Showing posts with label lyfeupdate. Show all posts
Showing posts with label lyfeupdate. Show all posts

Monday, April 14, 2025

Pertengahan Syawal 1446 Hijriah, 14 April

Sampai juga di hari ke 14 bulan April, pertanda umur bertambah 1 tahun lagi. Alhamdulillaah, Allah SWT masih kasih aku rezeki. Di usia ke 30-an ini (kaburin dikit usia asli boleh lah ya wkwk), jujur aja, isi kepala masih sama ramai nya kaya di usia-usia sebelumnya hahaha. Cuma, berasa ada kekhawatiran lebih gitu sih, kaya ada rasa something yang dorong-dorong dari belakang. Mulai makin berasa tuntutannya, yang entah tuntutan dari mana ya, untuk bisa melakukan ini dan itu, untuk ambil sikap dan keputusan yang sangat mungkin efeknya besar di kemudian hari. Kaya berasa (harus) diburu-buru, keburu momentumnya hilang. Tahu kok, iya, aku tahu kok arahnya kemana. Tinggal aku nya aja, mau ambil arah yang kaya gimana. Tinggal.. hmm.. keberanianku aja. Gimana ya, haha. Keluar dari zona nyaman / tidak nyaman ternyata emang susah ya, baru relate deh kenapa banyak motivator-motivator ngejadiin hal itu bahasan haha. Oh kenapa aku tulisnya zona nyaman / tidak nyaman? Ya, karena bisa jadi emang zona nya gak nyaman, cuma ditahan-tahan aja karena sudah terbiasa dan rutin, jadi sudah tahu cara menghadapinya, sudah bisa berkompromi gitu ceunah.

Yah, walau kadang dorongan-dorongan dari luar bikin nggak nyaman, tapi aku sadar kok, itu semua karena pada peduli. Niatnya baik, dan aku bersyukur juga. Semacam ada yang jadi pengingat kan, Alhamdulillah. Cuma ya itu tadi, gimana caranya deh biar gak dikit-dikit takut? Kerasa sih, makin tua tuh makin apa-apa serba dipikir dan ditakutin. Dulu umur 20-an kayaknya, walau ada takut-takut di awal, tetep ditrabas gitu. Haha. Any suggestion?

Well, apapun itu, setidaknya satu hal yang aku sepakati, aku bersyukur. Syukur Alhamdulillah atas semua nikmat dan rezeki yang Allah SWT berikan. Alhamdulillah Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini sangat membahagiakan, keluarga kecilku bertambah besar dengan kehadiran baby number 3. Kakak-kakak si baby juga happy dan welcome banget sama si anggota baru. Selamat datang yaa, my little baby Al kesayangan. Sehat sehat dan bahagia lah selalu ya Nak.. Paksu juga Alhamdulillah, tetaplah paksu kesayanganku dengan segala lebih dan kurangnya dia. Lebaran kemarin pun Alhamdulillah masih diberi kesempatan berkumpul dengan keluarga kesayangan, baik dari keluarga mama papa ku maupun keluarga mertua. Allah Maha Baik. Dan di kesempatan birth-day ku hari ini, aku berdoa, semoga saja, galau-menggalau ku tentang masa depan bisa mereda. Ketakutan tak berdasarku bisa hilang, dan aku dapat segera memberanikan diri untuk bergerak dan mengambil keputusan yang terbaik. Untuk kebaikan ku, juga untuk orang-orang yang kusayangi. Semoga juga ke depan, semua akan berjalan dengan jauh jauh lebih baik lagi. Aamiin YRA.

PS: happy birthday to me :) bahagia itu kita buat sendiri, tenang aja. kado tinggal beli, kue tinggal pesan. ndak perlu nunggu dirayakan, merayakan juga gak masalah. semangat terus diriku! ^^

Sunday, October 16, 2022

How're You? How's Life?

Woi. Akhirnya ah, gue nulis-nulis lagi di sini. Random aja sih. Haha. Tetiba kepengen gitu. So, yha, seperti judul tulisan ini, apa kabar dah pada? Masih semangat? Struggle to survive juga toh masihan? Bagus. Harus gitu emang. Hehe.. Gue di sini juga sama sih. Jalanin hari demi hari, dari satu masalah ke masalah lain, dari satu moment bahagia ke moment bahagia lain, dari satu memori ke memori lain. Masih banyak banget PR nih, banyak tugasnya, hehe. Tapi kalau kata Asa sama Aru, ya gak papa. Yes, nggak apa-apa, dijalanin satu-satu, pelan-pelan diselesaikan, sambil terus berkembang kan ya. Iya, berkembang bukan badannya nih maksudnya, tapi kepribadiannya, kebijaksanaannya, wawasannya, ketaqwaannya, gitu lho.

Hm, terus mau cerita dikit deh nih. Akhir-akhir ini ternyata gue lumayan jadi into K-Pop deh. Ada satu grup idol K-Pop yang lagu-lagunya lagi sering gue dengerin. Haha. Jadi semacam work anthem gitu, bisa bikin fokus dan ngerjain kerjaan jadi lebih cepat. Aneh bin ajaib juga sih buat seorang gue ya. Wkwkwk. Abis dulu-dulu perasaan cenderung nggak tertarik sama lagu-lagu yang liriknya gue nggak paham, atau yang terlalu jedag jedug gitu lho. Kan banyak lagu K-Pop tuh jedag-jedug ya, apalagi rilisan baru-baru tuh, imho, musiknya 'keras' gitu lho, yang loud banyak dentuman gitu lhoo.. Get what I mean kan yah? Tapi kayaknya, memang pepatah "music is a universal language" itu nggak salah sih. Dan kebetulan juga, lagu-lagu grup ini tuh, banyak yang nyantol di gue. Cocok aja gitu sama selera. Menyenangkan di telinga, dan mengagumkan mata juga kalau lihat video-video klip nya.

Well, grup idol yang gue maksud itu Red Velvet. The five queens, for me. Haha. Coba deh cek-cek ke beberapa lagu mereka. Entah kenapa deh, di gue lagu-lagu mereka tuh cocok banget. Belum bosen-bosen dengerinnya. Nggak yang terlalu 'loud' terus ada festivalnya, ada quirk nya, tapi tetep beautiful dan beat nya enak-enak gitu. Nah lho gimana deh tuh maksudnya? Haha. Yaah, intinya musik-musik mereka tuh bikin terngiang-ngiang gitu lho. Sampai gue lihat ada lagu baru keluaran grup lain itu tuh malah jadi ngebatin, lho kok mirip sama lagu RV yak konsepnya? Haha. Saking merhatiin detailnya lagu-lagu RV kali yak.

Tapi serius, lagu-lagu RV menurut gue bagus-bagus dan unik sih. Sok atuh lah, siapa tahu mau coba-coba, bisa dicek lagu-lagu ini nih: Bad Boy, Peek a Boo, Zimsalabim, Psycho, Wild Side, Feel My Rythm, Remember Forever, In My Dreams, Ice Cream Cake, Zoo. 10 besar buat gue nih, yang paling favorit sampai saat ini deh. Siapa tahu pada cocok juga ye kaaan. Hehe..:D 

Wednesday, March 30, 2022

Kesan Pesan dari yang Lagi Isoman

Akhirnya. Yup. Finally, setelah 2 tahun-an pandemi mampir di dunia ini, gue ngerasain juga, tertular Covid-19. Nggak tanggung-tanggung, kena ber 4, bareng anak-anak gue dan mbak ART. Sesuatu yang menyebalkan dan menyakitkan memang, apalagi sebelumnya suami duluan kena sampai 2 kali, yang membuat keluarga kecil gue harus saling nggak ketemu dalam waktu cukup lama karena isolasi. Tapi setidaknya, Alhamdulillah, kondisi gue dan anak-anak juga si mbak tidak sampai memerlukan perawatan di rumah sakit. 

Anyway, hari ini hari ke 10 gue jalanin isolasi. Alhamdulillah lagi, gue dan rombongan positif Covid-19 kali ini masih bisa melakukan isolasi mandiri di rumah. Iya, fasilitasnya ada dan mencukupi, jadi gue nggak perlu terlalu pusing juga untuk nyari tempat isolasi terpusat di luar. Such a privilege memang, and I'm grateful for that. Dan karena regulasi isolasi yang gue pakai sekarang, bisa dibilang adalah regulasi post gelombang 3 di Indonesia, waktu isolasi yang gue perlukan pun sedikit lebih singkat dibanding zaman awal-awal pandemi, well, which is in my opinion, it's not because the virus changed, but it's our knowledge that developed. Yang (sekali lagi) tentu sesuai dengan kaidah sains itu sendiri. Sesuatu yang baru, perlu banyak penelitian, riset, diskusi, konsensus, untuk menemukan kebenaran-kebenaran baru juga kan. Makanya di era gelombang 3 saat ini, muncul regulasi isolasi khusus nakes, untuk melakukan isolasi sampai hari ke 5, dan jika hari ke 6 hasil pemeriksaan PCR sudah negatif, maka si nakes bisa kembali bekerja. Risky sih, kalau menurut opini pribadi gue. Cuma mungkin ya karena banyak pertimbangan (misalnya karena shortage pegawai di instansi kesehatan yang adalah ujung tombak pandemi ini sendiri, atau beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa kultur virus setelah hari ke 5 dapat negatif), maka regulasi ini ditentukan. Sayangnya, tidak berlaku buat gue. Yes, gue dan si mbak, masih positif hasil swab PCR dan antigen bahkan (gue orangnya suka double check biar lebih aman aja rasanya) di hari ke 6 kami isolasi. Jadilah isolasi dilanjut sampai hari ke 10, dengan 3 hari sebelum selesai isolasi harus sudah tidak ada gejala. 

Hari ke 6 isolasi, Alhamdulillah hasil swab anakku sudah negatif. Dan memang dari 3 hari sebelumnya, gejala mereka sudah hilang. Tidak demam tinggi yang tidak turun-turun dengan obat seperti di awal sakit, atau batuk dan pilek. Fun fact, gue yakin banget Covid-19 mampir ke gue ini karena tertular dari anak-anak. Karena memang hanya di rumah dan saat dengan keluarga, gue nggak menjalankan protokol kesehatan. Bayangkan di saat Kamis pagi gue swab antigen di RS tempat kerja dengan hasil negatif dan tidak ada gejala, lalu sore sampai besoknya, anak-anak sakit demam tinggi. Gue rawat anak-anak, nggak pakai masker, karena entahlah, saat itu sesimpel gue merasa nggak sakit maka nggak perlu pakai masker, dan memang gue kecolongan juga, tidak menyangka itu Covid-19. Mungkin karena gejala saat itu anak-anak hanya demam, dan kemakan omongan orang-orang juga, yang bilang Covid-19 udah nggak ada. And then Minggu, gue merasa muncul gejala yang tidak seperti biasa, inisiatif untuk cek, dan betul ternyata positif Covid-19, pun anak-anak gue.

Setelah sekian hari menjalani isolasi, jujur sih, gue bener-bener bersyukur setidaknya kasus yang mampir ke gue dan keluarga saat ini masuk ke golongan ringan. Tapi tetap aja, gue nggak akan pernah setuju dengan mereka yang bilang Covid-19 ini cuma flu, dan karena kata "cuma" itu jadi kesannya seperti meremehkan. Karena apa, to me, demam tinggi 2 hari lebih tidak turun-turun dengan obat, itu scary, apalagi kejadian di anak-anak. Kena Covid-19 dengan kondisi ternyata kamu punya DM tidak terkontrol, yang saat dicek ternyata gula darah mu di atas 300, itu scary (yap, ternyata si mbak ART yang baru kerja sama gue ini, punya sakit DM yang nggak diobati). Things could go wrong. Dan nyeri tenggorok yang bertahan sampai 5 hari terus-menerus, walau segala obat dan suplemen sudah kamu minum, itu scary. Senyeri itu, bahkan sampai kamu sentuh dari leher aja, terasa nyerinya. Bikin nggak mau makan dan susah tidur. Belum lagi ditambah vertigo bolak-balik, sakit kepala, dan pusing. Jangan lupakan batuk dan pileknya juga.  Bener-bener beda, sama yang kata mereka, flu biasa. Gue sendiri si alergian dan punya atopi. Pilek, bersin, hidung meler tiap dingin dikit atau debu, atau pas kecapean, cukup sering gue alami. Asma pun pernah. Dan Covid-19 beda sama itu semua. It's painful and kinda depressing. Mungkin bagi sebagian orang gue terdengar so negative and pathetic, but no, that's not what I mean. I'm just trying to be realistic and tell you experience that I had. You don't need to sugarcoat everything in your life tho. Iya, mental harus kuat, jangan kalah sama sakit. Tapi kalau sampai meremehkan, tidak jaga diri sendiri dan orang sekitar mu untuk tidak tertular virus ini, hanya karena merasa virus ini membawa sakit yang remeh, menurut gue itu egois. Kita nggak pernah tahu, virus ini akan jadi seperti apa di orang lain kan. Banyak orang-orang lain dengan kondisi imun yang kurang, yang masih bisa berakibat fatal bagi mereka jika terkena virus ini. Why not doing something that we can do, to help other? Toh di saat kita menahan diri, akhirnya laju penyebaran sakit ini bisa turun dan itu yang kita semua harapkan kan? Lagian, sakit itu, mau ringan sedang berat, ya sama-sama sakit. Sama-sama nggak enak. Alangkah lebih senang jika semuanya, bisa saling jaga.

But again, Alhamdulillah untuk semua yang gue lalui ini. Serius, Alhamdulillah. Gue bener-bener belajar banyak dari terkena Covid-19 ini (blessing in disguise itu selalu ada kalau dalam kamus gue, hehe). Semoga hasil swab nanti malam sudah negatif dan besok bisa balik aktivitas seperti biasa, dalam kondisi sehat dan segar bugar tentunya. Aamiin.. Oh ya, gengs, untuk kalian semua yang baca tulisan ini, semoga sehat selalu ya! And last but not least, my forever pray, semoga Covid-19 bisa segera musnah dari dunia ini, dan tidak ada lagi muncul wabah-wabah lainnya. Aamiin! ^^   

Tuesday, November 20, 2018

Change! Usaha untuk Jadi Lebih Baik

Disclaimer: I don't have any intention to tell you about right or wrong. Simpel, aku cuma mau sharing. Just want to express what's inside my mind. So I hope you all don't mind, yes..;-)

Ini cerita saya, tentang sebuah perubahan yang saya lakukan. Hehe. Iya, orang sedatar saya, bisa juga memutuskan untuk berubah. Orang seskeptis saya, yang selalu memiliki paham bahwa "berubah belum tentu lebih baik" bisa juga ternyata berubah. Bisa dibilang saya termasuk orang yang enggan berubah atau bergerak. Tapi ternyata, bisa juga. Hehe..

Perubahan apa? Tidak banyak. Hanya memutuskan untuk mulai menggunakan jilbab untuk sehari-hari. Ya, beberapa saat setelah bulan Ramadhan tahun ini. Alhamdulillah. Jujur, bukan sesuatu yang mudah. Jujur, di awal pun jelas bingung, bimbang, apalagi dengan pemahaman-pemahaman yang tertanam pada saya semenjak muda. "Jilbab itu, wajib untuk isteri para mukmin. Jadi ya pas kamu udah jadi isteri, isteri orang mukmin, baru pakai," begitulah kira-kira ucapan seseorang yang selalu terngiang-ngiang..:-) Walaupun di saat belum menikah pun aku merasa, memakai jilbab itu bukan sesuatu yang buruk, justru cenderung ke arah baik. Yah, walaupun pada kenyataannya saya juga tidak langsung berjilbab setelah menikah. Hehe..

Long story short, sampailah saya pada keputusan ini. Di saat saya sudah setahun lebih berumah tangga, saya putuskan untuk berjilbab. Kenapa? Karena ingin. Kenapa ingin? Hm, sulit saya jelaskan. Haha.. Sebutlah tiba-tiba saya ingin. Hahahaha.. Yes, saya orangnya kind of impulsive kok emang. Apa disuruh suami? Tidak. Tapi betapa bahagia saya, begitu mendiskusikan hal ini dengan suami, dan dia sangat mendukung. Papa saya juga. Papa senang sekali begitu tahu anak perempuan pertamanya ini mau pakai jilbab. Saya jadi lebih bahagia gitu, bisa semacam bawa kabar baik ke orang-orang tercinta. Huehehehe..

Awal-awal saya pakai jilbab, jujur saja, perjuangan sekali. Mana sebelumnya kan kesan saya selebor banget ya, asal gitu lho. Dan secara kan ada norma tidak tertulis jika pemakai jilbab itu tuh harus "(selalu) baik" ya. Hahaha.. Kind of beban, tapi gue sepaham sih. Secara dengan pakai jilbab kan identitasmu makin jelas. Mungkin, di saat orang lihat kamu pertama kali, dia akan membatin, "Oh, orang Islam.." Get it? Yes, mau nggak mau, orang memakai jilbab jadi semacam representative dari agama Islam ini. Walaupun gue juga percaya nggak ada namanya manusia yang sempurna, terlalu hitam, atau terlalu putih, menjaga nama baik Islam itu penting. Dan ini make sense menurut saya. Yah, makanya kalau ada orang-orang bilang "Jangan salahkan jilbabnya, tapi orangnya," di mata saya hal tersebut 11:12 sama "Pakai jilbab kok nyolong,". Karena memang norma yang berlaku seperti itu gaes, normal dan masuk akal. People will judge anyway, and then generalisation sometimes occured. Seperti pada kasus ada teroris yang beragama Islam, kan akhirnya jadi ada yang beranggapan "Islam agama teroris". Makanya lah, boleh kan berharap jangan sampai ada bibit-bibit seperti itu lagi. Setidaknya mulai dari saya sendiri. Hehe..

Aaaand that's why saya bilang kalau di awal-awal pakai ini tuh, berat. Hahahaha.. Selain yang saya ceritakan sebelumnya, perintilan-perintilan yang menunjang keseharian baru saya juga ternyata challenging. Iya lho, mulai dari harus bisa tahan sumuk (di mana saya orangnya nggak suka panas), milih style jilbab yang pas sama muka, belajar pakai peniti sendiri, cari outfit yang juga menunjang, ndak ketat, ndak tabrak warna, cocok sama warna jilbabnya, waktu persiapan di depan cermin jadi makin lama, belum lagi awal-awal waktu periksa pasien. Kenapa periksa pasien jadi ribet? Stetoskop man! Hahaha.. Iya, periksa fisik pasien buat dokter umum kaya saya tuh wajib ada auskultasi pakai stetoskop. Bisa bayangin kan, awal-awal gimana saya bingung untuk menempatkan kedua ujung stetoskop di telinga tanpa harus merusak tatanan jilbab yang syuda paripurna. Kalau ditaruh di luar jilbab, saya malah jadi nggak dengar. Haha.. Well ya, intinya ternyata semua butuh latihan dan pembiasaan. Jujur aja, sutres juga saya dengan perintilan-perintilan kaya gitu. Iya, saya anaknya gampang sutres, nggak apa lah ya. Tapi Alhamdulillah, sudah mulai terbiasa. Hehe..

Begitu pun awal-awal mendapati komentar orang-orang. Dari yang memuji sampai mempertanyakan, jujur aja sih, awalnya risih banget. Sempet awal-awal nanggapinnya pakai bercandaan pula, kaya edisi Ramadhan lah, nutupin bad hair cut lah, padahal mah, engga. Hehe. Mungkin karena saya anaknya punya kenangan buruk sama keramaian ya. Haha. Makanya MPE nya semi-semi kabur nyelimur gitu #maafkanya. Jadi yaa even orang muji-muji, saya risih. Pengennya nggak usah dianggap beda, gitu. Biasa aja, gitu. Anggap kaya pakai topi aja, gitu. Yah tapi sekali lagi, common sense lah yaaaa.. Udah hukumnya mah, manusia, kalau ada yang beda, atau yang baru. Eh tapi, kalau dikomennya ditambahin doa, saya seneng sih. Doanya baik-baik pula, ya saya amini. Hehehe..

Apa saya bisa dikatakan berhijrah? Hmmmmm, ndak terlalu suka pakai istilah itu sih. Berat gitu rasanya kata-katanya. Wkwk.. Tapi, anggap saja saya sedang berusaha. Berusaha keras. Menuju sesuatu yang lebih baik. Hehe.. Iya, di samping hal-hal yang bikin saya sutres tadi, toh ya makin lama saya makin nyaman dan terbiasa dengan gaya baru saya ini. Dan lucunya, sekarang kalau lewat di depan tukang-tukang udah jarang disuit-suit lagi. Hahaha. Bagus lah. Walau harusnya sih oknum-oknum tsb sungkannya sama semua wanita apapun pakaian mereka ya. And then, somehow, for me, jilbab ini menjadi semacam alarm, yang mengingatkan saya. Mengingatkan untuk bisa lebih baik, lebih bijak, lebih taat. Dan ya, I'm happy for it. Sudah baik kah saya? Mungkin belum, mungkin sudah. I never know. Orang lain yang menilai kan ya. Cuma, ya itu, saya berusaha ke arah sana. Berusaha sebaik-baiknya dan semoga Allah SWT meridhoinya.. Aamiin YRA..:-)

Monday, April 17, 2017

Kue Ulang Tahun


Malam, Gie.. Malam, semuanyah.. Gue mau cerita dikit boleh ya, cerita di balik foto yang gue upload di post ini. Hehe.. Yas, itu foto kue ulang tahun gue, dari misua tercinta.. Yang, jujur aja, gue nggak nyangka, dia beneran kasih gue kue macam itu. Hehe..

Beberapa hari sebelum gue tambah umur, si misua nyinggung-nyinggung gitu deh, ditanya-tanya lah gue mau kado apa. Dan emang dasarnya dia mah lebih banyak bercanda (lebih tepatnya ngebercandain gue sampe gue kesel 😅), gue anggap ringan aja lah ya, dan, yes, nggak berharap apapun. Hahahaha.. Seperti biasa, udah didoain aja udah syukur Alhamdulillah..

"Aku mau cake dong. Birthday cake, coklat gitu, ada tiup lilinnya," jawab gue sekenanya begitu dia tanya gue mau apa.

"Hoo.. Kue coklat gimana? Beli di mana?"

"Hmm, di coklatku chocoshop aja," jawab gue lagi, yang emang sih, toko coklat satu itu udah jadi semacam tempat belanja coklat favorit gue selama di Malang. Jadi yah, kaya otomatis aja gitu, pop up in my mind begitu ditanya. Hahaha.. Padahal sih kalau digali (dan dipikir-pikir) lagi, pengen gitu, sekali-kali gue nyobain cheese cake nya dapur coklat atau harvest. Huahahaha..

Oh ya, and you know what, abis itu misua gue bales gimana?

"Oh, emang ada toko itu di Malang ya? Belinya gimana? Online?"

"Ada lah.. Kan emang tokonya di Malang. Aku sering beli di situ. Mesen online juga bisa.."

"Yawes, kalau gitu ntar kamu yang pesen yah. Ta' kasih duitnya, kamu yang siapin.." Dan dia ketawa lebar, macam ginih: 😂 Dan gue kembali speechless seperti biasa, memasang ekspresi andalan macam ginih: 😫

Wajar toh yoo, kalau gue nggak expect apapun dari misua gue kalau begitu caranya. Ahahaha.. Dan percayalah, momen kaya gitu udah macam makanan sehari-hari gue dan dia deh, yang Alhamdulillahnya, tanpa bosan. Wkwkwkwk..

Jadi, bisa dibayangin dong, gue beneran kaget begitu masuk ke ruang keluarga, ada kue ditancepin lilin ulang tahun buat gue. Hahaha.. Apalagi begitu lihat ucapan di kuenya, "my wife", yang berarti itu kue emang asli dari dia, bukan ajakan patungan dari pihak-pihak ketiga kaya biasanya..😅 And seriously, gue speechless.. Bete gue di hari itu langsung hilang. Iya, gue abis bete berkepanjangan pasca nangani pasien waktu jaga, yang, gue ngerasa belum optimal penanganannya. Ngelihat dia, anak gue, juga saudara-saudara lain kumpul di ruang keluarga dan merayakan kecil-kecilan ulang tahun gue, rasanya bahagia. Hehe..

Mungkin hal tsb biasa banget ya bagi sebagian orang lain, super super standar lah bisa dibilang, atau ketinggalan zaman, atau bisa juga ada yang beranggapan there's nothing special dari prosesi macam gituan. Tapi, buat gue, percayalah, hal seperti itu benar-benar istimewa. Ngelihat misua gue yang baik-baik-nyebelin-bikin-pusing-tapi-ngangenin bisa menyediakan waktu dan effort sedemikian rupa buat gue, gue bahagia.. Untuk dia yang bukan tipe cowok so-called so sweet, ini mah prestasi bener deh ya. Hehehe.. Pokoknya, gue nggak nyangka, dan gue bener tersanjung. I feel so special. And thank you so much for that..😊

Akhir kata nih, gue tujukan buat suami tersayang yang mungkin, someday akan baca tulisan ini ya..

Terima kasih. Thank you for making my special day feels waaaay more special, darl.. Bukan karena kuenya sebenernya, tapi karena kamunya. I feel so loved eventhough I know, you'll always be mine. Hehe.. I love you, and I'll always yours. No, not because of that birthday cake. There's no reason at all for me to say such a cheesy phrase here, for you. Hehe.. Sekarang, kamu dan Asa adalah prioritasku, kebahagiaanku. Terima kasih sudah ada, dan mau menemaniku, selama ini, sampai seperempat abad sudah aku diizinkan hidup oleh Allah.. Moga kita panjang umur dan sehat selalu yes, makin tua makin bijaak, grow old together lihat Asa (and adeknya juga, hihi) tumbuh dewasa menjadi orang hebat, ngasih cucu ke kita (hahaha), dan pastinya, ibadah bareeeng, mengejar ridho Allah bareng.. Aamiin YRA..😊

Semoga aku dan kamu selalu berjodoh, I love you, suamiku..😊

Wednesday, February 22, 2017

Kenalan dengan Kata MengASIhi..

"Selamat mengASIhi ya, Mom," sering nggak sih, dengar atau baca ucapan itu dari sesama ibu ke ibu yang baru aja lahiran? Kalo gue sih, sering.

Seiring dengan gue menjadi emak-emak, akhirnya berkenalan juga gue dengan dunia per ASI an. You all know lah yaa ASI di sini maksudnya apa. Yep, air susu ibu, which is makanan rangkap minuman untuk si bayi lucuk, sang anak yang baru gue lahirin. Konon katanya, ASI adalah makanan minuman terhebat untuk bayi-bayi manusia, dengan kandungan gizi dan nutrisi yang sudah dirancang sedemikian rupa oleh Yang Maha Kuasa sehingga sesuai untuk memenuhi kebutuhan si bayi-bayi lucu. Dari segi medis, WHO pun menganjurkan ntuk dilakukannya pemberian ASI saja selama 6 bulan pertama usia anak (ASI eksklusif).

Well gue bukan mau cerita tentang ASI itu begini begitu serta ilmu per ASI an lainnya ya. Kali ini gue mau sharing aja pengalaman gue selama mengASIhi si anak ganteng kesayangan. Untuk dokumentasikan kenangan, syukur-syukur bisa bermanfaat bagi orang lain. Hihi..

Jujur, gue termasuk orang yang minderan. Ditanya tentang ASI, dari sebelum lahiran aja udah ada nggak PD nya. Waktu kontrol hamil terakhir gue ditanya sama DSOG gue apa ASI udah keluar, dan jawabannya belum. Posisi uk 39 minggu. Bukan sesuatu yang nggak wajar sih, tapi bikin kepikiran aja. Artinya kan ya banyak ibu-ibu yang emang udah keluar ASI nya dari awal. Somehow bikin insecure. Waktu persiapan kelahiran di RS pun itu ASI masih belum tampak. Haha.. ASI gue pertama kali keluar saat baby Asa dibalikin ke gue setelah mandi dan dibersihkan di hari kelahirannya. Itu juga pakai dibantu bu bidan RS untuk mengeluarkannya. Daan, perasaan pertama breast feeding ke Dedek tuh, hmm, nano-nano. Haha. Jujur ada sakitnya, tapi juga nggak kalah perasaan takjubnya. Melihat Dedek yang khidmad sekali mimiknya, sambil ngelus-ngelus kepala dia, rasanya amazed aja gitu. Apalagi baru banget selesai lahiran yaak, gue jadi agak drama gitu lah, macam sinetron. Bolak-balik mbatin, ya ampun gue udah punya anak, ya Allah lucunya anak ini, ya Tuhan nggak percaya selesai juga lahirannya, dll dll.

Gue bersyukur, di hari kelahiran Dedek ASI gue udah keluar. Rasa insecure sebelum lahiran hilang sudah. Di saat itu, gue mulai menanamkan pemikiran kalau breast feeding ke bayi adalah suatu yang sudah dirancang sedemikian rupa oleh Allah, ASI adalah hak para bayi, salah satu mekanisme mereka untuk bertahan hidup di dunia, dan oleh karena itu, setidaknya, dapat berjalan dengan alami tanpa banyak drama. Yes, jadi gue PD in aja deh kalau ASI gue cukup. Walaupun sebenarnya gue sendiri waktu itu ya belum ngeh apa tandanya ASI cukup apa enggak. Gue rasanya juga masih belum ngerti bedanya ASI gue keluar dan diminum sama Dedek sama si Dedek yang ngempeng aja. Ya, gue memang se-tidak peka itu. Haha..

Hari berikutnya gue dan baby sudah boleh KRS. Untunglah sebelum pulang ada bidan khusus yang mengajari gue teknik-teknik menyusui dan berbagi bermacam info mengenai menyusui. Jadi nggak bego-bego amat lah ya. Haha.. Walaupun gue juga nggak langsung bisa, masih banyak kagoknya.

Hari demi hari pun berlalu, gue berusaha buat terus nenenin Dedek langsung. Tiga hari pertama di rumah, gue masih dapat fasilitas free home care dari RS. Yup, ada mbak bidan yang berkunjung ke rumah, memeriksa gue dan baby, sambil mengajari cara memandikan dan menjemur si Dedek. Of course gue juga bebas tanya-tanya. Haha.. Di saat itu, gue inget sudah mulai muncul dramanya busui. Hehe. Booby gue gampang bengkak, dan mulai terasa nyeri. Cus deh, tanya ke mbak bidan, dan gue diajari massage payudara. Juga diberi anjuran untuk mengompres dengan air hangat saat mulai terasa nyerinya. Yup, ternyata namanya hidup ya, nggak akan lepas dari drama.. Ahahaha.. Gue yang mikir kalau breast feeding seharusnya lancar jaya tanpa ada masalah, akhirnya nyerah juga begitu makin hari, nyeri makin terasa. Nyeri di sini udah bukan sekadar nyeri kemeng di booby ya, tapi nyeri juga di nipple. Haaahaaa..

Gue nggak pernah nyangka kalau menyusui itu (bisa) sakit. Sakitnya pun nggak kalah sama sakit nya dysmenorrhea. Haha. Apalagi, si Dedek termasuk baby yang gercep masalah susu-menyusu ini. Awal-awal dia lahir, beneran bolak-balik minta nenen lho dia. Beneran tiap dua jam rasanya, dia minta nen. Padahal, nipple gue toh akhirnya lecet juga, dan itu bikin sensasi nyeri-nyeri-nikmat yang luar biasaaaa tiap nyusui Dedek. Macam diiris atau disilet kali rasanya ya. Haha.. Belum lagi, masalah booby gue yang gampang bengkak. Belum ada berapa jam, udah menteng-menteng aja. Sakitnya dobel dobel.. Huks.. Gue inget, awalnya nipple sebelah kiri gue yang sakit parah tiap menyusui. Akhirnya gue parno kan tuh, si Dedek gue nenenin ke yang kanaan terus. Yang kiri akhirnya gue pompa aja biar nggak seberapa bengkak. Tapi ternyata cara gue ini nggak efektif. Haha.. Puncaknya ada di hari ke sekian (lupa tepatnya) usia Dedek, gue nangis kejer kaya anak kecil sambil nyusui dia..

Iyah, nangis. Kejer. Yang nangis berisik kaya anak kecil gitu. Sampai-sampai misua kaget dan langsung lari masuk ke kamar, bingung. Drama banget kan.. Haha.. Waktu itu yang gue rasain cuma sakit. Sakit di mana-mana. Nipple yang kanan juga ternyata ikutan lecet dan jadi sakit, booby kiri bengkak nyut nyut, bekas jahitan juga masih nggak enak rasanya, kepala pusing nggak jelas, dan parahnya lagi badan meriang, demam. Fix, jatoh sakit. Beneran bikin mental break down lah. Parah. Gue mbolak mbalik batin, masih berapa hari jadi ibu kok udah sakiit, Dedek gimana nanti? Seumur-umur jarang demam ya, sekalinya demam saat itu temp gue 39,8 derajat Celcius..😎 Capek, sakit, ngantuk, perasaan bersalah, campur aduk jadi satu. Pengalaman pertama yang nggak akan terlupa rasanya. Baru ngeh, makanya ada kata-kata "pejuang ASI" itu karena itu ya.. Karena memang, intinya semua adalah, perjuangan.

Setelah itu, apa yang gue lakukan? Rasanya gue sampai pada titik pasrah. Berhenti nangis, dan mulai mencari solusi. Untung misua pengertian ya, bolak-balik nyemangatin gue, ngerawat gue yang lagi kaya gitu, tanpa marah tanpa kesal. Gue pun tetep nyusui Dedek langsung. Seengganya gue mikir, masih jauh sakitan kontraksi, nggak apa, nggak apa.. And then, paracetamol 500 mg, bolak-balik gue minum (sesuai dosis lho tapi). Kompres panas buat booby yang bengkak, gue telatenin, pompa, gue jabanin, gue bela-belain deh pokoknya, demi sehat. Walaupun rasanya waktu itu udah pengen nyerah aja, tepar aja, gegoler aja. Haha.. Oh ya, dan satu hal penting, akhirnya gue nenenin juga booby yang bengkak itu ke Dedek. Keputusan itu, murni ya, gue ikut intuisi gue aja. Tiba-tiba aja gue beraniin diri, gue putuskan untuk menerjang rasa sakitnya. Mungkin ini yang dinamakan naluri ibu ya.. Dan Alhamdulillah, kondisi gue berangsur membaik. Seenggaknya, dalam dua tiga hari berikutnya, demam gue turun, dan booby kiri sudah tidak bengkak dan nyeri. Tinggal nyeri nipple lecet saja, Alhamdulillah.. Ternyata, isapan si Dedek jadi salah satu faktor kesembuhan gue. Makasi banyak ya Dedek.. 😊

Dalam perjuangan mengASIhi ini pula, gue akhirnya bertemu dengan profesi baru, konselor laktasi. Ya, karena tidak tahan lagi dengan nipple lecet kanan kiri, juga karena gue sendiri masih banyak bingung dengan teknik dan dunia menyusui, akhirnya gue putuskan untuk datang ke poli laktasi, setelah sebelumnya banyak konsultasi via online. Untungnya konselor laktasi tersebut kakak kelas sendiri, hehe, jadi bisa lebih lepas. Jujur aja gue khawatir kalau posisi atau perlekatan si Dedek selama itu salah, atau Dedek punya kelainan macam tongue tie. Habis, sakitnya kok makin nemen, padahal udah seminggu lewat. Tapi, setelah datang langsung dan diperiksa oleh konselor laktasi tsb, yang ditemukan hanya posisi saja yang perlu sedikit diperbaiki. Perlekatan Dedek sudah baik, lidahnya tidak ada kelainan, berat badan pun naik. Haha.. Emang ini judulnya mah, anaknya pintar nyusu, ibunya yang masih dodol. Hehe.. Hampir dua jam gue, misua, dan Dedek berkunjung ke poli laktasi, dan Alhamdulillah, gue belajar lagi banyak hal mengenai dunia menyusui.

Sekarang, usia Dedek sudah mau dua bulan. Makin pinter nyusunya, makin banyak dan lama. Haha.. Tapi kerasa sih, frekuensinya berkurang. Alhamdulillah, udah nggak berasa lagi sakit macam disilet kaya dulu itu. Menyusui jadi jauh lebih menyenangkan. Sambil ngobrol, cubit-cubit pipinya yang macam pao, ngeliatin mukanya yang innocent, senang lah ya. Cuma yaa, nggak selamanya juga nyusu mulus lancar jaya macam itu. Haha.. Tetep masih ada dramanya, kaya kemarin, tau-tau Dedek ngamuk nggak jelas pas lagi nyusu. Teriak kaya marah gitu, terus nangis. Hueee.. Gue pun masih belum bisa disiplin pumping, paling sehari dua kali pumping ASI itu aja Alhamdulillah. Padahal bulan depan udah mulai kerja nih, udah mulai ninggalin Dedek.. Phew.. Gue masih belum bisa manajemen waktu dengan baik sih ya, dan ya si Dedek pun masih sering itungannya buat nyusu, atau nggak kalau nggak nyusu ya dia perlu digendong, dimandiin, diajak main, diganti popok, nah itu lah, gue belum terlalu pintar bagi waktu. Jadi kalau ada waktu kosong, rasanya mending untuk mandi atau tidur atau makan aja deh, daripada pumping. Haha..

Yah, kira-kira begitulah cerita gue tentang mengASIhi Asa. Banyak dramanya ya? Haha.. Nggak apa lah, namanya hidup, ya pasti ada drama. Dari drama itu lah gue belajar agar lebih baik lagi ke depannya #tsaaaaah #ceileeeeh Hahaha.. Doain yaa gue bisa terus istiqomah mengASIhi Asa sampai lulus S3 ASI. Hehe.. Ya namanya hak nya dia, ya kudu dikasihin kan ya.. Hehe.. Moga-moga aja lancar, nggak ada rintangan yang berarti. Aamiin.. Itu aja dulu cerita gue. Salut bener deh sama seluruh ibu-ibu di dunia, para pejuang ASI, yang bisa mengASIhi anak-anaknya tanpa putus asa.. Salute! Walaupun tetep, nggak kalah hormt gue untuk para ibu di dunia.. Iya memang memberikan ASI adalah perjuangan, tapi dengan menjadi seorang ibu saja, Anda adalah pahlawan. Menjadi ibu toh bukan hanya perkara memberi ASI, begitu banyaaaaaaak hal lain yang perlu diperjuangkan. So, mau ibu kasih full ASI, semi campur sufor, atau full sufor, ibu tetaplah ibu. Pasti mau yang terbaik untuk anak-anaknya, dan tiap ibu, punya pandangan serta pilihan sendiri untuk membesarkan anak-anak.

Akhir kata, see ya at next post! Kuy, semangat terus untuk jadi ibu terbaik bagi anak-anak kita! Semangat semangat semangaaaat!! 😁