Friday, September 27, 2013

suatu tentang rindu

Gadis itu masih terdiam. Membisu. Terduduk begitu saja di bangku taman. Sesekali menengok ke kanan dan kiri, sesekali melirik jam tangan karet berwarna putih yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Namun pandangannya lebih banyak tertuju ke pada satu titik, sebrang. Halte bis yang berada persis di sebrang bangku taman.

Aku akan datang. Aku akan turun dari bis merah itu, yang menghubungkan jarak di antara kita.

Gadis itu kembali teringat, terngiang-ngiang, bahkan seakan ada suara-suara yang bergema di dalam benaknya. Suara orang itu. Suara pria itu. Suara dia, yang berkacamata. Suaranya, yang berambut pendek cepak kecokelatan, yang memiliki senyum begitu rupawan, dengan gigi putih berderet terawat baik. Suaranya, yang biarpun kekar badannya, namun bisa menjerit ketakutan melihat tikus got melintas di dapur rumahnya, yang entah kenapa tidak disukai oleh anak-anak kecil di sekitarnya, namun terlihat begitu tulus saat menidurkan keponakannya yang masih bayi. Suara bariton itu, suara yang belakangan ini hanya terdengar dalam benak gadis itu saja. Suara yang membuat si gadis rindu dengan pemiliknya.

Satu jam berlalu, namun si gadis masih terdiam. Terdiam dan tersenyum bahkan. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Ia masih terduduk manis, hanya sesekali berganti posisi, namun tetap setia dengan bangku taman, dan pandangan ke halte bis sebrang. Dua jam berlalu, tiga jam berlalu. Yang gadis itu harapkan masih belum terjadi. Ia mulai menggigil. Dingin. Di musim seperti ini, wajar jika jaket dan syal yang ia kenakan masih belum bisa menyamarkannya. Senyumnya perlahan memudar.

"Bisnya terlambat.. Mungkin karena badai di sana." ucap gadis itu pelan, mengembalikan senyum yang sempat hilang dari wajahnya itu. Ia mendongak, kembali memandang lekat-lekat halte bis di sebrang.

Jika aku terlambat, sekiranya kau mau menunggu. Tapi jika kau mulai merasa dingin, pergilah. Aku yang akan menemuimu kemudian.

"Tapi aku tahu, kamu tidak akan menemuiku kemudian.." ujarnya lirih, entah bicara dengan siapa. Ia kembali melihat jam tangannya, lalu mengembuskan nafas dalam. Air matanya menggenang.

Akan tetapi, yang ia tunggu akhirnya tiba. Bis merah, berhenti di halte bis kecil itu. Si gadis tersenyum, manis, namun air matanya tak lagi terbendung. Haru. Senang. Rindu. Semua perasaan bercampur aduk dalam hatinya. Tak lama, bis merah itu pergi, berlalu. Meninggalkan seorang pria, berkacamata, berbadan tegap, namun kini memegang tongkat di tangan kirinya. Dia berdiri terdiam di halte sebrang. Dia. Dia, yang gadis itu cari-cari. Dia, yang berhasil membuat gadis itu menangis sambil tersenyum. Dan dia lalu melemparkan senyum. Senyum yang sudah sangat lama rasanya, gadis itu tidak lihat. Si gadis juga berdiri, ingin sekali ia berlari, menyebrang jalan dan menghambur ke pelukan si pria berkacamata. Namun niatnya terhenti, melihat si pria yang berjalan tertatih-tatih, menyebrangi jalan raya yang sepi itu, menuju bangku taman. Dengan senyum, yang entahlah, tidak menggambarkan suatu kebahagiaan. Lalu si pria berhenti, hanya beberapa jarak dengan si gadis. Si gadis menangis, memberanikan diri, mengeluarkan tenaga untuk bicara, terbata-bata.

"Kamu.. Kamu kemana? Selama ini kemana?"

Namun siapa sangka, pria itu juga menangis. Awalnya perlahan, namun semakin lama, semakin sesenggukan. Si gadis mulai khawatir, ia bergegas ingin mendekat, namun aneh, ia tidak bisa beranjak dari bangku taman itu. Bahkan hanya untuk beberapa langkah.

"A.. Aku takut.. Aku selama ini takut, sayang. Aku takut menghadapi kenyataan. Menghadapi kenyataan bahwa dirimu sudah tiada..."

Si gadis memucat. Ia hanya bisa diam, memandang nanar kekasihnya yang penuh pilu berbicara di sela tangisan. Dengan air matanya sendiri, yang belum berhenti mengalir..

"Tiga tahun ini.. Tiga tahun, sayang.. Sejak peristiwa itu.. Sejak kamu menyelamatkanku yang sembrono menyebrang jalan ini. Sejak aku harus kehilangan.. Kamu.."

Pria berkacamata itu berlutut. Melepaskan kacamata nya yang berbingkai tebal, menghapus bulir-bulir air mata yang sudah tumpah sedari tadi. Dan si gadis? Ia masih terdiam di tempatnya, namun air matanya mengalir deras, sangat deras.

"Aku.. Selalu ingin lari. Selalu.. Aku malu. Aku hancur. Aku mendadak benci bangku taman ini, yang padahal adalah tempat kesukaanmu, saat kamu membaca buku-buku Meg Cabbot, atau sekadar mengerjakan tugas dari dosenmu, atau.. sekadar menungguku datang dari kota sebelah.. Aku membenci tempat ini, tempat pertama kita dipertemukan oleh takdir, sayang.. Aku membenci tempat ini, tempat di mana kamu mau menerimaku yang kikuk dan kaku ini untuk menjadi suamimu.."

"Ja.. Jadi selama ini kamu?" Emosi pun membelenggu si gadis. Pedih, itu yang ia rasakan, walau tidak ada luka terbuka pada tubuhnya.

"Selama ini aku sembunyi, sayang.. Aku mengunci diri.. Aku menyalahkan diriku sendiri..."

"Bukan.. Bukan salah kamu, sayang.. Bukan.." gadis itu pun sesenggukan.

"Aku bahkan.. Sempat ingin pergi saja dari dunia ini.."

"Jangan! Jangan sekalipun kamu memikirkan hal itu lagi!" gadis itu sedikit berteriak, namun sebenarnya percuma, karena si pria toh tidak bisa mendengarnya.

"Tapi.. Aku lalu membaca pesan-pesanmu, sayang.. Aku.. Bahkan akhir-akhir ini selalu bermimpi, bertemu dirimu, yang masih begitu cantik dan memesona.. Dan kamu bilang, 'tidak apa-apa'.. Aku.. Aku membaca semua pesan yang kamu tinggalkan, sayang.. Yang sengaja, maupun tidak.. Cerita-cerita pendekmu, curahan-curahan hatimu, kata-kata semangatmu di lembaran post it milikku yang tak sengaja aku tinggalkan padamu.. Membuatku malu, akan kelakuanku yang berlebihan ini.. Dan aku lalu ingat sayang, akan janjiku, yang seharusnya aku penuhi saat terakhir kali kita bertemu itu.."

Si pria berkacamata itu lalu kembali berdiri, beranjak menuju bangku. Ia lalu meletakan sebuah buket bunga anggrek bulan dan lily putih, dan merogoh saku jaznya, mengeluarkan kalung perak dengan bandul kuda bersayap. Dan ia kembali menangis, namun lalu tersenyum.

"Selamat ulang tahun, sayang.. Maafkan aku, atas segala kebodohanku, keegoisanku, atas segala kesalahanku terhadapmu. Maafkan aku, atas tindakanku yang ceroboh, yang membuat kita semua celaka saat itu. Maafkan aku, jika terlalu lama aku menyerahkan kalung ini, di bangku taman ini, untuk ulang tahunmu. Tolong, maafkan aku..." Pria itu kembali menangis, tersedu-sedu.

"Terimakasih banyak sayang.. Terimakasih atas semua cinta yang telah engkau berikan kepadaku. Terimakasih atas semua ilmu yang kau bagi, terimakasih mau belajar bersamaku, walau ternyata waktu kita bersama begitu singkat di dunia. Terimakasih banyak, engkau pun telah menyelamatkanku, berkali-kali.. Bahkan setelah kau tiada.. Terimakasih, sayang.."

"Aku berharap, kita bertemu lagi di dunia yang lain.. Dengan perasaan yang masih sama.. Sayang, berbahagialah di sana, dan aku pun akan kembali berbahagia dan melanjutkan hidupku di sini.. Aku.. Aku cinta padamu.. Sangat.. Cinta padamu.."

Dalam hitungan detik, si gadis memeluk pria berkacamata itu, yang kini kembali berlutut, menangis, tersedu.. Gadis itu pun masih menangis, namun sebuah senyuman yang sangat manis kini menghiasi wajahnya. Dengan lirih ia menguatkan diri untuk berkata,

"Terimakasih, sayang.. Aku juga cinta padamu.. Sangat cinta padamu.. Berbahagialah.."

Dan sebuah kecupan lembut ia daratkan pada pipi pria itu, dan perlahan seberkas cahaya membungkusnya, membawanya pergi, ke tempat yang penuh damai.

***
Malang, 2013

No comments: