Friday, August 5, 2016

Review Singkat L.A. Girl Matte Flat Finish Pigment Gloss

Sugeng dalu sedulur kabeh.. Hari ini, entah kenapa gue galau. Mungkin karena besok pagi bakal aja ujian tahap ke sekian untuk penerimaan pegawai yang gue ikuti ya, sedangkan hari ini, gue kudu jaga RS dari jam 2 siang sampai besok jam 7 pagi. Wajar nggak sih, gue galau? Hag hag.. Well biasanya kalau galau, gue makan. Nah ini gue udah makan banyak enak, tapi yo tetap aja rasanya pengen ngapaiiin gitu buat mengalihkan kegalauan ini. Jadi kepikiran bikin review gincu deh ah. Hahaha..

Review kali ini singkat aja ya, bertolak belakang dengan nama produk ini yang tidak singkat (bisa dilihat di judul post ye, malas gue ngetik lagi, wkwkwk). Kepikiran pengen nulis ini pun karena sejujurnya gue cukup jarang memakai lipen satu ini, dan hari ini entahlah gue kok tiba-tiba pengen, dan gue kembali jatuh cinta dengan warnanya. Semacam celebek (bukan ceb** lama bersih kagak) sama mantan lah. Haha..

Pertama, mari kita kenalan singkat. Produk ini adalah liquid lipstick buatan negeri Paman Sam, USA. Dikemas dalam bentuk tube yang kokoh dan cukup besar, dengan desain yang cukup cute menurut gue. Tube nya pun transparan sehingga kita bisa langsung tahu warna si lipen. Shade yang gue bahas kali ini adalah Dreamy, yang berwarna pinkish nude dan kalem banget di bibir gue.

Bahas kelebihannya dulu yak. Sesuai namanya yang tidak singkat, staying power L.A. Girl matte gloss ini pun mendekati abadi. Oke gue lebai. Long lasting lah maksud gue, nggak gampang hilang kaya lipstik matte lain yg gue punya. Tapi hati-hati jika dipakai saat makan makanan berminyak, karena warnanya bisa memudar dan meninggalkan tekstur yang kurang sedap dipandang mata. Walaupun warnanya masih ada yang nempel di bibir ya.

Hal lain yang gue suka adalah pilihan warnanya yang banyak dan cakep-cakep (bisa digoogling ya bu ibu, kalau mau lihat pilihan warnanya apa aja). Termasuk shade yang gue punya ini nih. Gak tahu kata orang gimana sih, tapi gue suka aja lihatnya di bibir gue. Jadi berkesan masih ABG. Huahahahaha.. Nanti deh, di akhir post gue kasih lihat poto-potonyah. Ahahaha..

Oh ya, lipen ini finishnya dead matte menurut gue. Tapi memakainya kudu bener dan telaten. Kaya hari ini, setelah sebelumnya sering salah teknik waktu mengaplikasikan ke bibir, akhirnya gue beneran nemu dead matte finish dari gincu terkenal ini. Sedikit tips sotoy ala gue, jangan langsung katupkan bibir di saat lipstik masih basah dan baru dioles. Setelah dioleskan dengan semerata mungkin, tunggu lipstik kering, lalu tap tap halus dengan tisu, baru deh bibir dikatupkan. Coba abis itu tap lagi bibir kamu dengan tangan atau tisu, transfer proof lho hasilnya. Minum di cangkir juga nggak berbekas. Hehe..

Cuma sayangnya, lipen ini cenderung lengket. Apalagi kalau makainya nggak bener, wueh bibir kaya pakai lem deh. Rasa lengketnya jauh berkurang kalau dia sudah benar-benar ngeset jadi matte, tapi jujur, masih berasa dikit lengketnya. Aroma lipen ini juga somehow seperti cat atau minyak. Gue sempet takut tuh waktu pertama kali nyoba, ini apa produknya palsu apa gimana, tapi kan gue beli di webstore kosmetik yang terpercaya ya. Untung lah setelah googling sana-sini, baru tahu kalau memang dari sononye bau lipen ini seperti itu. Daan yang terakhir gue nggak suka adalah teksturnya yang berubah setelah kena makanan berminyak. Jadi nggumpal nggak enak gitu deh lah. Mau touch up langsung juga nggak bagus jadinya. Imho, kudu dihapus dulu lah baru ditimpal yang baru. Padahal ya menghapusnya itu perlu pakai remover. Semacam revot bagi gue. Sakit (wo)man, kalau cuma pakai air biasa terus digosrok-gosrok. Haha..

Wes, segitu dulu tulisan gue malam ini. Next time, gue coba bikin #beautytalks yang lebih berbobot lagi. Doakan yah. Nyahahaha..

Nah, nih gue kasih bonus penampakannya di bibir gue..:D

Thursday, July 28, 2016

Mereka yang Dihina

Evening, Bloggie. Here I come again. Miss me? Hehe.. Disclaimer nih, yg akan gue tulis dalam posting kali ini, murni opini hasil gue mikir ngalor ngidul ya.. Setelah sebelumnya berselancar di dunia maya, dan pada akhirnya menjadi miris. Hahaha..

Mereka yang dihina. Siapa? Banyak. Mau kamu orang baik, orang jahat, orang cantik atau tampan, orang jelek, beragama, tidak beragama, yang namanya dihina mah apes-apesan ya, bisa semua kena. Siapa yg menghina? Bisa siapa saja, sesuai keapesanmu dapat siapa. Orang yg nggak dikenal, bisa, orang yg dekat sama kamu pun bisa. Alasannya dihina? Nah ini juga lucu, bisa macam-macam juga! Tanpa alasan pun bisa lho, imho. Ciyusan? Kenapa gue sampai mikir kaya gini? Well, berawal dari gue yg suka baca ya.. Hobi suka bacain apapun ini juga bikin gue jadi suka penasaran sama apapun yg berbentuk tulisan. Apalagi di zaman internet begini, haha, tulisan bisa ditemui di mana-mana (kalau zaman dulu kan paling ketemu tulisan tuh di buku atau koran aja yak). Dari sering baca ini itu lah, gue jadi kepikiran sesuatu..

Beberapa kali, gue nemu akun haters artis yang ada di instagram. Reaksi pertama gue sih kaget ya. Ada ternyata, orang yg segitunya punya effort, mengeluarkan waktu, pemikiran, dan tenaga demi "menghina" seseorang yg mungkin dia sendiri tidak kenal. Iyalah, akun haters tsb mana ada yg masang nama asli di akunnya. Rata-rata mereka menamai akun tsb dengan nama artis yg diberikan tambahan huruf, angka, atau karakter (spasi) yang sedikit berbeda dgn akun ig asli si artis. Pertanyaan pertama, untuk apa? Pikiran suudzon gue nih, buat nyari followers kali yak. Mungkin ada aja kan fans yang memang mencari tahu idola mereka pada akhirnya akan nyangkut di akun tsb dan pada akhirnya larut dengan segala posting yg ada di akun haters tsb. Lucu. Buat apa? Nyari banyak orang agar sepaham, agar sama-sama membenci si artis? What for? Segitunya ya, sampai rela edit foto sana-sini, bikin caption panjang-panjang, cari-cari foto si artis tsb terus direpost dengan tambahan edit atau caption, kan itu effortnya nggak sedikit. Untuk apa? Demi lihat si artis jatuh? Miris. Lucunya lagi, ada saja momen di mana mimin akun tsb semacam ngeles. Haha.. Pakai bilang nggak maksud ngehina, berlindung dgn alasan menyampaikan kebenaran. Sampaikan kebenaran harus dengan menjelek-jelekkan orangnya? Harus dulu berlindung di balik akun anonim? Harus dulu ngajak orang banyak untuk percaya dengan dirinya, di belakang si artis itu? How coward.

Sekarang gini deh, even si artis yg dihujat itu punya salah, apa benar juga memperlakukan dia sebagai manusia yg perlu untuk dihina selamanya? Seandainya salah itu dilakukan di masa lalu, dan yang bersangkutan sudah bertobat tidak akan lagi mengulangi kesalahannya, apa pantas kesalahan di masa lalu tersebut terus diumbar demi menjelek-jelekkan dia? Lagian, apakah yakin, yang akun tsb bilang "kebenaran" adalah sesuatu yg benar? Testimoni dari sekian orang random, bisa dijadikan patokan kebenaran? Bukankah masih ada kemungkinan kalau semua yg disampaikan itu rekayasa? Lagipula, terlepas dari salah dan benar, Allah S.W.T. saja Maha Pengasih dan Pengampun, apalah hak kita sebagai makhluk untuk saling menghakimi dan menjatuhkan satu sama lain? Miris.

Disclaimer: gue bukan fans artis tersebut ya. Jarang bgt gue ngefans sama yg namanya public figure. Palingan gue ngefans sama guru-guru gue, supervisor di kampus dan RS tempat gue menimba ilmu. Ngalamin momen-momen semacam fangirling sama spv sendiri pun pernah. Cuma nggak pernah deh rasanya yg gue jadi keki atau ilfeel berat cuma karena saat gue sapa, Beliaunya cuek. Hahaha.. Di balik ke-luar-biasaan Beliau sampai gue jadi ngefans, wajar lah ya kalau Beliau punya satu dua sisi yang agak pahit. Itu manusia! Wkwkwk.. Makanya suka heran sama para (mereka yang mengaku) fans yang gampang baper dan menuntut si idola menjadi seperti apa yg mereka inginkan. Nggak semua memang, tapi emang ada kan yang gitu. Hmmh.. Lika-liku dunia entertainment ya, kadang nggak masuk di logika gue. Hehe.. Well, balik ke disclaimer di awal paragraf tadi ya, artinya, bukan gue mau ngebela si idola juga ya, bukan mau membenarkan atau menyalahkan si idola juga, karena jujur, gue kan nggak tahu yg sebenarnya terjadi itu gimana. Sebagai manusia, gue cuma bisa beropini sesuai dengan apa yg gue lihat. Dan di sini yg gue garis bawahi adalah, gue miris ngelihat fenomena akun-akun haters ini bermunculan di dunia maya. Yang nimbrung pun nggak sedikit. Kan sayang, kalau medsos yg punya tujuan baik saat diciptakan, malah jadi ajang untuk saling menjatuhkan dan nyinyir.. Dan lagi, gue selalu percaya, Allah S.W.T. mboten sare. Allah Maha Adil, dann hati-hati lah dengan apa yg kita lakukan. Bahkan sebatas komen di medsos pun gue yakin, kelak akan dimintai pertanggungjawaban..

Akhir kata, setelah panjang lebar gue bertutur, *ceilah bahasa guee, gue tutup posting kali ini dengan, mohon maaf jika ada yg tersinggung yaa.. Posting ini tidak dibuat untuk menyulut apapun. Murni ngutarain opini (sekalian uneg-uneg) gue ajah. Hoho.. See ya in the next post, salam peace, love, and gaul! :D

Sunday, June 12, 2016

Midnight Mumbling

Gie.. Gue nggak bisa tidur lagii.. Huaaaaaaaa TT-TT Padahal masih mesti sahur jam 3 nanti dan hari ini masuk jam 7 pagi.. Minggu? Masuk? Yes. Namanya dokter, ya gitu itu jadwalnya. Minggu rasa Senin, Senin rasa Minggu, tanggal merah rasa masuk, tanggal nggak merah rasa libur. Ralat, dokter UGD lebih tepatnya. Ini pun kayaknya gue nggak bisa tidur gara-gara mikirin waktu dan jadwal.. Huaaaaaa.. Gue kira siklus begini bakal cuma sampai gue iship aja ngerasainnya. Ternyata, selama kerja di RS ya pasti bakal ngerasain jadwal absurd yang lain sama orang banyak. Well ya gue tahu sih bukan dokter doang yang punya nasib begini. Profesi-profesi lain juga pasti ada yang ngalamin kaya begini.. Tapi sayangnya, kedua ortu gue nggak termasuk di dalamnya. Mertua juga nggak. Jadi yah, gue sering aja ngerasain, mereka sulit mengerti. Hiks hiks.. Oke, maybe sebagian yang baca curcolan gue ini bakal ngebatin, "Ya udah sik, namanya juga situ yang pengen jadi dokter, dokter UGD pula, wes risiko! Ojo sambat!" Dan, it's okay. Gue pun setuju. Logis. Makanya gue jadi ngerasa agak apes juga sebenarnya. Aaaaaaaaah..

Kenapa apes? Jujur ya, lepas nikah, gue nggak pernah sibuk-sibuk banget sama yang namanya kerja. Prioritas gue sekarang, nomor satu adalah suami. Nomor berikutnya adalah keluarga. And then, mengusahakan jadi isteri yang baik. Gue bukan tipe ibu rumah tangga juga, masak sekadarnyaa, bersih-bersih masih lebih rajin suami, far from perfect lah. Tapi seenggaknya gue lagi mengupayakan saran-saran suami gue buat kehidupan kami ke depannya lebih baik. Misal, belajar nyetir. Iya, gue emang nggak bisa nyetir mobil ataupun motor. Gue tahu caranya, tahu teorinya emang, tapi berantakan pas praktik. Dulu waktu iship gue bela-belain kursus nyetir, ujungnya gagal. Haha.. Dulu sih di Jakarta gue nyantai aja nggak bisa naik apa-apa. Transport di sana mudah. Gue mau ke sekolah, RS, kantor kelurahan, mal, pasar, banyak pilihan moda transportasinya. Mau ngangkot, ngebis, ngebusway, ngojek, sabeb. Jam operasinalnya juga nggak berbatas Magrib. Tapi sekarang kan, gue pindah ke kota impian misua. Iya, impian. Karena kota asal misua saya kan tetangga kota ini. Haha.. Well bisa ditebak lah ya, di sini gue jadi mati kutu. Haha.. Ke RS yang jaraknya deket aja minimal naik angkot 2 kali. Dulu pas ngekos di deket RS, kalau mau ke kampus kudu jalan kaki rada jauh dulu baru bisa ngangkot. Mungkin itulah kenapa gue kurus yak. Wkwk.. And then, malam-malam juga was was kalau mau pergi. Bilang lah jalan sama temen ke mal sore, wah malamnya gue pernah susah banget nggak nemu angkot buat pulang. Untungnya ada taxi. Tapi taxi di sini minimum tarifnya aja Rp 30.000.. Kebayang beratnya nggak sih kalau pas dulu gue masih kuliah. Bahkan sekarang aja rasanya gue juga males ngeluarin duit segitu buat transport doang. Haha.. Jadilah semuamuamua pasti nyuruh atau menyarankan gue buat bisa nyetir. Haha.. Yah padahal sebagian hati kecil pengennya kaya tuan putri gitu. Nggak usah repot, biar kaya emak. Wkwkwk.. Tapi ya gue sadar kok, kan ini bukan di dunia dongeng. Dan gue kalau mau ngikut emak, ujungnya bakal ngerepotin orang.. Malu juga lama-lama. Even keluarga, kalau bukan adek-adek atau emak bapak gue sendiri yang gue mintai tolong, mah ya sungkaaaan.. Bosen juga rasanya jadi semacam ditagih, kapan bisa nyetirnya. Haha.. That's why lah, membisakan diri nyetir jadi salah satu mini point prioritas gue. Gue bukan orang yang optimis banget sih ya, jadi gue tahu, butuh proses yang agak lama lagi buat gue bisa menguasai hal tsb. Well, Bismillah deh tapi, seenggaknya kan udah gue niatin. Insyaallah pelan-pelan asal klakon. Hehe..

Eh btw tadi lagi ngomong apa sik, jadi bahas nyetir-nyetiran gini? Oalah dalaah gue lagi bahas apes yak. Wkwkwk.. Balik deh ke fokus utama yang bikin gue galau ini. Karena kerja jadi prioritas gue yang ke sekian, gue pun nggak bisa dibilang sibuk. Gue punya banyak waktu luang sebenarnya. Gue tetep praktik, tapi paling cuma sekian hari per minggu, itu pun demi gue bisa interaksi sama pasien, ngamalin ilmu, dan sekalian bantu temen. Yup, sering dimintai tolong gantikan ceritanya. Hehe.. Awalnya fine-fine aja, sampai gue bosen dan pengen punya tempat untuk settle. Gue pun ngurus klinik pribadi. Itu juga anjurannya misua dan mertua. Bukan klinik murni punya gue juga sik, punya keluarga misua sebenarnya. Motivasi simpel aja, gue pengen punya tempat. Pengen jadi dokter, yang punya pasien yang percaya sama gue. Punya tempat di mana isinya dunia gue, peraturan gue, di mana gue bisa ngamalin ilmu gue. Haha.. Sakjane kalau mau punya tempat aja harusnya simpel ya, sebar aja lamaran ke mana-mana, kan siapa tahu ada yang nyangkut. Haha.. Tapi di situ lah jeleknya gue. Gue takut, dan kebanyakan mikir. Gue nggak pengen aja gitu, ntar gue sama misua gue sama-sama sibuk dengan kerjaan doang. Apalagi dokter.... Gak enak aja, gitu. Iya tahu, gue serakah emang. Hahaha.. Miip. Well balik ke klinik, klinik yang gue kira tinggal diurus sip dokternya aja, ternyata masih jauuuh dari siap. Iya, salah gue lagi karena hidup dalam dunia imajinasi. Haha.. Ya secara dibilangin, "Udah, tinggal ngurus SIP aja kamu," gue langsung jump in my personal conclusion deh. Sebenarnya kalau dipikir-pikir ya ambigu juga itu maknanya. Haha.. Alhasil, klinik itu jadi salah satu goal jangka panjang gue. Gue juga masih dalam masa penantian untuk jadi pegawai di suatu RS. Yang gue niatin banget lah pokoknya, entah kenapa. Wkwkwk.. Daaaan di saat itulah Gie, tawaran ini datang. Setelah banyak ngobrol sama teman sendiri, akhirnya gue iya in. Gue jadi dokter UGD lagi cuy. Akhirnya gue punya tempat.. Alhamdulillah.. Ahahahahaha.. Eh tapi, ini bulan Ramadhan.. Nanti, lebarannya gimana dong?

Bukan apa-apa. Lebaran sama keluarga menurut gue penting banget. Kayanya udah cukup deh gue nggak ngabisin waktu sama emak bapak dan adek-adek. Dan ini kita bicara tentang Lebaran, masa-masa suci di mana Emak dan Bapak bisa libur bareng. Di luar itu mah, jangan tanya deh, jadwal Emak gue ala-ala artis dah. Haha.. Gue pernah Lebaran di RS, sama temen kos, sama keluarga pacar, di masa-masa gue studi dulu. Prinsip gue waktu itu, this too shall pass. Lepas SMA, gue kuliah di perantauan. Pulang nggak bisa sesering temen-temen yang rumahnya masih di Jatim juga. Selesai kuliah, jadi dokter, ada internsip satu taun. Itu pun di Jawa Timur lagi, jarang pulang lagi. Terus, selesai iship, gue nikah. Alhamdulillah.. Tapi yah komit ngikut suami akhirnya..:) Dan ternyata ini salah satu konsekuensinya. This too shall pass? Nope. Gue nggak bisa berharap lagi untuk tinggal nunggu ini semua lewat. Yang ada mah, sekarang, gue harus bisa menghadapi semuanya dengan baik ya.. Iya kan Gie?

Banyak yang bilang, pacaran LDR itu soro. Tapi menurut gue, LDR sama ortu dan adek sendiri juga nggak jauh beda soro nya. Apalagi bertahun-tahun. Apalagi pas kamu udah jadi isteri orang, yaah, bakal kerasa ya.. Gue jadi sering gitu, nginget-nginget masa-masa gue masih kecil dulu. Jalan-jalan, ngobrol, mudik, muntah di mobil, makan nasi uduk Kebon Kacang, dicurhatin Emak sampe tengah malem, dianterin Bapak ke sekolah, berantem sama adek, dll dll. Masa-masa gue sama keluarga gue pun sebenernya juga nggak perfect. Ada kalanya kok, gue sebel-sebelan, gue ngeluh, gue stres sama keluarga sendiri. Tapi, gimanapun, Emak, Bapak, adek-adek gue, ya keluarga gue yang gue sayang banget. Nggak ada yang bisa gantikan persis sama, walaupun jujur Alhamdulillah aku juga punya keluarga baru dari misua.. Cuma, kalau udah lama nggak ketemu gini, wajar kan gue kangen Gie? Nggak apa kan, pengen ngerasain masa-masa mudik seru dulu Gie? Iya nggak Gie....? :')

Hehehe.... Mangkanya gue galau. Tau gitu, gue ngeiyain tawarannya buat selepas Lebaran aja yaaa Gieee.. Dudul emang, gue kok nggak kepikiran.. TTwTT Sekarang bahkan kata resign ada di benak gue. Apalagi abis misua sama Emak punya pendapat yang sama.. Demi Lebaran, sama keluarga.. Yah, gue mungkin kelihatan lebay banget atau gegabah ya.. Tapi apalah katamu nak, buat gue,

"Family is not important thing, it's everything..."