Friday, July 4, 2014

Di Antara Pilihan

Hari ini air mata gue tumpah. Dua kali. Hmm semoga nggak berpengaruh ke puasanya deh ya. Hehe.. Sebabnya apa? Karena membaca dua buah artikel, yang entahlah, menurut saya adalah petunjuk dan pencerahan dari Yang Maha Esa. 

Hidup itu pilihan. Sehari-hari manusia, tidak lepas dari proses memilih. Entah dari dua, tiga, atau lebih pilihan yang ada. Terkadang, kita ditempatkan pada posisi di mana seakan lebih baik tidak memilih. Misalnya, ketika dihadapkan oleh dua pilihan yang sama bagus, atau sama jelek. Tapi pada akhirnya, pasti kita akan memilih. Dan tiap pilihan mempunyai risiko masing-masing, yang berbeda tentunya. Gue pribadi, cukup sering rasanya, dipusingkan oleh pilihan-pilihan yang ada. Dari dulu, entah mengapa, gue lebih sering dihadapkan oleh pilihan yang sulit daripada yang mudah. Jatuhnya, gue sering banget galau dan bingungan. Hehe.. Tidak jarang juga, gue membatin, "Kok ketemu situasi kaya begini lagi? Kok harus milih yang sulit lagi? Kok mesti buat keputusan lagi?" Dan untuk menjawab itu semua, biasanya gue ber-rasionalisasi, kalau itu semua hanya hukum sebab akibat, karena gue masih belum mahir untuk menghadapi situasi "simalakama" tersebut. People said practices makes perfect, right?

Galau juga kadang menghampiri gue, di saat pilihan sudah gue tentukan. Ada aja, saat-saat gue termenung dan merasa gue salah pilih. Kadang, kecewa. Dan yang paling nggak enak, kadang muncul perasaan bodoh. Ya, gue jadi merasa seseorang yang bodoh, ceroboh, dan itu salah. Walau sebabnya simpel mungkin, karena kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan, tidak sesuai dengan rencana awal yang diinginkan. Ujung-ujungnya, gue pasti kesal dan sakit hati karenanya. Walaupun beberapa orang bisa dengan mudahnya berkata, "Ya udah sih," bagi gue, kesalahan tersebut nggak bisa lewat begitu saja. Jujur deh, susah buat  gue terima. Gue pribadi pengen banget bisa mengurangi kelemahan gue itu, yang sering gue sebut "wrong syndrome".

Di saat-saat galau-galau begitu lah, gue biasanya mencari pertolongan. Bisa dalam bentuk apapun dan dari siapapun sebenarnya. Walaupun, ada beberapa saat gue salah mencari. Dan dari sekian kali gue mencari, pertolongan Allah adalah yang terbaik. Di saat gue galau, bingung, gundah, dengan curhat se-curhat-curhatnya kepada-Nya, perasaan gue akan membaik, dengan lebih cepat. Dan selain itu pun, tak jarang, gue merasa Ia menunjukan jalan dengan membimbing gue ke suatu tempat, atau menemukan sesuatu. Just like today. Gue sempet galau, apakah pilihan yang selama ini gue pegang teguh salah? Apalagi begitu membandingkan dengan situasi orang lain, rasanya jadi seperti menyedihkan. Tapi itu tadi, Alhamdulillah, saya ber-Tuhan, Allah S.W.T. :-) Pencerahan itu datang. You will know how it feels when it comes.

Kedewasaan bukan sesuatu yang diperoleh begitu saja. Gue pun nggak sependapat jika dikatakan hal tersebut berbanding lurus dengan bertambahnya usia. Imho, kedewasaan bisa didapat dengan terus berlatih. Dan salah satu cara tersebut adalah dengan berada dalam situasi di antara pilihan-pilihan. Di mana pada akhirnya, kita sendiri yang harus menentukan apa yang kita pilih, yang juga dapat berarti, akan seperti apa kita nanti. Dapat memutuskan dengan berlapang dada menerima segala risiko dari pilihan tersebut, adalah salah satu bentuk kedewasaan yang menurut gue diperlukan. Dan jika untuk menemukan hal itu kita memerlukan bantuan, kenapa tidak meminta? Tentunya dengan sebelumnya sudah kita imbangi dengan usaha yang setimpal. Ya, berusaha. Dengan mencari tahu lebih banyak, mengkaji, menimbang, melihat dalam berbagai sudut pandang, dan menghitung baik-buruk yang akan didapat. Walau ujung-ujungnya mungkin akan membuat kecewa, gue percaya, jika kita dewasa, kita akan selalu melihat hikmah di balik itu semua. Jika memang salah, kita akan belajar menjadi lebih baik. Atau mungkin, di lain waktu, dalam situasi berbeda, kita akan tersenyum dan berkata, "Alhamdulillah saya memutuskan demikian." Siapa tahu kan? :-)



Tuesday, July 1, 2014

Tong Kosong

Seiring dengan atmosfer pilpres yang makin panas, entah kenapa saya teringat-ingat suatu peribahasa:
"Tong kosong nyaring bunyinya."
Mungkin karena saya merasa sedikit terganggu ya, dengan kebisingan dari salah satu calon. Ya, ada salah satu, yang membuat saya merasa begitu. Entah kenapa seperti sudah over dosisnya di media nasional. Entah itu dari Beliau langsung, atau timsesnya, atau siapapun, jatuhnya sama saja dalam benak saya. Pernyataan-pernyataan yang saya dengar pun, sering menggelitik logika dan membuat saya heran. Tak jarang membuat jengah. Dan ya, membuat saya teringat-ingat peribahasa tersebut.
Well, semoga tidak demikian ya.. :)

Thursday, June 12, 2014

Nite All...

Nite all.. Phew. Jujur, gue lagi galau. Wahaha.. Sebabnya? Banyak hal sih. Mungkin bisa dibilang post graduate syndrome kali ye.. Apalagi barusan diajak menggalau juga sama seorang sahabat. Hihi.. Dan bawaan gue kalau galau itu, jadinya pengen nyerocos panjang lebar, mengomentari sesuatu. Hm, sebenernya pengen deh ngeluarin sumpah serapah eh maap, komentar dan opinin maksudnya, terkait pilpres 2014 ini. Udah mendem sih dari tadi pagi. Apalagi, gue sering banget memantau lini masa, yang isinya seringkali nyebelin. Haha.. Tapi, jangan ngomongin itu dah. Ntar ada yang serius gitu bacanya (haha siapa jugaa yang bakal baca :p) ribet deh. Mari kita bicarakan yang masih fresh ada di pikiran gue aja, sinetron. Ralat, sinetron religi. Haha..

Jadi ceritanya, entah sejak kapan, keluarga gue (baca: mama, papa, adek paling kecil) suka sama salah satu sinetron yang tayangnya jam-jam segini ini. Kayanya sih udah lama tayang itu sinetron, dari bulan puasa kemaren paling yak, haha.. Dengan judul yang bisa dibilang bersaing dengan sinetron di stasiun tv tetangganya. Kita sebut saja sinetron itu M. Haha.. Di awal tadi gue bilang, 'M' ini adalah sinetron religi. Kenapa? Penilaian gamblang gue aja sih sebenernya. Pertama, dari judul yang bawa-bawa bau ibadah haji. Kedua, banyak ustad di dalamnya, yang dialognya ya dialog ustad. Ketiga, pemeran cewek mostly berkerudung. Hehe.. Mungkin di awal-awal, pas yaa jika dibilang ini sinetron religi. Tapi makin ke sini, entah kenapa, makin ngaco aja itu sinetron. Nuansa agama nya semakin hilang aja menurut gue, dan jalan cerita pun melenceng jauh dari judul utama. Sekarang malah banyak banget dagelan di sinetron 'M' itu. Sinetron komedi, lebih tepat rasanya. Mungkin memang pasar lebih suka yang lucu-lucu ya.. Tapi seenggaknya, yang buat lucu-lucuan itu, dibuat lebih benar dong. Abis, banyak banget printilan-printilan yang bikin saya ngebatin, "ah salah tuh" atau "ya kali orang bisa kaya gitu". Dari episode yang malam ini aja nih (yang masih tayang dan lagi ditonton sama adek gue di depan), ada beberapa yang bikin gue geleng-geleng. Terutama yang tentang printilan medisnya nih. Masa ada gitu, pasien luka bakar sekujur tubuh, dengan perban di semua badannya, dia kabur dari rumah sakit, terus jalan-jalan keliling kampung, terus nyungsep di tong sampah dan sebelumnya nyebur ke empang, tapi, masih survive. Oke, dari awal aja, luka bakar di sekujur tubuh, yang bahkan bibirnya meleleh dan daerah genitalia juga terkena, itu prognosis buruk lho. Bisa menyebabkan kematian. Bisa karena trauma inhalasi, infeksi, ketidakseimbangan elektrolit, yang kalau dirawat di rumah sakit pun belum tentu pulih. Lha ini, uda berapa hari lewat, masih ada aja, masih bisa nulis apa yang dipikirin, gerak-gerak, tanpa pakai oksigen pula. Dan terus dia kabur dari rumah sakit, sempet jalan-jalan pula keliling kampung? Heeeeloooo.. Iya kali, bisa kabur dari rumah sakit gitu aja, dengan perbannya masih putih. Gak berdarah-darah itu pas cabut infus? Oke lah itu sekian dari printilan yang ada medisnya, yang cukup bikin gue, begitulah. Yang lain nih, ada gitu ya, orang nih, dia hidup, terus mati, terus hidup, terus mati, terus hidup lagi? Hidup lagi pun setelah ada anak kecil yang mendoakan, dan dia bangkit dari kuburnya. Oke lah, mungkin si yang punya cerita mau bicara tentang mukjizat, tapi yaa nggak gitu juga lah. Emang lampu jalan, mati hidup mati hidup berkali-kali gitu? Dan bahkan setelah dia hidup lagi, si orang itu masih berniat membalas dendam ke tetangga-tetangga yang nggak mau membantu pemakamannya saking kejamnya perlakuan orang itu semasa hidup. Itu cerita dia dikasih kesempatan hidup lagi yaa, setelah arwahnya nangis-nangis berdoa minta kesempatan. Speechless ada kaya begituan di sinetron ini. -.- Belum lagi, ada adegan cowok-cowok yang pergi ke kuburan si orang itu, berniat mau ngambil tali pocongnya, biar kaya. Itu cowok-cowok ceritanya beragama Islam lho, pakai baju koko sama peci, di beberapa adegan digambarin solat, rajin berdoa, ya kaliii ngomongin tali pocong biar kaya? Tolooong.. Keganggu beneran deh ngeliatnya. Dan masih banyaak lagi adegan-adegan atau perintilan-perintilan di 'M' ini yang menurut gue gak masuk akal. Sampai-sampai gue sama adek cowok gue bikin tagline buat ini sinetron, "beyond human's logic". Hahaha..

Haaah.. Sekian dulu lah sesi komen-komen-karena-galau ini. Berharap ada manfaatnya sih, siapa tau gitu, produsernya gak sengaja baca, terus diperbaiki deh itu sinetron. Haha.. Wes wes, ya sudah, sampai sini dulu, disambung ke posting selanjutnya. After all, good night all ^^