Sunday, September 29, 2013

Honey and Clover














Gue semacam nostalgia. Gara-gara nemu live action series nya Honey and Clover, yang dulu sempet gue sukaaa banget animenya. Well, bukan sempet sih sebenernya. Emang gue suka sih sampai sekarang. Cerita tentang lima orang, Yuta Takemoto, Hagumi Hanamoto, Shinobu Morita, Ayumi Yamada, dan Takumi Mayama. Tentang persahabatan, cinta, dan pencarian jati diri. Tentang perjuangan dan penantian. Tentang keberanian dan ketulusan. Haha.. Lebay lagi nih bahasa gue.. Well, so far, gue udah nonton 5 episode dari 11, dan so far juga, gue kasih nilai 8,5 dari 10 buat live action series ini. Ceritanya bagus. Pemaparannya indah, nggak kalah indah dengan anime nya yang bagus banget menurut gue. Cuma, ya, kadang gue nggak tahan kalau lihat nasibnya lima orang itu, terutama Takemoto. Sedih sih.. Just like, life is sooo unfair to him! Tapi, kalau gue perhatikan lebih jeli lagi, banyak nilai moral yang bisa diambil dari cerita ini, aahaha.. Makanya gue kasih nilai bagus deh. Hehe.. Awalnya gue punya pikiran, "Honey" itu terlalu manis buat judul cerita ini. Haha.. Karena menurut gue, cerita ini gak sekadar "sweet", tapi "bitter sweet". Hehehe.. Chocolate and Clover mungkin lebih pas kali ya? Atau Cappuccino and Clover. Hehe.. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, memang cerita ini toh secara keseluruhan manis, semanis judulnya, Honey and Clover..

huff day

Bloggie.. Kenapa sih gue sering banget ngerasa sepi? Ngerasa sendirian? Padahal gue gak tinggal di kuburan kali Gie. Kosan gue, rame. Anak-anaknya cerewet-cerewet semua. Hehe.. Bukan gue nggak mau gabung sama mereka. Gue ngobrol kok, bercandaan. Cuma kalau udah ada yang omong-omongan tentang suatu yang gue nggak ngerti, gue jadi ngerasa minder aja buat gabung lagi. Kebiasaan jelek. Haha. Apalagi kalau kos lagi sepi gini. Di kamar aja, nggak ada kerjaan, cuma ngenet, tidur, dengerin lagu. Rasanya sesek aja gitu. Mau jalan-jalan, ngajak temen, eh lagi gak bisa. Hm.. Alamat sendirian lagi. Hehe. Begitu curhat, tanggapannya gitu-gitu aja. Harapan gue, nggak sesimpel itu mungkin. Nggak yang cuma di "haha hehe" in doang. Hehehe. Jadi berasa makin kecil ini hati. Malah jadi bete sendiri, ngerasa kaya.. nggak dingertiin. Tuh kan, aneh banget gue Gie. Huff.. Kebiasaan jelek yang susah banget ilang. Sebenernya gue udah biasa banget sendirian kaya gini lho. Cuma, nggak tau lah. Belakangan ini rasa seseknya kaya progresif gitu deh, tiap ketemu situasi yang sama. Mesti ngapain gue ya Gie?

Friday, September 27, 2013

Time After Time

Time After Time 
by Cyndi Lauper

Lying in my bed I hear the clock tick,
And think of you
Caught up in circles confusion,
Is nothing new
Flashback, warm nights,
Almost left behind
Suitcases of memories,
Time after,

Sometimes you picture me,
I'm walking too far ahead
You're calling to me, I can't hear
What you've said,
Then you say, go slow,
I fall behind,
The second hand unwinds

[Chorus:]
If you're lost you can look, and you will find me
Time after time
If you fall I will catch you, I'll be waiting 
Time after time

After my picture fades and darkness has 
Turned to gray
Watching through windows, you're wondering
If I'm OK
Secrets stolen from deep inside
The drum beats out of time,

[Chorus:]
If you're lost...

You said go slow,
I fall behind
The second hand unwinds,

[Chorus:]
If you're lost...
...Time after time
Time after time
Time after time
Time after time

***
Lirik dari sini :)

suatu tentang rindu

Gadis itu masih terdiam. Membisu. Terduduk begitu saja di bangku taman. Sesekali menengok ke kanan dan kiri, sesekali melirik jam tangan karet berwarna putih yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Namun pandangannya lebih banyak tertuju ke pada satu titik, sebrang. Halte bis yang berada persis di sebrang bangku taman.

Aku akan datang. Aku akan turun dari bis merah itu, yang menghubungkan jarak di antara kita.

Gadis itu kembali teringat, terngiang-ngiang, bahkan seakan ada suara-suara yang bergema di dalam benaknya. Suara orang itu. Suara pria itu. Suara dia, yang berkacamata. Suaranya, yang berambut pendek cepak kecokelatan, yang memiliki senyum begitu rupawan, dengan gigi putih berderet terawat baik. Suaranya, yang biarpun kekar badannya, namun bisa menjerit ketakutan melihat tikus got melintas di dapur rumahnya, yang entah kenapa tidak disukai oleh anak-anak kecil di sekitarnya, namun terlihat begitu tulus saat menidurkan keponakannya yang masih bayi. Suara bariton itu, suara yang belakangan ini hanya terdengar dalam benak gadis itu saja. Suara yang membuat si gadis rindu dengan pemiliknya.

Satu jam berlalu, namun si gadis masih terdiam. Terdiam dan tersenyum bahkan. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Ia masih terduduk manis, hanya sesekali berganti posisi, namun tetap setia dengan bangku taman, dan pandangan ke halte bis sebrang. Dua jam berlalu, tiga jam berlalu. Yang gadis itu harapkan masih belum terjadi. Ia mulai menggigil. Dingin. Di musim seperti ini, wajar jika jaket dan syal yang ia kenakan masih belum bisa menyamarkannya. Senyumnya perlahan memudar.

"Bisnya terlambat.. Mungkin karena badai di sana." ucap gadis itu pelan, mengembalikan senyum yang sempat hilang dari wajahnya itu. Ia mendongak, kembali memandang lekat-lekat halte bis di sebrang.

Jika aku terlambat, sekiranya kau mau menunggu. Tapi jika kau mulai merasa dingin, pergilah. Aku yang akan menemuimu kemudian.

"Tapi aku tahu, kamu tidak akan menemuiku kemudian.." ujarnya lirih, entah bicara dengan siapa. Ia kembali melihat jam tangannya, lalu mengembuskan nafas dalam. Air matanya menggenang.

Akan tetapi, yang ia tunggu akhirnya tiba. Bis merah, berhenti di halte bis kecil itu. Si gadis tersenyum, manis, namun air matanya tak lagi terbendung. Haru. Senang. Rindu. Semua perasaan bercampur aduk dalam hatinya. Tak lama, bis merah itu pergi, berlalu. Meninggalkan seorang pria, berkacamata, berbadan tegap, namun kini memegang tongkat di tangan kirinya. Dia berdiri terdiam di halte sebrang. Dia. Dia, yang gadis itu cari-cari. Dia, yang berhasil membuat gadis itu menangis sambil tersenyum. Dan dia lalu melemparkan senyum. Senyum yang sudah sangat lama rasanya, gadis itu tidak lihat. Si gadis juga berdiri, ingin sekali ia berlari, menyebrang jalan dan menghambur ke pelukan si pria berkacamata. Namun niatnya terhenti, melihat si pria yang berjalan tertatih-tatih, menyebrangi jalan raya yang sepi itu, menuju bangku taman. Dengan senyum, yang entahlah, tidak menggambarkan suatu kebahagiaan. Lalu si pria berhenti, hanya beberapa jarak dengan si gadis. Si gadis menangis, memberanikan diri, mengeluarkan tenaga untuk bicara, terbata-bata.

"Kamu.. Kamu kemana? Selama ini kemana?"

Namun siapa sangka, pria itu juga menangis. Awalnya perlahan, namun semakin lama, semakin sesenggukan. Si gadis mulai khawatir, ia bergegas ingin mendekat, namun aneh, ia tidak bisa beranjak dari bangku taman itu. Bahkan hanya untuk beberapa langkah.

"A.. Aku takut.. Aku selama ini takut, sayang. Aku takut menghadapi kenyataan. Menghadapi kenyataan bahwa dirimu sudah tiada..."

Si gadis memucat. Ia hanya bisa diam, memandang nanar kekasihnya yang penuh pilu berbicara di sela tangisan. Dengan air matanya sendiri, yang belum berhenti mengalir..

"Tiga tahun ini.. Tiga tahun, sayang.. Sejak peristiwa itu.. Sejak kamu menyelamatkanku yang sembrono menyebrang jalan ini. Sejak aku harus kehilangan.. Kamu.."

Pria berkacamata itu berlutut. Melepaskan kacamata nya yang berbingkai tebal, menghapus bulir-bulir air mata yang sudah tumpah sedari tadi. Dan si gadis? Ia masih terdiam di tempatnya, namun air matanya mengalir deras, sangat deras.

"Aku.. Selalu ingin lari. Selalu.. Aku malu. Aku hancur. Aku mendadak benci bangku taman ini, yang padahal adalah tempat kesukaanmu, saat kamu membaca buku-buku Meg Cabbot, atau sekadar mengerjakan tugas dari dosenmu, atau.. sekadar menungguku datang dari kota sebelah.. Aku membenci tempat ini, tempat pertama kita dipertemukan oleh takdir, sayang.. Aku membenci tempat ini, tempat di mana kamu mau menerimaku yang kikuk dan kaku ini untuk menjadi suamimu.."

"Ja.. Jadi selama ini kamu?" Emosi pun membelenggu si gadis. Pedih, itu yang ia rasakan, walau tidak ada luka terbuka pada tubuhnya.

"Selama ini aku sembunyi, sayang.. Aku mengunci diri.. Aku menyalahkan diriku sendiri..."

"Bukan.. Bukan salah kamu, sayang.. Bukan.." gadis itu pun sesenggukan.

"Aku bahkan.. Sempat ingin pergi saja dari dunia ini.."

"Jangan! Jangan sekalipun kamu memikirkan hal itu lagi!" gadis itu sedikit berteriak, namun sebenarnya percuma, karena si pria toh tidak bisa mendengarnya.

"Tapi.. Aku lalu membaca pesan-pesanmu, sayang.. Aku.. Bahkan akhir-akhir ini selalu bermimpi, bertemu dirimu, yang masih begitu cantik dan memesona.. Dan kamu bilang, 'tidak apa-apa'.. Aku.. Aku membaca semua pesan yang kamu tinggalkan, sayang.. Yang sengaja, maupun tidak.. Cerita-cerita pendekmu, curahan-curahan hatimu, kata-kata semangatmu di lembaran post it milikku yang tak sengaja aku tinggalkan padamu.. Membuatku malu, akan kelakuanku yang berlebihan ini.. Dan aku lalu ingat sayang, akan janjiku, yang seharusnya aku penuhi saat terakhir kali kita bertemu itu.."

Si pria berkacamata itu lalu kembali berdiri, beranjak menuju bangku. Ia lalu meletakan sebuah buket bunga anggrek bulan dan lily putih, dan merogoh saku jaznya, mengeluarkan kalung perak dengan bandul kuda bersayap. Dan ia kembali menangis, namun lalu tersenyum.

"Selamat ulang tahun, sayang.. Maafkan aku, atas segala kebodohanku, keegoisanku, atas segala kesalahanku terhadapmu. Maafkan aku, atas tindakanku yang ceroboh, yang membuat kita semua celaka saat itu. Maafkan aku, jika terlalu lama aku menyerahkan kalung ini, di bangku taman ini, untuk ulang tahunmu. Tolong, maafkan aku..." Pria itu kembali menangis, tersedu-sedu.

"Terimakasih banyak sayang.. Terimakasih atas semua cinta yang telah engkau berikan kepadaku. Terimakasih atas semua ilmu yang kau bagi, terimakasih mau belajar bersamaku, walau ternyata waktu kita bersama begitu singkat di dunia. Terimakasih banyak, engkau pun telah menyelamatkanku, berkali-kali.. Bahkan setelah kau tiada.. Terimakasih, sayang.."

"Aku berharap, kita bertemu lagi di dunia yang lain.. Dengan perasaan yang masih sama.. Sayang, berbahagialah di sana, dan aku pun akan kembali berbahagia dan melanjutkan hidupku di sini.. Aku.. Aku cinta padamu.. Sangat.. Cinta padamu.."

Dalam hitungan detik, si gadis memeluk pria berkacamata itu, yang kini kembali berlutut, menangis, tersedu.. Gadis itu pun masih menangis, namun sebuah senyuman yang sangat manis kini menghiasi wajahnya. Dengan lirih ia menguatkan diri untuk berkata,

"Terimakasih, sayang.. Aku juga cinta padamu.. Sangat cinta padamu.. Berbahagialah.."

Dan sebuah kecupan lembut ia daratkan pada pipi pria itu, dan perlahan seberkas cahaya membungkusnya, membawanya pergi, ke tempat yang penuh damai.

***
Malang, 2013

Tuesday, September 17, 2013

feel like a broken heart

Selama ini sudah 11 semester saya lalui, dengan besaran SPP 4 juta tiap semesternya, tapi itu pun belum selesai studi saya.. Bukan berarti saya molor atau apa, itu memang normalnya gelombang pertama di program studi yang saya jalani ini. Tapi semester ini adalah yang terakhir, harus terakhir! Karena toh memang masa studi saya, sudah sampai ke tahap akhir. Tinggal 3 bulan lagi, studi profesi saya selesai, yang harus dilanjutkan dengan suatu ujian akhir, yang terdiri dari ujian teori (CBT) dan ujian praktik (OSCE), yang ternyata, untuk tahun ini perlu membayar 4 juta untuk mengikutinya. Dengan tambahan iuran sekian untuk bimbingan dan try out, namun yah, siapa yang bisa menjamin bahwa dengan itu semua ujian itu semua bisa terlewati? Ah, bukan, bukan saya bermaksud pesimis. Saya hanya berpikir menggunakan logika saya, saya berhitung. Walau ya memang, dengan adanya bimbingan dan try out yang sekarang berbayar (karena tahun lalu tidak dikenakan biaya), tentu besar harapan saya, akan ada dampak positif yang besar untuk ujian kami kelak. Kuliah saya ini, mahal amat amat mahal sekali rupanya. Dari masuk, saat di dalam, bahkan saat mau keluar pun, yang namanya uang, selalu saja menjadi mm persoalan. Memang itu semua konsekuensi, dari apa yang saya pilih. Hanya saja, sudah selama ini saya berdamai, bersabar, diam dan menunduk saja dengan harus ini harus itu, tapi perlukah lagi saya dibayang-bayangi dengan kebijakan-kebijakan yang menurut saya tidak sesuai logika? Diancam lagi, perlukah? Jika tidak lulus, tidak boleh yudisium, masih wajib membayar SPP. Diancam lagi, masih perlukah? Saya muak. Bosan. Hidup penuh dengan ancaman ini, ancaman itu. Kekhawatiran ini, kekhawatiran itu.. Walau memang kedua orangtua saya hanya bilang, ya sudah. Tapi tetap saja, saya tahu kondisi keuangan mereka berdua.. Dan haruskah sekarang? Kenapa harus saya yang terkena kebijakan lucu ini? Kenapa hanya selang 1 tahun, semuanya bisa sangat berbeda? Kenapa harus di saat adik-adik saya juga perlu uang yang banyak? Untuk melanjutkan studi ke SMA dan universitas? Kenapa? Kenapa??

Tapi lihat! Akan saya tunjukan, saya akan lulus dalam 1 kali ujian saja. Gelombang pertama, Februari 2014. Tidak akan saya terjebak dalam kebijakan aneh itu. Tidak akan saya memberi keuntungan untuk sebagian pihak tidak bertanggung jawab. I'll do my best for sure! I'll do it very well! Saya akan berusaha semampu saya, dan tentunya juga berdoa dan berharap. Bismillah.. Bisa.. Dan jika nanti saya jadi orang besar, saya akan berusaha untuk punya kekuatan dan kekuasaan. Akan saya pakai nanti, untuk menghilangkan kebijakan-kebijakan bodoh yang menyengsarakan entah banyak atau sedikit orang. Tidak akan saya lupa, tidak semua anak kedokteran itu dari keluarga berada, yang bisa seenaknya dijadikan objekan. Sekian..

Belajar Berbagi di Bulan Suci :)

Alhamdulillah, kalau menurut kalender saya, hari ini adalah hari ke-14 bulan Ramadhan, dan tidak ada satu hari pun yang tidak dipenuhi berkah bagi saya. Sekali lagi alhamdulillah.. :-) Dan tahun ini, adalah tahun kedua saya berpuasa dengan status dokter muda, atau yang lebih dikenal koas, di suatu rumah sakit umum daerah. Kenapa saya itung-itung? Karena Ramadhan nya koas itu istimewa. Haha.. Secara, koas itu, mau lagi bulan puasa atau enggak, ya tetep aja kesibukannya, ujiannya, jaga malamnya, jalan teruus.. Saya masih ingat, tahun pertama sebagai koas saat menjalankan ibadah puasa, saya sedang berada di bagian atau laboratorium bedah. Di mana jadwal jaga malamnya lumayan banyak juga, sekitar 8 kali dalam 1 bulan. Kalau sudah jaga malam, apalagi itu di UGD, berarti saya tidak bisa pulang. Berjaga di rumah sakit dari jam 3 sore, sampai jam 7 esok paginya, lalu dilanjutkan kembali kegiatan stase di rumah sakit seperti biasa sampai jam 3 sore kembali. Itu berarti otomatis saya harus berbuka dan sahur di rumah sakit pula. Itu juga curi-curi waktu, harus di saat tidak ada pasien. Kalau ada pasien, ya tetap, prioritas utama adalah menangani pasien dulu. Sempat saat itu, saya mendapat pasien dengan luka bakar di tangan karena terkena petasan. Nggak tanggung-tanggung, pasien datang sekitar tengah malam dan harus dijahit jari-jarinya yang terluka. Jari-jari, which means, banyak, dan nggak bisa cepet. Haha.. Jadilah saya lakukan tugas saya, sendirian, berhubung teman-teman lain pun sedang sibuk dengan pasien masing-masing. Sendirian, pasiennya juga kurang kooperatif, bagian yang harus saya jahit juga lumayan menantang waktu itu, yaitu di jari dan sela-sela jari. Hehehe.. Tapi, namanya tugas, mau ngantuk mau apapun, ya tetep lah harus saya kerjakan. Hehe.. Sampai tak terasa waktu sahur hampir habis. Haha.. Syukur, ppds nya waktu itu baik banget, mengingatkan saya untuk sahur dulu, dan akhirnya saya sempat untuk sahur walaupun ngebut dengan kecepatan ekstra. Hehe.. Bener-bener pengalaman yang nggak bisa saya lupain deh.. :)

Kalau tahun ini, alhamdulillah, saya sudah tidak sedang stase di lab mayor. Hehe.. Jadi bisa lebih menghabiskan waktu di kos-kos an, sama temen-temen, sama kakak-kakak, yang nggak kerasa, udah setahun lebih saya bertetangga dengan mereka. Kebetulan, saya menghabiskan waktu saya ber-stase di lab kulit dan radiologi, untuk tahun ini. Yang punya jadwal pulang tetap, yaitu jam 2 siang. Hehehe.. Dan jadwal jaganya pun jauuh lebih ringan jika dibandingkan dengan bedah dulu, yang ada jaga malamnya. Hehe..

Nah dan ternyata, di tahun ini, ada kejadian baru yang saya alami selama Ramadhan. Yang belakangan ini mulai menjadi kebiasaan. Hehe.. Buka dan sahur bareng satu kos. Kedengerannya sederhana ya? Tapi kalau buat saya, itu kebahagiaan tersendiri. Hehe.. Tantangan tersendiri juga.. Semacam tradisi baru, yang entahlah, saya sempat agak kikuk juga begitu awal-awal ikutan. Secara, selama ini saya terbiasa sendirian. Kalau lagi di kos, biasanya sahur makan sendiri di kamar, buka pun sendiri di kamar, dengan makanan yang sudah dibeli sebelumnya. Kalau nggak begitu, paling menghabiskan sahur dan buka sembari jaga di rumah sakit. Hehe.. Tapi sekarang, semacam ada perasaan sungkan kalau makan sendiri-sendiri begitu. Yah, memang dimana-mana itu lebih enak bareng-bareng ya daripada sendirian. Hehe..

Oh ya, nggak kaya sebelum-sebelumnya, tahun ini teman-teman kos saya pada masak bareng, baik buat buka maupun sahur. Bahan-bahan masaknya, terserah dari siapa aja. Masing-masing pada nyumbang yang ada. Nggak ada yang itung-itungan. Makannya pun bareng-bareng, bebas buat siapa aja asal masih penghuni kos-kosan. Nah, saya pernah tuh, di hari-hari awal puasa, saya ketiduran sampai mau Magrib. Bangun-bangun, teman-teman ternyata sudah ramai, dan mereka sudah hampir selesai masak untuk berbuka. Otomatis saya sungkan, kok nggak bantu-bantu dari awal. Mana nggak nyumbang bahan-bahan juga. Saya lalu bergegas, inisiatif untuk membeli makanan buka di luar. Eh, begitu pamit, malah kena omel sama anak-anak kos. Mereka ternyata malah mempersilakan saya untuk gabung saja, makan makanan hasil masakan anak-anak tadi. Jujur, awalnya saya nolak-nolak. Sungkan bangeet.. Tapi karena temen-temen saya itu makin kekeuh juga, ya akhirnya saya makan bareng mereka semua, makanan yang tadi mereka masak rame-rame, dengan perasaan nano-nano.. Sampai-sampai sesudahnya, saya cerita ke salah satu teman tentang apa yang saya rasakan. Tapi dia justru tertawa, dan berkata, "Itu wajar namanya. Teman itu ya seperti itu. Nanti, kalau kamu punya sesuatu, tinggal gantian aja bagi-bagi nya." Just as simple as that. Tapi bikin saya tertegun agak lama. Kalau dipikir-pikir, selama ini saya jarang sekali berbagi dengan teman seperti itu. Hampir lupa rasanya, hidup ramai-ramai dengan banyak teman, yang hampir sama rasanya seperti waktu tinggal di rumah. Kalau dipikir-pikir, sepertinya memang saya sudah terlalu lama, hidup sekadarnya, berbagi sekadarnya. Baru saat itu saya sadar, mereka itu teman-teman saya, dan saya teman-teman mereka. Bahkan lebih dari teman, teman baik. Mereka tulus berbagi dengan saya. Mereka mau membantu saya tampa pamrih. Sementara saya selama ini? Lebih sering mengurung diri di kamar, menyibukkan diri dengan tugas, atau bermain game, atau lebih memilih tidur, saya seperti lupa, ada mereka, teman-teman baik saya..

Alhamdulillah, mungkin itu salah satu berkah yang saya dapatkan di Bulan Suci Ramadhan tahun ini. Nggak cuma dalam konteks berbagi apa yang dipunya, hubungan kami sebagai saudara juga kian terasa. Diberi kesempatan untuk bersama-sama, berjamaah dalam menjalankan ibadah, sungguh suatu berkah, yang luar biasa indah..:-) Dan terimakasih untuk itu semua, Ya Allah.. Terimakasih telah membuka mata saya, terimakasih telah mengelilingi saya dengan orang-orang berhati malaikat itu.. Terimakasih..:-)