Wednesday, August 20, 2025

Just My Two Cents and Ascariasis

First of all, disclaimer dulu, yang akan gue tulis di sini mostly adalah opini gue sebagai seorang tenaga medis dan kesehatan, yang juga bekerja di rumah sakit, atau fasilitas rujukan tingkat lanjut menurut istilah dari pemerintah. Dan ya, saya masih bekerja di Indonesia, hampir 10 tahun belakangan ini. Yang kedua, jujur perasaan gue campur aduk mengetahui ada kasus ini. Sedih, iya. Marah, iya. Heran, juga iya. Turut mendoakan, iya. Gue termasuk golongan yang percaya, after life itu ada. Gue yakin, adik kecil saat ini sudah dalam perjalanannya menuju after life, dalam kondisi sudah tidak sakit. Aamiin.

Apa masih bertanya-tanya, kira-kira gue bahas apa atau siapa? Iya, gue menyoal adik kecil yang viral karena sakit parah, yang juga ditemukan infeksi parasit cacing di tubuhnya. Banyak cacing, yang dalam istilah medis disebut askariasis. Innalillahi wainnailaihi rojiun, turut berduka cita nggih, Dik. Sangat sedih rasanya mengetahui, ada kasus seperti ini. Terinfeksi banyak cacing tentu bukan perkara tiba-tiba. Ada jeda waktu sampai infeksi sudah parah. Kenapa gue beropini sudah parah? Karena sudah ada migrasi ke organ, dan juga ada kondisi penurunan kesadaran. Iya, cacingnya keluar dari hidung, juga dari bagian lain. Keluar dari hidung, artinya cacing yang awalnya berhabitat di usus pindah ke sistem pernafasan. Gue pun miris, mengetahui bahwa adik ini adalah anak dari ODGJ. It takes a village to raise a child, but in her case? Orangtua dia bahkan juga memerlukan perhatian khusus.

Gue sedih, iya. Tapi jujur saja, sedikit juga agak emosi, setelah mengamati sebuah artikel online yang lewat di beranda sosial. Komentar para netizen, entah mengapa, seperti biasa, rumah sakit yang menanganinya yang jadi paling salah. Dan setelah gue teliti lagi, akhirnya ketemu kalimat-kalimat populis yang rasanya sering ditemui dilempar ke publik, "Namun harapan sembuh terhambat karena persoalan administrasi," Maka, akan jadi wajar, respons para warga adalah, "Ya ampun, udah urusan nyawa kok masih dipermasalahkan administrasi," Dan ditujukan ke siapa? Yak, pihak RS yang menangani. Padahal, kalau diperhatikan lebih teliti, si Adik dibawa ke RS dalam kondisi penurunan kesadaran dan tensi drop. Untuk dewasa saja kondisi tersebut artinya bahaya, dekat nyawa, apalagi untuk anak usia 4 tahun dengan riwayat tumbuh kembangnya di bawah kurva. Kondisi gizi kurang, artinya kemungkinan besar sistem imun tidak baik. Sistem imun tidak baik, tubuh rentan terserang infeksi, yang bisa komplikasi menjadi berat. Bisa saja terdapat sepsis, syok, atau perforasi organ yang menyebabkan kondisi si Adik sangat buruk. Dalam kondisi tersebut, si Adik dibawa ke RS, walau tanpa memiliki dokumen kependudukan dan tidak punya jaminan sosial. Namun, apa iya karena hal tersebut lalu si Adik didiamkan saja? Bukankah sudah dilakukan penanganan di IGD yang dilanjutkan perawatan intensif di PICU (Unit Rawat Intensif Anak)? Di media disampaikan bahwa batas pengurusan status pembiayaan pasien adalah 3 hari, dan jujur dari pengalaman selama ini berkutat dengan BPJS Kesehatan di RS, memang begitu peraturan untuk dapat menggunakan BPJS Kesehatan dalam suatu layanan rawat inap di RS. Harus bisa diaktifkan dulu dalam kurun waktu maksimal 3 hari setelah pasien dapat perawatan, baru bisa dianggap penjaminannya menggunakan BPJS Kesehatan. Ini terlepas dari kekhususan-kekhususan yang ada di masing-masing daerah ya. Maksudnya gimana? Maksudnya, ada beberapa daerah di Indonesia yang sudah menerapkan 100% Universal Health Coverage (UHC), di mana jika ada warga daerah tersebut yang membutuhkan bantuan penjaminan kesehatan namun belum terdaftar / aktif BPJS Kesehatannya, pemerintah daerah akan hadir dan membantu, mengupayakan aktivasi tersebut dengan menjadikan pasien menjadi peserta BPJS Kesehatan dengan jenis Penerima Bantuan Iuran bersumber APBD (PBI APBD). Jujur, hal ini menjadi salah satu pengalaman gue di Kota Malang, Jawa Timur. Walau memang komunikasi dan koordinasi yang dilakukan ekstra, karena harus lintas dinas, Alhamdulillah terbayarkan dengan akhirnya pasien saya saat itu, bisa dijaminkan ke BPJS Kesehatan.

Akan tetapi, pada kasus Adik ini, yang juga membuat saya tergelitik adalah, apakah pihak RS lantas menghentikan perawatan yang diberikan karena administrasi tersebut? Opini sotoy gue, keyakinan gue, enggak. Bukan begitu kasusnya, sepertinya. Apalagi RS tsb RSUD, mereka ada untuk provide. Even RS swasta pun standar etiknya tidak begitu. Perawatan pasti lanjut, hanya saja urusan pembiayaan akan menjadi di luar BPJS Kesehatan. Kenapa? Karena lewat 3 hari, Surat Eligibilitas Pasien (SEP) yang merupakan syarat untuk mendapatkan layanan BPJS Kesehatan, tidak akan bisa dicetak sesuai dengan tanggal perawatan yang diterima. Sementara BPJS Kesehatan di sini, bagi banyak RS dan pasien adalah sumber harapan karena dapat menjadi payor untuk banyak masyarakat yang membutuhkan. Dan tahukah Anda, bahwa nakes-nakes itu banyakan juga gemes dan sering dilema kalau sudah ada kasus terkait biaya begini. Kaya di RS tempat saya kerja, belum ada anggaran khusus untuk menjamin pembiayaan pasien-pasien yang tidak mampu dan tidak memiliki jaminan sosial, karena apa? Uangnya terbatas. Sumber daya terbatas. Untuk jasa manusia nya, mungkin bisa beberapa nakes mengikhlaskan (jujur ada kok yang begini, cuma gak koar-koar aja). Tapi untuk sarana berupa obat, bahan habis pakai, makanan, minuman? Butuh beli. Untuk 1 pasien saja dapat begitu besar sumber daya yang diperlukan.

Jujur, agak menyayangkan akhirnya. Kenapa harus ada redaksi tersebut, hingga akhirnya banyak warga yang malah menyalahkan pihak yang sudah memberi penanganan. Kontrak dengan layanan kesehatan itu, in my opinion, never, gak akan pernah tentang hasil berupa kesembuhan. Gue pribadi sebagai dokter, selalu diwanti-wanti. Bukan kesembuhan yang kami berikan, tapi upaya maksimal yang bisa dilakukan agar penyakit dapat ditangani. It is always "art and medicine" to me. Kasus ini menurut gue pun masalahnya sistemik, gak cuma satu dua pihak saja. Di banyak titik, di banyak rentang waktu. Pun masalah administrasi, baiknya dapat menjadi bahan evaluasi oleh pemerintah setempat. Ternyata butuh > 3 hari untuk aktivasi BPJS Kesehatan si Adik? Dilempar dari satu instansi ke instansi lain? Ayok, yang berwenang, rembuk bareng evaluasi. Bagian alur yang mana yang bisa diperbaiki? 

Lalu, menurut gue yang nggak kalah penting, agar tidak lagi berulang kasus yang sama, bagaimana cara mencegahnya? Bagaimana agar tidak ada lagi warga yang parah dulu baru dibawa periksa? Bagaimana agar tidak ada lagi warga yang tidak memiliki identitas? Bahkan orangtua si Adik juga tidak punya KK. Mengapa bisa dibiarkan? Apa mereka tidak dianggap warga karena kondisi khususnya? Bagaimana agar ada sistem jaminan sosial yang baik yang dapat menjangkau keluarga-keluarga lain yang serupa dengan si Adik? Apa yang bisa kita lakukan, baik sebagai lingkungan terdekat sampai lingkungan yang terjauh? Kalau menurut gue, yang gerak harus banyak. Nggak bisa kalau sudah sistem, lalu yang di"glendoti" cuma satu-dua saja. Harus bareng. Warganya dibekali ilmu pengetahuan dan pemahaman lebih, lalu yang menjabat membuat sistem yang lebih manusiawi dan efisien.

Kasus ini menjadi atensi, sangat wajar. Kita geram, sangat wajar. Tapi tolong, tidak perlu memperkeruh dengan saling lempar kebencian. Apalagi kebencian nya salah dasar. Gue rasa atensi publik ini baiknya dapat lebih berperan sebagai "control" agar pihak-pihak yang terkait juga bisa serius berbenah. Tetap berisik, tapi jangan sampai salah marah-marah ya. Sometimes yang kita jadikan lawan itu, sebenarnya punya tujuan dan visi yang sama. Hm, kayanya segini dulu ya "koin-koin" yang gue utarakan. Hope (in some ways) it helps. Doa tulus gue, agar kejadian seperti ini, tidak ada lagi. Aamiin.  

Tuesday, April 29, 2025

Menjadi Ibu

Sendiri, dirimu menguatkan diri
Tanpa tahu pasti
Apa yang akan menyambut di depan nanti

Gamang,
tapi dirimu terus meyakinkan diri
"Semua adalah yang aku ingin,"
begitu bisikmu lirih, untuk dirimu sendiri
Entah berusaha menipu,
atau memang berusaha menjadi kuat

Suara tangis yang melengking
Membuatmu tertegun cukup lama
"Apa benar aku akan bisa?"
Pertanyaan penuh keraguan mendadak muncul di sudut hati
"Bagaimana jika...?"
Semua skenario buruk menampakkan diri, kamu terus bertanya

Takut,
mulai kamu rasa
Namun bagaimana, mundur tak kuasa
Tangisan itu makin nyata
Kamu harus menghadapinya

Lalu kamu pun menghadapinya
Kedua tangan dan kaki mungil, sangat kecil
Pipi kemerahan dan mata yang tertutup
Hangat
Dan kehangatan itu memancar,
membuat dirimu juga menjadi hangat
Menghilangkan segala ragu dan takutmu,
menggantikannya menjadi perasaan bahagia
dan haru

Perjuanganmu nyata, walau masih harus panjang berjalannya
Kamu banggu, dan itu tidak apa
Pertarunganmu sebagian sudah selesai
Rasa nyeri yang tersisa samar,
air mata yang membekas menggenang,
semua itu tidak apa

Karena akhirnya kamu sampai di sini  
Dengan penuh sadar dan bahagia,
juga pantas dirayakan,
kamu (sudah) menjadi ibu 

Tuesday, April 22, 2025

Cerita Ngalor Ngidul Ke Sekian, Kekuatan Ucapan

Ha~lo! Masih dalam edisi #maternityleave #babynumber3 nih, dan akhirnya ada waktu buat buka laptop lagi. Haha. Boleh lah ya, sekian menit gue cerita-cerita di sini, mumpung Alfa dalam kondisi kondusif dan mata ini nggak lagi seberat biasanya yhaa (bayangin mata abis begadang lebih dari 2 malam deh).

Oh ya, pada percaya sama istilah "ucapan adalah doa" nggak? Atau istilah "mulutmu harimau mu" atau "senjata paling tajam adalah lidah"? Ketiga istilah tadi kan kesannya kaya beda jauh ya maknanya, tapi menurut gue prinsip dasarnya sama sih. Sama-sama menekankan bahwa kata-kata / ucapan adalah se-powerful itu. Gue pribadi jujur percaya sih. Dan hm, alasan gue mulai percaya itu pun, masih gue inget sampai sekarang. Jujur aja karena pernah ngalamin sih, haha, jadi event pertama gue ngalamin hal itu tuh, masih gue inget banget.

Dulu banget, waktu gue masih SMA, gue ikut suatu ekskul dengan segala tradisi dan event nya. Hehe. Ada satu masa di saat gue udah senior, giliran junior gue yang nyiapin event ulang tahun sekaligus tanggung jawab nyiapkan kue tart buat dimakan bareng-bareng. Standar kue tart waktu itu di ekskul gue adalah birthday cake ber-layer dengan krim dan hiasannya macam kue-kue ulang tahun yang dijual di Harvest. Tapi waktu itu, gue inget sempat ada kaya delay waktu acara berlangsung dan gue ketawa-ketawa bercanda sama temen gue, "Wah jangan-jangan ini cake nya yang dibeli salah, bukan birthday cake yang biasa tapi kue tradisional kaya lapis gitu lagi," yang entah kenapa saat itu gue anggep lucu haha. Dan yha, betulan kejadian dong apa yang gue bercandain itu. Persisss kaya apa yang gue omongin ke temen gue. Hahahaha. Dan jujur aja, gue ini (apalagi masa-masa masih bocil remaja labil) adalah tipe orang yang lihat segala sesuatu nya itu hitam / putih, dan banyak orang yang bilang kalau gue "suka pakai kacamata kuda" haha. Yah artinya gue tuh semacam selurus itu sampai polos / naif dah. Jadi udah bisa ditebak dong, kejadian kue itu jadi semacam titik balik buat gue pribadi, buat lebih hati-hati lagi saat ngomong, walaupun lagi bercanda. Wkwkwk.

Nah, akhir-akhir ini jujur ada hal-hal yang menggelitik gue buat nulis ini sih, berawal dari share-an status medsos seseorang yang gue lihat. Ada beberapa video pendek yang dijadikan status gitu deh, dan intinya membandingkan negara sendiri dengan negara lain, dimana kesannya negara sendiri tuh jelek banget gitu loh. Bukan gue denial dengan fakta sih ya. Karena emang faktanya, banyak siswa dan guru yang bikin konten joged-joged di tiktok. Tapi kan bukan berarti semua-mua nya begitu nggak sih? Gue agak jengah aja, kalau yang dilakukan itu cherry picking data dan terus dipakai buat menjelek-jelekkan. Nggak ada fungsi nya juga ngejelekin gitu, dan jadi semacam generalisasi juga nggak sih? Bayangin lah gimana perasaan siswa dan guru yang tidak melakukan itu dan belajar dengan serius di mostly of their time? Mempunyai visi misi yang mulia yang memang ingin menjadi orang berpendidikan? Mungkin kaya siswa yang jujur dituduh nyontek cuma perkara ada beberapa teman lain yang ketahuan nyontek? Kan bisa jadi sakit hati ya (personal experience, pernah merasakan galau nya digeneralisasi wkwk). Lagian emang nggak takut ya dengan kekuatan ucapan? Bolak-balik share, meyakini bahwa negara nya sejelek itu, nggak takut kah akan benar-benar "ter-amin-i" menjadi buruk? Malah nambah serem kan ya. Kayaknya mending diganti dengan ucapan baik dan afirmasi positif, doa agar negara kita bisa berbenah dan menjadi lebih baik lagi kan.

Like I said before, ucapan tuh kuat banget, gue percaya. Kalau tujuannya ningkatin awareness, rasanya nggak perlu sampai bolak-balik share nya dengan caption yang downgrading nggak sih? Entah lah mungkin cara mengekspresikan perasaan tiap orang beda-beda ya, mungkin karena kecewanya sudah menumpuk juga. Hanya saja, imho, kurang bijak sih jadinya. Rasanya better kalau fokus ke solusi nya instead of masalah nya, tapi tetap tanpa kita melupakan masalahnya itu apa ya. Yah, disampaikan dengan santun lah kalau ada kritik, kan masih manusia ya judulnya. Manusia kalau nggak santun tuh, entah lah, menurut gue kaya kureng manusiawi jadinya. Selain ucapan adalah doa, gue juga termasuk yang percaya kalau segala sesuatu yang berlebihan itu nggak baik, ibarat gue kata, semua-mua hal itu ada dosisnya. Terlalu berlebihan membenci sesuatu tidak baik, terlalu berlebihan menyukai sesuatu juga tidak baik. Jadi nggak perlu juga lah mengkritik secara berlebihan, sekecewa apapun dirimu (again, ini personal opinion gue ya).

Well sementara itu dulu deh ya, cerita ngalor ngidul gue hari ini. Kalau bermanfaat memberi kebaikan, Alhamdulillah, kalau dirasa tidak, monggo di skip saja wkwkwk. Intinya emang gue cuma pengen cerita ngeluarin uneg-uneg aja sih ehehe. See ya at next post (semoga ada) yes! ;D

Monday, April 14, 2025

Pertengahan Syawal 1446 Hijriah, 14 April

Sampai juga di hari ke 14 bulan April, pertanda umur bertambah 1 tahun lagi. Alhamdulillaah, Allah SWT masih kasih aku rezeki. Di usia ke 30-an ini (kaburin dikit usia asli boleh lah ya wkwk), jujur aja, isi kepala masih sama ramai nya kaya di usia-usia sebelumnya hahaha. Cuma, berasa ada kekhawatiran lebih gitu sih, kaya ada rasa something yang dorong-dorong dari belakang. Mulai makin berasa tuntutannya, yang entah tuntutan dari mana ya, untuk bisa melakukan ini dan itu, untuk ambil sikap dan keputusan yang sangat mungkin efeknya besar di kemudian hari. Kaya berasa (harus) diburu-buru, keburu momentumnya hilang. Tahu kok, iya, aku tahu kok arahnya kemana. Tinggal aku nya aja, mau ambil arah yang kaya gimana. Tinggal.. hmm.. keberanianku aja. Gimana ya, haha. Keluar dari zona nyaman / tidak nyaman ternyata emang susah ya, baru relate deh kenapa banyak motivator-motivator ngejadiin hal itu bahasan haha. Oh kenapa aku tulisnya zona nyaman / tidak nyaman? Ya, karena bisa jadi emang zona nya gak nyaman, cuma ditahan-tahan aja karena sudah terbiasa dan rutin, jadi sudah tahu cara menghadapinya, sudah bisa berkompromi gitu ceunah.

Yah, walau kadang dorongan-dorongan dari luar bikin nggak nyaman, tapi aku sadar kok, itu semua karena pada peduli. Niatnya baik, dan aku bersyukur juga. Semacam ada yang jadi pengingat kan, Alhamdulillah. Cuma ya itu tadi, gimana caranya deh biar gak dikit-dikit takut? Kerasa sih, makin tua tuh makin apa-apa serba dipikir dan ditakutin. Dulu umur 20-an kayaknya, walau ada takut-takut di awal, tetep ditrabas gitu. Haha. Any suggestion?

Well, apapun itu, setidaknya satu hal yang aku sepakati, aku bersyukur. Syukur Alhamdulillah atas semua nikmat dan rezeki yang Allah SWT berikan. Alhamdulillah Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini sangat membahagiakan, keluarga kecilku bertambah besar dengan kehadiran baby number 3. Kakak-kakak si baby juga happy dan welcome banget sama si anggota baru. Selamat datang yaa, my little baby Al kesayangan. Sehat sehat dan bahagia lah selalu ya Nak.. Paksu juga Alhamdulillah, tetaplah paksu kesayanganku dengan segala lebih dan kurangnya dia. Lebaran kemarin pun Alhamdulillah masih diberi kesempatan berkumpul dengan keluarga kesayangan, baik dari keluarga mama papa ku maupun keluarga mertua. Allah Maha Baik. Dan di kesempatan birth-day ku hari ini, aku berdoa, semoga saja, galau-menggalau ku tentang masa depan bisa mereda. Ketakutan tak berdasarku bisa hilang, dan aku dapat segera memberanikan diri untuk bergerak dan mengambil keputusan yang terbaik. Untuk kebaikan ku, juga untuk orang-orang yang kusayangi. Semoga juga ke depan, semua akan berjalan dengan jauh jauh lebih baik lagi. Aamiin YRA.

PS: happy birthday to me :) bahagia itu kita buat sendiri, tenang aja. kado tinggal beli, kue tinggal pesan. ndak perlu nunggu dirayakan, merayakan juga gak masalah. semangat terus diriku! ^^