"Katanya mau membantu orang? Mana buktinya? Kamu tidak membantu pasien sama sekali.."
Phiu.. Masih teringat jelas, visite supervisor di bangsal tempat gue bekerja sekaligus belajar tadi siang. Satu kalimat yang istilahnya, makjleb banget, dan sumpah, bikin emosi gue acak kadul. Ok, mungkin gue harusnya senang, Beliau masih ingat apa motivasi gue terjun di dunia absurd bin ajaib a.k.a. dunia per-koas-an ini, yang gue utarakan 2 bulan silam. But, I don't know.. I just feel so hurt, when he said that to me, in front of the patient and all of my friends, in Bahasa Indonesia, not English..
Rasanya mau marah. Kaya, selama ini bangun jam 4 pagi itu percuma.. Kaya, selama ini bikin pasien bete karena ngetuk2in perutnya tiap pagi itu percuma.. Yes, I don't help my patient at all! Segala urusan follow up keluhan subjektif, pemeriksaan fisik, shifting dullness, rhonki, ukur lingkar perut, itu gak guna! Yang penting itu tau berapa cc urine yang diproduksi si pasien tiap harinya!
Dan Beliau bilang gue masih assess pasien dengan septic condition walaupun pasien gak sepsis. Please, begitu gue cek lagi, itu assessment bukan gue yang tulis! Gue udah bilang dari tanggal 7, kalau emang pasien itu nggak sepsis! Yang Beliau baca itu awal2 sepertinya, tanggal 3 atau sebelumnya. My Gosh, dan Beliau bilang gue cuma copy cat atas gue.. Aseli. Bikin. Sakit. Hati.
Sakit hati hari itu pun lengkap sudah, begitu keluarga pasien bilang, "Makanya, lain kali kalau memang masih belajar, bilang apa-apa konfirm dulu ke seniornya. Kan kalau begini jadi jadi simpang siur informasinya.." Itu, begitu gue tanya ke keluarga pasien, siapa yang bilang ke mereka kalau transfusi albumin itu harus tunggu tensi naik. Jujur, gue tersinggung. Maksudnya apa bilang kaya gitu? Jelas-jelas yang ngasih info itu bukan gue atau teman-teman koas gue yang lain. Yang ngasih tau itu kan petugas ruangan yang dinas malam. Kenapa malah gue yang digituin sih? Sumpah, sakit. Iya emang, gue masih belajar. Gue masih koas. Gue masih belum ngerti secara keseluruhan kenapa ini begini, kenapa itu begitu.. Tapi seenggaknya gue berharap, apa yang gue lihat di pagi hari saat follow up, bisa gue laporkan dengan benar ke ppds, dan akhirnya ppds itu bisa kasih tatalaksana lebih lanjut.
Koas gak care ke pasien? Jangan salah! Banyak kok, temen-temen gue sesama koas yang sering khawatir begitu lihat dokter ruangan ngasihkan terapi yang nggak sesuai dengan teori yang kami temukan di buku atau slide kuliah.. Tapi sedihnya, tetep aja, biar ada niat untuk membantu pasien, kami, koas, masih sering diicereweti pasien dan dimarahi supervisor atau nurse di ruangan.. Apa-apa, salah koas. Ada masalah dikit di ruangan, salah koas. Dokter nggak nulis di L5, salah koas. Di resep obat gak ada nama dokternya, salah koas. Jadi bingung. Kalau begitu ceritanya, apa artinya perkataan Beliau "Koas itu urusannya belajar, PPDS urusan dengan pasien." Secara kalau ada apa-apa sama pasien toh, enak. Ada kambing hitamnya, yaitu mbak mas koas. Sekarang gue ngerti, kenapa ada yang bilang, kastanya koas di rumah sakit itu paling bawah, bahkan di bawah kain pel-pel-an. Hahaha..
Ah. Udah lah. Abis ini, mungkin lebih baik gue ikut jejak temen2 gue yang lebih patol lagi, biar gak sering-sering akit hati. Hahahaha..
Dan sungguh, bakal gue buktiin, kalau gue bukan orang nggak berguna atau sarjana bikin malu kaya yang Beliau bilang. JUST WAIT AND SEE! I'll be GREATER than you, Doc, just in a few years later!!!! I'll BE!!
No comments:
Post a Comment