Tuesday, April 29, 2025

Menjadi Ibu

Sendiri, dirimu menguatkan diri
Tanpa tahu pasti
Apa yang akan menyambut di depan nanti

Gamang,
tapi dirimu terus meyakinkan diri
"Semua adalah yang aku ingin,"
begitu bisikmu lirih, untuk dirimu sendiri
Entah berusaha menipu,
atau memang berusaha menjadi kuat

Suara tangis yang melengking
Membuatmu tertegun cukup lama
"Apa benar aku akan bisa?"
Pertanyaan penuh keraguan mendadak muncul di sudut hati
"Bagaimana jika...?"
Semua skenario buruk menampakkan diri, kamu terus bertanya

Takut,
mulai kamu rasa
Namun bagaimana, mundur tak kuasa
Tangisan itu makin nyata
Kamu harus menghadapinya

Lalu kamu pun menghadapinya
Kedua tangan dan kaki mungil, sangat kecil
Pipi kemerahan dan mata yang tertutup
Hangat
Dan kehangatan itu memancar,
membuat dirimu juga menjadi hangat
Menghilangkan segala ragu dan takutmu,
menggantikannya menjadi perasaan bahagia
dan haru

Perjuanganmu nyata, walau masih harus panjang berjalannya
Kamu banggu, dan itu tidak apa
Pertarunganmu sebagian sudah selesai
Rasa nyeri yang tersisa samar,
air mata yang membekas menggenang,
semua itu tidak apa

Karena akhirnya kamu sampai di sini  
Dengan penuh sadar dan bahagia,
juga pantas dirayakan,
kamu (sudah) menjadi ibu 

Tuesday, April 22, 2025

Cerita Ngalor Ngidul Ke Sekian, Kekuatan Ucapan

Ha~lo! Masih dalam edisi #maternityleave #babynumber3 nih, dan akhirnya ada waktu buat buka laptop lagi. Haha. Boleh lah ya, sekian menit gue cerita-cerita di sini, mumpung Alfa dalam kondisi kondusif dan mata ini nggak lagi seberat biasanya yhaa (bayangin mata abis begadang lebih dari 2 malam deh).

Oh ya, pada percaya sama istilah "ucapan adalah doa" nggak? Atau istilah "mulutmu harimau mu" atau "senjata paling tajam adalah lidah"? Ketiga istilah tadi kan kesannya kaya beda jauh ya maknanya, tapi menurut gue prinsip dasarnya sama sih. Sama-sama menekankan bahwa kata-kata / ucapan adalah se-powerful itu. Gue pribadi jujur percaya sih. Dan hm, alasan gue mulai percaya itu pun, masih gue inget sampai sekarang. Jujur aja karena pernah ngalamin sih, haha, jadi event pertama gue ngalamin hal itu tuh, masih gue inget banget.

Dulu banget, waktu gue masih SMA, gue ikut suatu ekskul dengan segala tradisi dan event nya. Hehe. Ada satu masa di saat gue udah senior, giliran junior gue yang nyiapin event ulang tahun sekaligus tanggung jawab nyiapkan kue tart buat dimakan bareng-bareng. Standar kue tart waktu itu di ekskul gue adalah birthday cake ber-layer dengan krim dan hiasannya macam kue-kue ulang tahun yang dijual di Harvest. Tapi waktu itu, gue inget sempat ada kaya delay waktu acara berlangsung dan gue ketawa-ketawa bercanda sama temen gue, "Wah jangan-jangan ini cake nya yang dibeli salah, bukan birthday cake yang biasa tapi kue tradisional kaya lapis gitu lagi," yang entah kenapa saat itu gue anggep lucu haha. Dan yha, betulan kejadian dong apa yang gue bercandain itu. Persisss kaya apa yang gue omongin ke temen gue. Hahahaha. Dan jujur aja, gue ini (apalagi masa-masa masih bocil remaja labil) adalah tipe orang yang lihat segala sesuatu nya itu hitam / putih, dan banyak orang yang bilang kalau gue "suka pakai kacamata kuda" haha. Yah artinya gue tuh semacam selurus itu sampai polos / naif dah. Jadi udah bisa ditebak dong, kejadian kue itu jadi semacam titik balik buat gue pribadi, buat lebih hati-hati lagi saat ngomong, walaupun lagi bercanda. Wkwkwk.

Nah, akhir-akhir ini jujur ada hal-hal yang menggelitik gue buat nulis ini sih, berawal dari share-an status medsos seseorang yang gue lihat. Ada beberapa video pendek yang dijadikan status gitu deh, dan intinya membandingkan negara sendiri dengan negara lain, dimana kesannya negara sendiri tuh jelek banget gitu loh. Bukan gue denial dengan fakta sih ya. Karena emang faktanya, banyak siswa dan guru yang bikin konten joged-joged di tiktok. Tapi kan bukan berarti semua-mua nya begitu nggak sih? Gue agak jengah aja, kalau yang dilakukan itu cherry picking data dan terus dipakai buat menjelek-jelekkan. Nggak ada fungsi nya juga ngejelekin gitu, dan jadi semacam generalisasi juga nggak sih? Bayangin lah gimana perasaan siswa dan guru yang tidak melakukan itu dan belajar dengan serius di mostly of their time? Mempunyai visi misi yang mulia yang memang ingin menjadi orang berpendidikan? Mungkin kaya siswa yang jujur dituduh nyontek cuma perkara ada beberapa teman lain yang ketahuan nyontek? Kan bisa jadi sakit hati ya (personal experience, pernah merasakan galau nya digeneralisasi wkwk). Lagian emang nggak takut ya dengan kekuatan ucapan? Bolak-balik share, meyakini bahwa negara nya sejelek itu, nggak takut kah akan benar-benar "ter-amin-i" menjadi buruk? Malah nambah serem kan ya. Kayaknya mending diganti dengan ucapan baik dan afirmasi positif, doa agar negara kita bisa berbenah dan menjadi lebih baik lagi kan.

Like I said before, ucapan tuh kuat banget, gue percaya. Kalau tujuannya ningkatin awareness, rasanya nggak perlu sampai bolak-balik share nya dengan caption yang downgrading nggak sih? Entah lah mungkin cara mengekspresikan perasaan tiap orang beda-beda ya, mungkin karena kecewanya sudah menumpuk juga. Hanya saja, imho, kurang bijak sih jadinya. Rasanya better kalau fokus ke solusi nya instead of masalah nya, tapi tetap tanpa kita melupakan masalahnya itu apa ya. Yah, disampaikan dengan santun lah kalau ada kritik, kan masih manusia ya judulnya. Manusia kalau nggak santun tuh, entah lah, menurut gue kaya kureng manusiawi jadinya. Selain ucapan adalah doa, gue juga termasuk yang percaya kalau segala sesuatu yang berlebihan itu nggak baik, ibarat gue kata, semua-mua hal itu ada dosisnya. Terlalu berlebihan membenci sesuatu tidak baik, terlalu berlebihan menyukai sesuatu juga tidak baik. Jadi nggak perlu juga lah mengkritik secara berlebihan, sekecewa apapun dirimu (again, ini personal opinion gue ya).

Well sementara itu dulu deh ya, cerita ngalor ngidul gue hari ini. Kalau bermanfaat memberi kebaikan, Alhamdulillah, kalau dirasa tidak, monggo di skip saja wkwkwk. Intinya emang gue cuma pengen cerita ngeluarin uneg-uneg aja sih ehehe. See ya at next post (semoga ada) yes! ;D

Monday, April 14, 2025

Pertengahan Syawal 1446 Hijriah, 14 April

Sampai juga di hari ke 14 bulan April, pertanda umur bertambah 1 tahun lagi. Alhamdulillaah, Allah SWT masih kasih aku rezeki. Di usia ke 30-an ini (kaburin dikit usia asli boleh lah ya wkwk), jujur aja, isi kepala masih sama ramai nya kaya di usia-usia sebelumnya hahaha. Cuma, berasa ada kekhawatiran lebih gitu sih, kaya ada rasa something yang dorong-dorong dari belakang. Mulai makin berasa tuntutannya, yang entah tuntutan dari mana ya, untuk bisa melakukan ini dan itu, untuk ambil sikap dan keputusan yang sangat mungkin efeknya besar di kemudian hari. Kaya berasa (harus) diburu-buru, keburu momentumnya hilang. Tahu kok, iya, aku tahu kok arahnya kemana. Tinggal aku nya aja, mau ambil arah yang kaya gimana. Tinggal.. hmm.. keberanianku aja. Gimana ya, haha. Keluar dari zona nyaman / tidak nyaman ternyata emang susah ya, baru relate deh kenapa banyak motivator-motivator ngejadiin hal itu bahasan haha. Oh kenapa aku tulisnya zona nyaman / tidak nyaman? Ya, karena bisa jadi emang zona nya gak nyaman, cuma ditahan-tahan aja karena sudah terbiasa dan rutin, jadi sudah tahu cara menghadapinya, sudah bisa berkompromi gitu ceunah.

Yah, walau kadang dorongan-dorongan dari luar bikin nggak nyaman, tapi aku sadar kok, itu semua karena pada peduli. Niatnya baik, dan aku bersyukur juga. Semacam ada yang jadi pengingat kan, Alhamdulillah. Cuma ya itu tadi, gimana caranya deh biar gak dikit-dikit takut? Kerasa sih, makin tua tuh makin apa-apa serba dipikir dan ditakutin. Dulu umur 20-an kayaknya, walau ada takut-takut di awal, tetep ditrabas gitu. Haha. Any suggestion?

Well, apapun itu, setidaknya satu hal yang aku sepakati, aku bersyukur. Syukur Alhamdulillah atas semua nikmat dan rezeki yang Allah SWT berikan. Alhamdulillah Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini sangat membahagiakan, keluarga kecilku bertambah besar dengan kehadiran baby number 3. Kakak-kakak si baby juga happy dan welcome banget sama si anggota baru. Selamat datang yaa, my little baby Al kesayangan. Sehat sehat dan bahagia lah selalu ya Nak.. Paksu juga Alhamdulillah, tetaplah paksu kesayanganku dengan segala lebih dan kurangnya dia. Lebaran kemarin pun Alhamdulillah masih diberi kesempatan berkumpul dengan keluarga kesayangan, baik dari keluarga mama papa ku maupun keluarga mertua. Allah Maha Baik. Dan di kesempatan birth-day ku hari ini, aku berdoa, semoga saja, galau-menggalau ku tentang masa depan bisa mereda. Ketakutan tak berdasarku bisa hilang, dan aku dapat segera memberanikan diri untuk bergerak dan mengambil keputusan yang terbaik. Untuk kebaikan ku, juga untuk orang-orang yang kusayangi. Semoga juga ke depan, semua akan berjalan dengan jauh jauh lebih baik lagi. Aamiin YRA.

PS: happy birthday to me :) bahagia itu kita buat sendiri, tenang aja. kado tinggal beli, kue tinggal pesan. ndak perlu nunggu dirayakan, merayakan juga gak masalah. semangat terus diriku! ^^