Wednesday, December 27, 2023

Taking Side

Dulu, when I was a young girl, I used to think that, being "neutral" is the best and coolest choice to do. Kamu tidak perlu berpihak pada siapapun, di saat ada suatu konflik, di saat ada pertentangan antara beberapa pihak. Netral. Indeed, back then, "neutral" is sooo cool for me. Just stay in the middle. Cukup. Kaya gitu aja, kamu sudah "baik", kamu sudah keren. Kamu sudah tidak ikut bertikai.

Tapi itu dulu. When I was a naive girl.. Sekarang, di akhir tahun 2023, tidak kusangka terjadi kejahatan luar biasa yang benar-benar menyayat hati ini. Sudah masuk di bulan kedua, namun belum ada tanda semua itu akan berhenti. Pembantaian rakyat di Palestina, yang ternyata sudah dimulai sedikit demi sedikit dari beberapa puluh tahun silam. 

Orang banyak bilang, itu perang. Perang yang rumit. Perang antara dua pihak, dimana Palestina yang memulainya duluan. Tapi, perang macam apa, yang menargetkan anak-anak bahkan bayi dan balita? Menyerang rumah sakit, tempat masyarakat sipil yang sudah terluka dan tidak berdaya mencari perlindungan? Perang macam apa, yang sudah korban meninggal, masih pula dirampas organ-organ tubuhnya? Bukankah itu semua tindakan kriminal keji? All is fair in love and war? No. 1000% NO. Dan bagaimana bisa, yang diusir dari tanahnya adalah yang memulai duluan?

United Nation says..

"War crimes are those violations of international humanitarian law (treaty or customary law) that incur individual criminal responsibility under international law. As a result, and in contrast to the crimes of genocide and crimes against humanity, war crimes must always take place in the context of an armed conflict, either international or non-international.

From a more substantive perspective, war crimes could be divided into: a) war crimes against persons requiring particular protection; b) war crimes against those providing humanitarian assistance and peacekeeping operations; c) war crimes against property and other rights; d) prohibited methods of warfare; and e) prohibited means of warfare.

Some examples of prohibited acts include: murder; mutilation, cruel treatment and torture; taking of hostages; intentionally directing attacks against the civilian population; intentionally directing attacks against buildings dedicated to religion, education, art, science or charitable purposes, historical monuments or hospitals; pillaging; rape, sexual slavery, forced pregnancy or any other form of sexual violence; conscripting or enlisting children under the age of 15 years into armed forces or groups or using them to participate actively in hostilities."

Lalu untuk apa, aku berada di tengah-tengah antara si penjahat perang dan korban? Bukankah aku semua pihak harusnya ada di pihak korban? Bukankah ini waktunya, yang salah dihukum dan yang benar dibela? Bukankah seharusnya yang salah yang dilawan? Mungkin masih bingung, siapa pelaku dan siapa korban? Namun, bukankah jelas dan terang benderang, siapa yang sedang membantai siapa?

Aku tahu, lokasi terjadinya kejahatan itu sangat jauh dari diriku saat ini. Aku tidak mengerti bahasa yang mereka gunakan. Aku tidak kenal mereka. Tapi, mereka kan saudaraku juga, sesama manusia.. Ada pula saudara seimanku di sana. Mereka sedang dijajah, bertaruh nyawa hari demi hari, untuk makan dan minum saja sulit. Apakah hatimu tidak ikut merasa sakit, melihat sekian banyak manusia tidak berdaya dan dipermainkan begitu saja, hidupnya? Bahkan satu kasus penyiksaan anak di negeri sendiri saja, rasanya membuat darah ini mendidih. Lalu bagaimana dengan ribuan anak-anak di sana yang pergi begitu cepat karena dibunuh?

Di saat begitu banyak orang berada di tengah, bersikap netral, bukankah mereka yang sedang menjajah akan menjadi lebih leluasa? Karena yang dijajah ini yang bersikap menerima agresi yang datang kepada mereka. Yang hidup dalam teror. Yang hanya bisa bertahan dan membalas sebisanya, sebisanya yang mereka lakukan. Mereka sudah kehilangan banyak, kenapa harus pula kehilangan dukungan. Apakah mereka memang harus begitu saja hilang? :( Setidaknya, sedikit tepukan di punggung dan doa yang tulus, bukankah bisa tetap menyalakan secercah harapan bagi mereka? Harapan untuk semuanya segera usai, dan merdeka.

Aku tidak bisa bantu apa-apa. Tapi setidaknya, dari sedikit yang dapat kulakukan, kepada mereka lah aku berpihak. Karena penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Aku mendukungmu untuk merdeka. Free Palestine, Viva Palestina.

Sunday, October 16, 2022

How're You? How's Life?

Woi. Akhirnya ah, gue nulis-nulis lagi di sini. Random aja sih. Haha. Tetiba kepengen gitu. So, yha, seperti judul tulisan ini, apa kabar dah pada? Masih semangat? Struggle to survive juga toh masihan? Bagus. Harus gitu emang. Hehe.. Gue di sini juga sama sih. Jalanin hari demi hari, dari satu masalah ke masalah lain, dari satu moment bahagia ke moment bahagia lain, dari satu memori ke memori lain. Masih banyak banget PR nih, banyak tugasnya, hehe. Tapi kalau kata Asa sama Aru, ya gak papa. Yes, nggak apa-apa, dijalanin satu-satu, pelan-pelan diselesaikan, sambil terus berkembang kan ya. Iya, berkembang bukan badannya nih maksudnya, tapi kepribadiannya, kebijaksanaannya, wawasannya, ketaqwaannya, gitu lho.

Hm, terus mau cerita dikit deh nih. Akhir-akhir ini ternyata gue lumayan jadi into K-Pop deh. Ada satu grup idol K-Pop yang lagu-lagunya lagi sering gue dengerin. Haha. Jadi semacam work anthem gitu, bisa bikin fokus dan ngerjain kerjaan jadi lebih cepat. Aneh bin ajaib juga sih buat seorang gue ya. Wkwkwk. Abis dulu-dulu perasaan cenderung nggak tertarik sama lagu-lagu yang liriknya gue nggak paham, atau yang terlalu jedag jedug gitu lho. Kan banyak lagu K-Pop tuh jedag-jedug ya, apalagi rilisan baru-baru tuh, imho, musiknya 'keras' gitu lho, yang loud banyak dentuman gitu lhoo.. Get what I mean kan yah? Tapi kayaknya, memang pepatah "music is a universal language" itu nggak salah sih. Dan kebetulan juga, lagu-lagu grup ini tuh, banyak yang nyantol di gue. Cocok aja gitu sama selera. Menyenangkan di telinga, dan mengagumkan mata juga kalau lihat video-video klip nya.

Well, grup idol yang gue maksud itu Red Velvet. The five queens, for me. Haha. Coba deh cek-cek ke beberapa lagu mereka. Entah kenapa deh, di gue lagu-lagu mereka tuh cocok banget. Belum bosen-bosen dengerinnya. Nggak yang terlalu 'loud' terus ada festivalnya, ada quirk nya, tapi tetep beautiful dan beat nya enak-enak gitu. Nah lho gimana deh tuh maksudnya? Haha. Yaah, intinya musik-musik mereka tuh bikin terngiang-ngiang gitu lho. Sampai gue lihat ada lagu baru keluaran grup lain itu tuh malah jadi ngebatin, lho kok mirip sama lagu RV yak konsepnya? Haha. Saking merhatiin detailnya lagu-lagu RV kali yak.

Tapi serius, lagu-lagu RV menurut gue bagus-bagus dan unik sih. Sok atuh lah, siapa tahu mau coba-coba, bisa dicek lagu-lagu ini nih: Bad Boy, Peek a Boo, Zimsalabim, Psycho, Wild Side, Feel My Rythm, Remember Forever, In My Dreams, Ice Cream Cake, Zoo. 10 besar buat gue nih, yang paling favorit sampai saat ini deh. Siapa tahu pada cocok juga ye kaaan. Hehe..:D 

Wednesday, March 30, 2022

Kesan Pesan dari yang Lagi Isoman

Akhirnya. Yup. Finally, setelah 2 tahun-an pandemi mampir di dunia ini, gue ngerasain juga, tertular Covid-19. Nggak tanggung-tanggung, kena ber 4, bareng anak-anak gue dan mbak ART. Sesuatu yang menyebalkan dan menyakitkan memang, apalagi sebelumnya suami duluan kena sampai 2 kali, yang membuat keluarga kecil gue harus saling nggak ketemu dalam waktu cukup lama karena isolasi. Tapi setidaknya, Alhamdulillah, kondisi gue dan anak-anak juga si mbak tidak sampai memerlukan perawatan di rumah sakit. 

Anyway, hari ini hari ke 10 gue jalanin isolasi. Alhamdulillah lagi, gue dan rombongan positif Covid-19 kali ini masih bisa melakukan isolasi mandiri di rumah. Iya, fasilitasnya ada dan mencukupi, jadi gue nggak perlu terlalu pusing juga untuk nyari tempat isolasi terpusat di luar. Such a privilege memang, and I'm grateful for that. Dan karena regulasi isolasi yang gue pakai sekarang, bisa dibilang adalah regulasi post gelombang 3 di Indonesia, waktu isolasi yang gue perlukan pun sedikit lebih singkat dibanding zaman awal-awal pandemi, well, which is in my opinion, it's not because the virus changed, but it's our knowledge that developed. Yang (sekali lagi) tentu sesuai dengan kaidah sains itu sendiri. Sesuatu yang baru, perlu banyak penelitian, riset, diskusi, konsensus, untuk menemukan kebenaran-kebenaran baru juga kan. Makanya di era gelombang 3 saat ini, muncul regulasi isolasi khusus nakes, untuk melakukan isolasi sampai hari ke 5, dan jika hari ke 6 hasil pemeriksaan PCR sudah negatif, maka si nakes bisa kembali bekerja. Risky sih, kalau menurut opini pribadi gue. Cuma mungkin ya karena banyak pertimbangan (misalnya karena shortage pegawai di instansi kesehatan yang adalah ujung tombak pandemi ini sendiri, atau beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa kultur virus setelah hari ke 5 dapat negatif), maka regulasi ini ditentukan. Sayangnya, tidak berlaku buat gue. Yes, gue dan si mbak, masih positif hasil swab PCR dan antigen bahkan (gue orangnya suka double check biar lebih aman aja rasanya) di hari ke 6 kami isolasi. Jadilah isolasi dilanjut sampai hari ke 10, dengan 3 hari sebelum selesai isolasi harus sudah tidak ada gejala. 

Hari ke 6 isolasi, Alhamdulillah hasil swab anakku sudah negatif. Dan memang dari 3 hari sebelumnya, gejala mereka sudah hilang. Tidak demam tinggi yang tidak turun-turun dengan obat seperti di awal sakit, atau batuk dan pilek. Fun fact, gue yakin banget Covid-19 mampir ke gue ini karena tertular dari anak-anak. Karena memang hanya di rumah dan saat dengan keluarga, gue nggak menjalankan protokol kesehatan. Bayangkan di saat Kamis pagi gue swab antigen di RS tempat kerja dengan hasil negatif dan tidak ada gejala, lalu sore sampai besoknya, anak-anak sakit demam tinggi. Gue rawat anak-anak, nggak pakai masker, karena entahlah, saat itu sesimpel gue merasa nggak sakit maka nggak perlu pakai masker, dan memang gue kecolongan juga, tidak menyangka itu Covid-19. Mungkin karena gejala saat itu anak-anak hanya demam, dan kemakan omongan orang-orang juga, yang bilang Covid-19 udah nggak ada. And then Minggu, gue merasa muncul gejala yang tidak seperti biasa, inisiatif untuk cek, dan betul ternyata positif Covid-19, pun anak-anak gue.

Setelah sekian hari menjalani isolasi, jujur sih, gue bener-bener bersyukur setidaknya kasus yang mampir ke gue dan keluarga saat ini masuk ke golongan ringan. Tapi tetap aja, gue nggak akan pernah setuju dengan mereka yang bilang Covid-19 ini cuma flu, dan karena kata "cuma" itu jadi kesannya seperti meremehkan. Karena apa, to me, demam tinggi 2 hari lebih tidak turun-turun dengan obat, itu scary, apalagi kejadian di anak-anak. Kena Covid-19 dengan kondisi ternyata kamu punya DM tidak terkontrol, yang saat dicek ternyata gula darah mu di atas 300, itu scary (yap, ternyata si mbak ART yang baru kerja sama gue ini, punya sakit DM yang nggak diobati). Things could go wrong. Dan nyeri tenggorok yang bertahan sampai 5 hari terus-menerus, walau segala obat dan suplemen sudah kamu minum, itu scary. Senyeri itu, bahkan sampai kamu sentuh dari leher aja, terasa nyerinya. Bikin nggak mau makan dan susah tidur. Belum lagi ditambah vertigo bolak-balik, sakit kepala, dan pusing. Jangan lupakan batuk dan pileknya juga.  Bener-bener beda, sama yang kata mereka, flu biasa. Gue sendiri si alergian dan punya atopi. Pilek, bersin, hidung meler tiap dingin dikit atau debu, atau pas kecapean, cukup sering gue alami. Asma pun pernah. Dan Covid-19 beda sama itu semua. It's painful and kinda depressing. Mungkin bagi sebagian orang gue terdengar so negative and pathetic, but no, that's not what I mean. I'm just trying to be realistic and tell you experience that I had. You don't need to sugarcoat everything in your life tho. Iya, mental harus kuat, jangan kalah sama sakit. Tapi kalau sampai meremehkan, tidak jaga diri sendiri dan orang sekitar mu untuk tidak tertular virus ini, hanya karena merasa virus ini membawa sakit yang remeh, menurut gue itu egois. Kita nggak pernah tahu, virus ini akan jadi seperti apa di orang lain kan. Banyak orang-orang lain dengan kondisi imun yang kurang, yang masih bisa berakibat fatal bagi mereka jika terkena virus ini. Why not doing something that we can do, to help other? Toh di saat kita menahan diri, akhirnya laju penyebaran sakit ini bisa turun dan itu yang kita semua harapkan kan? Lagian, sakit itu, mau ringan sedang berat, ya sama-sama sakit. Sama-sama nggak enak. Alangkah lebih senang jika semuanya, bisa saling jaga.

But again, Alhamdulillah untuk semua yang gue lalui ini. Serius, Alhamdulillah. Gue bener-bener belajar banyak dari terkena Covid-19 ini (blessing in disguise itu selalu ada kalau dalam kamus gue, hehe). Semoga hasil swab nanti malam sudah negatif dan besok bisa balik aktivitas seperti biasa, dalam kondisi sehat dan segar bugar tentunya. Aamiin.. Oh ya, gengs, untuk kalian semua yang baca tulisan ini, semoga sehat selalu ya! And last but not least, my forever pray, semoga Covid-19 bisa segera musnah dari dunia ini, dan tidak ada lagi muncul wabah-wabah lainnya. Aamiin! ^^