Sunday, March 7, 2021

Finally I Wrote This Pandemic Things

Sejujurnya gue cenderung menjauhi bahasan tentang ini. But, hey, I can not stand lagi deh kalau begini ceritanya. Kayak ada banyak banget unek-unek, gerundelan, yang kayaknya hampir setiap hari mengisi relung hati, sedikit demi sedikit, dan relung itu sudah penuh. Haha. So, gue butuh buat "mencurahkannya" biar tetap waras.

Ini cerita tentang pandemi, yang sudah setahun lebih terjadi, di dunia, di negeri yang gue tinggali. Yes, it's about Covid-19. Situasinya sekarang, di Indonesia, jumlah kasus harian mencetak rekor. Jujur, situasi akhir-akhir ini bikin ngelus dada banget sih. Jenuh, iya. Tapi jujur bukan jenuh sama penyakit ini aja, gue juga jenuh sama tingkah laku masyarakat banyak yang gue lihat.

Disclaimer dulu ya, back ground gue saat ini, gue kerja sebagai dokter IGD di sebuah rumah sakit kota, bukan rumah sakit rujukan, pun dengan jumlah shift yang paling sedikit dibanding teman-teman gue yang lain, karena sekarang main job gue adalah mengurus klaim pelayanan asuransi plat merah di rumah sakit (termasuk mengurus klaim-klaiman pelayanan kesehatan terkait pandemi ini). Minggu ini, gue jaga IGD sudah 2 kali, dan jujur, ikut stres. Dulu, sebelum dapat amanah jadi pentolan klaim-klaim-an, gue full di IGD. Jujur ya, kayaknya kok belum pernah ada yang ngalahin rasa lelahnya jaga UGD di era pandemi ini, terutama 2 shift silam. Harusnya gue nggak sambat ya, karena yang gue alami itu masih jauh sama teman-teman sejawat lain yang waktu paparan dengan pasiennya lebih banyak, yang shift nya lebih sering, lebih-lebih yang bergumul di fasilitas rujukan. But hey, I'm sorry, the struggle and pain is real!

Sekarang, fasilitas kesehatan dipenuhi banyak orang, pasien. Kami dari rumah-rumah sakit pun bukan yang mengundang mereka semua datang dengan sengaja. Mereka datang ke kami karena membutuhkan bantuan. Mereka sakit. Bisa dilihat di banyak tempat kan, pasien-pasien luber, diperiksa di tenda darurat. Bed pasien habis, oksigen tipis, kematian pun meningkat. Bukan bermaksud nakutin ya, tapi memang itu kenyataan yang sedang terjadi, mungkin tidak di semua tempat, tapi di banyak tempat. Tidak di semua ya, jadi jangan lah kau lihat ada rumah sakit yang sepi ndak ada pengunjung, lalu kau koar-koar keadaan chaos di banyak faskes hanyalah hoax atau fear mongering belaka. Hey tidak seperti itu. Faktanya memang banyak pasien yang datang sakit barengan ke rumah sakit. We didn't invite them tho.

Mereka yang bicara Covid-19 ini tidak berbahaya, rasanya lupa lihat ke orang-orang lain. Setahun lebih berdampingan dengan penyakit ini, sebagai nakes yang tidak mengenal WFH (yha walau jaga IGD sebulan cuma sekian kali, tapi tetep masuk kantor bos, ngerjakan klaim layanan kesehatan yang makin banyak dan turah-turah), gue saat ini berpegangan kepada, penyakit ini sebagian tidak berbahaya memang, tapi sebagian lain bisa mengakibatkan fatal alias membahayakan. Terus kan ada aja tuh yang komen, "matinya karena sakit komorbidnya, kok dibilang covad covid aja," Hmm, begini Pak. Seumur-umur jadi dokter nih, jarang banget ya gue nemu pasien dengan DM meninggal karena dia terinfeksi common cold (batuk pilek biasa) di saat sedang sakit DM itu. Atau ibu hamil tiba-tiba infeksi paru-paru dan saturasi oksigennya turun? Lalu meninggal? Padahal sebelumnya seger buger? Seriusan, hampir nggak pernah ketemu kasus begitu. Kasus pneumonia aja termasuk jarang gue temui selama jaga ya. But nowdays? Kasus itu mendominasi.

People, please, be a human. Human with the humanity. Jagalah sesama mu. Sadar diri, kalau kamu habis melakukan hal yang berisiko tinggi terpapar virus, ya jaga orang lain sekitarmu, agar tidak ikut sama seperti kamu, mengalami risiko tinggi. Dengan apa? Jaga jarakmu, pakai maskermu, batasi aktivitas komunalmu, cuci bersih tanganmu, jalankan etika batukmu, periksakan diri saat merasa sakit, isolasilah dirimu jika terjangkit. Kita-kita ini yang nakes, serius, nggak pengen Covid-19 itu lama-lama dan terus ada. Seriusan. Dan kita-kita ini yang nakes, juga bagian dari kalian, masyarakat. Kalau memang tujuan kita sama, ayok, sama-sama perang, sama-sama sabar dan tahan diri. Sampingkan sedikit ego nya. Kalau bisa bareng dan kompak, Insyaallah bisa selesai kan pandemi nya.

Semoga pandemi ini bisa segera selesai dari dunia. Aamiin..

PS: Tulisan ini pertama ditulis pada 7 Maret 2021, dengan situasi pandemi sesuai dengan tanggal tersebut, dan tentunya situasi hati penulis yang menyesuaikan apa yang terjadi saat itu. Diselesaikan dengan menambah beberapa kalimat akhir pada 30 Maret 2022.

Tuesday, January 26, 2021

Luka

Ternyata, untuk merasa sakit, kamu tidak harus jatuh atau dipukul terlebih dahulu. Rasa sakit yang mengenai organ tidak terlihat, ternyata nyata. Sialnya, luka itu tidak bisa dilihat. Kalau luka biasa yang bisa kita lihat, terpampang di kulit kita, bisa dirawat tiap hari. Diberi obat. Lalu perlahan menyembuh. Kita tahu prosesnya. Kita tahu kapan proses itu terganggu, ketika luka lambat laun menjadi bernanah, misalnya. Ada infeksi kuman yang mengintervensi, dan yah, masih bisa kita atasi lagi kemudian. Beri obat antiinfeksi. Tapi luka di batin? Hanya dapat dirasakan.

Rasanya juga bisa berbeda-beda. Ada yang mirip nyeri dada, tapi entah dimana. Ada yang hanya merasa hampa. Di sisi lain, mungkin hanya merasa tidak nyaman. Rasa nyeri dan tidak nyaman itu nyata, tapi butuh jiwa yang jeli, untuk dapat mengawasinya berproses. Jeli, super jeli. Apakah luka itu akan sembuh sempurna, kembali seperti sedia kala, atau meninggalkan bekas yang tak hilang selama proses penyembuhannya, atau.. Tidak sembuh dan masih menganga.

Hanya saja, kita tidak bisa lihat.

Jadi kalian, yang sedang sakit hatinya, yang sedang luka batinnya, bertahanlah. Bersikap lebih baiklah dengan dirimu yang sedang luka. Istirahatkan organ yang sedang sakit itu, beri waktu baginya untuk berduka, namun jangan berlarut. Karena rasanya eman sekali jika satu hidup yang kita punya, hanya dipakai untuk berduka. Kamu berhak, dan bisa sembuh. Kamu berhak bahagia.

Semangat, semoga kalian segera menemukan obatnya.

Tuesday, July 2, 2019

Tidak Minta Dilahirkan - Sekelumit Pemikiran

Once, gue pernah curhat sama Emak, lewat telpon, masalah sepele aja sebenernya, tapi cukup bikin baper. Masalah apa? Asa. Ya, anak kesayangan gue yg selalu pinter dan lucu itu. Yang dipermasalahin apa? Tingkah dia. Yang padahal yah, cuma tingkah normalnya anak-anak. Ngambeknya balita gak mau makan, ngambeknya balita gak mau ganti popok, ngambeknya balita yang tiba-tiba nangis minta hal absurd, atau tingkah dia yang bolak balik ngajak main atau cari perhatian di saat badan gue remuk seremuk-remuknya (efek pulang jaga atau as usual, ada masalah di BPJS). Rasanya waktu itu kaya beraaaaat amat dah ah cobaan gue. But then my Mom said, "Sabar. Anak kan nggak pernah minta dilahirkan,"

And now, habis melihat beberapa kejadian, entah kenapa pikiran ngalor ngidul gue ini kembali mengingat momen curhat itu tadi.

Iya, ya. Mana ada anak minta dilahirin? Mana ada anak bisa milih ortunya siapa? Not in a negative way, yang terus seakan-akan anak ya nggak ada hubungan atau nggak perlu berterimakasih dengan ortu ya, tapi, lebih ke, anak itu, lahirnya mereka, adalah tanggung jawab orangtua. Mereka lahir ke dunia, kosongan. Kaya kertas putih baru beli dari toko, bersih. Mereka lahir dalam keadaan tidak berdaya, rapuh, ringkih, yang lalu berkembang, bertumbuh, belajar, dimana tiga proses itu rasanya sebagian besar porsinya dipegang oleh ortunya kan? Atau siapapun yang merawat mereka. Jadi kan harusnya, ya orangtua harus sabar. Karena mereka yang kosongan, kita yang sudah keisi. Mereka sedang belajar menyampaikan, kita yang sudah lancar bicara dan mengenal apa itu emosi. Lagipula, anak bukanlah orang dewasa dalam ukuran kecil. Mereka newbie di dunia yang serba kompleks ini.

And children see, children do. Gue percaya parah sih sama ini. Karena meniru itu ya proses belajar mereka. Dari yang kosongan, jadi keisi. And that's why, sebagai orangtua, atau orang-orang yang berada di sekitar anak, yang sedang berproses menjadi lebih berisi itu, yang sel-sel otaknya secara ilmiah sedang berkembang pesat, menurut gue nih, harusnya lebih berhati-hati.

Jujur aja, pemikiran kaya gini muncul dari satu dua kejadian yang baru aja gue alami. Pertama, gue ditemukan dengan anak balita, usia 3 tahunan, yang bisa dengan mudahnya ringan tangan memukul dengan keras balita yang lain. Cuma karena mau ngambil mainan dari balita lain itu? And then, di lain waktu, gue ditemukan lagi dengan balita lain, usia 2 tahunan, yang gue kaget dia bisa jawab "bodo amat" begitu dapat pertanyaan siapa namanya dari orang yang lebih tua di sekitarnya. Dan mirisnya, orang-orang lebih tua itu rata-rata tertawa, seakan itu hal yang lucu. Kenapa malah jadi lucu? Bukankah itu nggak sopan? Jujur deh gue nggak paham. And then, mirip-mirip, seorang anak yang dengan semangat cerita ke keluarganya dengan bahasa kasar, menjelek-jelekkan gurunya. Tapi ya terus gitu, keluarganya tertawa, seakan itu hal yang lucu dan menghibur. Why? Jujur ya, gue bersyukur menjadi salah satu orang dewasa, dimana saat gue menjadi anak, gue memegang teguh nilai bahwa guru adalah pengganti ortu gue selama di sekolah. Nggak pernah merasa rugi dengan itu, thanks to my beloved parents.

Gue nggak tahu juga sih, ini apa gue yang lebay apa gimana. Tapi deep down inside, gue percaya, di saat kebiasaan sudah menjadi watak, maka jangan harap watak bisa diubah. Apalagi setelah anak itu jadi dewasa. Maka, bukankah lebih baik membiasakan yang baik semenjak dini? Semenjak mata anak-anak itu masih membelalak lebar mengamati sekitar, merasa heran, merasa penasaran, merasa kagum dengan ortunya, dan juga merasakan.. cinta. Cinta yang tak terbendung, tanpa syarat, dari orangtua yang sedang merawat mereka. Bukan berarti menjadikan mereka robot juga, yang tunduk perintah ini itu. Tapi, lebih ke transfer ilmu, begini lo sayang, kalau jadi manusia.. Jadi manusia yang baik. Toh mereka nantinya tidak akan selalu jadi anak. Merekalah yang kelak menggantikan kita-kita yang menua. Mereka yang akan jadi dewasa, jadi tulang punggung suatu peradaban juga kelak.

Karena ya itu tadi kan, anak tidak pernah minta dilahirkan. Jadi, ya ayuk lah, kita sebagai ortu, bisa lebih sabar lagi, lebih bertanggung jawab lagi, lebih giat berdoa dan berusaha lagi, untuk merawat titipan Yang Maha Kuasa tersebut dengan sebaik-baiknya. Membekali mereka dengan baik. Karena mereka ndak akan hidup sendirian nanti. Mereka manusia, yang mana manusia adalah makhluk sosial. Jika ada pilihan menjadi baik, kenapa tidak diusahakan? Iya kan?