Tuesday, September 17, 2013

Belajar Berbagi di Bulan Suci :)

Alhamdulillah, kalau menurut kalender saya, hari ini adalah hari ke-14 bulan Ramadhan, dan tidak ada satu hari pun yang tidak dipenuhi berkah bagi saya. Sekali lagi alhamdulillah.. :-) Dan tahun ini, adalah tahun kedua saya berpuasa dengan status dokter muda, atau yang lebih dikenal koas, di suatu rumah sakit umum daerah. Kenapa saya itung-itung? Karena Ramadhan nya koas itu istimewa. Haha.. Secara, koas itu, mau lagi bulan puasa atau enggak, ya tetep aja kesibukannya, ujiannya, jaga malamnya, jalan teruus.. Saya masih ingat, tahun pertama sebagai koas saat menjalankan ibadah puasa, saya sedang berada di bagian atau laboratorium bedah. Di mana jadwal jaga malamnya lumayan banyak juga, sekitar 8 kali dalam 1 bulan. Kalau sudah jaga malam, apalagi itu di UGD, berarti saya tidak bisa pulang. Berjaga di rumah sakit dari jam 3 sore, sampai jam 7 esok paginya, lalu dilanjutkan kembali kegiatan stase di rumah sakit seperti biasa sampai jam 3 sore kembali. Itu berarti otomatis saya harus berbuka dan sahur di rumah sakit pula. Itu juga curi-curi waktu, harus di saat tidak ada pasien. Kalau ada pasien, ya tetap, prioritas utama adalah menangani pasien dulu. Sempat saat itu, saya mendapat pasien dengan luka bakar di tangan karena terkena petasan. Nggak tanggung-tanggung, pasien datang sekitar tengah malam dan harus dijahit jari-jarinya yang terluka. Jari-jari, which means, banyak, dan nggak bisa cepet. Haha.. Jadilah saya lakukan tugas saya, sendirian, berhubung teman-teman lain pun sedang sibuk dengan pasien masing-masing. Sendirian, pasiennya juga kurang kooperatif, bagian yang harus saya jahit juga lumayan menantang waktu itu, yaitu di jari dan sela-sela jari. Hehehe.. Tapi, namanya tugas, mau ngantuk mau apapun, ya tetep lah harus saya kerjakan. Hehe.. Sampai tak terasa waktu sahur hampir habis. Haha.. Syukur, ppds nya waktu itu baik banget, mengingatkan saya untuk sahur dulu, dan akhirnya saya sempat untuk sahur walaupun ngebut dengan kecepatan ekstra. Hehe.. Bener-bener pengalaman yang nggak bisa saya lupain deh.. :)

Kalau tahun ini, alhamdulillah, saya sudah tidak sedang stase di lab mayor. Hehe.. Jadi bisa lebih menghabiskan waktu di kos-kos an, sama temen-temen, sama kakak-kakak, yang nggak kerasa, udah setahun lebih saya bertetangga dengan mereka. Kebetulan, saya menghabiskan waktu saya ber-stase di lab kulit dan radiologi, untuk tahun ini. Yang punya jadwal pulang tetap, yaitu jam 2 siang. Hehehe.. Dan jadwal jaganya pun jauuh lebih ringan jika dibandingkan dengan bedah dulu, yang ada jaga malamnya. Hehe..

Nah dan ternyata, di tahun ini, ada kejadian baru yang saya alami selama Ramadhan. Yang belakangan ini mulai menjadi kebiasaan. Hehe.. Buka dan sahur bareng satu kos. Kedengerannya sederhana ya? Tapi kalau buat saya, itu kebahagiaan tersendiri. Hehe.. Tantangan tersendiri juga.. Semacam tradisi baru, yang entahlah, saya sempat agak kikuk juga begitu awal-awal ikutan. Secara, selama ini saya terbiasa sendirian. Kalau lagi di kos, biasanya sahur makan sendiri di kamar, buka pun sendiri di kamar, dengan makanan yang sudah dibeli sebelumnya. Kalau nggak begitu, paling menghabiskan sahur dan buka sembari jaga di rumah sakit. Hehe.. Tapi sekarang, semacam ada perasaan sungkan kalau makan sendiri-sendiri begitu. Yah, memang dimana-mana itu lebih enak bareng-bareng ya daripada sendirian. Hehe..

Oh ya, nggak kaya sebelum-sebelumnya, tahun ini teman-teman kos saya pada masak bareng, baik buat buka maupun sahur. Bahan-bahan masaknya, terserah dari siapa aja. Masing-masing pada nyumbang yang ada. Nggak ada yang itung-itungan. Makannya pun bareng-bareng, bebas buat siapa aja asal masih penghuni kos-kosan. Nah, saya pernah tuh, di hari-hari awal puasa, saya ketiduran sampai mau Magrib. Bangun-bangun, teman-teman ternyata sudah ramai, dan mereka sudah hampir selesai masak untuk berbuka. Otomatis saya sungkan, kok nggak bantu-bantu dari awal. Mana nggak nyumbang bahan-bahan juga. Saya lalu bergegas, inisiatif untuk membeli makanan buka di luar. Eh, begitu pamit, malah kena omel sama anak-anak kos. Mereka ternyata malah mempersilakan saya untuk gabung saja, makan makanan hasil masakan anak-anak tadi. Jujur, awalnya saya nolak-nolak. Sungkan bangeet.. Tapi karena temen-temen saya itu makin kekeuh juga, ya akhirnya saya makan bareng mereka semua, makanan yang tadi mereka masak rame-rame, dengan perasaan nano-nano.. Sampai-sampai sesudahnya, saya cerita ke salah satu teman tentang apa yang saya rasakan. Tapi dia justru tertawa, dan berkata, "Itu wajar namanya. Teman itu ya seperti itu. Nanti, kalau kamu punya sesuatu, tinggal gantian aja bagi-bagi nya." Just as simple as that. Tapi bikin saya tertegun agak lama. Kalau dipikir-pikir, selama ini saya jarang sekali berbagi dengan teman seperti itu. Hampir lupa rasanya, hidup ramai-ramai dengan banyak teman, yang hampir sama rasanya seperti waktu tinggal di rumah. Kalau dipikir-pikir, sepertinya memang saya sudah terlalu lama, hidup sekadarnya, berbagi sekadarnya. Baru saat itu saya sadar, mereka itu teman-teman saya, dan saya teman-teman mereka. Bahkan lebih dari teman, teman baik. Mereka tulus berbagi dengan saya. Mereka mau membantu saya tampa pamrih. Sementara saya selama ini? Lebih sering mengurung diri di kamar, menyibukkan diri dengan tugas, atau bermain game, atau lebih memilih tidur, saya seperti lupa, ada mereka, teman-teman baik saya..

Alhamdulillah, mungkin itu salah satu berkah yang saya dapatkan di Bulan Suci Ramadhan tahun ini. Nggak cuma dalam konteks berbagi apa yang dipunya, hubungan kami sebagai saudara juga kian terasa. Diberi kesempatan untuk bersama-sama, berjamaah dalam menjalankan ibadah, sungguh suatu berkah, yang luar biasa indah..:-) Dan terimakasih untuk itu semua, Ya Allah.. Terimakasih telah membuka mata saya, terimakasih telah mengelilingi saya dengan orang-orang berhati malaikat itu.. Terimakasih..:-)

No comments: