Good evening, people.. Halo Gie! Gak kerasa ya, udah lewat beberapa bulan aja nih, semenjak posting terakhir waktu Lebaran kemarin. *nyengir Setelah sekian bulan berlalu, banyak cerita rasanya yang bisa saya sampaikan. Terlalu banyak malah. Hahaha.. Banyak yang berubah, banyak yang baru. Hehe..
Eh, apa? Oh, tidak tidak, kalau dia, masih sama kok. Masih, saya sama dia. Dan saya pun (sampai saat ini) selalu berharap dia bisa terus sama saya. Huehehehehe.. Kalaupun ada yang berubah, mungkin taraf kedewasaan kami berdua, yang rasanya sih bertambah. Sudah nggak seberapa sering galau-galau seperti a-be-ge (bukan nama angkot) ababil lah. Walaupun tetep, masih ada sisi-sisi bocahnya, hehe. Hmm, bicara dia, otomatis saya jadi kepikiran dua kata, yaitu: masa dan depan. Masa depan. Posisi sekarang sih, saya lagi punya banyak rencana dan angan-angan untuk ke depannya, bersama dia, tentunya. Hehehe.. Tapi nggak usah cerita banyak dulu deh, mohon bantu doanya aja yak, moga-moga rencana dan angan-angan yang saya pasang di benak saya ini direstui oleh Yang Maha Kuasa dan bisa terlaksana dengan baik. Amin..
Oh ya, sekarang ini, saya udah resmi bukan anak Malang lagi loh. Alhamdulillah, setelah melalui berbagai proses yang panjang, penuh ketidakpastian, rumit, pelik, dan sedikit drama (HAHA), akhirnya saya terpilih (sebenarnya lebih tepat memilih lalu disetujui) menjadi dokter internsip selama 1 tahun di Kabupaten Blitar, tepatnya, RSUD Ngudi Waluyo Wlingi dan Puskesmas Sutojayan. Alhamdulillah, doa saya dikabulkan. Hehe.. Kebetulan emang pengen banget dapat Wlingi (setelah sebelumnya banting setir dari Kepanjen karena takut kalah saing), karena lokasinya yang terdekat kedua dari Malang. Dibandingkan dengan wahana-wahana isip lain yaa..
Nah, jadi, dihitung sejak pertengahan Oktober, kalau nggak salah sudah 2 bulan-an, saya merasakan manis pahitnya menjadi dokter internsip di sebuah rumah sakit daerah. Sekitar 2 bulan ini, saya dengan teman-teman kelompok kecil saya menjalankan hari-hari sebagai dokter umum yang bertugas di poliklinik RS. Alhamdulillah, saya cukup senang dengan apa yang saya jalani ini. Walaupun nggak selamanya perjalanan dirasa mulus, so far, I'm happy. Iya, nggak selamanya mulus. Ada aja loh, rasa-rasa kesel, capek, malas, marah, bingung, sedih, yang muncul dari bermacam situasi berbeda selama program internsip ini. Dipatolin TS senior, pernah. Dicuekin perawat waktu mau ngerujuk pasien gawat, pernah. Disangka mahasiswa perawat sama keluarga pasien, pernah. Didatangi pasien psikosomatis yang sama berulang kali, sampai mulut berbusa karena bolak-balik KIE, juga pernah. Pengalaman pahitnya yaa istilahnya, tapi tetep aja, senyum-senyum sendiri jadinya kalau saya ingat-ingat lagi. Karena dari pengalaman-pengalaman absurd itu, saya belajar hal baru. Dan jujur, saya mulai menikmati profesi saya sebagai dokter. Entah kenapa, rasanya senang bisa membantu pasien-pasien yang datang ke saya. Senang sekali rasanya, begitu pasien membaik dengan terapi yang saya berikan. Perasaan "ternyata-saya-bisa-bermanfaat" itu loo, yang epic banget rasanya. Hehe.. Dan pada akhirnya pun, kalimat wejangan dari Papi, untuk kami para dokter, memang benar adanya. To cure sometimes, to relieve often, and to comfort always, yes that's my duty, as a doctor. :-)
Oke deh, Gie, dan pembaca sekalian, sampai sini dulu saya cerita-cerita yak. Dilanjut lagi kapan-kapan. Dan doakan saya yaaa, agar bisa lebih bersyukur terhadap nikmat dan nggak sedikit-sedikit sambat. Hehe.. Jujur kok, saya bersyukuuuur banget bisa jadi dokter, dan semoga saja saya bisa makin istiqomah dengan profesi saya ini. Amin.. o:) Well then, good night everybody..^^
No comments:
Post a Comment