Monday, October 24, 2016

Sepi

Kupandangi dinding dan langit-langit,
bukan bintang atau bulan
Kosong
Hampa kurasakan

Pikiran dan hatiku pun sepaham
Kosong
Tiba-tiba saja
semua isi menghilang

Aku termenung
Hanyut dalam gelap malam
yang sepi dan mencekam
Aku bosan sendirian

Wednesday, September 7, 2016

Just Something Quick and Random

Gie. Rasanya datang lagi. Rasa jadi alien. Rasa nggak dianggap. Rasa nggak dihargai. Rasa sendiri. Rasa kecewa. Apa emang gue yang seaneh itu? Kalau gue nggak suka, apa emang harus gue paksakan untuk suka? Gue kudu piye Gie..?

Tuesday, September 6, 2016

Becoming Mom, Becoming Better Person

That's rite! Di kehamilan 22 - 24 wks ini, gue merasakan banget hal tsb. Ingat posting gue tentang amanah dan anugrah? Yup, beneran terbukti deh, kalau Dedek di dalam perut gue ini adalah amanah dan anugrah dari Yang Maha Kuasa. Jujur aja, awal-awal hamil, gue kagok berat. Bahkan hal sepele yang biasa gue lakukan, di mata orang-orang yang sudah lebih berpengalaman, dianggap nggak baik buat si Dedek. Like what? Naik turun tangga, naik motor, makan mie instan, minum kopi atau teh, capai, atau stres. Yaah, capai sama stres mah sahabat gue sih ya. Manusiawi toh, kalau orang hidup ketemu capek dan stres. Bahahaha.. Iya loh, segitunya, kita kudu hati-hati kalau udah menyandang status Mom Gonnabe or Bumil. Sayangnya, gue ini anaknya bandel. Dan kadang suka nekat. Even sana-sini bilang jangan sampai kecapaian, melihat aktivitas gue yg isinya bolak-balik jaga, gue mah pede aja ngerasa kalau gue nggak capai. Rasanya hampir selalu gue ngebatin, gue kuat, Dedek pun lebih kuat lagi. Huehehehe.. Sampai suatu waktu, pressure lebih besar datang. Gue berada di titik emotionally and physically drained. And guess what, buat gue, capai fisik itu masih bisa ditolerir, tapi, kalau udah capai hati,, walah. Disaster lah itu. Dan sayangnya Dedek pun ngikut Mamanya. Di suatu waktu, gue bleeding. Frankly I'll say, that's one of the scariest moment in my life. Gue beneran ngerasa bersalah banget sama Dedek. *Maapin Mama yaa Deek >.< Juga sama suami gue, sama ortu gue, karena yaah gue akui, gue kadang bandel, nggak ngejalanin nasihat-nasihat mereka.

Setelah insiden itu terjadi, langsung lah, gue rombak jadwal-jadwal yang memeluk gue seperti biasanya. Bed rest total! Haha. Suami jadi jauh lebih concern dan strict. Naik turun tangga nggak boleh, jalan kaki jauh nggak boleh, berdiri lama nggak boleh, dan dia jadi rajin beliin gue es krim. Haha. Gue juga diminta jangan pusing-pusing lagi mikirin jadwal jaga gue, yang memang waktu itu lagi banyak masalah. Disuruh kasih ke teman gitu deh, padahal ya temannya juga lagi sibuk. Hahaha.. Tapi seenggaknya, Alhamdulillah jadwal gue masih bisa tercover sama teman-teman gue. Ada sih, satu kali yang nggak bisa digantiin siapapun. Pas persis hari kejadian lagi. Pas banget juga bolak-balik dikasih tahu ada pasien. Huaaah sampai stres jadi tambah tambah rasanya, pas ada telpon panik dari RS. Mau gimana lagi deh, di saat masih bleeding jalan juga ke RS. Pengen nangis.. Ngerasa takut Dedek kenapa-kenapa. Untung saja, begitu sampai di RS ternyata pasien belum datang dan bisa ditangani dulu sama direktur. Huff langsung cuss rumah lagi deh, ngelanjutin terapi..

Di masa recovery, gue total tiduran doang seharian. Rasanya tuh ya gimanaa gitu.. Soalnya jujur, gue nggak ngerasa badan gue sakit-sakit banget, tapi nggak boleh ngapa-ngapain. Minum obat pun kudu rutin tiap hari. Padahal, gue paling cuma ngerasa perut sakit-sakit sedikit dan masih ngeflek bolak-balik. Tapi justru itu gue jadi parno. Gue nggak tahu kan, si Dedek apa kabarnya. Kondisi gue yang seperti itu kalau nggak segera ditangani, bisa bahaya buat Dedek. Hiks.. Stres. Bawaannya pengen ngelungker doang sama suami, terus ngelus Dedek seharian.. Akan tetapi, sebenarnya di masa istirahat tersebut, gue juga jadi introspeksi. Banyak merenung juga. Pun banyak berdoa. Ada Dedek di dalam perut gue itu, beneran suatu keberuntungan. Lewat Dedek yang bahkan gue belum bisa sentuh fisiknya, gue diingatkan lagi untuk tidak egois. Ya, gue nggak boleh seenaknya lagi mikirin diri sendiri doang. I'm becoming a Mom, and I should be serious with that. Gue dititipi amanah luar biasa oleh Allah SWT, yang tidak semua wanita bisa mengalamainya. It's such a blessing for me. And guess what, walaupun kedengeran serem karena gue nggak bisa sekarep dewe lagi (haha), jujur aja, proses kehamilan ini memicu gue untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Gue jadi mau nggak mau lebih teratur makan, lebih bergizi juga makannya, nggak sering begadang lagi, mengurangi aktivitas berat, menjauhi hal-hal yang nggak baik buat tubuh kaya asap rokok atau pengawet pemanis buatan (even minimal menghindari), dari segi emosi pun gue sedikit demi sedikit berusaha untuk menjauhi stres, mencari inner peace (walaupun untuk kasus ini masih struggling banget, hehe). Walaupun semua judul awalnya "demi Dedek", dan kesannya badan gue jadi jauh lebih ringkih dari sebelum hamil, pada akhirnya semua bermuara kepada kebaikan gue sendiri. Iya kan, dengan do and don'ts yang banyak itu, gue berbenah diri juga akhirnya, dan gue akui, jadi lebih sehat (atau at least teratur) dibanding sebelumnya. Walaupun yaa yang namanya perubahan anatomis dan fisiologis pasti ada pada saat hamil, and sometimes they're not flattering. Tapi serius deh, dibawa enjoy aja, disyukuri, dinikmati, karena semua itu anugrah. Haha..

And then, sebagai penutup, gue mau tulis ini buat Dedek yang sekarang lagi hobi nendangin perut gue. Haha..

Thank you so much yaa Dedek..:) Terima kasih sudah memicu Mama berusaha lebih keras untuk jadi pribadi yang lebih baik. Mungkin nggak sempurna ya Dek, tapi buat kamu, buat kita, Mama akan berjuang sebaik-baiknya. Sama-sama semangat ya Deek, sehat-sehat terus yaa kamu di perut Mama, sampai siap kamu lahir ke dunia ini. Hehe.. I really really hope, kamu tumbuh sehat, cerdas, jadi anak yang berbakti, berbudi pekerti luhur, bertaqwa kepada Allah SWT, juga tampan kaya Papamu yaa (lebih aja juga gak apa-apa, hihi). Love you Dedek..:)