama cerita-cerita lagi yaa Dek. Hehe.. ILUSM! :*

Diketik pertama di saat Asa masih berusia sekian bulan, diselesaikan di saat Asa ulang tahun yang pertama.

Let It Go (Trying To)

Tbh, ini udah kejadian ke sekian kali. Dari seumur-umur gue koas, iship, lanjut jadi dokter praktik. Harusnya mah, kan usah biasa ya. Pattern nya pun mirip-mirip. Tapi kenapa? Kok rasa yang sama selalu berulang. Rasa yang sama selalu membekas. Dan bahkan rasa-rasa sama yang baru muncul itu kembali menyeret datang rasa-rasa yang dulu sudah saya rasakan. Why.....?

And guess what the best part is. Complicated. Untuk ke sekian kali, saya dapat pasien yang complicated. Rumit. Bahkan sebenarnya, pasien ini bukan murni pasien saya. Saya tidak tangani dari awal. Tapi selalu sama. Not always, though. Sering. Sama seringnya. Sama rumitnya. Rumit, lalu memburuk. Rasanya sudah sekuat tenaga berusaha, tapi at the end, saya masih merasa ada yang kurang.

I know this isn’t professional. I’m trying to be, tapi susah. Di saat saya berusaha kembali mengingat-ingat terapi apa saja yang sudah diberikan, lalu menarik nafas lega, karena setidaknya hal tersebut sudah sesuai dan sudah atas persetujuan supervisor, di saat yang sama (sepersekian detik setelahnya), entahlah nafas kembali berat. Bayangan wajah pasien tadi, yang menyahut saat saya panggil, yang masih berkenan membuka matanya saat saya memeriksa GCS, tangan beliau yang di ambulans entahlah seperti menjabat tangan saya, ucapan terima kasih dari keluarga pasien yang saya terima –(yang rasanya berlebihan untuk saya terima saat itu), sulit sekali ya, saya lupakan. Inginnya saya tinggalkan semua, selepas saya selesai jaga pagi ini dan kembali ke rumah. Tapi ternyata, sulit juga untuk saya lepaskan.

Menjadi dokter memang tidak boleh menjanjikan kesembuhan. Kesembuhan hanyak milik Allah S.W.T., saya percaya itu. Saya hanya perantara, yang bisa berusaha semaksimal mungkin. Tapi jujur, saya sedih sekali. Di saat saya sempat merasa optimis karena menurut saya terdapat perbaikan, dalam sekejap mata, terjadi perburukan. Memang, semua yang terjadi adalah atas kehendak Allah S.W.T. Saya hanya bisa berdoa, semoga yang terjadi, adalah yang terbaik untuk semuanya. Aamiin YRA...

Diketik saat hujan besar, saat masih terperangkap di IGD, dengan segala memori tadi pagi..

Monday, April 17, 2017

Kue Ulang Tahun


Malam, Gie.. Malam, semuanyah.. Gue mau cerita dikit boleh ya, cerita di balik foto yang gue upload di post ini. Hehe.. Yas, itu foto kue ulang tahun gue, dari misua tercinta.. Yang, jujur aja, gue nggak nyangka, dia beneran kasih gue kue macam itu. Hehe..

Beberapa hari sebelum gue tambah umur, si misua nyinggung-nyinggung gitu deh, ditanya-tanya lah gue mau kado apa. Dan emang dasarnya dia mah lebih banyak bercanda (lebih tepatnya ngebercandain gue sampe gue kesel 😅), gue anggap ringan aja lah ya, dan, yes, nggak berharap apapun. Hahahaha.. Seperti biasa, udah didoain aja udah syukur Alhamdulillah..

"Aku mau cake dong. Birthday cake, coklat gitu, ada tiup lilinnya," jawab gue sekenanya begitu dia tanya gue mau apa.

"Hoo.. Kue coklat gimana? Beli di mana?"

"Hmm, di coklatku chocoshop aja," jawab gue lagi, yang emang sih, toko coklat satu itu udah jadi semacam tempat belanja coklat favorit gue selama di Malang. Jadi yah, kaya otomatis aja gitu, pop up in my mind begitu ditanya. Hahaha.. Padahal sih kalau digali (dan dipikir-pikir) lagi, pengen gitu, sekali-kali gue nyobain cheese cake nya dapur coklat atau harvest. Huahahaha..

Oh ya, and you know what, abis itu misua gue bales gimana?

"Oh, emang ada toko itu di Malang ya? Belinya gimana? Online?"

"Ada lah.. Kan emang tokonya di Malang. Aku sering beli di situ. Mesen online juga bisa.."

"Yawes, kalau gitu ntar kamu yang pesen yah. Ta' kasih duitnya, kamu yang siapin.." Dan dia ketawa lebar, macam ginih: 😂 Dan gue kembali speechless seperti biasa, memasang ekspresi andalan macam ginih: 😫

Wajar toh yoo, kalau gue nggak expect apapun dari misua gue kalau begitu caranya. Ahahaha.. Dan percayalah, momen kaya gitu udah macam makanan sehari-hari gue dan dia deh, yang Alhamdulillahnya, tanpa bosan. Wkwkwkwk..

Jadi, bisa dibayangin dong, gue beneran kaget begitu masuk ke ruang keluarga, ada kue ditancepin lilin ulang tahun buat gue. Hahaha.. Apalagi begitu lihat ucapan di kuenya, "my wife", yang berarti itu kue emang asli dari dia, bukan ajakan patungan dari pihak-pihak ketiga kaya biasanya..😅 And seriously, gue speechless.. Bete gue di hari itu langsung hilang. Iya, gue abis bete berkepanjangan pasca nangani pasien waktu jaga, yang, gue ngerasa belum optimal penanganannya. Ngelihat dia, anak gue, juga saudara-saudara lain kumpul di ruang keluarga dan merayakan kecil-kecilan ulang tahun gue, rasanya bahagia. Hehe..

Mungkin hal tsb biasa banget ya bagi sebagian orang lain, super super standar lah bisa dibilang, atau ketinggalan zaman, atau bisa juga ada yang beranggapan there's nothing special dari prosesi macam gituan. Tapi, buat gue, percayalah, hal seperti itu benar-benar istimewa. Ngelihat misua gue yang baik-baik-nyebelin-bikin-pusing-tapi-ngangenin bisa menyediakan waktu dan effort sedemikian rupa buat gue, gue bahagia.. Untuk dia yang bukan tipe cowok so-called so sweet, ini mah prestasi bener deh ya. Hehehe.. Pokoknya, gue nggak nyangka, dan gue bener tersanjung. I feel so special. And thank you so much for that..😊

Akhir kata nih, gue tujukan buat suami tersayang yang mungkin, someday akan baca tulisan ini ya..

Terima kasih. Thank you for making my special day feels waaaay more special, darl.. Bukan karena kuenya sebenernya, tapi karena kamunya. I feel so loved eventhough I know, you'll always be mine. Hehe.. I love you, and I'll always yours. No, not because of that birthday cake. There's no reason at all for me to say such a cheesy phrase here, for you. Hehe.. Sekarang, kamu dan Asa adalah prioritasku, kebahagiaanku. Terima kasih sudah ada, dan mau menemaniku, selama ini, sampai seperempat abad sudah aku diizinkan hidup oleh Allah.. Moga kita panjang umur dan sehat selalu yes, makin tua makin bijaak, grow old together lihat Asa (and adeknya juga, hihi) tumbuh dewasa menjadi orang hebat, ngasih cucu ke kita (hahaha), dan pastinya, ibadah bareeeng, mengejar ridho Allah bareng.. Aamiin YRA..😊

Semoga aku dan kamu selalu berjodoh, I love you, suamiku..😊

Wednesday, February 22, 2017

Kenalan dengan Kata MengASIhi..

"Selamat mengASIhi ya, Mom," sering nggak sih, dengar atau baca ucapan itu dari sesama ibu ke ibu yang baru aja lahiran? Kalo gue sih, sering.

Seiring dengan gue menjadi emak-emak, akhirnya berkenalan juga gue dengan dunia per ASI an. You all know lah yaa ASI di sini maksudnya apa. Yep, air susu ibu, which is makanan rangkap minuman untuk si bayi lucuk, sang anak yang baru gue lahirin. Konon katanya, ASI adalah makanan minuman terhebat untuk bayi-bayi manusia, dengan kandungan gizi dan nutrisi yang sudah dirancang sedemikian rupa oleh Yang Maha Kuasa sehingga sesuai untuk memenuhi kebutuhan si bayi-bayi lucu. Dari segi medis, WHO pun menganjurkan ntuk dilakukannya pemberian ASI saja selama 6 bulan pertama usia anak (ASI eksklusif).

Well gue bukan mau cerita tentang ASI itu begini begitu serta ilmu per ASI an lainnya ya. Kali ini gue mau sharing aja pengalaman gue selama mengASIhi si anak ganteng kesayangan. Untuk dokumentasikan kenangan, syukur-syukur bisa bermanfaat bagi orang lain. Hihi..

Jujur, gue termasuk orang yang minderan. Ditanya tentang ASI, dari sebelum lahiran aja udah ada nggak PD nya. Waktu kontrol hamil terakhir gue ditanya sama DSOG gue apa ASI udah keluar, dan jawabannya belum. Posisi uk 39 minggu. Bukan sesuatu yang nggak wajar sih, tapi bikin kepikiran aja. Artinya kan ya banyak ibu-ibu yang emang udah keluar ASI nya dari awal. Somehow bikin insecure. Waktu persiapan kelahiran di RS pun itu ASI masih belum tampak. Haha.. ASI gue pertama kali keluar saat baby Asa dibalikin ke gue setelah mandi dan dibersihkan di hari kelahirannya. Itu juga pakai dibantu bu bidan RS untuk mengeluarkannya. Daan, perasaan pertama breast feeding ke Dedek tuh, hmm, nano-nano. Haha. Jujur ada sakitnya, tapi juga nggak kalah perasaan takjubnya. Melihat Dedek yang khidmad sekali mimiknya, sambil ngelus-ngelus kepala dia, rasanya amazed aja gitu. Apalagi baru banget selesai lahiran yaak, gue jadi agak drama gitu lah, macam sinetron. Bolak-balik mbatin, ya ampun gue udah punya anak, ya Allah lucunya anak ini, ya Tuhan nggak percaya selesai juga lahirannya, dll dll.

Gue bersyukur, di hari kelahiran Dedek ASI gue udah keluar. Rasa insecure sebelum lahiran hilang sudah. Di saat itu, gue mulai menanamkan pemikiran kalau breast feeding ke bayi adalah suatu yang sudah dirancang sedemikian rupa oleh Allah, ASI adalah hak para bayi, salah satu mekanisme mereka untuk bertahan hidup di dunia, dan oleh karena itu, setidaknya, dapat berjalan dengan alami tanpa banyak drama. Yes, jadi gue PD in aja deh kalau ASI gue cukup. Walaupun sebenarnya gue sendiri waktu itu ya belum ngeh apa tandanya ASI cukup apa enggak. Gue rasanya juga masih belum ngerti bedanya ASI gue keluar dan diminum sama Dedek sama si Dedek yang ngempeng aja. Ya, gue memang se-tidak peka itu. Haha..

Hari berikutnya gue dan baby sudah boleh KRS. Untunglah sebelum pulang ada bidan khusus yang mengajari gue teknik-teknik menyusui dan berbagi bermacam info mengenai menyusui. Jadi nggak bego-bego amat lah ya. Haha.. Walaupun gue juga nggak langsung bisa, masih banyak kagoknya.

Hari demi hari pun berlalu, gue berusaha buat terus nenenin Dedek langsung. Tiga hari pertama di rumah, gue masih dapat fasilitas free home care dari RS. Yup, ada mbak bidan yang berkunjung ke rumah, memeriksa gue dan baby, sambil mengajari cara memandikan dan menjemur si Dedek. Of course gue juga bebas tanya-tanya. Haha.. Di saat itu, gue inget sudah mulai muncul dramanya busui. Hehe. Booby gue gampang bengkak, dan mulai terasa nyeri. Cus deh, tanya ke mbak bidan, dan gue diajari massage payudara. Juga diberi anjuran untuk mengompres dengan air hangat saat mulai terasa nyerinya. Yup, ternyata namanya hidup ya, nggak akan lepas dari drama.. Ahahaha.. Gue yang mikir kalau breast feeding seharusnya lancar jaya tanpa ada masalah, akhirnya nyerah juga begitu makin hari, nyeri makin terasa. Nyeri di sini udah bukan sekadar nyeri kemeng di booby ya, tapi nyeri juga di nipple. Haaahaaa..

Gue nggak pernah nyangka kalau menyusui itu (bisa) sakit. Sakitnya pun nggak kalah sama sakit nya dysmenorrhea. Haha. Apalagi, si Dedek termasuk baby yang gercep masalah susu-menyusu ini. Awal-awal dia lahir, beneran bolak-balik minta nenen lho dia. Beneran tiap dua jam rasanya, dia minta nen. Padahal, nipple gue toh akhirnya lecet juga, dan itu bikin sensasi nyeri-nyeri-nikmat yang luar biasaaaa tiap nyusui Dedek. Macam diiris atau disilet kali rasanya ya. Haha.. Belum lagi, masalah booby gue yang gampang bengkak. Belum ada berapa jam, udah menteng-menteng aja. Sakitnya dobel dobel.. Huks.. Gue inget, awalnya nipple sebelah kiri gue yang sakit parah tiap menyusui. Akhirnya gue parno kan tuh, si Dedek gue nenenin ke yang kanaan terus. Yang kiri akhirnya gue pompa aja biar nggak seberapa bengkak. Tapi ternyata cara gue ini nggak efektif. Haha.. Puncaknya ada di hari ke sekian (lupa tepatnya) usia Dedek, gue nangis kejer kaya anak kecil sambil nyusui dia..

Iyah, nangis. Kejer. Yang nangis berisik kaya anak kecil gitu. Sampai-sampai misua kaget dan langsung lari masuk ke kamar, bingung. Drama banget kan.. Haha.. Waktu itu yang gue rasain cuma sakit. Sakit di mana-mana. Nipple yang kanan juga ternyata ikutan lecet dan jadi sakit, booby kiri bengkak nyut nyut, bekas jahitan juga masih nggak enak rasanya, kepala pusing nggak jelas, dan parahnya lagi badan meriang, demam. Fix, jatoh sakit. Beneran bikin mental break down lah. Parah. Gue mbolak mbalik batin, masih berapa hari jadi ibu kok udah sakiit, Dedek gimana nanti? Seumur-umur jarang demam ya, sekalinya demam saat itu temp gue 39,8 derajat Celcius..😎 Capek, sakit, ngantuk, perasaan bersalah, campur aduk jadi satu. Pengalaman pertama yang nggak akan terlupa rasanya. Baru ngeh, makanya ada kata-kata "pejuang ASI" itu karena itu ya.. Karena memang, intinya semua adalah, perjuangan.

Setelah itu, apa yang gue lakukan? Rasanya gue sampai pada titik pasrah. Berhenti nangis, dan mulai mencari solusi. Untung misua pengertian ya, bolak-balik nyemangatin gue, ngerawat gue yang lagi kaya gitu, tanpa marah tanpa kesal. Gue pun tetep nyusui Dedek langsung. Seengganya gue mikir, masih jauh sakitan kontraksi, nggak apa, nggak apa.. And then, paracetamol 500 mg, bolak-balik gue minum (sesuai dosis lho tapi). Kompres panas buat booby yang bengkak, gue telatenin, pompa, gue jabanin, gue bela-belain deh pokoknya, demi sehat. Walaupun rasanya waktu itu udah pengen nyerah aja, tepar aja, gegoler aja. Haha.. Oh ya, dan satu hal penting, akhirnya gue nenenin juga booby yang bengkak itu ke Dedek. Keputusan itu, murni ya, gue ikut intuisi gue aja. Tiba-tiba aja gue beraniin diri, gue putuskan untuk menerjang rasa sakitnya. Mungkin ini yang dinamakan naluri ibu ya.. Dan Alhamdulillah, kondisi gue berangsur membaik. Seenggaknya, dalam dua tiga hari berikutnya, demam gue turun, dan booby kiri sudah tidak bengkak dan nyeri. Tinggal nyeri nipple lecet saja, Alhamdulillah.. Ternyata, isapan si Dedek jadi salah satu faktor kesembuhan gue. Makasi banyak ya Dedek.. 😊

Dalam perjuangan mengASIhi ini pula, gue akhirnya bertemu dengan profesi baru, konselor laktasi. Ya, karena tidak tahan lagi dengan nipple lecet kanan kiri, juga karena gue sendiri masih banyak bingung dengan teknik dan dunia menyusui, akhirnya gue putuskan untuk datang ke poli laktasi, setelah sebelumnya banyak konsultasi via online. Untungnya konselor laktasi tersebut kakak kelas sendiri, hehe, jadi bisa lebih lepas. Jujur aja gue khawatir kalau posisi atau perlekatan si Dedek selama itu salah, atau Dedek punya kelainan macam tongue tie. Habis, sakitnya kok makin nemen, padahal udah seminggu lewat. Tapi, setelah datang langsung dan diperiksa oleh konselor laktasi tsb, yang ditemukan hanya posisi saja yang perlu sedikit diperbaiki. Perlekatan Dedek sudah baik, lidahnya tidak ada kelainan, berat badan pun naik. Haha.. Emang ini judulnya mah, anaknya pintar nyusu, ibunya yang masih dodol. Hehe.. Hampir dua jam gue, misua, dan Dedek berkunjung ke poli laktasi, dan Alhamdulillah, gue belajar lagi banyak hal mengenai dunia menyusui.

Sekarang, usia Dedek sudah mau dua bulan. Makin pinter nyusunya, makin banyak dan lama. Haha.. Tapi kerasa sih, frekuensinya berkurang. Alhamdulillah, udah nggak berasa lagi sakit macam disilet kaya dulu itu. Menyusui jadi jauh lebih menyenangkan. Sambil ngobrol, cubit-cubit pipinya yang macam pao, ngeliatin mukanya yang innocent, senang lah ya. Cuma yaa, nggak selamanya juga nyusu mulus lancar jaya macam itu. Haha.. Tetep masih ada dramanya, kaya kemarin, tau-tau Dedek ngamuk nggak jelas pas lagi nyusu. Teriak kaya marah gitu, terus nangis. Hueee.. Gue pun masih belum bisa disiplin pumping, paling sehari dua kali pumping ASI itu aja Alhamdulillah. Padahal bulan depan udah mulai kerja nih, udah mulai ninggalin Dedek.. Phew.. Gue masih belum bisa manajemen waktu dengan baik sih ya, dan ya si Dedek pun masih sering itungannya buat nyusu, atau nggak kalau nggak nyusu ya dia perlu digendong, dimandiin, diajak main, diganti popok, nah itu lah, gue belum terlalu pintar bagi waktu. Jadi kalau ada waktu kosong, rasanya mending untuk mandi atau tidur atau makan aja deh, daripada pumping. Haha..

Yah, kira-kira begitulah cerita gue tentang mengASIhi Asa. Banyak dramanya ya? Haha.. Nggak apa lah, namanya hidup, ya pasti ada drama. Dari drama itu lah gue belajar agar lebih baik lagi ke depannya #tsaaaaah #ceileeeeh Hahaha.. Doain yaa gue bisa terus istiqomah mengASIhi Asa sampai lulus S3 ASI. Hehe.. Ya namanya hak nya dia, ya kudu dikasihin kan ya.. Hehe.. Moga-moga aja lancar, nggak ada rintangan yang berarti. Aamiin.. Itu aja dulu cerita gue. Salut bener deh sama seluruh ibu-ibu di dunia, para pejuang ASI, yang bisa mengASIhi anak-anaknya tanpa putus asa.. Salute! Walaupun tetep, nggak kalah hormt gue untuk para ibu di dunia.. Iya memang memberikan ASI adalah perjuangan, tapi dengan menjadi seorang ibu saja, Anda adalah pahlawan. Menjadi ibu toh bukan hanya perkara memberi ASI, begitu banyaaaaaaak hal lain yang perlu diperjuangkan. So, mau ibu kasih full ASI, semi campur sufor, atau full sufor, ibu tetaplah ibu. Pasti mau yang terbaik untuk anak-anaknya, dan tiap ibu, punya pandangan serta pilihan sendiri untuk membesarkan anak-anak.

Akhir kata, see ya at next post! Kuy, semangat terus untuk jadi ibu terbaik bagi anak-anak kita! Semangat semangat semangaaaat!! 😁

Wednesday, September 7, 2016

Just Something Quick and Random

Gie. Rasanya datang lagi. Rasa jadi alien. Rasa nggak dianggap. Rasa nggak dihargai. Rasa sendiri. Rasa kecewa. Apa emang gue yang seaneh itu? Kalau gue nggak suka, apa emang harus gue paksakan untuk suka? Gue kudu piye Gie..?

Tuesday, March 22, 2016

Yang Bikin Kesal..

http://wartakota.tribunnews.com/2016/03/22/meski-jeda-sopir-taksi-vs-pengemudi-gojek-hampir-rusuh

http://wartakota.tribunnews.com/2016/03/22/mobil-taksi-pusaka-dirusak-pengojek-online-yang-mengamuk-pengemudi-kaget-dan-bingung

http://health.liputan6.com/read/2464959/penyebab-sopir-taksi-berbuat-anarkis-dari-pandangan-psikolog

http://wartakota.tribunnews.com/2016/03/22/ribuan-go-jek-menggeruduk-semanggi

http://wartakota.tribunnews.com/2016/03/22/video-pegojek-konvoi-kumpulkan-massa-untuk-serang-balik-sopir-taksi

http://news.liputan6.com/read/2464938/setelah-hancurkan-bajaj-driver-go-jek-serang-taksi-blue-bird

http://wartakota.tribunnews.com/2016/03/22/inilah-video-perusakan-taksi-oleh-demonstran-di-tol

Sigh. Manusia itu barbar yak Di hari canggih begini, ternyata masih banyak aja yang lebih make otot dibanding otak. Untuk apa sih? Paling nggak suka gue, ada begini-begini. First, bawa banyak impact ke banyak orang, dan banyak ngerugiinnya! Coba itu warga Jakarta yang biasa ngangkot, ngebis, naxi, ngojek, kalau pada hilang semua sibuk sikut-sikutan gitu, gimana nasib para warga lho? Second, anarkis nya itu lhoo.. Aduh, kudu banget ada kaya begitu? Katanya demo, tapi ujung-ujungnya anarkis. Dari yang sweeping maksa teman "sejawat"nya, sampai bentrok sama kelompok satunya. Haish.. Lagian kenapa juga bisa jadi bentrok antar kelompok sih? Astaga, kenapa kelompok yang satunya nggak ngalem aja, nggak usah dilawan balik dan jadinya bentrokan gitu kan bisa? Istilahnya, udah tahu ada kompor kebakar, kok yo malah disiram bensin. Gue nggak percaya kalau gini ini murni dari mereka-mereka yang berkepentingan. Pasti ada provokatornya deh. Yang emang hobinya lihat kekacauan ye. Kalau ternyata memang murni tanpa provokator, yah terima saja fakta kalau (sebagian) (besar) orang Indonesia memang masih barbar dan seprimitif itu. *Miris Well, gue pribadi sih pengennya ya, ditindak tegas aja itu semua, seadil-adilnya. Baik dari yang kendaraan umum konvensional, maupun yang kendaraan umum aplikasi online. Yah maksudnya adil tuh, yang anaki ya hukum. Pihak perusahaan juga harusnya tegas, pecat aja itu semua oknum yang bersalah. Biar pada inget lagi, itu bapak-bapak, mana salah mana benar. Biar ada efek jeranya juga.

Sebenernya, ini PR buat pemerintah juga sik. Kok bisa sampai chaos gini lho, kan artinya ada masalah yang belum bisa diatasi. Semoga saja segera ditindaklanjuti ya oleh para penguasa agar insiden kaya gini nggak keulang. Dan, kita-kita sebagai masyarakat juga sebaiknya bisa bertindak cerdas, atau minimal, jangan memperkeruh suasana deh. Be a smart citizen, please. Jujur ya, miris juga lihat sosmed isinya kebencia semua. Siapa itu yang ngomong juga nggak jelas, benar pembaca, pengguna, apa provokator, apa robot, apa setan, nggak tahu deh. Ada aja yang bawa-bawa kebun binatang dalam komennya, atau sumpah serapah yang sakit rasanya buat didenger. Nggak usah lah kita ikut nyebar bensin di atas kompor terbakar, dengan komen-komen pedas yang isinya mencaci-maki (nyebarin kebencian doang, situ oke? risih sumpah bacanya), atau dengan sharing artikel / video / foto ke khalayak walaupun sebenarnya bukan seperti itu faktanya (yes, ada yang sharing foto jadul kecelakaan abang gojek dengan caption seakan-akan dia berdarah-darah karena pengeroyokan). Emang ada gunanya? Kesal boleh yes, tapi itu tadi, be smart and wise. Sesuatu terjadi, pasti ada asal muasalnya, lebih bijaklah dalam menilai. Yang terlihat benar belum tentu benar, yang terlihat salah belum tentu salah. Perbanyak isi otak kita dulu dengan data-data yang valid, biar kita pun tahu duduk perkaranya apa. Jangan sampai, cuma menghakimi karena kita melihat "percikan" yang terjadi. Atau kalau mau simpel, stay quiet aja sampai semua clear, daripada ikut-ikutan nyiram bensin? Ye gak?