Tuesday, July 2, 2019

Tidak Minta Dilahirkan - Sekelumit Pemikiran

Once, gue pernah curhat sama Emak, lewat telpon, masalah sepele aja sebenernya, tapi cukup bikin baper. Masalah apa? Asa. Ya, anak kesayangan gue yg selalu pinter dan lucu itu. Yang dipermasalahin apa? Tingkah dia. Yang padahal yah, cuma tingkah normalnya anak-anak. Ngambeknya balita gak mau makan, ngambeknya balita gak mau ganti popok, ngambeknya balita yang tiba-tiba nangis minta hal absurd, atau tingkah dia yang bolak balik ngajak main atau cari perhatian di saat badan gue remuk seremuk-remuknya (efek pulang jaga atau as usual, ada masalah di BPJS). Rasanya waktu itu kaya beraaaaat amat dah ah cobaan gue. But then my Mom said, "Sabar. Anak kan nggak pernah minta dilahirkan,"

And now, habis melihat beberapa kejadian, entah kenapa pikiran ngalor ngidul gue ini kembali mengingat momen curhat itu tadi.

Iya, ya. Mana ada anak minta dilahirin? Mana ada anak bisa milih ortunya siapa? Not in a negative way, yang terus seakan-akan anak ya nggak ada hubungan atau nggak perlu berterimakasih dengan ortu ya, tapi, lebih ke, anak itu, lahirnya mereka, adalah tanggung jawab orangtua. Mereka lahir ke dunia, kosongan. Kaya kertas putih baru beli dari toko, bersih. Mereka lahir dalam keadaan tidak berdaya, rapuh, ringkih, yang lalu berkembang, bertumbuh, belajar, dimana tiga proses itu rasanya sebagian besar porsinya dipegang oleh ortunya kan? Atau siapapun yang merawat mereka. Jadi kan harusnya, ya orangtua harus sabar. Karena mereka yang kosongan, kita yang sudah keisi. Mereka sedang belajar menyampaikan, kita yang sudah lancar bicara dan mengenal apa itu emosi. Lagipula, anak bukanlah orang dewasa dalam ukuran kecil. Mereka newbie di dunia yang serba kompleks ini.

And children see, children do. Gue percaya parah sih sama ini. Karena meniru itu ya proses belajar mereka. Dari yang kosongan, jadi keisi. And that's why, sebagai orangtua, atau orang-orang yang berada di sekitar anak, yang sedang berproses menjadi lebih berisi itu, yang sel-sel otaknya secara ilmiah sedang berkembang pesat, menurut gue nih, harusnya lebih berhati-hati.

Jujur aja, pemikiran kaya gini muncul dari satu dua kejadian yang baru aja gue alami. Pertama, gue ditemukan dengan anak balita, usia 3 tahunan, yang bisa dengan mudahnya ringan tangan memukul dengan keras balita yang lain. Cuma karena mau ngambil mainan dari balita lain itu? And then, di lain waktu, gue ditemukan lagi dengan balita lain, usia 2 tahunan, yang gue kaget dia bisa jawab "bodo amat" begitu dapat pertanyaan siapa namanya dari orang yang lebih tua di sekitarnya. Dan mirisnya, orang-orang lebih tua itu rata-rata tertawa, seakan itu hal yang lucu. Kenapa malah jadi lucu? Bukankah itu nggak sopan? Jujur deh gue nggak paham. And then, mirip-mirip, seorang anak yang dengan semangat cerita ke keluarganya dengan bahasa kasar, menjelek-jelekkan gurunya. Tapi ya terus gitu, keluarganya tertawa, seakan itu hal yang lucu dan menghibur. Why? Jujur ya, gue bersyukur menjadi salah satu orang dewasa, dimana saat gue menjadi anak, gue memegang teguh nilai bahwa guru adalah pengganti ortu gue selama di sekolah. Nggak pernah merasa rugi dengan itu, thanks to my beloved parents.

Gue nggak tahu juga sih, ini apa gue yang lebay apa gimana. Tapi deep down inside, gue percaya, di saat kebiasaan sudah menjadi watak, maka jangan harap watak bisa diubah. Apalagi setelah anak itu jadi dewasa. Maka, bukankah lebih baik membiasakan yang baik semenjak dini? Semenjak mata anak-anak itu masih membelalak lebar mengamati sekitar, merasa heran, merasa penasaran, merasa kagum dengan ortunya, dan juga merasakan.. cinta. Cinta yang tak terbendung, tanpa syarat, dari orangtua yang sedang merawat mereka. Bukan berarti menjadikan mereka robot juga, yang tunduk perintah ini itu. Tapi, lebih ke transfer ilmu, begini lo sayang, kalau jadi manusia.. Jadi manusia yang baik. Toh mereka nantinya tidak akan selalu jadi anak. Merekalah yang kelak menggantikan kita-kita yang menua. Mereka yang akan jadi dewasa, jadi tulang punggung suatu peradaban juga kelak.

Karena ya itu tadi kan, anak tidak pernah minta dilahirkan. Jadi, ya ayuk lah, kita sebagai ortu, bisa lebih sabar lagi, lebih bertanggung jawab lagi, lebih giat berdoa dan berusaha lagi, untuk merawat titipan Yang Maha Kuasa tersebut dengan sebaik-baiknya. Membekali mereka dengan baik. Karena mereka ndak akan hidup sendirian nanti. Mereka manusia, yang mana manusia adalah makhluk sosial. Jika ada pilihan menjadi baik, kenapa tidak diusahakan? Iya kan?

Tuesday, November 20, 2018

Change! Usaha untuk Jadi Lebih Baik

Disclaimer: I don't have any intention to tell you about right or wrong. Simpel, aku cuma mau sharing. Just want to express what's inside my mind. So I hope you all don't mind, yes..;-)

Ini cerita saya, tentang sebuah perubahan yang saya lakukan. Hehe. Iya, orang sedatar saya, bisa juga memutuskan untuk berubah. Orang seskeptis saya, yang selalu memiliki paham bahwa "berubah belum tentu lebih baik" bisa juga ternyata berubah. Bisa dibilang saya termasuk orang yang enggan berubah atau bergerak. Tapi ternyata, bisa juga. Hehe..

Perubahan apa? Tidak banyak. Hanya memutuskan untuk mulai menggunakan jilbab untuk sehari-hari. Ya, beberapa saat setelah bulan Ramadhan tahun ini. Alhamdulillah. Jujur, bukan sesuatu yang mudah. Jujur, di awal pun jelas bingung, bimbang, apalagi dengan pemahaman-pemahaman yang tertanam pada saya semenjak muda. "Jilbab itu, wajib untuk isteri para mukmin. Jadi ya pas kamu udah jadi isteri, isteri orang mukmin, baru pakai," begitulah kira-kira ucapan seseorang yang selalu terngiang-ngiang..:-) Walaupun di saat belum menikah pun aku merasa, memakai jilbab itu bukan sesuatu yang buruk, justru cenderung ke arah baik. Yah, walaupun pada kenyataannya saya juga tidak langsung berjilbab setelah menikah. Hehe..

Long story short, sampailah saya pada keputusan ini. Di saat saya sudah setahun lebih berumah tangga, saya putuskan untuk berjilbab. Kenapa? Karena ingin. Kenapa ingin? Hm, sulit saya jelaskan. Haha.. Sebutlah tiba-tiba saya ingin. Hahahaha.. Yes, saya orangnya kind of impulsive kok emang. Apa disuruh suami? Tidak. Tapi betapa bahagia saya, begitu mendiskusikan hal ini dengan suami, dan dia sangat mendukung. Papa saya juga. Papa senang sekali begitu tahu anak perempuan pertamanya ini mau pakai jilbab. Saya jadi lebih bahagia gitu, bisa semacam bawa kabar baik ke orang-orang tercinta. Huehehehe..

Awal-awal saya pakai jilbab, jujur saja, perjuangan sekali. Mana sebelumnya kan kesan saya selebor banget ya, asal gitu lho. Dan secara kan ada norma tidak tertulis jika pemakai jilbab itu tuh harus "(selalu) baik" ya. Hahaha.. Kind of beban, tapi gue sepaham sih. Secara dengan pakai jilbab kan identitasmu makin jelas. Mungkin, di saat orang lihat kamu pertama kali, dia akan membatin, "Oh, orang Islam.." Get it? Yes, mau nggak mau, orang memakai jilbab jadi semacam representative dari agama Islam ini. Walaupun gue juga percaya nggak ada namanya manusia yang sempurna, terlalu hitam, atau terlalu putih, menjaga nama baik Islam itu penting. Dan ini make sense menurut saya. Yah, makanya kalau ada orang-orang bilang "Jangan salahkan jilbabnya, tapi orangnya," di mata saya hal tersebut 11:12 sama "Pakai jilbab kok nyolong,". Karena memang norma yang berlaku seperti itu gaes, normal dan masuk akal. People will judge anyway, and then generalisation sometimes occured. Seperti pada kasus ada teroris yang beragama Islam, kan akhirnya jadi ada yang beranggapan "Islam agama teroris". Makanya lah, boleh kan berharap jangan sampai ada bibit-bibit seperti itu lagi. Setidaknya mulai dari saya sendiri. Hehe..

Aaaand that's why saya bilang kalau di awal-awal pakai ini tuh, berat. Hahahaha.. Selain yang saya ceritakan sebelumnya, perintilan-perintilan yang menunjang keseharian baru saya juga ternyata challenging. Iya lho, mulai dari harus bisa tahan sumuk (di mana saya orangnya nggak suka panas), milih style jilbab yang pas sama muka, belajar pakai peniti sendiri, cari outfit yang juga menunjang, ndak ketat, ndak tabrak warna, cocok sama warna jilbabnya, waktu persiapan di depan cermin jadi makin lama, belum lagi awal-awal waktu periksa pasien. Kenapa periksa pasien jadi ribet? Stetoskop man! Hahaha.. Iya, periksa fisik pasien buat dokter umum kaya saya tuh wajib ada auskultasi pakai stetoskop. Bisa bayangin kan, awal-awal gimana saya bingung untuk menempatkan kedua ujung stetoskop di telinga tanpa harus merusak tatanan jilbab yang syuda paripurna. Kalau ditaruh di luar jilbab, saya malah jadi nggak dengar. Haha.. Well ya, intinya ternyata semua butuh latihan dan pembiasaan. Jujur aja, sutres juga saya dengan perintilan-perintilan kaya gitu. Iya, saya anaknya gampang sutres, nggak apa lah ya. Tapi Alhamdulillah, sudah mulai terbiasa. Hehe..

Begitu pun awal-awal mendapati komentar orang-orang. Dari yang memuji sampai mempertanyakan, jujur aja sih, awalnya risih banget. Sempet awal-awal nanggapinnya pakai bercandaan pula, kaya edisi Ramadhan lah, nutupin bad hair cut lah, padahal mah, engga. Hehe. Mungkin karena saya anaknya punya kenangan buruk sama keramaian ya. Haha. Makanya MPE nya semi-semi kabur nyelimur gitu #maafkanya. Jadi yaa even orang muji-muji, saya risih. Pengennya nggak usah dianggap beda, gitu. Biasa aja, gitu. Anggap kaya pakai topi aja, gitu. Yah tapi sekali lagi, common sense lah yaaaa.. Udah hukumnya mah, manusia, kalau ada yang beda, atau yang baru. Eh tapi, kalau dikomennya ditambahin doa, saya seneng sih. Doanya baik-baik pula, ya saya amini. Hehehe..

Apa saya bisa dikatakan berhijrah? Hmmmmm, ndak terlalu suka pakai istilah itu sih. Berat gitu rasanya kata-katanya. Wkwk.. Tapi, anggap saja saya sedang berusaha. Berusaha keras. Menuju sesuatu yang lebih baik. Hehe.. Iya, di samping hal-hal yang bikin saya sutres tadi, toh ya makin lama saya makin nyaman dan terbiasa dengan gaya baru saya ini. Dan lucunya, sekarang kalau lewat di depan tukang-tukang udah jarang disuit-suit lagi. Hahaha. Bagus lah. Walau harusnya sih oknum-oknum tsb sungkannya sama semua wanita apapun pakaian mereka ya. And then, somehow, for me, jilbab ini menjadi semacam alarm, yang mengingatkan saya. Mengingatkan untuk bisa lebih baik, lebih bijak, lebih taat. Dan ya, I'm happy for it. Sudah baik kah saya? Mungkin belum, mungkin sudah. I never know. Orang lain yang menilai kan ya. Cuma, ya itu, saya berusaha ke arah sana. Berusaha sebaik-baiknya dan semoga Allah SWT meridhoinya.. Aamiin YRA..:-)

Tuesday, April 3, 2018

Something About ...

Tbh, agak nggak yakin sih mau nulis gini. Tapi makin lama, kok makin nggak bisa tidur gue. Kayanya pengen aja gitu melampiaskan semacam, huh, apa ya, kekesalan? Kebingungan? Ketidakpahaman? Ke-kok-bisa-sih-kejadian-kaya-gitu-an? You named it apa pun lah ya, terserah.

Intinya mungkin lebih ke, gue kecewa. Baru aja, gue melihat sesuatu yang viral di sosial media, yang bikin gue nyesek (dan mungkin juga nggak suka). Nggak usah gue jelasin lebih lengkap deh itu apaan. Gue kasih clue dikit-dikit abis ini juga pasti pada paham.

Harusnya nih ya, gue suka sama yang namanya puisi. Pun setelah gue baca kata demi kata yang terangkai dalam puisi viral tsb, jujur, indah. Pemilihan diksinya bikin gue terpengarah. Apalagi dibawakan di acara besar, yang gegap gempita, dengan segenap orang-orang penting terlibat di dalamnya. Yang membawakan juga orang sama penting kan.

Tapi kenapa deh? Kenapa isinya harus begitu? Harus banget menyinggung agama? Apesnya lagi, kenapa agama gue deh? Jelas banget itu. Entah maksudnya sebaik apa pun, entah kenapa logika dan perasaan gue kok jadi merasa "diserang" mendengarnya. Gue merasa ada suatu perbandingan yang ditaruh di situ. Kenapa harus membandingkan sesuatu yang menurut gue nggak seharusnya dibandingkan? Membandingkan agama dengan budaya maksudnya kah..? Aneh. Jujur aja, menurut logika seorang gue, itu aneh. Bahkan yang judulnya sama-sama agama saja, menurut gue mending jauh-jauh dibandingin deh. Lha ini, malah dua substansi yang menurut gue (lagi) adalah berbeda. Jadi mirip aja gitu, sama menilai kejeniusan ikan dan gorila dari kemampuan mereka memanjat pohon.

Yah, gue tahu sih, gue juga random banget bahas ginian yak. Pakai cadar aja enggak. Haha. Kualitas ibadah gue? Yah, biar Allah S.W.T dan gue yang tahu deh (melipir, nangis di pojokan, berdoa semoga bisa menjadi lebih baik). Well ditanya gue udah ngelakuin apa buat negara sampai bisa nulis gini pun, paling jawaban gue standar. Hidup, kerja, bayar pajak, bayar zakat. Udeh. Nah makanya, gue bahas di awal kan. Murni karena gue ngerasa nggak enak aja, dan yah, ingin ngeluapin apa yang ada di otak dan hati ini. Jadi, gue cuma bisa minta maklumnya. Haha.. Dan, yah, gue cukup nggak suka ternyata dengan (isi) puisi tsb, dan yah, heran itu tadi. Enggak habis pikir aja. Sangat disayangkan aja, jika memang niatnya baik, tapi ternyata justru menimbulkan perpecahan kan.

Dan satu lagi, masih nggak habis pikir, bagaimana yang mengucapkan menolak jika ia dikatakan SARA, padahal jelas yang dia ucapkan adalah salah satu agama? SARA = suku, ras, agama, kan? Yang intinya nggak boleh menyinggung itu kan? Berkemas di balik kata "fakta" dan "budayawati"? I don't get it. Mungkin memang ilmu gue yang masih kurang, atau umur gue yang masih terlalu muda. But if I can say one more thing again, kalau memang konteks puisi tsb adalah dari orang-orang Indonesia yang tidak tahu agama ini, kenapa, kenapa yang dibahas adalah konde dan kebaya? Selama ini gue kira kebaya dan konde itu aslinya dari Jawa aja padahal (and maybe gue salah yah). Dan kenapa satu agama itu saja yang dibahas? Nggak sekalian agama yang lain? Apa karena oleh penyair, memang hanya itu yang bermasalah? Kenapa mengatakan adzan tidak semerdu tembang? Sementara di saat yang sama, gue sendiri cukup dengar "Allahu Akbar", sudah menjadi lebih tenang. Walaupun jujur, gue juga masih menikmati merdunya tembang jawa yang diputar di nikahan-nikahan. Rasanya cukup kan, dengan katakan jika kidung Ibu Indonesia begitu merdu. Meninggikan saja, tak apa, tapi jangan rendahkan yang lain kan bisa?

Ah sudahlah. Gue sendiri berharap, dan berdoa tentunya. Semoga nggak lagi-lagi ada lah kaya gini ini. Jangan lagi please.. Apalagi di era sosmed kaya gini kan, berita APAPUN gampang sekali nyebar. Yang nggak penting macam ABG joget-joget aja bisa jadi bahan omongan banyak orang, apalagi yang kontroversial macam ini. Imho, people jaman now lebih gampang terprovokasi juga. Rasanya akan lebih bijak untuk tidak memancing perseteruan kan. Hehe..