Tuesday, May 15, 2012

there's something in my mind..


Dicuekin.

Nyuekin orang, menurut gue adalah salah satu bentuk kejahatan di dunia ini. Oke, mungkin bukan kejahatan ya, tapi, berpotensi menimbulkan kejahatan. Nyuekin orang itu, bisa digolongkan sebagai suatu tindak kekerasan, nggak jauh beda sama nampar atau mukul. Cuma beda bentuk aja. Yang nampar sama mukul itu kekerasan fisik, yang nyuekin atau ngacangin itu kekerasan mental. Gue pernah (sengaja) ditampar sama orang yang gue nggak kenal-kenal banget. Sakit emang, ada sedikit perasaan jadi rendah diri juga (karena berasa gue kok powerless banget), tapi nggak pernah sampai kepikiran buat nangis. Dih amit-amit. Sakit dan nggak terima, itu paling yang dirasain. Tapi kalau dicuekin? Hmph.. Rasa yang diakibatkan itu jauh lebih parah menurut gue. Karena itu nyerang mental, otomatis perasaan dan emosi jadi turut berperan. Akal sama logika sampai dikesampingkan.

Mungkin temen-temen pernah liat di film-film Hollywood tentang bullying di sekolah? Nah itu kan sebenernya berawal dari dicuekin sih? Awalnya mereka dicuekin karena dianggap "euh nggak banget" sama anak-anak yang hm, kita sebut saja berkuasa di lingkungan sekolah. Yah, intinya, semua berawal dari anak-anak yang dianggap keren dan wah di sekolah (dan kemungkinan besar juga menganggap dirinya sendiri keren) merasa terusik melihat anak yang kok beda benget bisa berkeliaran di sekolah dengan damai, dan yeah, nggak perlu lah menggubris keberadaan makhluk yang "euh nggak banget" itu. Yang awalnya dicuekin, akhirnya berkembang jadi dikucilin, dan nggak lama, akhirnya digangguin. Lahir dan batin. Apalagi kalau oknum-oknum itu merasa senang melihat penderitaan teman yang nggak beruntung itu. Kesannya mungkin sepele ya, cuma semacam kebiasaan atau tradisi yang wajar ada di sekolah-sekolah. Tapi pada tahu nggak, kalau ada murid sekolah yang bunuh diri gara-gara nggak tahan di-bully? Awalnya dari dicuekin kan tuh. So, nggak lebay toh kalau saya bilang nyuekin itu berpotensi jadi kejahatan?

Orang, selama mereka masih manusia dan punya akal, apalagi punya hati dan emosi, kalau dicuekin orang lain tuh pasti langsung mikir, "Apa yang salah sama saya? Apa saya jelek? Apa dia marah sama saya?" Kelihatan kan, baru dicuekin aja, mikirnya udah segala macem hal yang berbau negatif tentang dirinya sendiri. Walaupun, ada cukup banyak juga kemungkinan, orang yang langsung mikir, "Kampret! Sombong bener jadi orang!" atau "Ih, situ hebat? Nggak tau siapa saya ya?" Nah kalau ini sih, khusus orang-orang yang punya karakter "batu" atau keras menurut gue. Oh ya, ada juga sih yang reaksinya langsung positif thinking kayak gini, "Oh, mungkin dia lagi banyak kerjaan, jadi belum bisa ngereken saya sekarang." Tapi tetep aja, selama orang itu masih manusia, pasti pernah sekalii aja merasakan opsi pertama kalau abis dicuekin orang lain. Wajar, lagi-lagi masih menurut gue. Dicuekin, atau dikacangin, atau nggak direken (bahasa Jermannya :p), oleh beberapa orang bisa dianggap sebagai sinyal bahwa dirinya tidak dianggap penting. Mereka merasa tidak dihargai. Padahal, yang namanya manusia itu, udah naluriah ingin dianggap penting. Manusia butuh apresiasi dari orang lain. Apalagi manusia adalah makhluk sosial, butuh banget yang namanya bersosialisasi dan berkomunikasi. Nah kalau pas lagi berusaha untuk berkomunikasi malah di-turned-down dengan dicuekin seperti itu, siapa yang nggak mangkel? Walaupun yah, kembali gue tambahkan, nggak selamanya dan nggak semuanya mangkel kalau dicuekin. Tetep ada keberagaman dalam reaksi, dari yang easy going terus langsung lupa, sampai yang dibawa-bawa sampai tua.

Tapi tau gak apa yang bikin lebih sebel? Dicuekin itu bisa terjadi juga tanpa sengaja. Yup, nggak selamanya orang yang kita pikir nyuekin kita, sebenernya ada niat buat nyuekin. Kadang yang nyuekin itu nggak terima kalau dibilang dia udah nyuekin orang, yah karena itu tadi, dia nggak sadar dan nggak sengaja. Batasan arti dicuekin itu subjektif sekali soalnya. Tiap orang punya standar yang beda-beda. Misalnya aja nih, standar arti dicuekin dari orang dengan kepribadian extrovert dan introvert. Beda toh? Karena dari wataknya aja, mereka berdua udah jauh beda. Secara yang satu lebih senang sendirian, yang satu lebih senang jadi pusat perhatian. Atau standar dicuekin dari orang melankolis dan plegmatis. Beda juga pasti. Yang satu cenderung ambang batasnya lebih rendah, yang satu ambang batasnya lebih tinggi. Hmph.. Kalau kaya gini, rada susah yah menentukan salahnya di mana. Haha..

Hm. Makanya, menurut gue, sebagai manusia, kita harus berhati-hati. Berhati-hati dalam berbicara dan juga bertindak. Jangan sampai salah-salah kita bikin orang lain berkecil hati padahal kita nggak ada maksud. Kan kasihan juga kalau itu orang jadi mengecilkan dirinya sendiri karena ucapan atau tindakan kita. Eventhough, mungkin kamu akan berpikir, "Itu bukan urusan gue lah, salah sendiri jadi orang kok gampang banget patah semangat," atau "Punya mental kok mental tempe," begitu melihat orang yang terlalu gampang down menurut kamu. Well, begitulah rule of the game-nya. Tiap orang kan beda-beda wataknya. Beda-beda pengalaman. Beda-beda juga pasti reaksinya terhadap sesuatu yang terjadi dengan dirinya. Apalagi yang emang ada maksud buat nyuuekin. Wah, coba jangan lagi-lagi deh. Walaupun yah, itu hak masing-masing dari tiap individu. Oh ya, satu hal lagi. Biasanya kita nyuekin orang karena menganggap orang itu nggak cukup penting buat kita, atau nggak lebih baik dari diri kita sendiri. Satu hal, hati-hati juga dengan pikiran. Salah-salah jatuhnya sombong. Tahu kan, sombong itu salah satu sebab setan dikeluarkan dari surga? Dalam agama Islam ya, hehe.. Nggak selamanya, apa yang kita pikirkan dan yakini itu benar. Nggak selamanya, penilaian kita terhadap orang lain itu benar. Don't judge a book by its cover, remember? Ingat-ingat aja, orang yang bijak memperlakukan orang lain seperti dirinya sendiri ingin diperlakukan. Dan toh, menyenangkan orang lain juga nggak ada salahnya kan? Itung-itung tambah pahala.. Hehe.. Cuma tetep, sesuatu yang berlebihan itu nggak baik. Menyenangkan orang lain sampai kamu sendiri jatuh bangun nggak karuan? Jangan begitu juga lah. Kamu harus bijak, bisa menentukan batasan, sampai mana kamu mau bersikap baik dengan orang lain. Deep inside your heart, you'll know, what is better for you.

Terus mungkin, untuk temen-temen yang sering merasa dicuekin nih, kuncinya satu. Kamu harus tahu dulu, mau kamu apa. Tapi tentunya, kamu harus yakin dan berpikir jernih dulu, apakah yang kamu rasakan itu sudah benar? Apa cuma emosi sesaat doang di saat kamu mau dapet? Hehe.. Coba kamu cari-cari dulu sebabnya. Terus, kamu tentuin deh mau kamu apa. Mau kaya begitu terus, apa mau berubah? Satu hal, semua jawaban itu ada di diri kamu sendiri. Kamu lebih nyaman kaya gimana? Kamu lebih bahagia kalau kamu kaya gimana? Semua temanmu asyik ngobrolin Anang-Ashanty padahal kamu paling nggak suka artis Indonesia? Ya terserah kamu, mau ikutan nimbrung ngobrol demi nggak dicuekin, atau duduk manis ngedengerin sambil sesekali menimpali, atau malah asyik sama laptop ngerjain tugas yang belum selesai. There's no wrong or right in that kind of situation, right? It's up to you.. Merasa dicuekin teman-teman sekelas karena kamu nggak punya twitter? Coba aja kamu bikin, terus coba deh ikut rame-ramean kaya teman-temanmu yang lain. Is it working? Masih ngerasa dicuekin nggak abis itu? Kamu suka nggak? Kalau nggak suka ya udah, tinggalin. Pilih apa yang bikin kamu nyaman. Dan jangan pernah, membuat dirimu sendiri menjadi korban. Kamu harus kuat dan berani untuk memenuhi keinginanmu. Be yourself, love yourself. Jangan terlalu kebawa arus, cuma karena takut dicuekin. Tapi tetep inget, nggak ada salahnya toh bikin orang lain senang? Nggak ada salahnya kita bersikap terbuka dengan orang lain. Nggak ada salahnya juga, beramah-tamah dengan teman-temanmu, berbagi cerita, menanyakan kabarnya, dll. Perlakukan orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan. Kamu nggak mau dicuekin? Ya, jangan nyuekin duluan. Hehe.. Pengen diajak kenalan atau ngobrol? Kenapa nggak kamu mulai duluan yang ngajak? Ayo, berani, nggak usah malu. Kamu kan bukan maling ini. Hehe.. Lagipula, dunia ini indah, sayang kayanya kalau dinikmati sendirian. Kebahagiaan itu kan akan terasa lebih membahagiakan jika kita membaginya dengan orang lain? Hehe.. 

Monday, May 14, 2012

a little bit weird feeling

Heu. Belakangan ini kayaknya gue ngerasa gampang banget bete dan nggak suka sama sesuatu. Hm. Apa gara-gara gue kebanyakan nonton Bones ya? Jadi gue semacam kebawa perangainya Dr. Temprace Brennan yang super rasional atau Dr. Jack Hodgins yang super paranoid dan hobi marah-marah? Haha.. Nggak tahu juga deh. Kayaknya itu semua cuma MPE (baca: mekanisme pembelaan ego) gue aja, bawa-bawa Bones sebagai alasan dari apa yang gue rasakan belakangan ini. To be honest, nggak tahu nih apa emang karena gue lagi nggak enak badan atau karena emang ada sesuatu yang salah, gue kok rada susah yak ngerasa senang? Bawaannya suram terus. Bahkan libur panjang dari hari Kamis depan aja, nggak gue tanggapi dengan antusias. Nggak kaya temen-temen gue, yang pada seneng banget dan udah punya rencana sendiri-sendiri. Nonton berita di TV One tentang Sukhoi aja, gue bete. Bahkan waktu temen-temen pada pengen nyingkat panum mata yang awalnya dua hari jadi satu hari, gue juga jadi bete. Isn't it a little bit odd? Hm.. Nggak tahu deh. Aura gue lagi abu-abu banget. Lagi ngerasa sendirian banget juga, nggak ngerti kenapa. Mungkin kalau gue diibaratkan sebagai Sim, panel happiness sama interaction gue warnanya merah kali yak atau enggak item. Bisa dibilang, soundtrack gue saat ini lagunya Dygta yang mendayu-dayu itu tuh, haha.. Gue sampe bingung mau kaya gimana biar gue nggak uring-uringan begini. Heu.. Any idea maybe for me? Yah, tapi mudah-mudahan aja semua ini cuma karena hormonal atau faktor badan gue yang rada nggak vit. Hehehe..   

Thursday, April 26, 2012

me, now :p

Oke. Hm.. Jadi begini. Gue lagi kangen banget nge-blog tapi yah seperti biasa, begitu buka dashboard gue malah bingung mau nulis apa. Hahaha..

Ah, sebentar sebentar. Gue belum cerita kan ya, kalau saat ini gue udah resmi menyandang gelar di belakang nama gue? Hahaha.. Yes, you're right. Alhamdulillahirobbilalamin.. Akhirnya lulus juga gue jadi "S.Ked" setelah sekian lama kuliah di FKUB. Sekali lagi, Alhamdulillah, dan makasih banyak buat temen-temen semua yang selama ini udah mendukung plus mendoakan gue.. :-) Oh ya, kemarin itu, gue dan kira-kira 190-an temen gue resmi dilantik tanggal 29 Maret 2012. Alhamdulillah lagi, masih sesuai dengan rencana awal, ikut gelombang pertama. Biar nggak cum-laud lulusnya, nggak apa, IPK gue masih bisa bikin gue senyum-senyum sendiri. Hehehe..

Hm, sedikit info, gelar sarjana yang gue peroleh ini, sebenernya agak-agak beda sama gelar-gelar sarjana yang lain. Yah walaupun ini pendapat pribadi gue aja sih. Hehe.. Fresh graduate lain kan bisa langsung cari kerja sesuai bidangnya tuh, nah kalau gue belum bisa bro. S.Ked aja belum cukup buat bisa jadi dokter. Gue dan temen-temen sejawat gue masih harus menempuh pendidikan keprofesian dulu di rumah sakit. Istilah kerennya nih, gue mesti "ngoas" dulu selama kira-kira dua puluh bulan ke depan. Hahaha.. Masih kena bayar SPP pisan (iya, masih!). Tuh, rada nggak berasa "sudah lulus" bukan? Hahahaha.. :p

Btw, maksud gue "ngoas" itu, adalah hidup di dunia klinik sebagai koas atau, nama kerennya, dokter muda. Yes, dokter muda. B-) Keren kan ya, kedengerannya? Haha.. :p Tapi entahlah, efek keren itu jadi sedikit menghilang kalau istilah "dokter muda" kita ganti jadi "koas" (padahal artinya ya same ajee :p). Yah, walaupun kemungkinan besar tetep dianggap keren sama adek tingkat sih (pengalaman pribadi). Hehehe.. Oh ya, sedikit yang gue tahu tentang koas, tugas koas di rumah sakit nanti sebenernya masih sama kaya dulu-dulu. Belajar. Tapi bukan belajar ala ngampus ya, ini belajarnya beda. Harus jauuuh lebih serius lagi, karena di koas nanti kami belajar untuk mengobati manusia. Ya, guru-guru koas atau dokter muda, tidak lain tidak bukan adalah pasien (selain para supervisor dan dokter-dokter pembimbing lain tentunya), yang tentunya perlu dibantu, bukan justru diganggu. Yang harus dihargai dan dihormati, bukan dicemooh atau dicaci maki. Harus ditangani dengan sebaik-baiknya, bukan dengan main-main.

Masa-masa koas sendiri, masih menurut gue, adalah waktu untuk mengaplikasikan segala teori ilmu kedokteran yang sudah diajarkan di bangku kuliah. Waktunya belajar untuk bekerja dan juga waktunya belajar sambil bekerja. Jadi yah, bisa kebayang kan koas itu, sesuatu banget deh. Hehe.. Jujur-jujuran nih, gue itu lebay parah orangnya. Jadi kalau udah ngebayangin nanti pas koas harus ini, harus itu, nggak boleh ini, nggak boleh itu, gue suka kelewat parno. Haha.. Apalagi kalau denger cerita-cerita tidak manusiawi tentang hidup sebagai koas dari beberapa kakak tingkat. Hehe.. Tapi (yep selalu ada tapi di hidup ini, hehe), kata kakak tingkat gue yang lain, nggak selamanya koas itu identik dengan suram. Nggak usah takut, nggak usah lebay. Dibawa enjoy, jangan stres. Dijalanin aja, dengan niat dan sungguh-sungguh, insyaallah selamet di dunia per-koas-an. Hehe..

Kakak tingkat gue bener banget, gue mesti optimis. Nggak boleh layu sebelum berkembang. Hehe.. Jangan lupa usaha dan doa maksimal sebagai bekal di dunia klinik nanti. Hehe.. Mumpung masih Juni jadi koasnya, masih ada waktu untuk mempersiapkan diri. Semoga aja, gue bisa selamat sampai tujuan, menjadi dokter yang sukses di dunia dan akhirat. Dokter yang bintang enam! Haha.. Semoga ke depannya bisa diperlancar dan dipermudah oleh Allah segala urusan yang harus diselesaikan. Amiiiin.. Mohon doanya juga ya temen-temen semuanya.. Hehe.. :-)

Oke deh. Mungkin segini dulu cerita-ceritanya. Panjang juga yah, posting kali ini. Tumben banget gue, haha.. :p Maap-maap nih, buat yang nggak suka gue cas-cis-cus nggak jelas gini. Hehe.. Tapi semoga aja posting gajel gue ini sedikit banyak bisa bermanfaat. Hehe.. See ya at the next post yap!^^