Ternyata, untuk merasa sakit, kamu tidak harus jatuh atau dipukul terlebih dahulu. Rasa sakit yang mengenai organ tidak terlihat, ternyata nyata. Sialnya, luka itu tidak bisa dilihat. Kalau luka biasa yang bisa kita lihat, terpampang di kulit kita, bisa dirawat tiap hari. Diberi obat. Lalu perlahan menyembuh. Kita tahu prosesnya. Kita tahu kapan proses itu terganggu, ketika luka lambat laun menjadi bernanah, misalnya. Ada infeksi kuman yang mengintervensi, dan yah, masih bisa kita atasi lagi kemudian. Beri obat antiinfeksi. Tapi luka di batin? Hanya dapat dirasakan.
Rasanya juga bisa berbeda-beda. Ada yang mirip nyeri dada, tapi entah dimana. Ada yang hanya merasa hampa. Di sisi lain, mungkin hanya merasa tidak nyaman. Rasa nyeri dan tidak nyaman itu nyata, tapi butuh jiwa yang jeli, untuk dapat mengawasinya berproses. Jeli, super jeli. Apakah luka itu akan sembuh sempurna, kembali seperti sedia kala, atau meninggalkan bekas yang tak hilang selama proses penyembuhannya, atau.. Tidak sembuh dan masih menganga.
Hanya saja, kita tidak bisa lihat.
Jadi kalian, yang sedang sakit hatinya, yang sedang luka batinnya, bertahanlah. Bersikap lebih baiklah dengan dirimu yang sedang luka. Istirahatkan organ yang sedang sakit itu, beri waktu baginya untuk berduka, namun jangan berlarut. Karena rasanya eman sekali jika satu hidup yang kita punya, hanya dipakai untuk berduka. Kamu berhak, dan bisa sembuh. Kamu berhak bahagia.
Semangat, semoga kalian segera menemukan obatnya.