Sunday, January 11, 2015

Setelah Sekian Bulan

Good evening, people.. Halo Gie! Gak kerasa ya, udah lewat beberapa bulan aja nih, semenjak posting terakhir waktu Lebaran kemarin. *nyengir Setelah sekian bulan berlalu, banyak cerita rasanya yang bisa saya sampaikan. Terlalu banyak malah. Hahaha.. Banyak yang berubah, banyak yang baru. Hehe..

Eh, apa? Oh, tidak tidak, kalau dia, masih sama kok. Masih, saya sama dia. Dan saya pun (sampai saat ini) selalu berharap dia bisa terus sama saya. Huehehehehe.. Kalaupun ada yang berubah, mungkin taraf kedewasaan kami berdua, yang rasanya sih bertambah. Sudah nggak seberapa sering galau-galau seperti a-be-ge (bukan nama angkot) ababil lah. Walaupun tetep, masih ada sisi-sisi bocahnya, hehe. Hmm, bicara dia, otomatis saya jadi kepikiran dua kata, yaitu: masa dan depan. Masa depan. Posisi sekarang sih, saya lagi punya banyak rencana dan angan-angan untuk ke depannya, bersama dia, tentunya. Hehehe.. Tapi nggak usah cerita banyak dulu deh, mohon bantu doanya aja yak, moga-moga rencana dan angan-angan yang saya pasang di benak saya ini direstui oleh Yang Maha Kuasa dan bisa terlaksana dengan baik. Amin..

Oh ya, sekarang ini, saya udah resmi bukan anak Malang lagi loh. Alhamdulillah, setelah melalui berbagai proses yang panjang, penuh ketidakpastian, rumit, pelik, dan sedikit drama (HAHA), akhirnya saya terpilih (sebenarnya lebih tepat memilih lalu disetujui) menjadi dokter internsip selama 1 tahun di Kabupaten Blitar, tepatnya, RSUD Ngudi Waluyo Wlingi dan Puskesmas Sutojayan. Alhamdulillah, doa saya dikabulkan. Hehe.. Kebetulan emang pengen banget dapat Wlingi (setelah sebelumnya banting setir dari Kepanjen karena takut kalah saing), karena lokasinya yang terdekat kedua dari Malang. Dibandingkan dengan wahana-wahana isip lain yaa..

Nah, jadi, dihitung sejak pertengahan Oktober, kalau nggak salah sudah 2 bulan-an, saya merasakan manis pahitnya menjadi dokter internsip di sebuah rumah sakit daerah. Sekitar 2 bulan ini, saya dengan teman-teman kelompok kecil saya menjalankan hari-hari sebagai dokter umum yang bertugas di poliklinik RS. Alhamdulillah, saya cukup senang dengan apa yang saya jalani ini. Walaupun nggak selamanya perjalanan dirasa mulus, so far, I'm happy. Iya, nggak selamanya mulus. Ada aja loh, rasa-rasa kesel, capek, malas, marah, bingung, sedih, yang muncul dari bermacam situasi berbeda selama program internsip ini. Dipatolin TS senior, pernah. Dicuekin perawat waktu mau ngerujuk pasien gawat, pernah. Disangka mahasiswa perawat sama keluarga pasien, pernah. Didatangi pasien psikosomatis yang sama berulang kali, sampai mulut berbusa karena bolak-balik KIE, juga pernah. Pengalaman pahitnya yaa istilahnya, tapi tetep aja, senyum-senyum sendiri jadinya kalau saya ingat-ingat lagi. Karena dari pengalaman-pengalaman absurd itu, saya belajar hal baru. Dan jujur, saya mulai menikmati profesi saya sebagai dokter. Entah kenapa, rasanya senang bisa membantu pasien-pasien yang datang ke saya. Senang sekali rasanya, begitu pasien membaik dengan terapi yang saya berikan. Perasaan "ternyata-saya-bisa-bermanfaat" itu loo, yang epic banget rasanya. Hehe.. Dan pada akhirnya pun, kalimat wejangan dari Papi, untuk kami para dokter, memang benar adanya. To cure sometimes, to relieve often, and to comfort always, yes that's my duty, as a doctor. :-)

Oke deh, Gie, dan pembaca sekalian, sampai sini dulu saya cerita-cerita yak. Dilanjut lagi kapan-kapan. Dan doakan saya yaaa, agar bisa lebih bersyukur terhadap nikmat dan nggak sedikit-sedikit sambat. Hehe.. Jujur kok, saya bersyukuuuur banget bisa jadi dokter, dan semoga saja saya bisa makin istiqomah dengan profesi saya ini. Amin.. o:) Well then, good night everybody..^^

Sunday, July 27, 2014

Happy Eid Mubarak!^^



Alangkah elok orang-orang yang tersenyum..
Wajahnya berseri sembari mengamalkan ibadah..
Taqabbalallahu minna wa minkum..
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435 Hijriah..
:-)

Friday, July 4, 2014

Di Antara Pilihan

Hari ini air mata gue tumpah. Dua kali. Hmm semoga nggak berpengaruh ke puasanya deh ya. Hehe.. Sebabnya apa? Karena membaca dua buah artikel, yang entahlah, menurut saya adalah petunjuk dan pencerahan dari Yang Maha Esa. 

Hidup itu pilihan. Sehari-hari manusia, tidak lepas dari proses memilih. Entah dari dua, tiga, atau lebih pilihan yang ada. Terkadang, kita ditempatkan pada posisi di mana seakan lebih baik tidak memilih. Misalnya, ketika dihadapkan oleh dua pilihan yang sama bagus, atau sama jelek. Tapi pada akhirnya, pasti kita akan memilih. Dan tiap pilihan mempunyai risiko masing-masing, yang berbeda tentunya. Gue pribadi, cukup sering rasanya, dipusingkan oleh pilihan-pilihan yang ada. Dari dulu, entah mengapa, gue lebih sering dihadapkan oleh pilihan yang sulit daripada yang mudah. Jatuhnya, gue sering banget galau dan bingungan. Hehe.. Tidak jarang juga, gue membatin, "Kok ketemu situasi kaya begini lagi? Kok harus milih yang sulit lagi? Kok mesti buat keputusan lagi?" Dan untuk menjawab itu semua, biasanya gue ber-rasionalisasi, kalau itu semua hanya hukum sebab akibat, karena gue masih belum mahir untuk menghadapi situasi "simalakama" tersebut. People said practices makes perfect, right?

Galau juga kadang menghampiri gue, di saat pilihan sudah gue tentukan. Ada aja, saat-saat gue termenung dan merasa gue salah pilih. Kadang, kecewa. Dan yang paling nggak enak, kadang muncul perasaan bodoh. Ya, gue jadi merasa seseorang yang bodoh, ceroboh, dan itu salah. Walau sebabnya simpel mungkin, karena kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan, tidak sesuai dengan rencana awal yang diinginkan. Ujung-ujungnya, gue pasti kesal dan sakit hati karenanya. Walaupun beberapa orang bisa dengan mudahnya berkata, "Ya udah sih," bagi gue, kesalahan tersebut nggak bisa lewat begitu saja. Jujur deh, susah buat  gue terima. Gue pribadi pengen banget bisa mengurangi kelemahan gue itu, yang sering gue sebut "wrong syndrome".

Di saat-saat galau-galau begitu lah, gue biasanya mencari pertolongan. Bisa dalam bentuk apapun dan dari siapapun sebenarnya. Walaupun, ada beberapa saat gue salah mencari. Dan dari sekian kali gue mencari, pertolongan Allah adalah yang terbaik. Di saat gue galau, bingung, gundah, dengan curhat se-curhat-curhatnya kepada-Nya, perasaan gue akan membaik, dengan lebih cepat. Dan selain itu pun, tak jarang, gue merasa Ia menunjukan jalan dengan membimbing gue ke suatu tempat, atau menemukan sesuatu. Just like today. Gue sempet galau, apakah pilihan yang selama ini gue pegang teguh salah? Apalagi begitu membandingkan dengan situasi orang lain, rasanya jadi seperti menyedihkan. Tapi itu tadi, Alhamdulillah, saya ber-Tuhan, Allah S.W.T. :-) Pencerahan itu datang. You will know how it feels when it comes.

Kedewasaan bukan sesuatu yang diperoleh begitu saja. Gue pun nggak sependapat jika dikatakan hal tersebut berbanding lurus dengan bertambahnya usia. Imho, kedewasaan bisa didapat dengan terus berlatih. Dan salah satu cara tersebut adalah dengan berada dalam situasi di antara pilihan-pilihan. Di mana pada akhirnya, kita sendiri yang harus menentukan apa yang kita pilih, yang juga dapat berarti, akan seperti apa kita nanti. Dapat memutuskan dengan berlapang dada menerima segala risiko dari pilihan tersebut, adalah salah satu bentuk kedewasaan yang menurut gue diperlukan. Dan jika untuk menemukan hal itu kita memerlukan bantuan, kenapa tidak meminta? Tentunya dengan sebelumnya sudah kita imbangi dengan usaha yang setimpal. Ya, berusaha. Dengan mencari tahu lebih banyak, mengkaji, menimbang, melihat dalam berbagai sudut pandang, dan menghitung baik-buruk yang akan didapat. Walau ujung-ujungnya mungkin akan membuat kecewa, gue percaya, jika kita dewasa, kita akan selalu melihat hikmah di balik itu semua. Jika memang salah, kita akan belajar menjadi lebih baik. Atau mungkin, di lain waktu, dalam situasi berbeda, kita akan tersenyum dan berkata, "Alhamdulillah saya memutuskan demikian." Siapa tahu kan? :-)