Selama ini sudah 11 semester saya lalui, dengan besaran SPP 4 juta tiap semesternya, tapi itu pun belum selesai studi saya.. Bukan berarti saya molor atau apa, itu memang normalnya gelombang pertama di program studi yang saya jalani ini. Tapi semester ini adalah yang terakhir, harus terakhir! Karena toh memang masa studi saya, sudah sampai ke tahap akhir. Tinggal 3 bulan lagi, studi profesi saya selesai, yang harus dilanjutkan dengan suatu ujian akhir, yang terdiri dari ujian teori (CBT) dan ujian praktik (OSCE), yang ternyata, untuk tahun ini perlu membayar 4 juta untuk mengikutinya. Dengan tambahan iuran sekian untuk bimbingan dan try out, namun yah, siapa yang bisa menjamin bahwa dengan itu semua ujian itu semua bisa terlewati? Ah, bukan, bukan saya bermaksud pesimis. Saya hanya berpikir menggunakan logika saya, saya berhitung. Walau ya memang, dengan adanya bimbingan dan try out yang sekarang berbayar (karena tahun lalu tidak dikenakan biaya), tentu besar harapan saya, akan ada dampak positif yang besar untuk ujian kami kelak. Kuliah saya ini, mahal amat amat mahal sekali rupanya. Dari masuk, saat di dalam, bahkan saat mau keluar pun, yang namanya uang, selalu saja menjadi mm persoalan. Memang itu semua konsekuensi, dari apa yang saya pilih. Hanya saja, sudah selama ini saya berdamai, bersabar, diam dan menunduk saja dengan harus ini harus itu, tapi perlukah lagi saya dibayang-bayangi dengan kebijakan-kebijakan yang menurut saya tidak sesuai logika? Diancam lagi, perlukah? Jika tidak lulus, tidak boleh yudisium, masih wajib membayar SPP. Diancam lagi, masih perlukah? Saya muak. Bosan. Hidup penuh dengan ancaman ini, ancaman itu. Kekhawatiran ini, kekhawatiran itu.. Walau memang kedua orangtua saya hanya bilang, ya sudah. Tapi tetap saja, saya tahu kondisi keuangan mereka berdua.. Dan haruskah sekarang? Kenapa harus saya yang terkena kebijakan lucu ini? Kenapa hanya selang 1 tahun, semuanya bisa sangat berbeda? Kenapa harus di saat adik-adik saya juga perlu uang yang banyak? Untuk melanjutkan studi ke SMA dan universitas? Kenapa? Kenapa??
Tapi lihat! Akan saya tunjukan, saya akan lulus dalam 1 kali ujian saja. Gelombang pertama, Februari 2014. Tidak akan saya terjebak dalam kebijakan aneh itu. Tidak akan saya memberi keuntungan untuk sebagian pihak tidak bertanggung jawab. I'll do my best for sure! I'll do it very well! Saya akan berusaha semampu saya, dan tentunya juga berdoa dan berharap. Bismillah.. Bisa.. Dan jika nanti saya jadi orang besar, saya akan berusaha untuk punya kekuatan dan kekuasaan. Akan saya pakai nanti, untuk menghilangkan kebijakan-kebijakan bodoh yang menyengsarakan entah banyak atau sedikit orang. Tidak akan saya lupa, tidak semua anak kedokteran itu dari keluarga berada, yang bisa seenaknya dijadikan objekan. Sekian..
Tuesday, September 17, 2013
Belajar Berbagi di Bulan Suci :)
Alhamdulillah, kalau menurut kalender saya, hari ini adalah hari ke-14 bulan Ramadhan, dan tidak ada satu hari pun yang tidak dipenuhi berkah bagi saya. Sekali lagi alhamdulillah.. :-) Dan tahun ini, adalah tahun kedua saya berpuasa dengan status dokter muda, atau yang lebih dikenal koas, di suatu rumah sakit umum daerah. Kenapa saya itung-itung? Karena Ramadhan nya koas itu istimewa. Haha.. Secara, koas itu, mau lagi bulan puasa atau enggak, ya tetep aja kesibukannya, ujiannya, jaga malamnya, jalan teruus.. Saya masih ingat, tahun pertama sebagai koas saat menjalankan ibadah puasa, saya sedang berada di bagian atau laboratorium bedah. Di mana jadwal jaga malamnya lumayan banyak juga, sekitar 8 kali dalam 1 bulan. Kalau sudah jaga malam, apalagi itu di UGD, berarti saya tidak bisa pulang. Berjaga di rumah sakit dari jam 3 sore, sampai jam 7 esok paginya, lalu dilanjutkan kembali kegiatan stase di rumah sakit seperti biasa sampai jam 3 sore kembali. Itu berarti otomatis saya harus berbuka dan sahur di rumah sakit pula. Itu juga curi-curi waktu, harus di saat tidak ada pasien. Kalau ada pasien, ya tetap, prioritas utama adalah menangani pasien dulu. Sempat saat itu, saya mendapat pasien dengan luka bakar di tangan karena terkena petasan. Nggak tanggung-tanggung, pasien datang sekitar tengah malam dan harus dijahit jari-jarinya yang terluka. Jari-jari, which means, banyak, dan nggak bisa cepet. Haha.. Jadilah saya lakukan tugas saya, sendirian, berhubung teman-teman lain pun sedang sibuk dengan pasien masing-masing. Sendirian, pasiennya juga kurang kooperatif, bagian yang harus saya jahit juga lumayan menantang waktu itu, yaitu di jari dan sela-sela jari. Hehehe.. Tapi, namanya tugas, mau ngantuk mau apapun, ya tetep lah harus saya kerjakan. Hehe.. Sampai tak terasa waktu sahur hampir habis. Haha.. Syukur, ppds nya waktu itu baik banget, mengingatkan saya untuk sahur dulu, dan akhirnya saya sempat untuk sahur walaupun ngebut dengan kecepatan ekstra. Hehe.. Bener-bener pengalaman yang nggak bisa saya lupain deh.. :)
Kalau tahun ini, alhamdulillah, saya sudah tidak sedang stase di lab mayor. Hehe.. Jadi bisa lebih menghabiskan waktu di kos-kos an, sama temen-temen, sama kakak-kakak, yang nggak kerasa, udah setahun lebih saya bertetangga dengan mereka. Kebetulan, saya menghabiskan waktu saya ber-stase di lab kulit dan radiologi, untuk tahun ini. Yang punya jadwal pulang tetap, yaitu jam 2 siang. Hehehe.. Dan jadwal jaganya pun jauuh lebih ringan jika dibandingkan dengan bedah dulu, yang ada jaga malamnya. Hehe..
Nah dan ternyata, di tahun ini, ada kejadian baru yang saya alami selama Ramadhan. Yang belakangan ini mulai menjadi kebiasaan. Hehe.. Buka dan sahur bareng satu kos. Kedengerannya sederhana ya? Tapi kalau buat saya, itu kebahagiaan tersendiri. Hehe.. Tantangan tersendiri juga.. Semacam tradisi baru, yang entahlah, saya sempat agak kikuk juga begitu awal-awal ikutan. Secara, selama ini saya terbiasa sendirian. Kalau lagi di kos, biasanya sahur makan sendiri di kamar, buka pun sendiri di kamar, dengan makanan yang sudah dibeli sebelumnya. Kalau nggak begitu, paling menghabiskan sahur dan buka sembari jaga di rumah sakit. Hehe.. Tapi sekarang, semacam ada perasaan sungkan kalau makan sendiri-sendiri begitu. Yah, memang dimana-mana itu lebih enak bareng-bareng ya daripada sendirian. Hehe..
Oh ya, nggak kaya sebelum-sebelumnya, tahun ini teman-teman kos saya pada masak bareng, baik buat buka maupun sahur. Bahan-bahan masaknya, terserah dari siapa aja. Masing-masing pada nyumbang yang ada. Nggak ada yang itung-itungan. Makannya pun bareng-bareng, bebas buat siapa aja asal masih penghuni kos-kosan. Nah, saya pernah tuh, di hari-hari awal puasa, saya ketiduran sampai mau Magrib. Bangun-bangun, teman-teman ternyata sudah ramai, dan mereka sudah hampir selesai masak untuk berbuka. Otomatis saya sungkan, kok nggak bantu-bantu dari awal. Mana nggak nyumbang bahan-bahan juga. Saya lalu bergegas, inisiatif untuk membeli makanan buka di luar. Eh, begitu pamit, malah kena omel sama anak-anak kos. Mereka ternyata malah mempersilakan saya untuk gabung saja, makan makanan hasil masakan anak-anak tadi. Jujur, awalnya saya nolak-nolak. Sungkan bangeet.. Tapi karena temen-temen saya itu makin kekeuh juga, ya akhirnya saya makan bareng mereka semua, makanan yang tadi mereka masak rame-rame, dengan perasaan nano-nano.. Sampai-sampai sesudahnya, saya cerita ke salah satu teman tentang apa yang saya rasakan. Tapi dia justru tertawa, dan berkata, "Itu wajar namanya. Teman itu ya seperti itu. Nanti, kalau kamu punya sesuatu, tinggal gantian aja bagi-bagi nya." Just as simple as that. Tapi bikin saya tertegun agak lama. Kalau dipikir-pikir, selama ini saya jarang sekali berbagi dengan teman seperti itu. Hampir lupa rasanya, hidup ramai-ramai dengan banyak teman, yang hampir sama rasanya seperti waktu tinggal di rumah. Kalau dipikir-pikir, sepertinya memang saya sudah terlalu lama, hidup sekadarnya, berbagi sekadarnya. Baru saat itu saya sadar, mereka itu teman-teman saya, dan saya teman-teman mereka. Bahkan lebih dari teman, teman baik. Mereka tulus berbagi dengan saya. Mereka mau membantu saya tampa pamrih. Sementara saya selama ini? Lebih sering mengurung diri di kamar, menyibukkan diri dengan tugas, atau bermain game, atau lebih memilih tidur, saya seperti lupa, ada mereka, teman-teman baik saya..
Alhamdulillah, mungkin itu salah satu berkah yang saya dapatkan di Bulan Suci Ramadhan tahun ini. Nggak cuma dalam konteks berbagi apa yang dipunya, hubungan kami sebagai saudara juga kian terasa. Diberi kesempatan untuk bersama-sama, berjamaah dalam menjalankan ibadah, sungguh suatu berkah, yang luar biasa indah..:-) Dan terimakasih untuk itu semua, Ya Allah.. Terimakasih telah membuka mata saya, terimakasih telah mengelilingi saya dengan orang-orang berhati malaikat itu.. Terimakasih..:-)
Kalau tahun ini, alhamdulillah, saya sudah tidak sedang stase di lab mayor. Hehe.. Jadi bisa lebih menghabiskan waktu di kos-kos an, sama temen-temen, sama kakak-kakak, yang nggak kerasa, udah setahun lebih saya bertetangga dengan mereka. Kebetulan, saya menghabiskan waktu saya ber-stase di lab kulit dan radiologi, untuk tahun ini. Yang punya jadwal pulang tetap, yaitu jam 2 siang. Hehehe.. Dan jadwal jaganya pun jauuh lebih ringan jika dibandingkan dengan bedah dulu, yang ada jaga malamnya. Hehe..
Nah dan ternyata, di tahun ini, ada kejadian baru yang saya alami selama Ramadhan. Yang belakangan ini mulai menjadi kebiasaan. Hehe.. Buka dan sahur bareng satu kos. Kedengerannya sederhana ya? Tapi kalau buat saya, itu kebahagiaan tersendiri. Hehe.. Tantangan tersendiri juga.. Semacam tradisi baru, yang entahlah, saya sempat agak kikuk juga begitu awal-awal ikutan. Secara, selama ini saya terbiasa sendirian. Kalau lagi di kos, biasanya sahur makan sendiri di kamar, buka pun sendiri di kamar, dengan makanan yang sudah dibeli sebelumnya. Kalau nggak begitu, paling menghabiskan sahur dan buka sembari jaga di rumah sakit. Hehe.. Tapi sekarang, semacam ada perasaan sungkan kalau makan sendiri-sendiri begitu. Yah, memang dimana-mana itu lebih enak bareng-bareng ya daripada sendirian. Hehe..
Oh ya, nggak kaya sebelum-sebelumnya, tahun ini teman-teman kos saya pada masak bareng, baik buat buka maupun sahur. Bahan-bahan masaknya, terserah dari siapa aja. Masing-masing pada nyumbang yang ada. Nggak ada yang itung-itungan. Makannya pun bareng-bareng, bebas buat siapa aja asal masih penghuni kos-kosan. Nah, saya pernah tuh, di hari-hari awal puasa, saya ketiduran sampai mau Magrib. Bangun-bangun, teman-teman ternyata sudah ramai, dan mereka sudah hampir selesai masak untuk berbuka. Otomatis saya sungkan, kok nggak bantu-bantu dari awal. Mana nggak nyumbang bahan-bahan juga. Saya lalu bergegas, inisiatif untuk membeli makanan buka di luar. Eh, begitu pamit, malah kena omel sama anak-anak kos. Mereka ternyata malah mempersilakan saya untuk gabung saja, makan makanan hasil masakan anak-anak tadi. Jujur, awalnya saya nolak-nolak. Sungkan bangeet.. Tapi karena temen-temen saya itu makin kekeuh juga, ya akhirnya saya makan bareng mereka semua, makanan yang tadi mereka masak rame-rame, dengan perasaan nano-nano.. Sampai-sampai sesudahnya, saya cerita ke salah satu teman tentang apa yang saya rasakan. Tapi dia justru tertawa, dan berkata, "Itu wajar namanya. Teman itu ya seperti itu. Nanti, kalau kamu punya sesuatu, tinggal gantian aja bagi-bagi nya." Just as simple as that. Tapi bikin saya tertegun agak lama. Kalau dipikir-pikir, selama ini saya jarang sekali berbagi dengan teman seperti itu. Hampir lupa rasanya, hidup ramai-ramai dengan banyak teman, yang hampir sama rasanya seperti waktu tinggal di rumah. Kalau dipikir-pikir, sepertinya memang saya sudah terlalu lama, hidup sekadarnya, berbagi sekadarnya. Baru saat itu saya sadar, mereka itu teman-teman saya, dan saya teman-teman mereka. Bahkan lebih dari teman, teman baik. Mereka tulus berbagi dengan saya. Mereka mau membantu saya tampa pamrih. Sementara saya selama ini? Lebih sering mengurung diri di kamar, menyibukkan diri dengan tugas, atau bermain game, atau lebih memilih tidur, saya seperti lupa, ada mereka, teman-teman baik saya..
Alhamdulillah, mungkin itu salah satu berkah yang saya dapatkan di Bulan Suci Ramadhan tahun ini. Nggak cuma dalam konteks berbagi apa yang dipunya, hubungan kami sebagai saudara juga kian terasa. Diberi kesempatan untuk bersama-sama, berjamaah dalam menjalankan ibadah, sungguh suatu berkah, yang luar biasa indah..:-) Dan terimakasih untuk itu semua, Ya Allah.. Terimakasih telah membuka mata saya, terimakasih telah mengelilingi saya dengan orang-orang berhati malaikat itu.. Terimakasih..:-)
Wednesday, July 31, 2013
randomness for a while..
Ini Ramadhan hari ke 15, jam 10.27 PM menurut laptop mungil saya..
Ceritanya lagi menggalau dengan Firasat nya Raisa, dan Malaikat Juga Tahu nya Glenn. Hahah.. Efek abis nonton Rectoverso nya Dee.. Dan efek mau dapet juga nih kayaknya. Tau lah, saya semacam jadi gampang mellow begini -___-"
Kemarin kulihat awan membentuk wajahmu.. Desau angin meniupkan namamu.. Tubuhku terpaku..
Ah itu ceritanya suara Mbak Raisa jadi latar belakang saya nulis ini. Hahaha..
Firasat ya, firasat.. Kalau omong-omong firasat, saya nggak tahu deh firasat saya ini gimana. Gimana gimana maksudnya nih? Gimana buat siapa? Hahaha.. Buat siapa? Yaa siapa lagi.. Yang belakangan ini selalu menjadi sumber ke-mendayu-dayu-an saya, terutama kalau lagi ada pergejolakan hormon di badan saya. *Ngeles dikit lah, macak pinter. Haha ;p Ah udah, saya nggak mau ngebahas firasat mentang-mentang saya lagi dengerin lagu itu yang diulang terus-terusan.. Saya mau cerita dikit aja deh tentang yang dari tadi seliweran di pikiran saya..
Harusnya, saya bersyukur. Ketemu orang sebaik itu. Baik banget malah.. Haha.. Bisa deket sama orang yang se-mengagumkan itu. Mengagumkan banget pula.. Bukan maksud lebay, saya ini seriiing banget diceritain, atau denger cerita, dari orang-orang banyak, temennya, keluarganya, dia itu gini gitu gini gitu. And guess what, semuanyaa pasti yang apik-apik. Haha.. Mungkin ada aja sih cerita jeleknya, tapi itu dikit, dari adeknya paling, dan tetep aja, saya bisa lihat betapa si dia itu adalah seorang yang sangat lovable di mata adeknya yang kesel-kesel-sayang gitu sama dia. Heheh..
Namun tak kau lihat.. Terkadang malaikat tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan..
Somehow saking seringnya saya denger cerita dari orang-orang, saya suka kesel. Wahaha.. Gak penting juga sih alasannya, biasa, itu perasaan saya mulai memunculkan aksinya. Semacem bikin saya mikir, "Woy deen kemane aje lo? masa gak ngerti kalo mas lo itu begini begitu begini begitu?" Ahahahay.. Pikiran berlebihan sih emang, tapi yaa jujur aja gue cukup sering gitu deh kepikiran kaya gitu. Kaya, "Aduuh lo itu sebenernya siapanya sih deeen? Where have you been?" Hahahah :3 Abis, selama ini, dia mana pernah cerita-cerita dia abis ngapain aja.. Yang ada, kalau lagi ketemu, saya deh yang cuap-cuap udah kaya pembawa berita. Nyerocos ini itu ini itu, sampai kadang jadi diem-diem an lagi karena abis bahan. Wahahaha..
Kalau sama saya, dia cerita itu dikit-dikit. Banyakan usil sama isengnya malah, sampe bikin kesel-kesel-tapi-suka gimana gitu. Kalau sama saya, dia tegas. Sometimes, dingin. Kadang bikin saya kesel. Tapi pastiii kalau dipikir-pikir lagi, saya yang akhirnya mengakui, emang benar yang dia lakukan itu. Ada pelajaran yang bisa saya ambil, untuk diri saya tentunya, pada akhirnya. Terus saya uring-uringan sendiri deh. Haha :p Yah gitu, nggak keliatan. Hehe.. Tapi kalau sama orang lain, entah kenapa saya pikir, dia berbeda. Lebih hangat, kalau menurut feeling saya. Hehe.. Jadi lebih keliatan. Dan kadang, kadang, bikin saya mikir, apa ada yang salah sama saya ya? Haha.. Bikin saya terkagum-kagum lagi, dari jauh. Hehe.. Mungkin karena memang dasarnya dia orang yang sangat baik ya.. Ngomong juga irit-irit.. Nggak sesumbar. Man of wisdom, man of action, in my opinion. Tapi somehow, saya juga jadi ngebatin deh, "Aaargh dirimu terlalu baik!" Tapi kalau saya bilang gitu ke dia, palingan dia bilang, "Mau aku nggak baik aja?" Hihi emang dasar saya wanita, banyak maunya. Hehehe..
Ah. Seumur-umur, saya nggak pernah cerita tentang seseorang sampe sengalor-ngidul gini. Huehehehe.. Seumur-umur, saya nggak pernah ngerasa se-complicated ini sama seseorang. Nano-nano banget deh intinya. Sampe saya mendayu-dayu gini malem-malem, mana pernah kalau bukan karena dia. Haha.. Hm kalau dia, pernah nggak ya, kaya saya begini seumur-umurnya? Hehehehe..
Cuma bisa berharap, ke depannya, memang dia untuk saya. Dan saya untuk dia. Dan sangat amat berharap, Allah ridho, keluarga ridho.. Hehe.. Dan juga berharap, saya, dia, bisa menjalani semua ini dengan baik, bisa saling mem-baik-an, lebih mengerti dan memahami.. Hehehe.. Amin..
Ps: baca label tags nya yah, udah saya ingetin, ada label "abaikan!" haha karena tulisan ini murni, curhatan seorang pribadi yang sering di-galau-kan dengan perasaannya sendiri. dan perasaan-perasaan yang saya ceritakan di atas itu, kebanyakan adalah di saat pergejolakan hormonal sedang terjadi pada tubuh saya. huehehehe..
Subscribe to:
Comments (Atom)