Once, gue pernah curhat sama Emak, lewat telpon, masalah sepele aja sebenernya, tapi cukup bikin baper. Masalah apa? Asa. Ya, anak kesayangan gue yg selalu pinter dan lucu itu. Yang dipermasalahin apa? Tingkah dia. Yang padahal yah, cuma tingkah normalnya anak-anak. Ngambeknya balita gak mau makan, ngambeknya balita gak mau ganti popok, ngambeknya balita yang tiba-tiba nangis minta hal absurd, atau tingkah dia yang bolak balik ngajak main atau cari perhatian di saat badan gue remuk seremuk-remuknya (efek pulang jaga atau as usual, ada masalah di BPJS). Rasanya waktu itu kaya beraaaaat amat dah ah cobaan gue. But then my Mom said, "Sabar. Anak kan nggak pernah minta dilahirkan,"
And now, habis melihat beberapa kejadian, entah kenapa pikiran ngalor ngidul gue ini kembali mengingat momen curhat itu tadi.
Iya, ya. Mana ada anak minta dilahirin? Mana ada anak bisa milih ortunya siapa? Not in a negative way, yang terus seakan-akan anak ya nggak ada hubungan atau nggak perlu berterimakasih dengan ortu ya, tapi, lebih ke, anak itu, lahirnya mereka, adalah tanggung jawab orangtua. Mereka lahir ke dunia, kosongan. Kaya kertas putih baru beli dari toko, bersih. Mereka lahir dalam keadaan tidak berdaya, rapuh, ringkih, yang lalu berkembang, bertumbuh, belajar, dimana tiga proses itu rasanya sebagian besar porsinya dipegang oleh ortunya kan? Atau siapapun yang merawat mereka. Jadi kan harusnya, ya orangtua harus sabar. Karena mereka yang kosongan, kita yang sudah keisi. Mereka sedang belajar menyampaikan, kita yang sudah lancar bicara dan mengenal apa itu emosi. Lagipula, anak bukanlah orang dewasa dalam ukuran kecil. Mereka newbie di dunia yang serba kompleks ini.
And children see, children do. Gue percaya parah sih sama ini. Karena meniru itu ya proses belajar mereka. Dari yang kosongan, jadi keisi. And that's why, sebagai orangtua, atau orang-orang yang berada di sekitar anak, yang sedang berproses menjadi lebih berisi itu, yang sel-sel otaknya secara ilmiah sedang berkembang pesat, menurut gue nih, harusnya lebih berhati-hati.
Jujur aja, pemikiran kaya gini muncul dari satu dua kejadian yang baru aja gue alami. Pertama, gue ditemukan dengan anak balita, usia 3 tahunan, yang bisa dengan mudahnya ringan tangan memukul dengan keras balita yang lain. Cuma karena mau ngambil mainan dari balita lain itu? And then, di lain waktu, gue ditemukan lagi dengan balita lain, usia 2 tahunan, yang gue kaget dia bisa jawab "bodo amat" begitu dapat pertanyaan siapa namanya dari orang yang lebih tua di sekitarnya. Dan mirisnya, orang-orang lebih tua itu rata-rata tertawa, seakan itu hal yang lucu. Kenapa malah jadi lucu? Bukankah itu nggak sopan? Jujur deh gue nggak paham. And then, mirip-mirip, seorang anak yang dengan semangat cerita ke keluarganya dengan bahasa kasar, menjelek-jelekkan gurunya. Tapi ya terus gitu, keluarganya tertawa, seakan itu hal yang lucu dan menghibur. Why? Jujur ya, gue bersyukur menjadi salah satu orang dewasa, dimana saat gue menjadi anak, gue memegang teguh nilai bahwa guru adalah pengganti ortu gue selama di sekolah. Nggak pernah merasa rugi dengan itu, thanks to my beloved parents.
Gue nggak tahu juga sih, ini apa gue yang lebay apa gimana. Tapi deep down inside, gue percaya, di saat kebiasaan sudah menjadi watak, maka jangan harap watak bisa diubah. Apalagi setelah anak itu jadi dewasa. Maka, bukankah lebih baik membiasakan yang baik semenjak dini? Semenjak mata anak-anak itu masih membelalak lebar mengamati sekitar, merasa heran, merasa penasaran, merasa kagum dengan ortunya, dan juga merasakan.. cinta. Cinta yang tak terbendung, tanpa syarat, dari orangtua yang sedang merawat mereka. Bukan berarti menjadikan mereka robot juga, yang tunduk perintah ini itu. Tapi, lebih ke transfer ilmu, begini lo sayang, kalau jadi manusia.. Jadi manusia yang baik. Toh mereka nantinya tidak akan selalu jadi anak. Merekalah yang kelak menggantikan kita-kita yang menua. Mereka yang akan jadi dewasa, jadi tulang punggung suatu peradaban juga kelak.
Karena ya itu tadi kan, anak tidak pernah minta dilahirkan. Jadi, ya ayuk lah, kita sebagai ortu, bisa lebih sabar lagi, lebih bertanggung jawab lagi, lebih giat berdoa dan berusaha lagi, untuk merawat titipan Yang Maha Kuasa tersebut dengan sebaik-baiknya. Membekali mereka dengan baik. Karena mereka ndak akan hidup sendirian nanti. Mereka manusia, yang mana manusia adalah makhluk sosial. Jika ada pilihan menjadi baik, kenapa tidak diusahakan? Iya kan?