Wednesday, March 30, 2022

Kesan Pesan dari yang Lagi Isoman

Akhirnya. Yup. Finally, setelah 2 tahun-an pandemi mampir di dunia ini, gue ngerasain juga, tertular Covid-19. Nggak tanggung-tanggung, kena ber 4, bareng anak-anak gue dan mbak ART. Sesuatu yang menyebalkan dan menyakitkan memang, apalagi sebelumnya suami duluan kena sampai 2 kali, yang membuat keluarga kecil gue harus saling nggak ketemu dalam waktu cukup lama karena isolasi. Tapi setidaknya, Alhamdulillah, kondisi gue dan anak-anak juga si mbak tidak sampai memerlukan perawatan di rumah sakit. 

Anyway, hari ini hari ke 10 gue jalanin isolasi. Alhamdulillah lagi, gue dan rombongan positif Covid-19 kali ini masih bisa melakukan isolasi mandiri di rumah. Iya, fasilitasnya ada dan mencukupi, jadi gue nggak perlu terlalu pusing juga untuk nyari tempat isolasi terpusat di luar. Such a privilege memang, and I'm grateful for that. Dan karena regulasi isolasi yang gue pakai sekarang, bisa dibilang adalah regulasi post gelombang 3 di Indonesia, waktu isolasi yang gue perlukan pun sedikit lebih singkat dibanding zaman awal-awal pandemi, well, which is in my opinion, it's not because the virus changed, but it's our knowledge that developed. Yang (sekali lagi) tentu sesuai dengan kaidah sains itu sendiri. Sesuatu yang baru, perlu banyak penelitian, riset, diskusi, konsensus, untuk menemukan kebenaran-kebenaran baru juga kan. Makanya di era gelombang 3 saat ini, muncul regulasi isolasi khusus nakes, untuk melakukan isolasi sampai hari ke 5, dan jika hari ke 6 hasil pemeriksaan PCR sudah negatif, maka si nakes bisa kembali bekerja. Risky sih, kalau menurut opini pribadi gue. Cuma mungkin ya karena banyak pertimbangan (misalnya karena shortage pegawai di instansi kesehatan yang adalah ujung tombak pandemi ini sendiri, atau beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa kultur virus setelah hari ke 5 dapat negatif), maka regulasi ini ditentukan. Sayangnya, tidak berlaku buat gue. Yes, gue dan si mbak, masih positif hasil swab PCR dan antigen bahkan (gue orangnya suka double check biar lebih aman aja rasanya) di hari ke 6 kami isolasi. Jadilah isolasi dilanjut sampai hari ke 10, dengan 3 hari sebelum selesai isolasi harus sudah tidak ada gejala. 

Hari ke 6 isolasi, Alhamdulillah hasil swab anakku sudah negatif. Dan memang dari 3 hari sebelumnya, gejala mereka sudah hilang. Tidak demam tinggi yang tidak turun-turun dengan obat seperti di awal sakit, atau batuk dan pilek. Fun fact, gue yakin banget Covid-19 mampir ke gue ini karena tertular dari anak-anak. Karena memang hanya di rumah dan saat dengan keluarga, gue nggak menjalankan protokol kesehatan. Bayangkan di saat Kamis pagi gue swab antigen di RS tempat kerja dengan hasil negatif dan tidak ada gejala, lalu sore sampai besoknya, anak-anak sakit demam tinggi. Gue rawat anak-anak, nggak pakai masker, karena entahlah, saat itu sesimpel gue merasa nggak sakit maka nggak perlu pakai masker, dan memang gue kecolongan juga, tidak menyangka itu Covid-19. Mungkin karena gejala saat itu anak-anak hanya demam, dan kemakan omongan orang-orang juga, yang bilang Covid-19 udah nggak ada. And then Minggu, gue merasa muncul gejala yang tidak seperti biasa, inisiatif untuk cek, dan betul ternyata positif Covid-19, pun anak-anak gue.

Setelah sekian hari menjalani isolasi, jujur sih, gue bener-bener bersyukur setidaknya kasus yang mampir ke gue dan keluarga saat ini masuk ke golongan ringan. Tapi tetap aja, gue nggak akan pernah setuju dengan mereka yang bilang Covid-19 ini cuma flu, dan karena kata "cuma" itu jadi kesannya seperti meremehkan. Karena apa, to me, demam tinggi 2 hari lebih tidak turun-turun dengan obat, itu scary, apalagi kejadian di anak-anak. Kena Covid-19 dengan kondisi ternyata kamu punya DM tidak terkontrol, yang saat dicek ternyata gula darah mu di atas 300, itu scary (yap, ternyata si mbak ART yang baru kerja sama gue ini, punya sakit DM yang nggak diobati). Things could go wrong. Dan nyeri tenggorok yang bertahan sampai 5 hari terus-menerus, walau segala obat dan suplemen sudah kamu minum, itu scary. Senyeri itu, bahkan sampai kamu sentuh dari leher aja, terasa nyerinya. Bikin nggak mau makan dan susah tidur. Belum lagi ditambah vertigo bolak-balik, sakit kepala, dan pusing. Jangan lupakan batuk dan pileknya juga.  Bener-bener beda, sama yang kata mereka, flu biasa. Gue sendiri si alergian dan punya atopi. Pilek, bersin, hidung meler tiap dingin dikit atau debu, atau pas kecapean, cukup sering gue alami. Asma pun pernah. Dan Covid-19 beda sama itu semua. It's painful and kinda depressing. Mungkin bagi sebagian orang gue terdengar so negative and pathetic, but no, that's not what I mean. I'm just trying to be realistic and tell you experience that I had. You don't need to sugarcoat everything in your life tho. Iya, mental harus kuat, jangan kalah sama sakit. Tapi kalau sampai meremehkan, tidak jaga diri sendiri dan orang sekitar mu untuk tidak tertular virus ini, hanya karena merasa virus ini membawa sakit yang remeh, menurut gue itu egois. Kita nggak pernah tahu, virus ini akan jadi seperti apa di orang lain kan. Banyak orang-orang lain dengan kondisi imun yang kurang, yang masih bisa berakibat fatal bagi mereka jika terkena virus ini. Why not doing something that we can do, to help other? Toh di saat kita menahan diri, akhirnya laju penyebaran sakit ini bisa turun dan itu yang kita semua harapkan kan? Lagian, sakit itu, mau ringan sedang berat, ya sama-sama sakit. Sama-sama nggak enak. Alangkah lebih senang jika semuanya, bisa saling jaga.

But again, Alhamdulillah untuk semua yang gue lalui ini. Serius, Alhamdulillah. Gue bener-bener belajar banyak dari terkena Covid-19 ini (blessing in disguise itu selalu ada kalau dalam kamus gue, hehe). Semoga hasil swab nanti malam sudah negatif dan besok bisa balik aktivitas seperti biasa, dalam kondisi sehat dan segar bugar tentunya. Aamiin.. Oh ya, gengs, untuk kalian semua yang baca tulisan ini, semoga sehat selalu ya! And last but not least, my forever pray, semoga Covid-19 bisa segera musnah dari dunia ini, dan tidak ada lagi muncul wabah-wabah lainnya. Aamiin! ^^   

Monday, January 3, 2022

Tahun Ke 6

 Hi, Dear. Haha. Ya siapa lagi Dear selain kamu yak.

Nggak nyangka juga, masuk tahun ke 6 jadi isteri kamu. Kalau ditambah masa-masa kita kenalan di tahun 2010, waw 12 tahun udah yak. Hehe. Bukan yang nggak nyangka karena nggak ngarep juga ya maksudnya, lebih ke.. hmm.. wow time flies ya! Mayan lama juga kita saling bertahan dan saling-saling yang lain juga tentunya. Hehe. And I'm truly grateful for that. :)

Thank you for being with me selama itu ya. Dan semoga kita masih saling membersamai untuk tahun-tahun selanjutnya. Bener-bener berharap dan selalu berdoa, semoga kita jodoh, di dunia maupun di akhirat. Semoga keluarga kecil yang kita punya saat ini, akan selalu menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warohmah. Aamiin..

Dan semoga, perasaan ke kamu nggak akan berkurang dari perasaanku ke kamu di hari yang sama, 6 tahun lalu. Di mana pagi itu entah kenapa, mood ku hancur, dan aku nggak bisa sembunyikan. Tapi dengan ajaib, begitu lihat kamu di situ, kamu senyum ke aku yang saat itu sedang dirias, perasaan jelek itu hilang begitu saja. Berganti jadi sesuatu yang membuncah, membuatku tersenyum dan bahagia. Hehe..

Dan di tahun ke sekian, aku tetap akan bilang, I am so lucky to love you, and so happy to love you!^^ 

Sunday, March 7, 2021

Finally I Wrote This Pandemic Things

Sejujurnya gue cenderung menjauhi bahasan tentang ini. But, hey, I can not stand lagi deh kalau begini ceritanya. Kayak ada banyak banget unek-unek, gerundelan, yang kayaknya hampir setiap hari mengisi relung hati, sedikit demi sedikit, dan relung itu sudah penuh. Haha. So, gue butuh buat "mencurahkannya" biar tetap waras.

Ini cerita tentang pandemi, yang sudah setahun lebih terjadi, di dunia, di negeri yang gue tinggali. Yes, it's about Covid-19. Situasinya sekarang, di Indonesia, jumlah kasus harian mencetak rekor. Jujur, situasi akhir-akhir ini bikin ngelus dada banget sih. Jenuh, iya. Tapi jujur bukan jenuh sama penyakit ini aja, gue juga jenuh sama tingkah laku masyarakat banyak yang gue lihat.

Disclaimer dulu ya, back ground gue saat ini, gue kerja sebagai dokter IGD di sebuah rumah sakit kota, bukan rumah sakit rujukan, pun dengan jumlah shift yang paling sedikit dibanding teman-teman gue yang lain, karena sekarang main job gue adalah mengurus klaim pelayanan asuransi plat merah di rumah sakit (termasuk mengurus klaim-klaiman pelayanan kesehatan terkait pandemi ini). Minggu ini, gue jaga IGD sudah 2 kali, dan jujur, ikut stres. Dulu, sebelum dapat amanah jadi pentolan klaim-klaim-an, gue full di IGD. Jujur ya, kayaknya kok belum pernah ada yang ngalahin rasa lelahnya jaga UGD di era pandemi ini, terutama 2 shift silam. Harusnya gue nggak sambat ya, karena yang gue alami itu masih jauh sama teman-teman sejawat lain yang waktu paparan dengan pasiennya lebih banyak, yang shift nya lebih sering, lebih-lebih yang bergumul di fasilitas rujukan. But hey, I'm sorry, the struggle and pain is real!

Sekarang, fasilitas kesehatan dipenuhi banyak orang, pasien. Kami dari rumah-rumah sakit pun bukan yang mengundang mereka semua datang dengan sengaja. Mereka datang ke kami karena membutuhkan bantuan. Mereka sakit. Bisa dilihat di banyak tempat kan, pasien-pasien luber, diperiksa di tenda darurat. Bed pasien habis, oksigen tipis, kematian pun meningkat. Bukan bermaksud nakutin ya, tapi memang itu kenyataan yang sedang terjadi, mungkin tidak di semua tempat, tapi di banyak tempat. Tidak di semua ya, jadi jangan lah kau lihat ada rumah sakit yang sepi ndak ada pengunjung, lalu kau koar-koar keadaan chaos di banyak faskes hanyalah hoax atau fear mongering belaka. Hey tidak seperti itu. Faktanya memang banyak pasien yang datang sakit barengan ke rumah sakit. We didn't invite them tho.

Mereka yang bicara Covid-19 ini tidak berbahaya, rasanya lupa lihat ke orang-orang lain. Setahun lebih berdampingan dengan penyakit ini, sebagai nakes yang tidak mengenal WFH (yha walau jaga IGD sebulan cuma sekian kali, tapi tetep masuk kantor bos, ngerjakan klaim layanan kesehatan yang makin banyak dan turah-turah), gue saat ini berpegangan kepada, penyakit ini sebagian tidak berbahaya memang, tapi sebagian lain bisa mengakibatkan fatal alias membahayakan. Terus kan ada aja tuh yang komen, "matinya karena sakit komorbidnya, kok dibilang covad covid aja," Hmm, begini Pak. Seumur-umur jadi dokter nih, jarang banget ya gue nemu pasien dengan DM meninggal karena dia terinfeksi common cold (batuk pilek biasa) di saat sedang sakit DM itu. Atau ibu hamil tiba-tiba infeksi paru-paru dan saturasi oksigennya turun? Lalu meninggal? Padahal sebelumnya seger buger? Seriusan, hampir nggak pernah ketemu kasus begitu. Kasus pneumonia aja termasuk jarang gue temui selama jaga ya. But nowdays? Kasus itu mendominasi.

People, please, be a human. Human with the humanity. Jagalah sesama mu. Sadar diri, kalau kamu habis melakukan hal yang berisiko tinggi terpapar virus, ya jaga orang lain sekitarmu, agar tidak ikut sama seperti kamu, mengalami risiko tinggi. Dengan apa? Jaga jarakmu, pakai maskermu, batasi aktivitas komunalmu, cuci bersih tanganmu, jalankan etika batukmu, periksakan diri saat merasa sakit, isolasilah dirimu jika terjangkit. Kita-kita ini yang nakes, serius, nggak pengen Covid-19 itu lama-lama dan terus ada. Seriusan. Dan kita-kita ini yang nakes, juga bagian dari kalian, masyarakat. Kalau memang tujuan kita sama, ayok, sama-sama perang, sama-sama sabar dan tahan diri. Sampingkan sedikit ego nya. Kalau bisa bareng dan kompak, Insyaallah bisa selesai kan pandemi nya.

Semoga pandemi ini bisa segera selesai dari dunia. Aamiin..

PS: Tulisan ini pertama ditulis pada 7 Maret 2021, dengan situasi pandemi sesuai dengan tanggal tersebut, dan tentunya situasi hati penulis yang menyesuaikan apa yang terjadi saat itu. Diselesaikan dengan menambah beberapa kalimat akhir pada 30 Maret 2022.