Mama. Mamam. Mami. Mamski. Begitulah aku panggil
Mama. Ganti-ganti gitu deh, sesuai mood dan keinginanku saat itu. Hehe.
Kalau Mama ditanya sukanya apa, pasti jawabnya bingung. Seperti saat kapan hari aku akhirnya punya gaji pertama, dan ingin membelikan Mama sesuatu.
"Ma, kalau tas batik kaya gini suka nggak?" ujarku di suatu saat sambil menunjukkan foto tas batik lucu yang dijual di suatu online shop.
"Hmm, ya, suka."
"Kalau yang sweater ini, bagus nggak Ma? Suka?"
"Ya, suka juga."
"Lebih suka yang mana Ma?"
"Ya, sama aja Kak."
"Hmm, jadi bingung ni Mams mau ngasih yang mana. Hahaha.."
"Ya terserah Kakak aja, Mama mah suka-suka aja kalau Kakak yang kasih.."
Begitulah Mama kalau ditanya. Hehe. Tapi aku cukup tahu apa yang Mama suka. Mama suka baju-baju yang simpel dan nyaman dipakai. Dan karena perawakan tubuhnya yang cukup tinggi besar, Mama lebih sering beli baju di pojok busana laki-laki. Hehe. Mamaku juga hobi membaca. Buku-buku yang ia suka baca, kebanyakan buku biografi tokoh yang tebel-tebel, atau Al Quran. Mama juga seorang pegawai negeri, yang nyambi sebagai dokter hewan di luar jam kerja. Mama nggak buka praktik, tapi on call, tergantung ada pasien yang membutuhkan atau tidak. Sehari-harinya, Mama lebih menghabiskan waktu sebagai pegawai negeri. Kalau ditanya kenapa memilih bekerja seperti itu, Mama pernah berkata,
"Biar pulangnya bisa sore Kak, jadi masih bisa ketemu kamu sama adik-adik kamu."
So sweet kan Mamaku? Hehehe..
Mama itu, semacam gabungan antara absurd dan
super. Hehehe. Sebenernya agak susah juga sih ngejelasinnya gimana. Absurd itu,
semacam anti mainstream lah ya. Iya,
anti mainstream. Mama bukan tipe
ibu-ibu yang tiap pagi bikinin Papa secangkir kopi atau masakin anak-anaknya
sarapan. Dulu, sempat sih, kepikiran dan agak nggak terima kenapa Mama nggak
seperti mama-mama lainnya. Nggak suka masak, hobi tidur, jarang bilang sayang
ke anak-anaknya, dan lain-lain, dan lain-lain. Tapi sekarang, perasaan itu mah
cerita lama. Hehe.. Seiring aku bertambah besar, aku semakin mengerti dan memaklumi.
Semua punya alasan, alasan yang bisa diterima.
Oh ya, aku sama Mama punya satu kesamaan. Kami
sama-sama hobi bercerita dan mengomentari apa-apa yang sedang terjadi saat itu.
Yup, apa saja. Mulai dari berita di TV, headline koran, sampai perlakuan kakak-kakak
kelasku di sekolah, atau tentang pekerjaan Mama di kantor. Kalau sudah ngobrol,
wah, bisa sampai tengah malam baru tidur. Dan, selalu ada yang ajaib dalam tiap
obrolanku dengan Mama. Iya, ajaib. Karena entah mengapa, aku merasa selalu ada
pelajaran yang aku petik dari tiap obrolan kami. Pelajaran tentang hidup.
"Bekerja itu Kak, kamu nggak perlu ngejar
uang. Yang penting keterampilan kamu. Uang akan mengalir sendirinya seiring
keterampilan kamu meningkat," kata Mama suatu malam. Yang sampai sekarang
masih sering aku ingat-ingat, di saat aku sedang kalut memikirkan pemasukan dan
pengeluaran.
"Yang pasti, berkomitmen dengan cowok itu
punya satu risiko Kak. Patah hati. Dan itu rasanya sakit. Kamu harus siap
dengan risiko itu. Kalau pun kamu ngerasain itu, Mama nggak mau ya nanti kamu
sampai patah semangat. Kamu tetep harus sisakan sekian persen dari hati kamu,
buat kamu sendiri," itu nasihat Mama waktu aku lagi pertama kalinya cowok
yang aku suka menyatakan perasaannya.
“Namanya perempuan Kak, harus kuat..”
Ya, itulah Mamaku. Biar nggak suka masak (Papa masih lebih sering masak enak malah di rumah, hehe), dan lebih sering bolak-balik ke luar kota
karena pekerjaannya, Mama tetep Mama. Perempuan super dan tangguh. Di saat apapun,
bahkan di saat Papa mengalami masa-masa jatuh. Mama tetap tegar, sabar, dan
terus berjuang. Semangat juang Mama itu, seperti bintang di langit malam.
Selalu terlihat. Berpendar dan indah. Pemikiran-pemikiran Mama itu, selalu
membuatku bergumam setuju, dan pada akhirnya aku camkan dalam hidupku. Mungkin
dari luar, Mama terlihat cuek dan keras hati. Tapi sesungguhnya, Mamaku adalah
seorang wanita yang lembut. Hanya saja, mungkin sulit bagi Mama untuk
mengekspresikannya. Hehe..
Ya, itulah Mamaku. Mama yang selalu bersinar, setidaknya
menyinari aku, Papa, dan ketiga adik-adikku. Sesuai dengan namanya, Bintang. :)
...
"Tulisan ini disertakan dalam kegiatan Nulis Bareng Ibu. Tulisan lainnya dapat diakses di website http://nulisbarengibu.com”
No comments:
Post a Comment