Tuesday, November 20, 2018

Change! Usaha untuk Jadi Lebih Baik

Disclaimer: I don't have any intention to tell you about right or wrong. Simpel, aku cuma mau sharing. Just want to express what's inside my mind. So I hope you all don't mind, yes..;-)

Ini cerita saya, tentang sebuah perubahan yang saya lakukan. Hehe. Iya, orang sedatar saya, bisa juga memutuskan untuk berubah. Orang seskeptis saya, yang selalu memiliki paham bahwa "berubah belum tentu lebih baik" bisa juga ternyata berubah. Bisa dibilang saya termasuk orang yang enggan berubah atau bergerak. Tapi ternyata, bisa juga. Hehe..

Perubahan apa? Tidak banyak. Hanya memutuskan untuk mulai menggunakan jilbab untuk sehari-hari. Ya, beberapa saat setelah bulan Ramadhan tahun ini. Alhamdulillah. Jujur, bukan sesuatu yang mudah. Jujur, di awal pun jelas bingung, bimbang, apalagi dengan pemahaman-pemahaman yang tertanam pada saya semenjak muda. "Jilbab itu, wajib untuk isteri para mukmin. Jadi ya pas kamu udah jadi isteri, isteri orang mukmin, baru pakai," begitulah kira-kira ucapan seseorang yang selalu terngiang-ngiang..:-) Walaupun di saat belum menikah pun aku merasa, memakai jilbab itu bukan sesuatu yang buruk, justru cenderung ke arah baik. Yah, walaupun pada kenyataannya saya juga tidak langsung berjilbab setelah menikah. Hehe..

Long story short, sampailah saya pada keputusan ini. Di saat saya sudah setahun lebih berumah tangga, saya putuskan untuk berjilbab. Kenapa? Karena ingin. Kenapa ingin? Hm, sulit saya jelaskan. Haha.. Sebutlah tiba-tiba saya ingin. Hahahaha.. Yes, saya orangnya kind of impulsive kok emang. Apa disuruh suami? Tidak. Tapi betapa bahagia saya, begitu mendiskusikan hal ini dengan suami, dan dia sangat mendukung. Papa saya juga. Papa senang sekali begitu tahu anak perempuan pertamanya ini mau pakai jilbab. Saya jadi lebih bahagia gitu, bisa semacam bawa kabar baik ke orang-orang tercinta. Huehehehe..

Awal-awal saya pakai jilbab, jujur saja, perjuangan sekali. Mana sebelumnya kan kesan saya selebor banget ya, asal gitu lho. Dan secara kan ada norma tidak tertulis jika pemakai jilbab itu tuh harus "(selalu) baik" ya. Hahaha.. Kind of beban, tapi gue sepaham sih. Secara dengan pakai jilbab kan identitasmu makin jelas. Mungkin, di saat orang lihat kamu pertama kali, dia akan membatin, "Oh, orang Islam.." Get it? Yes, mau nggak mau, orang memakai jilbab jadi semacam representative dari agama Islam ini. Walaupun gue juga percaya nggak ada namanya manusia yang sempurna, terlalu hitam, atau terlalu putih, menjaga nama baik Islam itu penting. Dan ini make sense menurut saya. Yah, makanya kalau ada orang-orang bilang "Jangan salahkan jilbabnya, tapi orangnya," di mata saya hal tersebut 11:12 sama "Pakai jilbab kok nyolong,". Karena memang norma yang berlaku seperti itu gaes, normal dan masuk akal. People will judge anyway, and then generalisation sometimes occured. Seperti pada kasus ada teroris yang beragama Islam, kan akhirnya jadi ada yang beranggapan "Islam agama teroris". Makanya lah, boleh kan berharap jangan sampai ada bibit-bibit seperti itu lagi. Setidaknya mulai dari saya sendiri. Hehe..

Aaaand that's why saya bilang kalau di awal-awal pakai ini tuh, berat. Hahahaha.. Selain yang saya ceritakan sebelumnya, perintilan-perintilan yang menunjang keseharian baru saya juga ternyata challenging. Iya lho, mulai dari harus bisa tahan sumuk (di mana saya orangnya nggak suka panas), milih style jilbab yang pas sama muka, belajar pakai peniti sendiri, cari outfit yang juga menunjang, ndak ketat, ndak tabrak warna, cocok sama warna jilbabnya, waktu persiapan di depan cermin jadi makin lama, belum lagi awal-awal waktu periksa pasien. Kenapa periksa pasien jadi ribet? Stetoskop man! Hahaha.. Iya, periksa fisik pasien buat dokter umum kaya saya tuh wajib ada auskultasi pakai stetoskop. Bisa bayangin kan, awal-awal gimana saya bingung untuk menempatkan kedua ujung stetoskop di telinga tanpa harus merusak tatanan jilbab yang syuda paripurna. Kalau ditaruh di luar jilbab, saya malah jadi nggak dengar. Haha.. Well ya, intinya ternyata semua butuh latihan dan pembiasaan. Jujur aja, sutres juga saya dengan perintilan-perintilan kaya gitu. Iya, saya anaknya gampang sutres, nggak apa lah ya. Tapi Alhamdulillah, sudah mulai terbiasa. Hehe..

Begitu pun awal-awal mendapati komentar orang-orang. Dari yang memuji sampai mempertanyakan, jujur aja sih, awalnya risih banget. Sempet awal-awal nanggapinnya pakai bercandaan pula, kaya edisi Ramadhan lah, nutupin bad hair cut lah, padahal mah, engga. Hehe. Mungkin karena saya anaknya punya kenangan buruk sama keramaian ya. Haha. Makanya MPE nya semi-semi kabur nyelimur gitu #maafkanya. Jadi yaa even orang muji-muji, saya risih. Pengennya nggak usah dianggap beda, gitu. Biasa aja, gitu. Anggap kaya pakai topi aja, gitu. Yah tapi sekali lagi, common sense lah yaaaa.. Udah hukumnya mah, manusia, kalau ada yang beda, atau yang baru. Eh tapi, kalau dikomennya ditambahin doa, saya seneng sih. Doanya baik-baik pula, ya saya amini. Hehehe..

Apa saya bisa dikatakan berhijrah? Hmmmmm, ndak terlalu suka pakai istilah itu sih. Berat gitu rasanya kata-katanya. Wkwk.. Tapi, anggap saja saya sedang berusaha. Berusaha keras. Menuju sesuatu yang lebih baik. Hehe.. Iya, di samping hal-hal yang bikin saya sutres tadi, toh ya makin lama saya makin nyaman dan terbiasa dengan gaya baru saya ini. Dan lucunya, sekarang kalau lewat di depan tukang-tukang udah jarang disuit-suit lagi. Hahaha. Bagus lah. Walau harusnya sih oknum-oknum tsb sungkannya sama semua wanita apapun pakaian mereka ya. And then, somehow, for me, jilbab ini menjadi semacam alarm, yang mengingatkan saya. Mengingatkan untuk bisa lebih baik, lebih bijak, lebih taat. Dan ya, I'm happy for it. Sudah baik kah saya? Mungkin belum, mungkin sudah. I never know. Orang lain yang menilai kan ya. Cuma, ya itu, saya berusaha ke arah sana. Berusaha sebaik-baiknya dan semoga Allah SWT meridhoinya.. Aamiin YRA..:-)

Tuesday, April 3, 2018

Something About ...

Tbh, agak nggak yakin sih mau nulis gini. Tapi makin lama, kok makin nggak bisa tidur gue. Kayanya pengen aja gitu melampiaskan semacam, huh, apa ya, kekesalan? Kebingungan? Ketidakpahaman? Ke-kok-bisa-sih-kejadian-kaya-gitu-an? You named it apa pun lah ya, terserah.

Intinya mungkin lebih ke, gue kecewa. Baru aja, gue melihat sesuatu yang viral di sosial media, yang bikin gue nyesek (dan mungkin juga nggak suka). Nggak usah gue jelasin lebih lengkap deh itu apaan. Gue kasih clue dikit-dikit abis ini juga pasti pada paham.

Harusnya nih ya, gue suka sama yang namanya puisi. Pun setelah gue baca kata demi kata yang terangkai dalam puisi viral tsb, jujur, indah. Pemilihan diksinya bikin gue terpengarah. Apalagi dibawakan di acara besar, yang gegap gempita, dengan segenap orang-orang penting terlibat di dalamnya. Yang membawakan juga orang sama penting kan.

Tapi kenapa deh? Kenapa isinya harus begitu? Harus banget menyinggung agama? Apesnya lagi, kenapa agama gue deh? Jelas banget itu. Entah maksudnya sebaik apa pun, entah kenapa logika dan perasaan gue kok jadi merasa "diserang" mendengarnya. Gue merasa ada suatu perbandingan yang ditaruh di situ. Kenapa harus membandingkan sesuatu yang menurut gue nggak seharusnya dibandingkan? Membandingkan agama dengan budaya maksudnya kah..? Aneh. Jujur aja, menurut logika seorang gue, itu aneh. Bahkan yang judulnya sama-sama agama saja, menurut gue mending jauh-jauh dibandingin deh. Lha ini, malah dua substansi yang menurut gue (lagi) adalah berbeda. Jadi mirip aja gitu, sama menilai kejeniusan ikan dan gorila dari kemampuan mereka memanjat pohon.

Yah, gue tahu sih, gue juga random banget bahas ginian yak. Pakai cadar aja enggak. Haha. Kualitas ibadah gue? Yah, biar Allah S.W.T dan gue yang tahu deh (melipir, nangis di pojokan, berdoa semoga bisa menjadi lebih baik). Well ditanya gue udah ngelakuin apa buat negara sampai bisa nulis gini pun, paling jawaban gue standar. Hidup, kerja, bayar pajak, bayar zakat. Udeh. Nah makanya, gue bahas di awal kan. Murni karena gue ngerasa nggak enak aja, dan yah, ingin ngeluapin apa yang ada di otak dan hati ini. Jadi, gue cuma bisa minta maklumnya. Haha.. Dan, yah, gue cukup nggak suka ternyata dengan (isi) puisi tsb, dan yah, heran itu tadi. Enggak habis pikir aja. Sangat disayangkan aja, jika memang niatnya baik, tapi ternyata justru menimbulkan perpecahan kan.

Dan satu lagi, masih nggak habis pikir, bagaimana yang mengucapkan menolak jika ia dikatakan SARA, padahal jelas yang dia ucapkan adalah salah satu agama? SARA = suku, ras, agama, kan? Yang intinya nggak boleh menyinggung itu kan? Berkemas di balik kata "fakta" dan "budayawati"? I don't get it. Mungkin memang ilmu gue yang masih kurang, atau umur gue yang masih terlalu muda. But if I can say one more thing again, kalau memang konteks puisi tsb adalah dari orang-orang Indonesia yang tidak tahu agama ini, kenapa, kenapa yang dibahas adalah konde dan kebaya? Selama ini gue kira kebaya dan konde itu aslinya dari Jawa aja padahal (and maybe gue salah yah). Dan kenapa satu agama itu saja yang dibahas? Nggak sekalian agama yang lain? Apa karena oleh penyair, memang hanya itu yang bermasalah? Kenapa mengatakan adzan tidak semerdu tembang? Sementara di saat yang sama, gue sendiri cukup dengar "Allahu Akbar", sudah menjadi lebih tenang. Walaupun jujur, gue juga masih menikmati merdunya tembang jawa yang diputar di nikahan-nikahan. Rasanya cukup kan, dengan katakan jika kidung Ibu Indonesia begitu merdu. Meninggikan saja, tak apa, tapi jangan rendahkan yang lain kan bisa?

Ah sudahlah. Gue sendiri berharap, dan berdoa tentunya. Semoga nggak lagi-lagi ada lah kaya gini ini. Jangan lagi please.. Apalagi di era sosmed kaya gini kan, berita APAPUN gampang sekali nyebar. Yang nggak penting macam ABG joget-joget aja bisa jadi bahan omongan banyak orang, apalagi yang kontroversial macam ini. Imho, people jaman now lebih gampang terprovokasi juga. Rasanya akan lebih bijak untuk tidak memancing perseteruan kan. Hehe..

Sunday, April 1, 2018

(Mencari) Keputusan. Bukan Keputusasaan.

Malam gelap mengiringku.
Berpikir dan merenung dalam.
Dalam diam.
Berpikir lagi, lagi, dan lagi.
Seakan tak ada henti.
Entah sampai kapan.
Karena yang kucari belum juga kutemukan.

Ini malam ke berapa?
Terasa begitu lama.
Terlalu lama.
Aku belum temukan apa-apa.
Kosong.
Buntu.

Gamang.
Masih kurasa.
Teringat kembali pembicaraan yang lalu.
Sudah lalu, namun masih berlaku.
Tidak bisa kutinggal lari, seperti biasa.
Karena tiap hari, aku menghadapinya.

Kabur, bukan solusi.
Diam pun, bukan.
Pura-pura lupa, apa lagi.

Ini tanggung jawabku.
Yang bukan anak kecil lagi.
Walau sulit untuk ku selesaikan.
Walau aku harus lebih sering mengerutkan kening.
Walau aku masih perlu waktu, lagi, dan lagi.
Akan tetap kuemban.
Akan tetap,
kucari jawaban.

Tunggu.
Dan bersabarlah.
Karena aku hanya ingin,
yang terbaik lah yang terlaksana.

Saturday, January 6, 2018

For You, My Lil Smoochie :*

I'll make this one as quick as possible. It's deadlines day for me! Tapi tenang, biar bikinnya cepat, isinya nggak kurang nggak lebih dari apa yang mau Mama sampaikan kok. Mama? Yes, ini posting buat kamu, Nak, Angkasa, Asa nya Mama..:)

Angkasa, kalau kamu besar nanti, terus jadi warganet kekinian dengan segala gadgetnya, jangan heran ya, kalau Mama jarang posting foto-foto Adek waktu kecil. Yah, mungkin bakal ada banyak foto kamu di IG Mama, tapi captionnya nggak menarik atau amburadul. Haha.. Nggak kaya Mama-mama kekinian lain, yang dengan rajin dan niatnya merangkai kata-kata untuk sekadar merekam memori dengan anaknya. SOO SOORRY FOR THAT, YA, SON! TwT Apalagi, kalau kamu jarang nemu Mama posting or sharing kamu udah bisa apa aja umur segini, makan apa aja umur segitu, udah bisa ngomong kapan, atau bisa jalan kapan. Harap maklum ya Nak.

Sesungguhnya, bukan Mama nggak ngerekam itu semua. Bukan Mama pas nggak ada di samping kamu, di saat kamu tumbuh dan berkembang dengan begitu bahagia. Mama cuma malas aja orangnya. Wkwkwk.. And yeah, I don't do share that much. Kalau kamu mau tahu, memory hp Mama itu full sama kamu lho, Dek. Hehehe.. Dan Mama selalu inget, kapan Adek begini, kapan Adek begitu. Hehe..Cuma yah, karena kemalasan Mama itu tadi, semuanya tersimpan begitu aja. Nggak (belum) dirapiin, sampai enak dipandang mata. Hehehe.. Sekali lagi, harap maklum ya Sayang.

Bukan karena kamu nggak hebat lho. Wih, kamu tuh, bayi ajaib laah yaaa buat Mama. Anak Mama yang paling ganteng! Haha, ya iya lah, karena sekarang anak Mama ya baru kamu aja Dek. Dan setiap Mama pastilah memandang anak lelakinya sebagai yang tertampan di dunia. Wkwkwkwk.. Oh ya, ajaibnya di mana? Di semua-semua deh. I don't say that you are perfect, nah, far from that (and yes, I do believe that 'perfect' is only belong to Allah SWT). But you're my best. Best in the world, for me. Kamu adalah jawaban doa-doa Mama, Dek. Makasih ya.. Btw, nih, Mama bocorin sedikit di sini keajaiban kamu menurut Mama yaa. Haha..

Pertama, kamu itu pintar. Hihi.. Lepas dari akan jadi apa kamu nanti, dan walaupun kamu baru berusia 9 bulan-an per hari ini, yes, kamu itu pintar Dek. Feeling Mama bilang sih, kamu itu tipe yang cepat belajar. Kebalikan Mama yang lola nya minta ampun. Mungkin nurun dari Papamu ya Dek. Haha.. Buktinya aja nih, kamu udah bisa ngambil benda kecil pakai 2 jari dari kamu umur 6 bulan lho. Di umur segitu pun, Adek juga udah bisa genggam makanan dengan baik, dan makan sendiri. Haha.. Kalau Mama seriusin BLW paling ya kamu bisa Dek. Tapi maap, Mamamu ini nggak setelaten mama-mama kekinian lain. Jadi ya, kamu makan pakai metode konvensional aja, win-win solution sama yang jagain kamu dan juga beres-beres di rumah. Hehe.. Seenggaknya Mama nggak mau maksa kamu makan ya Nak, Alhamdulillah sampai sekarang kita baik-baik aja dengan cara seperti itu. Hehe.. Ngomong-ngomong pintar, ya itu salah satu kepintaran Adek. Makan. Jujur, kamu tuh nyenengiiin banget kalau pas lagi makan. Semua masakan Mama, yang kalau kata orang lain sih, bisa aja nggak enak dan nggak jelas, mau kamu makan. Baru akhir-akhir ini aja, Mama lihat kamu tutup mulut waktu makan, tapi itu pun cuma sebentar, beberapa saat kemudian kamu mau makan lagi, tanpa Mama paksa. Thank you very much for that ya Dek. Padahal kamu pas lagi sakit. Tapi kok ya kaya ngerti, kalau makan itu penting. Mama terharu..

And then, Adek juga udah paham lho, cara naik-turun kasur dengan baik, dari Adek umurnya sekitar 8 bulan. Awal-awal kamu turun dari kasur itu kepala dulu lho. Tapi lama-lama dibilangin, sekarang tiap turun kasur udah pakai kaki dulu. Udah lebih aman deh. Dan kalau naik kasurnya, wah itu mah Adek udah pinter, bisa sendiri nggak pake diajarin. Haha.. Kamu rajin ngeliatin Mamamu kali ya Nak. Hehehe.. Padahal, dulu Mama sempet worry gitu, kamu kok kayaknya agak telat buat tengkurap dan balik badan dari tengkurap. Yes, apalagi dulu kan kamu seringan digendong ya Dek, jadi parno deh Mama. Tapi ternyata, dari umur 5 bulanan kamu udah bisa duduk sendiri, kepala tegak pula. Dan sekarang, wah umur 9 bulan udah curi-curi berdiri, lumayan bisa berdiri sambil joged tangan di atas selama beberapa detik, hihi. Kamu juga udah bisa jalan merambat, merangkaknya udah kemana-mana, manjat-manjat apapun, buka-buka buku, wah bikin Mama seneng deh. Bisa dibilang pesat juga perkembanganmu ya Nak.

Oh ya, dan satu lagi, kamu itu penyayang yaa.. Hihi.. Jadi, ada satu malam, Mama begadang ngompresin Adek, karena Adek tiba-tiba demam tinggi. That's the first time, kamu sakit demam Dek, tanpa sebelumnya imunisasi. Which is, yes, ini beneran sakit. Malam itu, Adek lagi tidur enak, tiba-tiba kebangun, rewel. Mimik lah Adek seperti biasanya. Tapi, kok udah lama mimik kaya masih gelisah. Mama cek, kok panas, terus Mama ukur panasnya pakai termometer, walah 38.4 Dek.. Ditambah kamu kaya ngelindur gitu, mana Papa lagi jaga malam, panik lah Mama. Langsung aja Mama ambil paracetamol, Mama minumin ke kamu, lha eh kamu malah muntah. Banyaaaaak.. Aduh, rasanya baru itu Mama panik Dek. Biar Mama dokter ya, tetep aja deh, begitu menghadapi anak sendiri yang sakit, kalang kabut ini pikiran. Soalnya itu baru pertama kali kamu sakit sampai kaya gitu Dek. Untunglah Papamu masih bisa dihubungin, seenggaknya langsung kasih saran dan bisa nenangin Mama. Juga pas ada eyang-eyang mu di rumah, jadi Mama nggak terlalu bingung deh. And then kamu berhasil bobo lagi, lebih pulas. Cuma demam mu masih naik-turun, jadi lah Mama semalaman kompres kamu. And guess what, besok paginya, kamu bangun duluan dek. Dan Mama teler-seteler-telernya. Dan ada satu hal yang nggak bakal Mama lupa dari kamu waktu itu. Kamu meluk Mama lumayan lama, sambil senyum-senyum maniiiis banget. Mama kira waktu itu kamu glendotan minta naik ke kasur, ternyata enggak. That was just so sweet, Dek. Hilang sudah lah, capek nya Mama. Hehe..

Jadi, Angkasa, kalau suatu hari nanti, kamu lagi down, nggak semangat, ngerasa minder, mungkin kamu bisa baca tulisan Mama ini. Haha.. Kamu harus ingat, selalu ada Mama dan Papa di belakang kamu. Tambahin, bukan Mama Papa aja lho Dek. Kamu punya keluarga yang selalu sayang sama kamu. Yang bahkan kamu ngeberantakin ini-itu aja semua nggak marah. Kesel sih, tapi ditahan, hahaha.. Yes, karena kamu si Little Precious kami semua.. Ada Eyang, ada Onty, Oncle, Tante, Om, semua sayang Angkasa. Keluargamu (terutama Mama dong :p) ini yang tahu kamu, dari kamu masih berbobot lebih ringan dari beras 5 kg Ind*maret. Hwhwwhw.. Banyak orang sayang dan doain kamu, Dek.. Jadiiiii, semangat terus ya Sayaaaang! :D Semangat dan tumbuh kembanglah jadi anak yang hebat dan berbahagia. I will happy if you're happy too..

So, segini dulu deh tulisan Mama buat kamu. Kapan-kapan Mama cerita-cerita lagi yaa Dek. Hehe.. ILUSM! :*

Diketik pertama di saat Asa masih berusia sekian bulan, diselesaikan di saat Asa ulang tahun yang pertama.

Let It Go (Trying To)

Tbh, ini udah kejadian ke sekian kali. Dari seumur-umur gue koas, iship, lanjut jadi dokter praktik. Harusnya mah, kan usah biasa ya. Pattern nya pun mirip-mirip. Tapi kenapa? Kok rasa yang sama selalu berulang. Rasa yang sama selalu membekas. Dan bahkan rasa-rasa sama yang baru muncul itu kembali menyeret datang rasa-rasa yang dulu sudah saya rasakan. Why.....?

And guess what the best part is. Complicated. Untuk ke sekian kali, saya dapat pasien yang complicated. Rumit. Bahkan sebenarnya, pasien ini bukan murni pasien saya. Saya tidak tangani dari awal. Tapi selalu sama. Not always, though. Sering. Sama seringnya. Sama rumitnya. Rumit, lalu memburuk. Rasanya sudah sekuat tenaga berusaha, tapi at the end, saya masih merasa ada yang kurang.

I know this isn’t professional. I’m trying to be, tapi susah. Di saat saya berusaha kembali mengingat-ingat terapi apa saja yang sudah diberikan, lalu menarik nafas lega, karena setidaknya hal tersebut sudah sesuai dan sudah atas persetujuan supervisor, di saat yang sama (sepersekian detik setelahnya), entahlah nafas kembali berat. Bayangan wajah pasien tadi, yang menyahut saat saya panggil, yang masih berkenan membuka matanya saat saya memeriksa GCS, tangan beliau yang di ambulans entahlah seperti menjabat tangan saya, ucapan terima kasih dari keluarga pasien yang saya terima –(yang rasanya berlebihan untuk saya terima saat itu), sulit sekali ya, saya lupakan. Inginnya saya tinggalkan semua, selepas saya selesai jaga pagi ini dan kembali ke rumah. Tapi ternyata, sulit juga untuk saya lepaskan.

Menjadi dokter memang tidak boleh menjanjikan kesembuhan. Kesembuhan hanyak milik Allah S.W.T., saya percaya itu. Saya hanya perantara, yang bisa berusaha semaksimal mungkin. Tapi jujur, saya sedih sekali. Di saat saya sempat merasa optimis karena menurut saya terdapat perbaikan, dalam sekejap mata, terjadi perburukan. Memang, semua yang terjadi adalah atas kehendak Allah S.W.T. Saya hanya bisa berdoa, semoga yang terjadi, adalah yang terbaik untuk semuanya. Aamiin YRA...

Diketik saat hujan besar, saat masih terperangkap di IGD, dengan segala memori tadi pagi..