Saturday, September 3, 2016

Sepatah Dua Patah Kata dari Pecandu Olshopping

"Be a smart buyer, please!"

Hayo.. Teman-teman di sini siapa yg nggak asing dengan kalimat tersebut? Apalagi kalau teman-teman hobi online shopping, entah beneran belanja atau sekadar cuci mata. Pasti sering yaa lihat kalimat yg imho mengandung makna peringatan itu. Peringatan gimana? Ya peringatan dungs, soalnya gue sendiri sering banget nemuin ini kalimat nangkring di olshop, ditulis oleh owner olshop yg gregetan. Hahaha.. Kok bisa geregetan? Hmm banyak hal sebabnya, menurut gue. Tapi kalau ditarik satu garis besar, kebanyakan sebab utama adalah, buyer malas membaca. Misal nih, si owner udah mencantumkan keterangan lengkap dan detail dari suatu produk di caption foto, namun ada buyer yg menanyakannya lagi dengan mudahnya di kolom komentar. Yaa walaupun nggak semua owner atau seller akan memusingkan hal tsb, atau ada aja buyer yg beranggapan "Tinggal jawab aja susah amat," kan wajar juga toh, kalau ada yang nggak sabar dgn hal tsb. Apalagi kalau yg berkelakuan macam itu nggak cuma satu dua, tapi ratusan. Ratusan komentar datang, yg mungkin juga bertumpuk dgn notif ratusan like. Belum lagi kalau pas seller nya banyak kerjaan. Wahaha.. Wajar lah kalau seller gregetan.

Selain karena malas baca tsb, gue perhatikan juga ada sebab lain yg bikin seller suka gregetan dan jadi kelihatan galak. Komunikasi tanpa etika. Buat contoh aja nih, kamu abis ngiklan barang di IG. Tetiba ada yg nge PM kamu, ngechat "Brp?" Gue pribadi sih eneg sama yg begitu. Kamu siapa? Berapa apa? Iya si gue abis ngiklan, tapi kan nggak begitu juga. Apa sulitnya kasih salam, jelaskan maksud Anda apa, lalu beri terima kasih di akhir. Akan jauh lebih menyenangkan membalasnya kan. Mau pakai alasan karena "pembeli adalah raja"? Let me tell you something in ny mind. First, kamu masih dlm masa negosiasi dgn seller untuk membeli barang tsb, artinya belum tentu kamu fix seorang pembeli. Kamu masih jadi penawar lah (istilah sotoy gue ini haha). Second, raja itu, santun. Bukan berarti kamu punya uangnya, kamu jadi bebas untuk bertindak tidak sopan. Ngespam chat bolak-balik atau menggunakan kata kasar atau melakukan tindakan yg menyulitkan seller, bukan tindakan yg patut kalau memang alasanmu kamu itu raja. Dilayani, bukan berarti diladeni kekurangajarannya. Di sini seller dan buyer adalah sama manusia. Dari pada hubungan raja dan budak, lebih tepat hubungan mereka adalah partner. Rekanan bisnis. Kan jauh lebih nyaman belanjanya toh, kalau seller dan buyer bisa saling menghargai satu sama lain.

Btw kalau ngebaca celotehan gue di atas, kesannya gue tuh pernah punya pengalaman jadi seller gregetan yak. Tbh, gue blm pernah sik. Haha.. Cuma, ini hasil observasi gue aja, yg saban hari mantengin dunia olshop. Gue bisa ngerti perasaan seller-seller gregetan. Hahaha.. Dan, tbh lainnya, gue lebih banyak punya pengalaman sebagai buyer. Dikecewain sama olshop pun pernah. Wkwkwk.. Makanya nih, menurut gue lagi, kata-kata "be a smart buyer" tuh sebenarnya juga semacam pelindung untuk kita para customer lho. Masih bicara tentang belanja di dunia online ya ini. Jujur aja deh, gue banyak nemu kasus penipuan berkedok online shop. Kadang miris banget pas tahu kasusnya, banyak yg ketipu anak sekolah yg belanja pakai uang ortu mereka, dan banyak aja gitu yg imho bisa dicegah sebenarnya. Makanya, be smart itu penting sekali buat kita-kita yang mau membelanjakan uang lewat dunia maya. Penipuan di sini nggak cuma perkara uang ludes barang nggak sampai lho ya. Ada juga penipuan terkait orisinalitas barang, atau kondisi barang. Atau kondisi di mana seller tidak mau tanggung jawab dengan kesalahan yg ia lakukan kepada customer. Hiii.. Amit-amit kan ya kalau sampai kita kaya gitu.. Nah makanya nih, gue mau berbagi sedikit saran atau tips atau triks sotoy gue lah biar kita aman dan nyaman berbelanja online..

  1. Pastikan olshop trusted. Gimana? Lihat followers nya (kalau di IG), lihat rating nya (kalau di situs e-commerence misal La**da, Tok****ia, atau Sho**e, dll), dan lihat testimoni dari cust nya juga. Btw untuk testimoni, kita juga kudu cermat ya, karena akhir-akhir ini, kasus pencomotan testimoni atau endorsan artis lumayan banyak kejadian. Semacam palsu kan jadinya itu testimoni. Jumlah followers juga, karena jasa beli followers di IG pun marak. Jadi emang kudu repot juga kitanya, buat nentukan apa olshop tsb jujur atau tidak.
  2. Survey dulu harga di pasaran. Harga barang yg terlalu murah, bisa jadi salah satu indikasi ada yg tidak benar. Walaupun bisa juga menandakan sellernya baik hati dan mungkin lagi butuh duit. Haha.. Eh serius tapi. Survey harga pasar ini perlu. Misal dalam kasus kosmetik, apa mungkin lipstick import USA dgn harga counter Rp 125.000 dijual dengan harga Rp 200.000 selusin online? Barang asli apa gimana nih? Kita wajib waspada kalau memang beda harga jauh banget sampai bikin kita tergiur. Biasanya sih, harga online memang lebih murah, tapi tidak sampai setengahnya.
  3. Hindari belanja barang mewah. Misalnya, alat elektronik, perhiasan mahal, atau handphone. Kalau kamu nggak yakin itu olshop beneran trusted, mending nggak usah menurut gue. Kecuali kamu pernah lihat toko fisik mereka atau pernah sebelumnya belanja di situ dan aman-aman saja, atau kamu beli di olshop besar yg jelas udah punya nama. Deg-deg an banget nggak sih, kalau kita udah transfer sekian juta atau sekian ratus ribu, tapi terus barang nyampenya lama? Atau pas nyampe ada yg rusak gimana? Atau malah lebih buruk, barang nggak nyampe, gimana? Naudzubillah deh ya..
  4. Hati-hati belanja barang yg sedang digandrungi. Mungkin karena demand tinggi, jadi yg usaha tipu-tipu pun ikut tinggi. Lagi banyak lho kasus penipuan samyang atau i-phone gitu. Hati-hati aja lah pokoknya, lihat olshopnya, lihat harga yg ditawarkan. Kalau bisa murah banget, kira-kira kenapa itu? Apa mungkin? Apalagi kalau udah ada iming-iming yg bikin kita ngeces, macam: transfer 500 ribu, i-phone langsung dikirim, free ongkir. Itu kasus beneran btw. Kan masa iya, jualan barang tapi nyari rugi? I-phone aja harganya berapa lho.
  5. Perhatikan bahasa chat si seller. Pas kita masuk ke tahap tanya-tanya nih, ketika kita tertarik dgn barangnya. Ada yg aneh nggak? Sellernya kesannya maksa nggak? Kalau iya, kita patut waspada. Karena seller yg baik biasanya tidak memaksa dan memburu-buru customer untuk segera transfer. Contoh chat aneh, pernah kejadian, ada cust mau beli I-phone kredit, begitu ditanya proses kreditnya gimana, si seller malah ngebalas kalau hal tsb bisa dibicarakan belakangan dan langsung menanyakan alamat si cust. Suspicious nggak sih? Apalagi si cust hanya diberi syarat untuk serahkan fotokopi KTP untuk proses kredit tsb.
  6. Gunakan rekening bersama atau belanja via e-commerece. Lumayan membantu kalau ada apa-apa setelah kamu transfer pembayaran. Misal barang tidak sampai-sampai, atau barang yg dikirim cacat, atau salah varian. Dengan memakai rekber, uang kita tidak langsung berada di tangan seller, dan masih bisa kembali. Kalau yg ini gue punya pengalaman nggak enak nih. Salah juga sih ya, belanja buru-buru. Untung uang masih ketahan di e-commerece dan pengembalian dana bisa diajukan. Mungkin next time gue bakal cerita lebih detail yak.
  7. Bisa COD? Yaudah COD aja.. Sepengetahuan gue yg aotoy ini, metode COD itu metode paling safe di dunia belanja online. Sesuai namanya, COD adalah cash on delivery, yg artinya, kita bayar uang ke kurir, begitu barang sampai ke kita. Yap. Cash nya ya on delivery yaa.. Jadi, kalau namanya COD tapi bayarnya kudu via e-banking, m-banking, atau transfer manual dulu baru barang sampai ke kamu mah, itu sami mawon, duduk COD namanya. Apalagi kamu sama si seller atau kurirnya gak ada tketemunya juga. Sisi menguntungkan dari COD ini sih menurut gue, kita bisa cancel di saat nggak sreg begitu lihat barang. Tapi yaa siap-siap aja seller jadi kesel sama kamuh. Hahaha.. Walaupun menurut gue masih wajar aja sih, masalah nggak sreg itu. Misal, kasus ukuran tidak cukup, atau warna tidak sesuai. Dulu gue pernah belanja COD, dan emang sellernya sendiri yg nawarin ke gue, untuk pilih ukuran di waktu COD-an. Jadi awalnya gue pesan S, tapi begitu kurir datang, si seller udah ngebawain juga ukuran XS yg ternyata lebih pas di gue. Sesuai kesepakatan kan, gue enak, seller juga enak. Nah tapi, sebagai buyer yang smart dan beretika, kasus-kasus ketidaksesuaian tsb harusnya yaa udah melalui kesepakatan sama seller dulu ya. Jangan asal seenak jidat kita aja. Misal nih, udah fix pesan warna biru, udah ngomong ke seller nya, eh ya kok pas datang warnanya biru tiba-tiba pengen warna merah. Atau udah fix mau COD, tiba-tiba ngancel begitu aja karena kamu ada urusan, padahal si seller atau kurirnya udah otw. Seller juga manusia kali. Bayangin kalau kalian di posisi mereka lah, mana enak ketemu buyer semena-mena atau php kan. Terus, even judulnya COD, sebagai buyer smart dan beretika pun menurut gue penting untuk mengikuti rule of the games nya olshop yg berlaku yaaa..
  8. Google it. Apa yang di-google? Nama dan nomor rekening seller ybs. Ini tips dari sebagian buyer, dan lumayan ampuh juga. Terutama sih kasus jual beli barang elektronik ya. Katanya sih, kalau si seller ternyata penipu kelas kakap dan sudah lama berkecimpung di dunia penipuan, kecatat tuh nama dan no rek nya di jagad dunia maya. Mungkin di semacam forum, atau blog dari para korban. Lumayan lah ya, bisa bikin lebih waspada. Tapi tetep, hati-hati. Gak mutlak semua penipu bisa kita dapatkan infonya lewat google.
  9. Kalau punya IG, bisa tuh, dikepoin akun Black List Olshop. Buat buka wawasan dan saling tukar info kalau menurut gue. Di akun tsb biasanya banyak laporan-laporan dari buyer dan juga seller yang melaporkan tindakan penipuan atau ketidakpuasan dari suatu transaksi olshop. Olshopnya yg ada di IG biasanya, biar ada efek jera juga kali ya, namanya masuk akun black list kan otomatis kepercayaan calon-calon buyer pada hilang. Kita juga jadi tahu mana-mana aja seller bermasalah. Walaupun, tetep ya, kudu bijak kitanya. Ditelaah baik-baik dulu sebelum mutuskan, itu seller bermasalah bener apa enggak. Karena somehow, dengan ada akun begini, muncul juga efek samping nggak enak, macam kasus sengaja sikut-sikutan dan jatuhin nama baik sesama olshop atau buyer-buyer emesh nggak sabaran.
  10. Take your time, ojo kesusu. Yas. Ini salah satu point penting dalam belanja online menurut gue. Survey itu perlu, dan itu perlu waktu. Lihat-lihat testimoni, chat sama seller, memastikan barang yg kita mau itu bener, itu perlu waktu. Apalagi kalau mau belanja agak banyak ya.. Jangan gegabah lah intinya. Mentang-mentang harganya paling murah sejagad instagram, jangan buru-buru transfer. Cek ricek dulu. Bandingin juga, lebih worthed mana dibanding sama kamu belanja offline? Misal nih, kasus beli foundie. Nyesek loo kalau beli foundie online, udah bagus, mahal, eh shade nya terlalu gelap atau terang. Banyak tuh yg kejadian. Rata-rata buyer yg pada beli foundie tsb untuk pertama kali hanya dengan modal googling hasil swatch. Beleive me, it can't be used as patokan. Pardon my blepotan English ya, wkwkwk. Walau jatuhnya lebih murah dari pada beli di counter, kan mubadzir kalau ujung-ujungnya nggak bisa dipakai. So, take your time before purchase ya gaes.. Kalau nggak dapat barangnya karena kelamaan mikir gimana? Yaaaa anggap aja belum rejekimuuuh.. Huahahahaha.. #dilemparsandalsamareaders
  11. Last but not least, berdoa. Penting tuh brooh.. Biar belanjanya aman dan barokah. XD
Well gaes.. Itu aja dulu lah yaa, sharing sotoy dari gue, sebagai seorang pecandu belanja online. Disclaimer niii, yg gue tulis di atas murni hasil pemikiran gue ya. Pemikiran dari sekian pengalaman jual beli di dunia online. Kalau ada yg nggak setuju, yaa mohon maafkan. Kalau ternyata bermanfaat, yaa Alhamdulillah, ada gunanya juga gue nulis panjang-panjang. Wkwkwk.. Last but not least, gue tetap berharap tulisan sotoy ini bisa sedikit banyak membantu para readers (yg nyasar ke sini, haha) yg punya ketertarikan tersendiri dengan dunia belanja online. Till next post yee, salam! xD

No comments: