Tbh, ini udah kejadian ke sekian kali. Dari seumur-umur gue koas, iship, lanjut jadi dokter praktik. Harusnya mah, kan usah biasa ya. Pattern nya pun mirip-mirip. Tapi kenapa? Kok rasa yang sama selalu berulang. Rasa yang sama selalu membekas. Dan bahkan rasa-rasa sama yang baru muncul itu kembali menyeret datang rasa-rasa yang dulu sudah saya rasakan. Why.....?
And guess what the best part is. Complicated. Untuk ke sekian kali, saya dapat pasien yang complicated. Rumit. Bahkan sebenarnya, pasien ini bukan murni pasien saya. Saya tidak tangani dari awal. Tapi selalu sama. Not always, though. Sering. Sama seringnya. Sama rumitnya. Rumit, lalu memburuk. Rasanya sudah sekuat tenaga berusaha, tapi at the end, saya masih merasa ada yang kurang.
I know this isn’t professional. I’m trying to be, tapi susah. Di saat saya berusaha kembali mengingat-ingat terapi apa saja yang sudah diberikan, lalu menarik nafas lega, karena setidaknya hal tersebut sudah sesuai dan sudah atas persetujuan supervisor, di saat yang sama (sepersekian detik setelahnya), entahlah nafas kembali berat. Bayangan wajah pasien tadi, yang menyahut saat saya panggil, yang masih berkenan membuka matanya saat saya memeriksa GCS, tangan beliau yang di ambulans entahlah seperti menjabat tangan saya, ucapan terima kasih dari keluarga pasien yang saya terima –(yang rasanya berlebihan untuk saya terima saat itu), sulit sekali ya, saya lupakan. Inginnya saya tinggalkan semua, selepas saya selesai jaga pagi ini dan kembali ke rumah. Tapi ternyata, sulit juga untuk saya lepaskan.
Menjadi dokter memang tidak boleh menjanjikan kesembuhan. Kesembuhan hanyak milik Allah S.W.T., saya percaya itu. Saya hanya perantara, yang bisa berusaha semaksimal mungkin. Tapi jujur, saya sedih sekali. Di saat saya sempat merasa optimis karena menurut saya terdapat perbaikan, dalam sekejap mata, terjadi perburukan. Memang, semua yang terjadi adalah atas kehendak Allah S.W.T. Saya hanya bisa berdoa, semoga yang terjadi, adalah yang terbaik untuk semuanya. Aamiin YRA...
Diketik saat hujan besar, saat masih terperangkap di IGD, dengan segala memori tadi pagi..
No comments:
Post a Comment