Tuesday, November 5, 2013

something about "patol"

Kalau gue kira dulu, koas "patol" itu, koas-koas yang hobinya nelat, bolos, ga ngerjain tugas, atau sering melakukan manipulasi-manipulasi terhadap sesuatunya. Intinya, selalu cari celah lah, dari peraturan yang ada, yang dia anggap menyusahkan. Tapi terus kata mas gue, "patol" itu, artinya nggak "fisiol", nggak sesuai normal. Waktu gue dateng ke puskesmas kepagian pun, menurut dia itu bisa dibilang patol. Hehe.. Semakin ke sini, gue makin sering liat temen-temen gue, nge-labeling temen-temen gue yang lain, yang keliatan banget ke-"patol"-annya. Kadang, ya, jadinya ngegosip gak guna, ngomongin temen-temen yang "patol-patol" itu. Tapi, somehow, gue suka gemes juga. Sebenernya, kita-kita yang "biasa" pun, bukan gak pernah "patol". Sering, bahkan rasanya, kita-kita yang biasa ini pun, mencari celah dari peraturan yang sudah ada. Jaga yang seenaknya saja. Tugas yang dibuat ala kadarnya, kadang nyontoh dari tugas-tugas yang sebelumnya yang dikerjain kakak tingkat. Kasus fiktif, sesuatu yang gak ada tapi dibilang ada. At the end, I think, udah ga ada lagi kayanya yang namanya "fisiol". Kalaupun ada, dikit banget paling, dan akan ada waktu-waktu, si "fisiol" itu mau gak mau ngikut temen-temennya, karena yah, namanya koas itu tentara men. Mainannya kelompokan, gak bisa sendirian. Akan selalu ada yang namanya, membenarkan yang biasa, di kehidupan para koas, yang katanya banyak tekanan. Jadi, yang ada itu, tinggal "patol" atau "patol banget". Hahaha.. Yah, sebagai pembelaan nih, banyak juga sih yang bilang, "Kalau hidup, jangan lurus-lurus banget, nanti stres." atau beberapa spv pun ngajarinnya, "Kalau koas gini, gapapa dek nakal-nakal, saya ya dulu begitu." Hehe.. Well, sekarang ini, kalau menurut gue pribadi, "fisiol" kalau berarti taat peraturan, tetep standar idealis yang terbaik. Hidup gak teratur itu, bukan hidup sih kalau menurut gue. Cuma, ya, kembali ke pribadi masing-masing aja, mau seberapa sering kesalahan atau peraturan yang dilanggar, asal mau tanggung jawab, nggak lempar batu sembunyi tangan. Jadi patol, oke lah, terserah, tapi, menurut gue lagi, jangan sampai merugikan orang lain. Merugikan teman sejawat, atau yang paling parah, pasien. Karena, kita ada di sini toh, at the end, adalah demi membantu pasien-pasien yang membutuhkan kan. Jangan sampai lah, niat awal itu jadi terselewengkan.. Dan yah, kita mesti hati-hati bro. Ngaca dulu lah, sebelum larut ngegosipin kejelekan orang selain kita. Karena kata pepatah, "Gajah di pelupuk mata tak terlihat, namun semut di ujung pulau tampak".

Well then, have a nice holiday y'all! :)

Sunday, September 29, 2013

Honey and Clover














Gue semacam nostalgia. Gara-gara nemu live action series nya Honey and Clover, yang dulu sempet gue sukaaa banget animenya. Well, bukan sempet sih sebenernya. Emang gue suka sih sampai sekarang. Cerita tentang lima orang, Yuta Takemoto, Hagumi Hanamoto, Shinobu Morita, Ayumi Yamada, dan Takumi Mayama. Tentang persahabatan, cinta, dan pencarian jati diri. Tentang perjuangan dan penantian. Tentang keberanian dan ketulusan. Haha.. Lebay lagi nih bahasa gue.. Well, so far, gue udah nonton 5 episode dari 11, dan so far juga, gue kasih nilai 8,5 dari 10 buat live action series ini. Ceritanya bagus. Pemaparannya indah, nggak kalah indah dengan anime nya yang bagus banget menurut gue. Cuma, ya, kadang gue nggak tahan kalau lihat nasibnya lima orang itu, terutama Takemoto. Sedih sih.. Just like, life is sooo unfair to him! Tapi, kalau gue perhatikan lebih jeli lagi, banyak nilai moral yang bisa diambil dari cerita ini, aahaha.. Makanya gue kasih nilai bagus deh. Hehe.. Awalnya gue punya pikiran, "Honey" itu terlalu manis buat judul cerita ini. Haha.. Karena menurut gue, cerita ini gak sekadar "sweet", tapi "bitter sweet". Hehehe.. Chocolate and Clover mungkin lebih pas kali ya? Atau Cappuccino and Clover. Hehe.. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, memang cerita ini toh secara keseluruhan manis, semanis judulnya, Honey and Clover..

huff day

Bloggie.. Kenapa sih gue sering banget ngerasa sepi? Ngerasa sendirian? Padahal gue gak tinggal di kuburan kali Gie. Kosan gue, rame. Anak-anaknya cerewet-cerewet semua. Hehe.. Bukan gue nggak mau gabung sama mereka. Gue ngobrol kok, bercandaan. Cuma kalau udah ada yang omong-omongan tentang suatu yang gue nggak ngerti, gue jadi ngerasa minder aja buat gabung lagi. Kebiasaan jelek. Haha. Apalagi kalau kos lagi sepi gini. Di kamar aja, nggak ada kerjaan, cuma ngenet, tidur, dengerin lagu. Rasanya sesek aja gitu. Mau jalan-jalan, ngajak temen, eh lagi gak bisa. Hm.. Alamat sendirian lagi. Hehe. Begitu curhat, tanggapannya gitu-gitu aja. Harapan gue, nggak sesimpel itu mungkin. Nggak yang cuma di "haha hehe" in doang. Hehehe. Jadi berasa makin kecil ini hati. Malah jadi bete sendiri, ngerasa kaya.. nggak dingertiin. Tuh kan, aneh banget gue Gie. Huff.. Kebiasaan jelek yang susah banget ilang. Sebenernya gue udah biasa banget sendirian kaya gini lho. Cuma, nggak tau lah. Belakangan ini rasa seseknya kaya progresif gitu deh, tiap ketemu situasi yang sama. Mesti ngapain gue ya Gie?