Thursday, January 29, 2015

Curhat Mereka

Saya orangnya seneng curhat. Hampir ke semua orang yang saya kenal, pasti kalau ada apa-apa saya cerita sama mereka. Biar bisa lebih lega. Walaupun emang masalahnya nggak selesai sih. Tapi tadi siang, gantian. Saya yang dicurhati. Dicurhati sama orang yang baru saya temui di hari itu. Sama pasien saya, waktu mereka datang berobat ke saya..

"Suami saya nikah lagi, Dok. Saya lagi sakit, tapi malah ditinggal suami.." ujar salah seorang ibu, yang memiliki kelainan liver.

"Anak saya baru meninggal, Dok. Anak pertama saya.." ujar seorang ibu yang lain, yang sedang berjuang melawan diabetes dan hipertensi nya.

And guess what.. Saya bingung mau respons bagaimana. Padahal udah bolak-balik saya sering curhat. Dicurhati temen-temen juga sering.Tapi kalau udah nangani pasien yang curhat, saya agak mati kutu. Saya hanya boleh berempati, tidak bersimpati. Dan entahlah, dalam beberapa kesempatan, rasanya sulit. Saya takut salah ngomong.

Saya cuma bisa bilang, "Sabar ya Bu.." atau "Biar dibalas di akherat ya Bu.." and another cliche soothing words. Did it help them? I don't know. I just can hope, it did help. I wish.. 

Dan pastinya, saya juga berharap, advis demi advis yang saya berikan, obat demi obat yang saya resepkan, juga pemeriksaan demi pemeriksaan yang saya lakukan, bisa membantu mereka, para pasien saya, untuk bisa sembuh dari sakit yang mereka derita.

Amin. Amin Ya Rabbal Alamin..

Saturday, January 24, 2015

Mamaku Bintang

Mama. Mamam. Mami. Mamski. Begitulah aku panggil Mama. Ganti-ganti gitu deh, sesuai mood dan keinginanku saat itu. Hehe.

Kalau Mama ditanya sukanya apa, pasti jawabnya bingung. Seperti saat kapan hari aku akhirnya punya gaji pertama, dan ingin membelikan Mama sesuatu.

"Ma, kalau tas batik kaya gini suka nggak?" ujarku di suatu saat sambil menunjukkan foto tas batik lucu yang dijual di suatu online shop.

"Hmm, ya, suka."

"Kalau yang sweater ini, bagus nggak Ma? Suka?"

"Ya, suka juga."

"Lebih suka yang mana Ma?"

"Ya, sama aja Kak."

"Hmm, jadi bingung ni Mams mau ngasih yang mana. Hahaha.."

"Ya terserah Kakak aja, Mama mah suka-suka aja kalau Kakak yang kasih.."

Begitulah Mama kalau ditanya. Hehe. Tapi aku cukup tahu apa yang Mama suka. Mama suka baju-baju yang simpel dan nyaman dipakai. Dan karena perawakan tubuhnya yang cukup tinggi besar, Mama lebih sering beli baju di pojok busana laki-laki. Hehe. Mamaku juga hobi membaca. Buku-buku yang ia suka baca, kebanyakan buku biografi tokoh yang tebel-tebel, atau Al Quran. Mama juga seorang pegawai negeri, yang nyambi sebagai dokter hewan di luar jam kerja. Mama nggak buka praktik, tapi on call, tergantung ada pasien yang membutuhkan atau tidak. Sehari-harinya, Mama lebih menghabiskan waktu sebagai pegawai negeri. Kalau ditanya kenapa memilih bekerja seperti itu, Mama pernah berkata,

"Biar pulangnya bisa sore Kak, jadi masih bisa ketemu kamu sama adik-adik kamu."

So sweet kan Mamaku? Hehehe..

Mama itu, semacam gabungan antara absurd dan super. Hehehe. Sebenernya agak susah juga sih ngejelasinnya gimana. Absurd itu, semacam anti mainstream lah ya. Iya, anti mainstream. Mama bukan tipe ibu-ibu yang tiap pagi bikinin Papa secangkir kopi atau masakin anak-anaknya sarapan. Dulu, sempat sih, kepikiran dan agak nggak terima kenapa Mama nggak seperti mama-mama lainnya. Nggak suka masak, hobi tidur, jarang bilang sayang ke anak-anaknya, dan lain-lain, dan lain-lain. Tapi sekarang, perasaan itu mah cerita lama. Hehe.. Seiring aku bertambah besar, aku semakin mengerti dan memaklumi. Semua punya alasan, alasan yang bisa diterima.

Oh ya, aku sama Mama punya satu kesamaan. Kami sama-sama hobi bercerita dan mengomentari apa-apa yang sedang terjadi saat itu. Yup, apa saja. Mulai dari berita di TV, headline koran, sampai perlakuan kakak-kakak kelasku di sekolah, atau tentang pekerjaan Mama di kantor. Kalau sudah ngobrol, wah, bisa sampai tengah malam baru tidur. Dan, selalu ada yang ajaib dalam tiap obrolanku dengan Mama. Iya, ajaib. Karena entah mengapa, aku merasa selalu ada pelajaran yang aku petik dari tiap obrolan kami. Pelajaran tentang hidup.

"Bekerja itu Kak, kamu nggak perlu ngejar uang. Yang penting keterampilan kamu. Uang akan mengalir sendirinya seiring keterampilan kamu meningkat," kata Mama suatu malam. Yang sampai sekarang masih sering aku ingat-ingat, di saat aku sedang kalut memikirkan pemasukan dan pengeluaran.

"Yang pasti, berkomitmen dengan cowok itu punya satu risiko Kak. Patah hati. Dan itu rasanya sakit. Kamu harus siap dengan risiko itu. Kalau pun kamu ngerasain itu, Mama nggak mau ya nanti kamu sampai patah semangat. Kamu tetep harus sisakan sekian persen dari hati kamu, buat kamu sendiri," itu nasihat Mama waktu aku lagi pertama kalinya cowok yang aku suka menyatakan perasaannya.

“Namanya perempuan Kak, harus kuat..”

Ya, itulah Mamaku. Biar nggak suka masak (Papa masih lebih sering masak enak malah di rumah, hehe), dan lebih sering bolak-balik ke luar kota karena pekerjaannya, Mama tetep Mama. Perempuan super dan tangguh. Di saat apapun, bahkan di saat Papa mengalami masa-masa jatuh. Mama tetap tegar, sabar, dan terus berjuang. Semangat juang Mama itu, seperti bintang di langit malam. Selalu terlihat. Berpendar dan indah. Pemikiran-pemikiran Mama itu, selalu membuatku bergumam setuju, dan pada akhirnya aku camkan dalam hidupku. Mungkin dari luar, Mama terlihat cuek dan keras hati. Tapi sesungguhnya, Mamaku adalah seorang wanita yang lembut. Hanya saja, mungkin sulit bagi Mama untuk mengekspresikannya. Hehe..

Ya, itulah Mamaku. Mama yang selalu bersinar, setidaknya menyinari aku, Papa, dan ketiga adik-adikku. Sesuai dengan namanya, Bintang. :)

...
"Tulisan ini disertakan dalam kegiatan Nulis Bareng Ibu. Tulisan lainnya dapat diakses di website http://nulisbarengibu.com

Sunday, January 11, 2015

Dua Tiga Kata Sebelum Tidur

Dari berbagai macam hal yang saya alami, tercetus suatu pemikiran oleh saya, bahwa bahagia itu simple. Simple, karena semua itu hanya permainan sudut pandang. Mungkin seperti melihat bunga mawar. Kita tahu, bahwa bunga mawar itu indah, sangat indah, tapi kadang, kita terlalu fokus memperhatikan duri yang ada di sepanjang tangkainya. Kita lupa, bahwa mahkota bunga mawar yang indah itu ada. Bersyukur, mungkin itu kuncinya. Cukup syukur. Syukuri apa yang ada. Jangan sampai kita lupa dengan apa yang kita punya. Di saat gelap adalah suatu ketiadaan cahaya, saya yakin, bahwa duka dan gundah dulana adalah suatu ketiadaan bahagia. Maka jangan jadikan ketiadaan itu ada, hanya karena sudut pandang kurang bijak yang kita gunakan. Bersyukurlah, berbahagialah, karena hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dengan bermuram durja, kawan..:)

p.s.: untuk mereka yang sedang "nggak enak perasaan", do not worry, be happy :)

Setelah Sekian Bulan

Good evening, people.. Halo Gie! Gak kerasa ya, udah lewat beberapa bulan aja nih, semenjak posting terakhir waktu Lebaran kemarin. *nyengir Setelah sekian bulan berlalu, banyak cerita rasanya yang bisa saya sampaikan. Terlalu banyak malah. Hahaha.. Banyak yang berubah, banyak yang baru. Hehe..

Eh, apa? Oh, tidak tidak, kalau dia, masih sama kok. Masih, saya sama dia. Dan saya pun (sampai saat ini) selalu berharap dia bisa terus sama saya. Huehehehehe.. Kalaupun ada yang berubah, mungkin taraf kedewasaan kami berdua, yang rasanya sih bertambah. Sudah nggak seberapa sering galau-galau seperti a-be-ge (bukan nama angkot) ababil lah. Walaupun tetep, masih ada sisi-sisi bocahnya, hehe. Hmm, bicara dia, otomatis saya jadi kepikiran dua kata, yaitu: masa dan depan. Masa depan. Posisi sekarang sih, saya lagi punya banyak rencana dan angan-angan untuk ke depannya, bersama dia, tentunya. Hehehe.. Tapi nggak usah cerita banyak dulu deh, mohon bantu doanya aja yak, moga-moga rencana dan angan-angan yang saya pasang di benak saya ini direstui oleh Yang Maha Kuasa dan bisa terlaksana dengan baik. Amin..

Oh ya, sekarang ini, saya udah resmi bukan anak Malang lagi loh. Alhamdulillah, setelah melalui berbagai proses yang panjang, penuh ketidakpastian, rumit, pelik, dan sedikit drama (HAHA), akhirnya saya terpilih (sebenarnya lebih tepat memilih lalu disetujui) menjadi dokter internsip selama 1 tahun di Kabupaten Blitar, tepatnya, RSUD Ngudi Waluyo Wlingi dan Puskesmas Sutojayan. Alhamdulillah, doa saya dikabulkan. Hehe.. Kebetulan emang pengen banget dapat Wlingi (setelah sebelumnya banting setir dari Kepanjen karena takut kalah saing), karena lokasinya yang terdekat kedua dari Malang. Dibandingkan dengan wahana-wahana isip lain yaa..

Nah, jadi, dihitung sejak pertengahan Oktober, kalau nggak salah sudah 2 bulan-an, saya merasakan manis pahitnya menjadi dokter internsip di sebuah rumah sakit daerah. Sekitar 2 bulan ini, saya dengan teman-teman kelompok kecil saya menjalankan hari-hari sebagai dokter umum yang bertugas di poliklinik RS. Alhamdulillah, saya cukup senang dengan apa yang saya jalani ini. Walaupun nggak selamanya perjalanan dirasa mulus, so far, I'm happy. Iya, nggak selamanya mulus. Ada aja loh, rasa-rasa kesel, capek, malas, marah, bingung, sedih, yang muncul dari bermacam situasi berbeda selama program internsip ini. Dipatolin TS senior, pernah. Dicuekin perawat waktu mau ngerujuk pasien gawat, pernah. Disangka mahasiswa perawat sama keluarga pasien, pernah. Didatangi pasien psikosomatis yang sama berulang kali, sampai mulut berbusa karena bolak-balik KIE, juga pernah. Pengalaman pahitnya yaa istilahnya, tapi tetep aja, senyum-senyum sendiri jadinya kalau saya ingat-ingat lagi. Karena dari pengalaman-pengalaman absurd itu, saya belajar hal baru. Dan jujur, saya mulai menikmati profesi saya sebagai dokter. Entah kenapa, rasanya senang bisa membantu pasien-pasien yang datang ke saya. Senang sekali rasanya, begitu pasien membaik dengan terapi yang saya berikan. Perasaan "ternyata-saya-bisa-bermanfaat" itu loo, yang epic banget rasanya. Hehe.. Dan pada akhirnya pun, kalimat wejangan dari Papi, untuk kami para dokter, memang benar adanya. To cure sometimes, to relieve often, and to comfort always, yes that's my duty, as a doctor. :-)

Oke deh, Gie, dan pembaca sekalian, sampai sini dulu saya cerita-cerita yak. Dilanjut lagi kapan-kapan. Dan doakan saya yaaa, agar bisa lebih bersyukur terhadap nikmat dan nggak sedikit-sedikit sambat. Hehe.. Jujur kok, saya bersyukuuuur banget bisa jadi dokter, dan semoga saja saya bisa makin istiqomah dengan profesi saya ini. Amin.. o:) Well then, good night everybody..^^