Wednesday, August 20, 2025

Just My Two Cents and Ascariasis

First of all, disclaimer dulu, yang akan gue tulis di sini mostly adalah opini gue sebagai seorang tenaga medis dan kesehatan, yang juga bekerja di rumah sakit, atau fasilitas rujukan tingkat lanjut menurut istilah dari pemerintah. Dan ya, saya masih bekerja di Indonesia, hampir 10 tahun belakangan ini. Yang kedua, jujur perasaan gue campur aduk mengetahui ada kasus ini. Sedih, iya. Marah, iya. Heran, juga iya. Turut mendoakan, iya. Gue termasuk golongan yang percaya, after life itu ada. Gue yakin, adik kecil saat ini sudah dalam perjalanannya menuju after life, dalam kondisi sudah tidak sakit. Aamiin.

Apa masih bertanya-tanya, kira-kira gue bahas apa atau siapa? Iya, gue menyoal adik kecil yang viral karena sakit parah, yang juga ditemukan infeksi parasit cacing di tubuhnya. Banyak cacing, yang dalam istilah medis disebut askariasis. Innalillahi wainnailaihi rojiun, turut berduka cita nggih, Dik. Sangat sedih rasanya mengetahui, ada kasus seperti ini. Terinfeksi banyak cacing tentu bukan perkara tiba-tiba. Ada jeda waktu sampai infeksi sudah parah. Kenapa gue beropini sudah parah? Karena sudah ada migrasi ke organ, dan juga ada kondisi penurunan kesadaran. Iya, cacingnya keluar dari hidung, juga dari bagian lain. Keluar dari hidung, artinya cacing yang awalnya berhabitat di usus pindah ke sistem pernafasan. Gue pun miris, mengetahui bahwa adik ini adalah anak dari ODGJ. It takes a village to raise a child, but in her case? Orangtua dia bahkan juga memerlukan perhatian khusus.

Gue sedih, iya. Tapi jujur saja, sedikit juga agak emosi, setelah mengamati sebuah artikel online yang lewat di beranda sosial. Komentar para netizen, entah mengapa, seperti biasa, rumah sakit yang menanganinya yang jadi paling salah. Dan setelah gue teliti lagi, akhirnya ketemu kalimat-kalimat populis yang rasanya sering ditemui dilempar ke publik, "Namun harapan sembuh terhambat karena persoalan administrasi," Maka, akan jadi wajar, respons para warga adalah, "Ya ampun, udah urusan nyawa kok masih dipermasalahkan administrasi," Dan ditujukan ke siapa? Yak, pihak RS yang menangani. Padahal, kalau diperhatikan lebih teliti, si Adik dibawa ke RS dalam kondisi penurunan kesadaran dan tensi drop. Untuk dewasa saja kondisi tersebut artinya bahaya, dekat nyawa, apalagi untuk anak usia 4 tahun dengan riwayat tumbuh kembangnya di bawah kurva. Kondisi gizi kurang, artinya kemungkinan besar sistem imun tidak baik. Sistem imun tidak baik, tubuh rentan terserang infeksi, yang bisa komplikasi menjadi berat. Bisa saja terdapat sepsis, syok, atau perforasi organ yang menyebabkan kondisi si Adik sangat buruk. Dalam kondisi tersebut, si Adik dibawa ke RS, walau tanpa memiliki dokumen kependudukan dan tidak punya jaminan sosial. Namun, apa iya karena hal tersebut lalu si Adik didiamkan saja? Bukankah sudah dilakukan penanganan di IGD yang dilanjutkan perawatan intensif di PICU (Unit Rawat Intensif Anak)? Di media disampaikan bahwa batas pengurusan status pembiayaan pasien adalah 3 hari, dan jujur dari pengalaman selama ini berkutat dengan BPJS Kesehatan di RS, memang begitu peraturan untuk dapat menggunakan BPJS Kesehatan dalam suatu layanan rawat inap di RS. Harus bisa diaktifkan dulu dalam kurun waktu maksimal 3 hari setelah pasien dapat perawatan, baru bisa dianggap penjaminannya menggunakan BPJS Kesehatan. Ini terlepas dari kekhususan-kekhususan yang ada di masing-masing daerah ya. Maksudnya gimana? Maksudnya, ada beberapa daerah di Indonesia yang sudah menerapkan 100% Universal Health Coverage (UHC), di mana jika ada warga daerah tersebut yang membutuhkan bantuan penjaminan kesehatan namun belum terdaftar / aktif BPJS Kesehatannya, pemerintah daerah akan hadir dan membantu, mengupayakan aktivasi tersebut dengan menjadikan pasien menjadi peserta BPJS Kesehatan dengan jenis Penerima Bantuan Iuran bersumber APBD (PBI APBD). Jujur, hal ini menjadi salah satu pengalaman gue di Kota Malang, Jawa Timur. Walau memang komunikasi dan koordinasi yang dilakukan ekstra, karena harus lintas dinas, Alhamdulillah terbayarkan dengan akhirnya pasien saya saat itu, bisa dijaminkan ke BPJS Kesehatan.

Akan tetapi, pada kasus Adik ini, yang juga membuat saya tergelitik adalah, apakah pihak RS lantas menghentikan perawatan yang diberikan karena administrasi tersebut? Opini sotoy gue, keyakinan gue, enggak. Bukan begitu kasusnya, sepertinya. Apalagi RS tsb RSUD, mereka ada untuk provide. Even RS swasta pun standar etiknya tidak begitu. Perawatan pasti lanjut, hanya saja urusan pembiayaan akan menjadi di luar BPJS Kesehatan. Kenapa? Karena lewat 3 hari, Surat Eligibilitas Pasien (SEP) yang merupakan syarat untuk mendapatkan layanan BPJS Kesehatan, tidak akan bisa dicetak sesuai dengan tanggal perawatan yang diterima. Sementara BPJS Kesehatan di sini, bagi banyak RS dan pasien adalah sumber harapan karena dapat menjadi payor untuk banyak masyarakat yang membutuhkan. Dan tahukah Anda, bahwa nakes-nakes itu banyakan juga gemes dan sering dilema kalau sudah ada kasus terkait biaya begini. Kaya di RS tempat saya kerja, belum ada anggaran khusus untuk menjamin pembiayaan pasien-pasien yang tidak mampu dan tidak memiliki jaminan sosial, karena apa? Uangnya terbatas. Sumber daya terbatas. Untuk jasa manusia nya, mungkin bisa beberapa nakes mengikhlaskan (jujur ada kok yang begini, cuma gak koar-koar aja). Tapi untuk sarana berupa obat, bahan habis pakai, makanan, minuman? Butuh beli. Untuk 1 pasien saja dapat begitu besar sumber daya yang diperlukan.

Jujur, agak menyayangkan akhirnya. Kenapa harus ada redaksi tersebut, hingga akhirnya banyak warga yang malah menyalahkan pihak yang sudah memberi penanganan. Kontrak dengan layanan kesehatan itu, in my opinion, never, gak akan pernah tentang hasil berupa kesembuhan. Gue pribadi sebagai dokter, selalu diwanti-wanti. Bukan kesembuhan yang kami berikan, tapi upaya maksimal yang bisa dilakukan agar penyakit dapat ditangani. It is always "art and medicine" to me. Kasus ini menurut gue pun masalahnya sistemik, gak cuma satu dua pihak saja. Di banyak titik, di banyak rentang waktu. Pun masalah administrasi, baiknya dapat menjadi bahan evaluasi oleh pemerintah setempat. Ternyata butuh > 3 hari untuk aktivasi BPJS Kesehatan si Adik? Dilempar dari satu instansi ke instansi lain? Ayok, yang berwenang, rembuk bareng evaluasi. Bagian alur yang mana yang bisa diperbaiki? 

Lalu, menurut gue yang nggak kalah penting, agar tidak lagi berulang kasus yang sama, bagaimana cara mencegahnya? Bagaimana agar tidak ada lagi warga yang parah dulu baru dibawa periksa? Bagaimana agar tidak ada lagi warga yang tidak memiliki identitas? Bahkan orangtua si Adik juga tidak punya KK. Mengapa bisa dibiarkan? Apa mereka tidak dianggap warga karena kondisi khususnya? Bagaimana agar ada sistem jaminan sosial yang baik yang dapat menjangkau keluarga-keluarga lain yang serupa dengan si Adik? Apa yang bisa kita lakukan, baik sebagai lingkungan terdekat sampai lingkungan yang terjauh? Kalau menurut gue, yang gerak harus banyak. Nggak bisa kalau sudah sistem, lalu yang di"glendoti" cuma satu-dua saja. Harus bareng. Warganya dibekali ilmu pengetahuan dan pemahaman lebih, lalu yang menjabat membuat sistem yang lebih manusiawi dan efisien.

Kasus ini menjadi atensi, sangat wajar. Kita geram, sangat wajar. Tapi tolong, tidak perlu memperkeruh dengan saling lempar kebencian. Apalagi kebencian nya salah dasar. Gue rasa atensi publik ini baiknya dapat lebih berperan sebagai "control" agar pihak-pihak yang terkait juga bisa serius berbenah. Tetap berisik, tapi jangan sampai salah marah-marah ya. Sometimes yang kita jadikan lawan itu, sebenarnya punya tujuan dan visi yang sama. Hm, kayanya segini dulu ya "koin-koin" yang gue utarakan. Hope (in some ways) it helps. Doa tulus gue, agar kejadian seperti ini, tidak ada lagi. Aamiin.  

Tuesday, April 29, 2025

Menjadi Ibu

Sendiri, dirimu menguatkan diri
Tanpa tahu pasti
Apa yang akan menyambut di depan nanti

Gamang,
tapi dirimu terus meyakinkan diri
"Semua adalah yang aku ingin,"
begitu bisikmu lirih, untuk dirimu sendiri
Entah berusaha menipu,
atau memang berusaha menjadi kuat

Suara tangis yang melengking
Membuatmu tertegun cukup lama
"Apa benar aku akan bisa?"
Pertanyaan penuh keraguan mendadak muncul di sudut hati
"Bagaimana jika...?"
Semua skenario buruk menampakkan diri, kamu terus bertanya

Takut,
mulai kamu rasa
Namun bagaimana, mundur tak kuasa
Tangisan itu makin nyata
Kamu harus menghadapinya

Lalu kamu pun menghadapinya
Kedua tangan dan kaki mungil, sangat kecil
Pipi kemerahan dan mata yang tertutup
Hangat
Dan kehangatan itu memancar,
membuat dirimu juga menjadi hangat
Menghilangkan segala ragu dan takutmu,
menggantikannya menjadi perasaan bahagia
dan haru

Perjuanganmu nyata, walau masih harus panjang berjalannya
Kamu banggu, dan itu tidak apa
Pertarunganmu sebagian sudah selesai
Rasa nyeri yang tersisa samar,
air mata yang membekas menggenang,
semua itu tidak apa

Karena akhirnya kamu sampai di sini  
Dengan penuh sadar dan bahagia,
juga pantas dirayakan,
kamu (sudah) menjadi ibu 

Tuesday, April 22, 2025

Cerita Ngalor Ngidul Ke Sekian, Kekuatan Ucapan

Ha~lo! Masih dalam edisi #maternityleave #babynumber3 nih, dan akhirnya ada waktu buat buka laptop lagi. Haha. Boleh lah ya, sekian menit gue cerita-cerita di sini, mumpung Alfa dalam kondisi kondusif dan mata ini nggak lagi seberat biasanya yhaa (bayangin mata abis begadang lebih dari 2 malam deh).

Oh ya, pada percaya sama istilah "ucapan adalah doa" nggak? Atau istilah "mulutmu harimau mu" atau "senjata paling tajam adalah lidah"? Ketiga istilah tadi kan kesannya kaya beda jauh ya maknanya, tapi menurut gue prinsip dasarnya sama sih. Sama-sama menekankan bahwa kata-kata / ucapan adalah se-powerful itu. Gue pribadi jujur percaya sih. Dan hm, alasan gue mulai percaya itu pun, masih gue inget sampai sekarang. Jujur aja karena pernah ngalamin sih, haha, jadi event pertama gue ngalamin hal itu tuh, masih gue inget banget.

Dulu banget, waktu gue masih SMA, gue ikut suatu ekskul dengan segala tradisi dan event nya. Hehe. Ada satu masa di saat gue udah senior, giliran junior gue yang nyiapin event ulang tahun sekaligus tanggung jawab nyiapkan kue tart buat dimakan bareng-bareng. Standar kue tart waktu itu di ekskul gue adalah birthday cake ber-layer dengan krim dan hiasannya macam kue-kue ulang tahun yang dijual di Harvest. Tapi waktu itu, gue inget sempat ada kaya delay waktu acara berlangsung dan gue ketawa-ketawa bercanda sama temen gue, "Wah jangan-jangan ini cake nya yang dibeli salah, bukan birthday cake yang biasa tapi kue tradisional kaya lapis gitu lagi," yang entah kenapa saat itu gue anggep lucu haha. Dan yha, betulan kejadian dong apa yang gue bercandain itu. Persisss kaya apa yang gue omongin ke temen gue. Hahahaha. Dan jujur aja, gue ini (apalagi masa-masa masih bocil remaja labil) adalah tipe orang yang lihat segala sesuatu nya itu hitam / putih, dan banyak orang yang bilang kalau gue "suka pakai kacamata kuda" haha. Yah artinya gue tuh semacam selurus itu sampai polos / naif dah. Jadi udah bisa ditebak dong, kejadian kue itu jadi semacam titik balik buat gue pribadi, buat lebih hati-hati lagi saat ngomong, walaupun lagi bercanda. Wkwkwk.

Nah, akhir-akhir ini jujur ada hal-hal yang menggelitik gue buat nulis ini sih, berawal dari share-an status medsos seseorang yang gue lihat. Ada beberapa video pendek yang dijadikan status gitu deh, dan intinya membandingkan negara sendiri dengan negara lain, dimana kesannya negara sendiri tuh jelek banget gitu loh. Bukan gue denial dengan fakta sih ya. Karena emang faktanya, banyak siswa dan guru yang bikin konten joged-joged di tiktok. Tapi kan bukan berarti semua-mua nya begitu nggak sih? Gue agak jengah aja, kalau yang dilakukan itu cherry picking data dan terus dipakai buat menjelek-jelekkan. Nggak ada fungsi nya juga ngejelekin gitu, dan jadi semacam generalisasi juga nggak sih? Bayangin lah gimana perasaan siswa dan guru yang tidak melakukan itu dan belajar dengan serius di mostly of their time? Mempunyai visi misi yang mulia yang memang ingin menjadi orang berpendidikan? Mungkin kaya siswa yang jujur dituduh nyontek cuma perkara ada beberapa teman lain yang ketahuan nyontek? Kan bisa jadi sakit hati ya (personal experience, pernah merasakan galau nya digeneralisasi wkwk). Lagian emang nggak takut ya dengan kekuatan ucapan? Bolak-balik share, meyakini bahwa negara nya sejelek itu, nggak takut kah akan benar-benar "ter-amin-i" menjadi buruk? Malah nambah serem kan ya. Kayaknya mending diganti dengan ucapan baik dan afirmasi positif, doa agar negara kita bisa berbenah dan menjadi lebih baik lagi kan.

Like I said before, ucapan tuh kuat banget, gue percaya. Kalau tujuannya ningkatin awareness, rasanya nggak perlu sampai bolak-balik share nya dengan caption yang downgrading nggak sih? Entah lah mungkin cara mengekspresikan perasaan tiap orang beda-beda ya, mungkin karena kecewanya sudah menumpuk juga. Hanya saja, imho, kurang bijak sih jadinya. Rasanya better kalau fokus ke solusi nya instead of masalah nya, tapi tetap tanpa kita melupakan masalahnya itu apa ya. Yah, disampaikan dengan santun lah kalau ada kritik, kan masih manusia ya judulnya. Manusia kalau nggak santun tuh, entah lah, menurut gue kaya kureng manusiawi jadinya. Selain ucapan adalah doa, gue juga termasuk yang percaya kalau segala sesuatu yang berlebihan itu nggak baik, ibarat gue kata, semua-mua hal itu ada dosisnya. Terlalu berlebihan membenci sesuatu tidak baik, terlalu berlebihan menyukai sesuatu juga tidak baik. Jadi nggak perlu juga lah mengkritik secara berlebihan, sekecewa apapun dirimu (again, ini personal opinion gue ya).

Well sementara itu dulu deh ya, cerita ngalor ngidul gue hari ini. Kalau bermanfaat memberi kebaikan, Alhamdulillah, kalau dirasa tidak, monggo di skip saja wkwkwk. Intinya emang gue cuma pengen cerita ngeluarin uneg-uneg aja sih ehehe. See ya at next post (semoga ada) yes! ;D

Monday, April 14, 2025

Pertengahan Syawal 1446 Hijriah, 14 April

Sampai juga di hari ke 14 bulan April, pertanda umur bertambah 1 tahun lagi. Alhamdulillaah, Allah SWT masih kasih aku rezeki. Di usia ke 30-an ini (kaburin dikit usia asli boleh lah ya wkwk), jujur aja, isi kepala masih sama ramai nya kaya di usia-usia sebelumnya hahaha. Cuma, berasa ada kekhawatiran lebih gitu sih, kaya ada rasa something yang dorong-dorong dari belakang. Mulai makin berasa tuntutannya, yang entah tuntutan dari mana ya, untuk bisa melakukan ini dan itu, untuk ambil sikap dan keputusan yang sangat mungkin efeknya besar di kemudian hari. Kaya berasa (harus) diburu-buru, keburu momentumnya hilang. Tahu kok, iya, aku tahu kok arahnya kemana. Tinggal aku nya aja, mau ambil arah yang kaya gimana. Tinggal.. hmm.. keberanianku aja. Gimana ya, haha. Keluar dari zona nyaman / tidak nyaman ternyata emang susah ya, baru relate deh kenapa banyak motivator-motivator ngejadiin hal itu bahasan haha. Oh kenapa aku tulisnya zona nyaman / tidak nyaman? Ya, karena bisa jadi emang zona nya gak nyaman, cuma ditahan-tahan aja karena sudah terbiasa dan rutin, jadi sudah tahu cara menghadapinya, sudah bisa berkompromi gitu ceunah.

Yah, walau kadang dorongan-dorongan dari luar bikin nggak nyaman, tapi aku sadar kok, itu semua karena pada peduli. Niatnya baik, dan aku bersyukur juga. Semacam ada yang jadi pengingat kan, Alhamdulillah. Cuma ya itu tadi, gimana caranya deh biar gak dikit-dikit takut? Kerasa sih, makin tua tuh makin apa-apa serba dipikir dan ditakutin. Dulu umur 20-an kayaknya, walau ada takut-takut di awal, tetep ditrabas gitu. Haha. Any suggestion?

Well, apapun itu, setidaknya satu hal yang aku sepakati, aku bersyukur. Syukur Alhamdulillah atas semua nikmat dan rezeki yang Allah SWT berikan. Alhamdulillah Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini sangat membahagiakan, keluarga kecilku bertambah besar dengan kehadiran baby number 3. Kakak-kakak si baby juga happy dan welcome banget sama si anggota baru. Selamat datang yaa, my little baby Al kesayangan. Sehat sehat dan bahagia lah selalu ya Nak.. Paksu juga Alhamdulillah, tetaplah paksu kesayanganku dengan segala lebih dan kurangnya dia. Lebaran kemarin pun Alhamdulillah masih diberi kesempatan berkumpul dengan keluarga kesayangan, baik dari keluarga mama papa ku maupun keluarga mertua. Allah Maha Baik. Dan di kesempatan birth-day ku hari ini, aku berdoa, semoga saja, galau-menggalau ku tentang masa depan bisa mereda. Ketakutan tak berdasarku bisa hilang, dan aku dapat segera memberanikan diri untuk bergerak dan mengambil keputusan yang terbaik. Untuk kebaikan ku, juga untuk orang-orang yang kusayangi. Semoga juga ke depan, semua akan berjalan dengan jauh jauh lebih baik lagi. Aamiin YRA.

PS: happy birthday to me :) bahagia itu kita buat sendiri, tenang aja. kado tinggal beli, kue tinggal pesan. ndak perlu nunggu dirayakan, merayakan juga gak masalah. semangat terus diriku! ^^

Saturday, January 20, 2024

10 Things I Learnt About Wardah Glasting Liquid Lip (With Swatches Inside ;D)

Hai hai! Setelah sekian lama, akhirnya gue putuskan nulis review produk lagi nih. Haha. As always, tentunya review yang gue tulis adalah dari produk yang gue punya dan pakai. Not an endorsement tho, beli sendiri nih (sapaaa jugaaa mau endorse elu :p wkwk).

Produk kali ini masih bertema beauty industry yah, dan masih produk favorit sepanjang masa gue dari jaman gadis sampai anak udah dua. Hahaha. Gak lain gak bukan, produk pemulas bibir alias gincu alias lipen. Sesuai judul, produknya Wardah, yang jujur deh, gue se penasaran itu pengen nyoba sejak ini produk pertama kali muncul.

Jadi, glasting liquid lip ini, digadang-gadang banyak orang, semacam dupe nya lip vinyl punya Maybelline. Masih saudaranya lipstick, sama-sama pewarna bibir, tapi dengan hasil akhir glossy daaaan transferproof. Nah penasaran kan, karena biasanya yang transferproof itu matte lipen. Lipen glossy mesti transfer. Sebelum ini, seumur-umur gue belum pernah punya ataupun pakai lip vinyl sama sekali. Makanya penasaran banget. Cuma, jujur aja, dengan harga seratus ribuan, lip vinyl ini masih di luar budget beauty gue. Hahaha. Dari sisi brand, gue juga lagi menghindari Maybelline dulu. And then muncul lah Wardah Glasting Liquid Lip ini dengan harga di bawah seratus ribu. Pas banget kaya jodoh deh ah. Wkwkwk.

Langsung aja, ternyata ada hal-hal yang baru gue pelajari nih tentang produk satu ini. Ada hal-hal yanag di luar ekspektasi gue juga ternyata. Apa aja tuh?

  1. Jangan pakai lip balm sebelum pakai glasting liquid lip ini. Ini nih yang bikin gue agak bingung. Haha. Jujur, gue termasuk manusia yang udah kebiasaan banget sebelum pakai lipen pasti pakai lip balm dulu. Kebiasaan bibir sering kering mungkin ya, tapi lipen favorit nya yang matte finish. Nah pas si glasting lip liquid ini datang dan gue pertama coba, gue pakai lip balm dulu dong kaya biasanya. Lah kok pas ngolesin glasting lip liquid nya, kok berasa seret, berat dan lengket parah. Bener-bener yang nggak glides smoothly kaya di orang-orang gitu loh. Padahal udah gue kocok agak lama sebelum dipakai. Setelahnya juga jadi nggak set walau udah ditunggu 5 menit lebih, kerasa lengket dan transfer kemana-mana. Kaya something's wrong vibe banget deh.
  2. 10 menit set time suits better in me. Nah, setelah insiden lip balm, nggak lama, gue bersihkan bibir gue pakai micellar water, dan gue tunggu agak lama sampai bibir gue kering bersih posisi default tanpa apapun. Baru deh abis itu gue coba pakai lagi si glasting lip liquid ini, sesuai sama cara pakai yang dianjurkan sambil sedikit nyontek ke beauty influencer. Jangan lupa di awal, balik botolnya, terus shake shake sekitar semenitan, then glides it on the lips. Satu pulasan aja udah nutup sih, pigmentasinya juara. Terus jangan katupkan bibir sampai minimal 5 menit ya. Kenapa gue bilang minimal? Karena imho, di saat gue tunggu sampai 10 menit, lip liquid ini kerasa lebih enak sih di bibir, gue lebih suka daripada pas 5 menit waktu tunggunya. Kaya lebih ngeset dan nggak lebih terasa lengketnya gitu. Tapi, bukan yang nggak ngeset setelah 5 menit yaaa.. Dia ngeset kok abis 5 menit didiemin. Gue coba juga tap tap pakai tisu, udah nggak transfer. Cuma kalau dibandingin sama yang 10 menit, hasil akhirnya masih lebih enak yang 10 menit itu.
  3. Setuju kalau glasting lip liquid ini transferproof, tapi sedikit ilang "proof" nya begitu kena air. Hehe. Ini yang sedikit di luar ekspektasi, karena gue kira kan kaya bakal tahan banting banget bener-bener nggak luntur kecuali kena minyak ya. Ternyata masih ada transfer nya ke botol pas gue coba minum air. Botol plastik air mineral yang kaya biasa itu. Transfernya dikiiit banget sih tapi, bukan yang terus luntur gitu dari bibir. Ini kondisi setelah gue coba tunggu 10 menit sampai dia set ya, dan sebelum minum pun beneran dia transferproof, nggak transfer waktu gue tap pakai tisu atau waktu gue kiss tangan gue. Jadi gue ngambil kesimpulan agak sotoy dikit, kayaknya dia nggak terlalu tahan sama air. Ya emang klaimnya transferproof sih, bukan waterproof. Haha.
  4. Ada perasaan sedikit lengket kalau pas ngatupkan bibir, but it's okay. Sebagai pencinta lipen-lipen matte finish dengan bawaan kulit dan bibir kering, gue tuh menghindari banget lipen yang bikin rasa lengket di bibir, terutama pas bibir dikatupin. Gue nggak terlalu suka lipstick bullet atau lipgloss makanya. Lip cream matte yang gue suka pun rata-rata yang konsistensinya velvet atau cream karena seringkali nggak ada after taste lengket dan dia nggak bikin bibir kerasa tertarik / kering. Cumaaa, buat glasting lip liquid ini, gue approve! Haha. Gue nggak terganggu sih dengan lengketnya. Karena ya emang masih bisa gue terima aja gitu. Gue juga masih betah bertahan lama pakainya di bibir gue. Worth it aja gitu, sama hasil akhirnya yang cantik.
  5. Kilau glossy nya bukan yang basah banget kaya pas pakai lipgloss tapi tipis dan manis. Me, approve again. Hehe.
  6. Warna 02 peach polish bagus banget di bibir gue, langsung jatuh cinta. Gue kira awalnya bakal cenderung oren atau neon gitu, ternyata masuk bener sama gue punya warna kulit. Cantique. Jujur, bukan shade ini yang gue taksir di awal. Gue ngincarnya tuh shade 04 rosewood radiance sebenarnya. Cuma ya, nggak nyangka kalau ini lipen lagi hype banget dan dimana-mana abis, akhirnya pas Official Store Wardah di Shopee restock, buru-buru deh gue CO, dan pas adanya shade peach polish ini. Haha. Syukurlah ternyata cucok.
  7. Diombre pake lipen lain beda warna ternyata bagus juga jadinya. Gue nyoba ngombre pakai Peripera ink velvet shade 01 good brick.
  8. Wanginya enak menurut gue. Ada yang nggak suka, tapi di gue, aromanya enak dan nggak nyegrak ganggu.
  9. Di sebagian orang, lip liquid ini mempertegas garis bibir. Alhamdulillah, di bibir gue enggak, dan gue malah mendapat kesan, kok garis bibir jadi lebih smooth ya? Apakah ini karena sugesti? Wkwkwk. Tapi beneran deh, yang gue lihat ya kaya gitu. Haha. Anggap aja rejeki gue deh ya..:D
  10. Menurut gue lagi, lipen ini termasuk awet. Fun fact nya, pertama kali pas gue coba pakai, gue ketiduran dengan kondisi belum gue hapus itu produk dari bibir gue. Eh ternyata pagi-pagi bangun, dia masih kelihatan aja gitu. Warnanya masih stay, tapi gloss dan warna di inner lips gue hilang. Memang seiring waktu kilau glossy nya akan berkurang dan jadi cenderung jadi matte kalau pas gue pakai. Yang gue suka, di bibir gue dia nggak hilang dengan menggumpal, tapi lebih ke fading. 
Kira-kira itulah 10 hal yang baru gue pelajari dari Wardah Glasting Liquid Lip. Semuanya based on my personal experience yak, jadi yah pasti banyakan sisi subjektif dan opininya hehe. So far gue cocok sih dan nggak nyesel deh udah ikutan beli. Worth the hype lah yaaa..;)

Selanjutnya nih, silakan, bisa dilihat foto-foto dari glasting lip liquid shade peach polish ini ya.. Semoga bisa membantu para kisanak sekalian, yang mungkin pas ada yang mampir di sini dan lagi galau sama ini produk. Huahahahaha.. Hope it hepls! ;) 

Transfer sedikit ke mulut botol tapi tidak transfer saat kiss ke tangan.
Ada lengket saat katupkan bibir, tapi masih bisa diterima.
Swatch di bibir pakai flash. Kilau glossy simpel dan warna cantique.
Swatch di tangan gue, yang paling bawah ya.
Perbandingan dengan series Colorfit, Wardah Velvet Matte Lip Mousse shade 01 dan Wardah Last All Day Lip Paint shade 05.  

Wednesday, December 27, 2023

Taking Side

Dulu, when I was a young girl, I used to think that, being "neutral" is the best and coolest choice to do. Kamu tidak perlu berpihak pada siapapun, di saat ada suatu konflik, di saat ada pertentangan antara beberapa pihak. Netral. Indeed, back then, "neutral" is sooo cool for me. Just stay in the middle. Cukup. Kaya gitu aja, kamu sudah "baik", kamu sudah keren. Kamu sudah tidak ikut bertikai.

Tapi itu dulu. When I was a naive girl.. Sekarang, di akhir tahun 2023, tidak kusangka terjadi kejahatan luar biasa yang benar-benar menyayat hati ini. Sudah masuk di bulan kedua, namun belum ada tanda semua itu akan berhenti. Pembantaian rakyat di Palestina, yang ternyata sudah dimulai sedikit demi sedikit dari beberapa puluh tahun silam. 

Orang banyak bilang, itu perang. Perang yang rumit. Perang antara dua pihak, dimana Palestina yang memulainya duluan. Tapi, perang macam apa, yang menargetkan anak-anak bahkan bayi dan balita? Menyerang rumah sakit, tempat masyarakat sipil yang sudah terluka dan tidak berdaya mencari perlindungan? Perang macam apa, yang sudah korban meninggal, masih pula dirampas organ-organ tubuhnya? Bukankah itu semua tindakan kriminal keji? All is fair in love and war? No. 1000% NO. Dan bagaimana bisa, yang diusir dari tanahnya adalah yang memulai duluan?

United Nation says..

"War crimes are those violations of international humanitarian law (treaty or customary law) that incur individual criminal responsibility under international law. As a result, and in contrast to the crimes of genocide and crimes against humanity, war crimes must always take place in the context of an armed conflict, either international or non-international.

From a more substantive perspective, war crimes could be divided into: a) war crimes against persons requiring particular protection; b) war crimes against those providing humanitarian assistance and peacekeeping operations; c) war crimes against property and other rights; d) prohibited methods of warfare; and e) prohibited means of warfare.

Some examples of prohibited acts include: murder; mutilation, cruel treatment and torture; taking of hostages; intentionally directing attacks against the civilian population; intentionally directing attacks against buildings dedicated to religion, education, art, science or charitable purposes, historical monuments or hospitals; pillaging; rape, sexual slavery, forced pregnancy or any other form of sexual violence; conscripting or enlisting children under the age of 15 years into armed forces or groups or using them to participate actively in hostilities."

Lalu untuk apa, aku berada di tengah-tengah antara si penjahat perang dan korban? Bukankah aku semua pihak harusnya ada di pihak korban? Bukankah ini waktunya, yang salah dihukum dan yang benar dibela? Bukankah seharusnya yang salah yang dilawan? Mungkin masih bingung, siapa pelaku dan siapa korban? Namun, bukankah jelas dan terang benderang, siapa yang sedang membantai siapa?

Aku tahu, lokasi terjadinya kejahatan itu sangat jauh dari diriku saat ini. Aku tidak mengerti bahasa yang mereka gunakan. Aku tidak kenal mereka. Tapi, mereka kan saudaraku juga, sesama manusia.. Ada pula saudara seimanku di sana. Mereka sedang dijajah, bertaruh nyawa hari demi hari, untuk makan dan minum saja sulit. Apakah hatimu tidak ikut merasa sakit, melihat sekian banyak manusia tidak berdaya dan dipermainkan begitu saja, hidupnya? Bahkan satu kasus penyiksaan anak di negeri sendiri saja, rasanya membuat darah ini mendidih. Lalu bagaimana dengan ribuan anak-anak di sana yang pergi begitu cepat karena dibunuh?

Di saat begitu banyak orang berada di tengah, bersikap netral, bukankah mereka yang sedang menjajah akan menjadi lebih leluasa? Karena yang dijajah ini yang bersikap menerima agresi yang datang kepada mereka. Yang hidup dalam teror. Yang hanya bisa bertahan dan membalas sebisanya, sebisanya yang mereka lakukan. Mereka sudah kehilangan banyak, kenapa harus pula kehilangan dukungan. Apakah mereka memang harus begitu saja hilang? :( Setidaknya, sedikit tepukan di punggung dan doa yang tulus, bukankah bisa tetap menyalakan secercah harapan bagi mereka? Harapan untuk semuanya segera usai, dan merdeka.

Aku tidak bisa bantu apa-apa. Tapi setidaknya, dari sedikit yang dapat kulakukan, kepada mereka lah aku berpihak. Karena penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Aku mendukungmu untuk merdeka. Free Palestine, Viva Palestina.

Sunday, October 16, 2022

How're You? How's Life?

Woi. Akhirnya ah, gue nulis-nulis lagi di sini. Random aja sih. Haha. Tetiba kepengen gitu. So, yha, seperti judul tulisan ini, apa kabar dah pada? Masih semangat? Struggle to survive juga toh masihan? Bagus. Harus gitu emang. Hehe.. Gue di sini juga sama sih. Jalanin hari demi hari, dari satu masalah ke masalah lain, dari satu moment bahagia ke moment bahagia lain, dari satu memori ke memori lain. Masih banyak banget PR nih, banyak tugasnya, hehe. Tapi kalau kata Asa sama Aru, ya gak papa. Yes, nggak apa-apa, dijalanin satu-satu, pelan-pelan diselesaikan, sambil terus berkembang kan ya. Iya, berkembang bukan badannya nih maksudnya, tapi kepribadiannya, kebijaksanaannya, wawasannya, ketaqwaannya, gitu lho.

Hm, terus mau cerita dikit deh nih. Akhir-akhir ini ternyata gue lumayan jadi into K-Pop deh. Ada satu grup idol K-Pop yang lagu-lagunya lagi sering gue dengerin. Haha. Jadi semacam work anthem gitu, bisa bikin fokus dan ngerjain kerjaan jadi lebih cepat. Aneh bin ajaib juga sih buat seorang gue ya. Wkwkwk. Abis dulu-dulu perasaan cenderung nggak tertarik sama lagu-lagu yang liriknya gue nggak paham, atau yang terlalu jedag jedug gitu lho. Kan banyak lagu K-Pop tuh jedag-jedug ya, apalagi rilisan baru-baru tuh, imho, musiknya 'keras' gitu lho, yang loud banyak dentuman gitu lhoo.. Get what I mean kan yah? Tapi kayaknya, memang pepatah "music is a universal language" itu nggak salah sih. Dan kebetulan juga, lagu-lagu grup ini tuh, banyak yang nyantol di gue. Cocok aja gitu sama selera. Menyenangkan di telinga, dan mengagumkan mata juga kalau lihat video-video klip nya.

Well, grup idol yang gue maksud itu Red Velvet. The five queens, for me. Haha. Coba deh cek-cek ke beberapa lagu mereka. Entah kenapa deh, di gue lagu-lagu mereka tuh cocok banget. Belum bosen-bosen dengerinnya. Nggak yang terlalu 'loud' terus ada festivalnya, ada quirk nya, tapi tetep beautiful dan beat nya enak-enak gitu. Nah lho gimana deh tuh maksudnya? Haha. Yaah, intinya musik-musik mereka tuh bikin terngiang-ngiang gitu lho. Sampai gue lihat ada lagu baru keluaran grup lain itu tuh malah jadi ngebatin, lho kok mirip sama lagu RV yak konsepnya? Haha. Saking merhatiin detailnya lagu-lagu RV kali yak.

Tapi serius, lagu-lagu RV menurut gue bagus-bagus dan unik sih. Sok atuh lah, siapa tahu mau coba-coba, bisa dicek lagu-lagu ini nih: Bad Boy, Peek a Boo, Zimsalabim, Psycho, Wild Side, Feel My Rythm, Remember Forever, In My Dreams, Ice Cream Cake, Zoo. 10 besar buat gue nih, yang paling favorit sampai saat ini deh. Siapa tahu pada cocok juga ye kaaan. Hehe..:D 

Wednesday, March 30, 2022

Kesan Pesan dari yang Lagi Isoman

Akhirnya. Yup. Finally, setelah 2 tahun-an pandemi mampir di dunia ini, gue ngerasain juga, tertular Covid-19. Nggak tanggung-tanggung, kena ber 4, bareng anak-anak gue dan mbak ART. Sesuatu yang menyebalkan dan menyakitkan memang, apalagi sebelumnya suami duluan kena sampai 2 kali, yang membuat keluarga kecil gue harus saling nggak ketemu dalam waktu cukup lama karena isolasi. Tapi setidaknya, Alhamdulillah, kondisi gue dan anak-anak juga si mbak tidak sampai memerlukan perawatan di rumah sakit. 

Anyway, hari ini hari ke 10 gue jalanin isolasi. Alhamdulillah lagi, gue dan rombongan positif Covid-19 kali ini masih bisa melakukan isolasi mandiri di rumah. Iya, fasilitasnya ada dan mencukupi, jadi gue nggak perlu terlalu pusing juga untuk nyari tempat isolasi terpusat di luar. Such a privilege memang, and I'm grateful for that. Dan karena regulasi isolasi yang gue pakai sekarang, bisa dibilang adalah regulasi post gelombang 3 di Indonesia, waktu isolasi yang gue perlukan pun sedikit lebih singkat dibanding zaman awal-awal pandemi, well, which is in my opinion, it's not because the virus changed, but it's our knowledge that developed. Yang (sekali lagi) tentu sesuai dengan kaidah sains itu sendiri. Sesuatu yang baru, perlu banyak penelitian, riset, diskusi, konsensus, untuk menemukan kebenaran-kebenaran baru juga kan. Makanya di era gelombang 3 saat ini, muncul regulasi isolasi khusus nakes, untuk melakukan isolasi sampai hari ke 5, dan jika hari ke 6 hasil pemeriksaan PCR sudah negatif, maka si nakes bisa kembali bekerja. Risky sih, kalau menurut opini pribadi gue. Cuma mungkin ya karena banyak pertimbangan (misalnya karena shortage pegawai di instansi kesehatan yang adalah ujung tombak pandemi ini sendiri, atau beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa kultur virus setelah hari ke 5 dapat negatif), maka regulasi ini ditentukan. Sayangnya, tidak berlaku buat gue. Yes, gue dan si mbak, masih positif hasil swab PCR dan antigen bahkan (gue orangnya suka double check biar lebih aman aja rasanya) di hari ke 6 kami isolasi. Jadilah isolasi dilanjut sampai hari ke 10, dengan 3 hari sebelum selesai isolasi harus sudah tidak ada gejala. 

Hari ke 6 isolasi, Alhamdulillah hasil swab anakku sudah negatif. Dan memang dari 3 hari sebelumnya, gejala mereka sudah hilang. Tidak demam tinggi yang tidak turun-turun dengan obat seperti di awal sakit, atau batuk dan pilek. Fun fact, gue yakin banget Covid-19 mampir ke gue ini karena tertular dari anak-anak. Karena memang hanya di rumah dan saat dengan keluarga, gue nggak menjalankan protokol kesehatan. Bayangkan di saat Kamis pagi gue swab antigen di RS tempat kerja dengan hasil negatif dan tidak ada gejala, lalu sore sampai besoknya, anak-anak sakit demam tinggi. Gue rawat anak-anak, nggak pakai masker, karena entahlah, saat itu sesimpel gue merasa nggak sakit maka nggak perlu pakai masker, dan memang gue kecolongan juga, tidak menyangka itu Covid-19. Mungkin karena gejala saat itu anak-anak hanya demam, dan kemakan omongan orang-orang juga, yang bilang Covid-19 udah nggak ada. And then Minggu, gue merasa muncul gejala yang tidak seperti biasa, inisiatif untuk cek, dan betul ternyata positif Covid-19, pun anak-anak gue.

Setelah sekian hari menjalani isolasi, jujur sih, gue bener-bener bersyukur setidaknya kasus yang mampir ke gue dan keluarga saat ini masuk ke golongan ringan. Tapi tetap aja, gue nggak akan pernah setuju dengan mereka yang bilang Covid-19 ini cuma flu, dan karena kata "cuma" itu jadi kesannya seperti meremehkan. Karena apa, to me, demam tinggi 2 hari lebih tidak turun-turun dengan obat, itu scary, apalagi kejadian di anak-anak. Kena Covid-19 dengan kondisi ternyata kamu punya DM tidak terkontrol, yang saat dicek ternyata gula darah mu di atas 300, itu scary (yap, ternyata si mbak ART yang baru kerja sama gue ini, punya sakit DM yang nggak diobati). Things could go wrong. Dan nyeri tenggorok yang bertahan sampai 5 hari terus-menerus, walau segala obat dan suplemen sudah kamu minum, itu scary. Senyeri itu, bahkan sampai kamu sentuh dari leher aja, terasa nyerinya. Bikin nggak mau makan dan susah tidur. Belum lagi ditambah vertigo bolak-balik, sakit kepala, dan pusing. Jangan lupakan batuk dan pileknya juga.  Bener-bener beda, sama yang kata mereka, flu biasa. Gue sendiri si alergian dan punya atopi. Pilek, bersin, hidung meler tiap dingin dikit atau debu, atau pas kecapean, cukup sering gue alami. Asma pun pernah. Dan Covid-19 beda sama itu semua. It's painful and kinda depressing. Mungkin bagi sebagian orang gue terdengar so negative and pathetic, but no, that's not what I mean. I'm just trying to be realistic and tell you experience that I had. You don't need to sugarcoat everything in your life tho. Iya, mental harus kuat, jangan kalah sama sakit. Tapi kalau sampai meremehkan, tidak jaga diri sendiri dan orang sekitar mu untuk tidak tertular virus ini, hanya karena merasa virus ini membawa sakit yang remeh, menurut gue itu egois. Kita nggak pernah tahu, virus ini akan jadi seperti apa di orang lain kan. Banyak orang-orang lain dengan kondisi imun yang kurang, yang masih bisa berakibat fatal bagi mereka jika terkena virus ini. Why not doing something that we can do, to help other? Toh di saat kita menahan diri, akhirnya laju penyebaran sakit ini bisa turun dan itu yang kita semua harapkan kan? Lagian, sakit itu, mau ringan sedang berat, ya sama-sama sakit. Sama-sama nggak enak. Alangkah lebih senang jika semuanya, bisa saling jaga.

But again, Alhamdulillah untuk semua yang gue lalui ini. Serius, Alhamdulillah. Gue bener-bener belajar banyak dari terkena Covid-19 ini (blessing in disguise itu selalu ada kalau dalam kamus gue, hehe). Semoga hasil swab nanti malam sudah negatif dan besok bisa balik aktivitas seperti biasa, dalam kondisi sehat dan segar bugar tentunya. Aamiin.. Oh ya, gengs, untuk kalian semua yang baca tulisan ini, semoga sehat selalu ya! And last but not least, my forever pray, semoga Covid-19 bisa segera musnah dari dunia ini, dan tidak ada lagi muncul wabah-wabah lainnya. Aamiin! ^^   

Monday, January 3, 2022

Tahun Ke 6

 Hi, Dear. Haha. Ya siapa lagi Dear selain kamu yak.

Nggak nyangka juga, masuk tahun ke 6 jadi isteri kamu. Kalau ditambah masa-masa kita kenalan di tahun 2010, waw 12 tahun udah yak. Hehe. Bukan yang nggak nyangka karena nggak ngarep juga ya maksudnya, lebih ke.. hmm.. wow time flies ya! Mayan lama juga kita saling bertahan dan saling-saling yang lain juga tentunya. Hehe. And I'm truly grateful for that. :)

Thank you for being with me selama itu ya. Dan semoga kita masih saling membersamai untuk tahun-tahun selanjutnya. Bener-bener berharap dan selalu berdoa, semoga kita jodoh, di dunia maupun di akhirat. Semoga keluarga kecil yang kita punya saat ini, akan selalu menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warohmah. Aamiin..

Dan semoga, perasaan ke kamu nggak akan berkurang dari perasaanku ke kamu di hari yang sama, 6 tahun lalu. Di mana pagi itu entah kenapa, mood ku hancur, dan aku nggak bisa sembunyikan. Tapi dengan ajaib, begitu lihat kamu di situ, kamu senyum ke aku yang saat itu sedang dirias, perasaan jelek itu hilang begitu saja. Berganti jadi sesuatu yang membuncah, membuatku tersenyum dan bahagia. Hehe..

Dan di tahun ke sekian, aku tetap akan bilang, I am so lucky to love you, and so happy to love you!^^ 

Sunday, March 7, 2021

Finally I Wrote This Pandemic Things

Sejujurnya gue cenderung menjauhi bahasan tentang ini. But, hey, I can not stand lagi deh kalau begini ceritanya. Kayak ada banyak banget unek-unek, gerundelan, yang kayaknya hampir setiap hari mengisi relung hati, sedikit demi sedikit, dan relung itu sudah penuh. Haha. So, gue butuh buat "mencurahkannya" biar tetap waras.

Ini cerita tentang pandemi, yang sudah setahun lebih terjadi, di dunia, di negeri yang gue tinggali. Yes, it's about Covid-19. Situasinya sekarang, di Indonesia, jumlah kasus harian mencetak rekor. Jujur, situasi akhir-akhir ini bikin ngelus dada banget sih. Jenuh, iya. Tapi jujur bukan jenuh sama penyakit ini aja, gue juga jenuh sama tingkah laku masyarakat banyak yang gue lihat.

Disclaimer dulu ya, back ground gue saat ini, gue kerja sebagai dokter IGD di sebuah rumah sakit kota, bukan rumah sakit rujukan, pun dengan jumlah shift yang paling sedikit dibanding teman-teman gue yang lain, karena sekarang main job gue adalah mengurus klaim pelayanan asuransi plat merah di rumah sakit (termasuk mengurus klaim-klaiman pelayanan kesehatan terkait pandemi ini). Minggu ini, gue jaga IGD sudah 2 kali, dan jujur, ikut stres. Dulu, sebelum dapat amanah jadi pentolan klaim-klaim-an, gue full di IGD. Jujur ya, kayaknya kok belum pernah ada yang ngalahin rasa lelahnya jaga UGD di era pandemi ini, terutama 2 shift silam. Harusnya gue nggak sambat ya, karena yang gue alami itu masih jauh sama teman-teman sejawat lain yang waktu paparan dengan pasiennya lebih banyak, yang shift nya lebih sering, lebih-lebih yang bergumul di fasilitas rujukan. But hey, I'm sorry, the struggle and pain is real!

Sekarang, fasilitas kesehatan dipenuhi banyak orang, pasien. Kami dari rumah-rumah sakit pun bukan yang mengundang mereka semua datang dengan sengaja. Mereka datang ke kami karena membutuhkan bantuan. Mereka sakit. Bisa dilihat di banyak tempat kan, pasien-pasien luber, diperiksa di tenda darurat. Bed pasien habis, oksigen tipis, kematian pun meningkat. Bukan bermaksud nakutin ya, tapi memang itu kenyataan yang sedang terjadi, mungkin tidak di semua tempat, tapi di banyak tempat. Tidak di semua ya, jadi jangan lah kau lihat ada rumah sakit yang sepi ndak ada pengunjung, lalu kau koar-koar keadaan chaos di banyak faskes hanyalah hoax atau fear mongering belaka. Hey tidak seperti itu. Faktanya memang banyak pasien yang datang sakit barengan ke rumah sakit. We didn't invite them tho.

Mereka yang bicara Covid-19 ini tidak berbahaya, rasanya lupa lihat ke orang-orang lain. Setahun lebih berdampingan dengan penyakit ini, sebagai nakes yang tidak mengenal WFH (yha walau jaga IGD sebulan cuma sekian kali, tapi tetep masuk kantor bos, ngerjakan klaim layanan kesehatan yang makin banyak dan turah-turah), gue saat ini berpegangan kepada, penyakit ini sebagian tidak berbahaya memang, tapi sebagian lain bisa mengakibatkan fatal alias membahayakan. Terus kan ada aja tuh yang komen, "matinya karena sakit komorbidnya, kok dibilang covad covid aja," Hmm, begini Pak. Seumur-umur jadi dokter nih, jarang banget ya gue nemu pasien dengan DM meninggal karena dia terinfeksi common cold (batuk pilek biasa) di saat sedang sakit DM itu. Atau ibu hamil tiba-tiba infeksi paru-paru dan saturasi oksigennya turun? Lalu meninggal? Padahal sebelumnya seger buger? Seriusan, hampir nggak pernah ketemu kasus begitu. Kasus pneumonia aja termasuk jarang gue temui selama jaga ya. But nowdays? Kasus itu mendominasi.

People, please, be a human. Human with the humanity. Jagalah sesama mu. Sadar diri, kalau kamu habis melakukan hal yang berisiko tinggi terpapar virus, ya jaga orang lain sekitarmu, agar tidak ikut sama seperti kamu, mengalami risiko tinggi. Dengan apa? Jaga jarakmu, pakai maskermu, batasi aktivitas komunalmu, cuci bersih tanganmu, jalankan etika batukmu, periksakan diri saat merasa sakit, isolasilah dirimu jika terjangkit. Kita-kita ini yang nakes, serius, nggak pengen Covid-19 itu lama-lama dan terus ada. Seriusan. Dan kita-kita ini yang nakes, juga bagian dari kalian, masyarakat. Kalau memang tujuan kita sama, ayok, sama-sama perang, sama-sama sabar dan tahan diri. Sampingkan sedikit ego nya. Kalau bisa bareng dan kompak, Insyaallah bisa selesai kan pandemi nya.

Semoga pandemi ini bisa segera selesai dari dunia. Aamiin..

PS: Tulisan ini pertama ditulis pada 7 Maret 2021, dengan situasi pandemi sesuai dengan tanggal tersebut, dan tentunya situasi hati penulis yang menyesuaikan apa yang terjadi saat itu. Diselesaikan dengan menambah beberapa kalimat akhir pada 30 Maret 2022.

Tuesday, January 26, 2021

Luka

Ternyata, untuk merasa sakit, kamu tidak harus jatuh atau dipukul terlebih dahulu. Rasa sakit yang mengenai organ tidak terlihat, ternyata nyata. Sialnya, luka itu tidak bisa dilihat. Kalau luka biasa yang bisa kita lihat, terpampang di kulit kita, bisa dirawat tiap hari. Diberi obat. Lalu perlahan menyembuh. Kita tahu prosesnya. Kita tahu kapan proses itu terganggu, ketika luka lambat laun menjadi bernanah, misalnya. Ada infeksi kuman yang mengintervensi, dan yah, masih bisa kita atasi lagi kemudian. Beri obat antiinfeksi. Tapi luka di batin? Hanya dapat dirasakan.

Rasanya juga bisa berbeda-beda. Ada yang mirip nyeri dada, tapi entah dimana. Ada yang hanya merasa hampa. Di sisi lain, mungkin hanya merasa tidak nyaman. Rasa nyeri dan tidak nyaman itu nyata, tapi butuh jiwa yang jeli, untuk dapat mengawasinya berproses. Jeli, super jeli. Apakah luka itu akan sembuh sempurna, kembali seperti sedia kala, atau meninggalkan bekas yang tak hilang selama proses penyembuhannya, atau.. Tidak sembuh dan masih menganga.

Hanya saja, kita tidak bisa lihat.

Jadi kalian, yang sedang sakit hatinya, yang sedang luka batinnya, bertahanlah. Bersikap lebih baiklah dengan dirimu yang sedang luka. Istirahatkan organ yang sedang sakit itu, beri waktu baginya untuk berduka, namun jangan berlarut. Karena rasanya eman sekali jika satu hidup yang kita punya, hanya dipakai untuk berduka. Kamu berhak, dan bisa sembuh. Kamu berhak bahagia.

Semangat, semoga kalian segera menemukan obatnya.

Tuesday, July 2, 2019

Tidak Minta Dilahirkan - Sekelumit Pemikiran

Once, gue pernah curhat sama Emak, lewat telpon, masalah sepele aja sebenernya, tapi cukup bikin baper. Masalah apa? Asa. Ya, anak kesayangan gue yg selalu pinter dan lucu itu. Yang dipermasalahin apa? Tingkah dia. Yang padahal yah, cuma tingkah normalnya anak-anak. Ngambeknya balita gak mau makan, ngambeknya balita gak mau ganti popok, ngambeknya balita yang tiba-tiba nangis minta hal absurd, atau tingkah dia yang bolak balik ngajak main atau cari perhatian di saat badan gue remuk seremuk-remuknya (efek pulang jaga atau as usual, ada masalah di BPJS). Rasanya waktu itu kaya beraaaaat amat dah ah cobaan gue. But then my Mom said, "Sabar. Anak kan nggak pernah minta dilahirkan,"

And now, habis melihat beberapa kejadian, entah kenapa pikiran ngalor ngidul gue ini kembali mengingat momen curhat itu tadi.

Iya, ya. Mana ada anak minta dilahirin? Mana ada anak bisa milih ortunya siapa? Not in a negative way, yang terus seakan-akan anak ya nggak ada hubungan atau nggak perlu berterimakasih dengan ortu ya, tapi, lebih ke, anak itu, lahirnya mereka, adalah tanggung jawab orangtua. Mereka lahir ke dunia, kosongan. Kaya kertas putih baru beli dari toko, bersih. Mereka lahir dalam keadaan tidak berdaya, rapuh, ringkih, yang lalu berkembang, bertumbuh, belajar, dimana tiga proses itu rasanya sebagian besar porsinya dipegang oleh ortunya kan? Atau siapapun yang merawat mereka. Jadi kan harusnya, ya orangtua harus sabar. Karena mereka yang kosongan, kita yang sudah keisi. Mereka sedang belajar menyampaikan, kita yang sudah lancar bicara dan mengenal apa itu emosi. Lagipula, anak bukanlah orang dewasa dalam ukuran kecil. Mereka newbie di dunia yang serba kompleks ini.

And children see, children do. Gue percaya parah sih sama ini. Karena meniru itu ya proses belajar mereka. Dari yang kosongan, jadi keisi. And that's why, sebagai orangtua, atau orang-orang yang berada di sekitar anak, yang sedang berproses menjadi lebih berisi itu, yang sel-sel otaknya secara ilmiah sedang berkembang pesat, menurut gue nih, harusnya lebih berhati-hati.

Jujur aja, pemikiran kaya gini muncul dari satu dua kejadian yang baru aja gue alami. Pertama, gue ditemukan dengan anak balita, usia 3 tahunan, yang bisa dengan mudahnya ringan tangan memukul dengan keras balita yang lain. Cuma karena mau ngambil mainan dari balita lain itu? And then, di lain waktu, gue ditemukan lagi dengan balita lain, usia 2 tahunan, yang gue kaget dia bisa jawab "bodo amat" begitu dapat pertanyaan siapa namanya dari orang yang lebih tua di sekitarnya. Dan mirisnya, orang-orang lebih tua itu rata-rata tertawa, seakan itu hal yang lucu. Kenapa malah jadi lucu? Bukankah itu nggak sopan? Jujur deh gue nggak paham. And then, mirip-mirip, seorang anak yang dengan semangat cerita ke keluarganya dengan bahasa kasar, menjelek-jelekkan gurunya. Tapi ya terus gitu, keluarganya tertawa, seakan itu hal yang lucu dan menghibur. Why? Jujur ya, gue bersyukur menjadi salah satu orang dewasa, dimana saat gue menjadi anak, gue memegang teguh nilai bahwa guru adalah pengganti ortu gue selama di sekolah. Nggak pernah merasa rugi dengan itu, thanks to my beloved parents.

Gue nggak tahu juga sih, ini apa gue yang lebay apa gimana. Tapi deep down inside, gue percaya, di saat kebiasaan sudah menjadi watak, maka jangan harap watak bisa diubah. Apalagi setelah anak itu jadi dewasa. Maka, bukankah lebih baik membiasakan yang baik semenjak dini? Semenjak mata anak-anak itu masih membelalak lebar mengamati sekitar, merasa heran, merasa penasaran, merasa kagum dengan ortunya, dan juga merasakan.. cinta. Cinta yang tak terbendung, tanpa syarat, dari orangtua yang sedang merawat mereka. Bukan berarti menjadikan mereka robot juga, yang tunduk perintah ini itu. Tapi, lebih ke transfer ilmu, begini lo sayang, kalau jadi manusia.. Jadi manusia yang baik. Toh mereka nantinya tidak akan selalu jadi anak. Merekalah yang kelak menggantikan kita-kita yang menua. Mereka yang akan jadi dewasa, jadi tulang punggung suatu peradaban juga kelak.

Karena ya itu tadi kan, anak tidak pernah minta dilahirkan. Jadi, ya ayuk lah, kita sebagai ortu, bisa lebih sabar lagi, lebih bertanggung jawab lagi, lebih giat berdoa dan berusaha lagi, untuk merawat titipan Yang Maha Kuasa tersebut dengan sebaik-baiknya. Membekali mereka dengan baik. Karena mereka ndak akan hidup sendirian nanti. Mereka manusia, yang mana manusia adalah makhluk sosial. Jika ada pilihan menjadi baik, kenapa tidak diusahakan? Iya kan?

Tuesday, November 20, 2018

Change! Usaha untuk Jadi Lebih Baik

Disclaimer: I don't have any intention to tell you about right or wrong. Simpel, aku cuma mau sharing. Just want to express what's inside my mind. So I hope you all don't mind, yes..;-)

Ini cerita saya, tentang sebuah perubahan yang saya lakukan. Hehe. Iya, orang sedatar saya, bisa juga memutuskan untuk berubah. Orang seskeptis saya, yang selalu memiliki paham bahwa "berubah belum tentu lebih baik" bisa juga ternyata berubah. Bisa dibilang saya termasuk orang yang enggan berubah atau bergerak. Tapi ternyata, bisa juga. Hehe..

Perubahan apa? Tidak banyak. Hanya memutuskan untuk mulai menggunakan jilbab untuk sehari-hari. Ya, beberapa saat setelah bulan Ramadhan tahun ini. Alhamdulillah. Jujur, bukan sesuatu yang mudah. Jujur, di awal pun jelas bingung, bimbang, apalagi dengan pemahaman-pemahaman yang tertanam pada saya semenjak muda. "Jilbab itu, wajib untuk isteri para mukmin. Jadi ya pas kamu udah jadi isteri, isteri orang mukmin, baru pakai," begitulah kira-kira ucapan seseorang yang selalu terngiang-ngiang..:-) Walaupun di saat belum menikah pun aku merasa, memakai jilbab itu bukan sesuatu yang buruk, justru cenderung ke arah baik. Yah, walaupun pada kenyataannya saya juga tidak langsung berjilbab setelah menikah. Hehe..

Long story short, sampailah saya pada keputusan ini. Di saat saya sudah setahun lebih berumah tangga, saya putuskan untuk berjilbab. Kenapa? Karena ingin. Kenapa ingin? Hm, sulit saya jelaskan. Haha.. Sebutlah tiba-tiba saya ingin. Hahahaha.. Yes, saya orangnya kind of impulsive kok emang. Apa disuruh suami? Tidak. Tapi betapa bahagia saya, begitu mendiskusikan hal ini dengan suami, dan dia sangat mendukung. Papa saya juga. Papa senang sekali begitu tahu anak perempuan pertamanya ini mau pakai jilbab. Saya jadi lebih bahagia gitu, bisa semacam bawa kabar baik ke orang-orang tercinta. Huehehehe..

Awal-awal saya pakai jilbab, jujur saja, perjuangan sekali. Mana sebelumnya kan kesan saya selebor banget ya, asal gitu lho. Dan secara kan ada norma tidak tertulis jika pemakai jilbab itu tuh harus "(selalu) baik" ya. Hahaha.. Kind of beban, tapi gue sepaham sih. Secara dengan pakai jilbab kan identitasmu makin jelas. Mungkin, di saat orang lihat kamu pertama kali, dia akan membatin, "Oh, orang Islam.." Get it? Yes, mau nggak mau, orang memakai jilbab jadi semacam representative dari agama Islam ini. Walaupun gue juga percaya nggak ada namanya manusia yang sempurna, terlalu hitam, atau terlalu putih, menjaga nama baik Islam itu penting. Dan ini make sense menurut saya. Yah, makanya kalau ada orang-orang bilang "Jangan salahkan jilbabnya, tapi orangnya," di mata saya hal tersebut 11:12 sama "Pakai jilbab kok nyolong,". Karena memang norma yang berlaku seperti itu gaes, normal dan masuk akal. People will judge anyway, and then generalisation sometimes occured. Seperti pada kasus ada teroris yang beragama Islam, kan akhirnya jadi ada yang beranggapan "Islam agama teroris". Makanya lah, boleh kan berharap jangan sampai ada bibit-bibit seperti itu lagi. Setidaknya mulai dari saya sendiri. Hehe..

Aaaand that's why saya bilang kalau di awal-awal pakai ini tuh, berat. Hahahaha.. Selain yang saya ceritakan sebelumnya, perintilan-perintilan yang menunjang keseharian baru saya juga ternyata challenging. Iya lho, mulai dari harus bisa tahan sumuk (di mana saya orangnya nggak suka panas), milih style jilbab yang pas sama muka, belajar pakai peniti sendiri, cari outfit yang juga menunjang, ndak ketat, ndak tabrak warna, cocok sama warna jilbabnya, waktu persiapan di depan cermin jadi makin lama, belum lagi awal-awal waktu periksa pasien. Kenapa periksa pasien jadi ribet? Stetoskop man! Hahaha.. Iya, periksa fisik pasien buat dokter umum kaya saya tuh wajib ada auskultasi pakai stetoskop. Bisa bayangin kan, awal-awal gimana saya bingung untuk menempatkan kedua ujung stetoskop di telinga tanpa harus merusak tatanan jilbab yang syuda paripurna. Kalau ditaruh di luar jilbab, saya malah jadi nggak dengar. Haha.. Well ya, intinya ternyata semua butuh latihan dan pembiasaan. Jujur aja, sutres juga saya dengan perintilan-perintilan kaya gitu. Iya, saya anaknya gampang sutres, nggak apa lah ya. Tapi Alhamdulillah, sudah mulai terbiasa. Hehe..

Begitu pun awal-awal mendapati komentar orang-orang. Dari yang memuji sampai mempertanyakan, jujur aja sih, awalnya risih banget. Sempet awal-awal nanggapinnya pakai bercandaan pula, kaya edisi Ramadhan lah, nutupin bad hair cut lah, padahal mah, engga. Hehe. Mungkin karena saya anaknya punya kenangan buruk sama keramaian ya. Haha. Makanya MPE nya semi-semi kabur nyelimur gitu #maafkanya. Jadi yaa even orang muji-muji, saya risih. Pengennya nggak usah dianggap beda, gitu. Biasa aja, gitu. Anggap kaya pakai topi aja, gitu. Yah tapi sekali lagi, common sense lah yaaaa.. Udah hukumnya mah, manusia, kalau ada yang beda, atau yang baru. Eh tapi, kalau dikomennya ditambahin doa, saya seneng sih. Doanya baik-baik pula, ya saya amini. Hehehe..

Apa saya bisa dikatakan berhijrah? Hmmmmm, ndak terlalu suka pakai istilah itu sih. Berat gitu rasanya kata-katanya. Wkwk.. Tapi, anggap saja saya sedang berusaha. Berusaha keras. Menuju sesuatu yang lebih baik. Hehe.. Iya, di samping hal-hal yang bikin saya sutres tadi, toh ya makin lama saya makin nyaman dan terbiasa dengan gaya baru saya ini. Dan lucunya, sekarang kalau lewat di depan tukang-tukang udah jarang disuit-suit lagi. Hahaha. Bagus lah. Walau harusnya sih oknum-oknum tsb sungkannya sama semua wanita apapun pakaian mereka ya. And then, somehow, for me, jilbab ini menjadi semacam alarm, yang mengingatkan saya. Mengingatkan untuk bisa lebih baik, lebih bijak, lebih taat. Dan ya, I'm happy for it. Sudah baik kah saya? Mungkin belum, mungkin sudah. I never know. Orang lain yang menilai kan ya. Cuma, ya itu, saya berusaha ke arah sana. Berusaha sebaik-baiknya dan semoga Allah SWT meridhoinya.. Aamiin YRA..:-)

Tuesday, April 3, 2018

Something About ...

Tbh, agak nggak yakin sih mau nulis gini. Tapi makin lama, kok makin nggak bisa tidur gue. Kayanya pengen aja gitu melampiaskan semacam, huh, apa ya, kekesalan? Kebingungan? Ketidakpahaman? Ke-kok-bisa-sih-kejadian-kaya-gitu-an? You named it apa pun lah ya, terserah.

Intinya mungkin lebih ke, gue kecewa. Baru aja, gue melihat sesuatu yang viral di sosial media, yang bikin gue nyesek (dan mungkin juga nggak suka). Nggak usah gue jelasin lebih lengkap deh itu apaan. Gue kasih clue dikit-dikit abis ini juga pasti pada paham.

Harusnya nih ya, gue suka sama yang namanya puisi. Pun setelah gue baca kata demi kata yang terangkai dalam puisi viral tsb, jujur, indah. Pemilihan diksinya bikin gue terpengarah. Apalagi dibawakan di acara besar, yang gegap gempita, dengan segenap orang-orang penting terlibat di dalamnya. Yang membawakan juga orang sama penting kan.

Tapi kenapa deh? Kenapa isinya harus begitu? Harus banget menyinggung agama? Apesnya lagi, kenapa agama gue deh? Jelas banget itu. Entah maksudnya sebaik apa pun, entah kenapa logika dan perasaan gue kok jadi merasa "diserang" mendengarnya. Gue merasa ada suatu perbandingan yang ditaruh di situ. Kenapa harus membandingkan sesuatu yang menurut gue nggak seharusnya dibandingkan? Membandingkan agama dengan budaya maksudnya kah..? Aneh. Jujur aja, menurut logika seorang gue, itu aneh. Bahkan yang judulnya sama-sama agama saja, menurut gue mending jauh-jauh dibandingin deh. Lha ini, malah dua substansi yang menurut gue (lagi) adalah berbeda. Jadi mirip aja gitu, sama menilai kejeniusan ikan dan gorila dari kemampuan mereka memanjat pohon.

Yah, gue tahu sih, gue juga random banget bahas ginian yak. Pakai cadar aja enggak. Haha. Kualitas ibadah gue? Yah, biar Allah S.W.T dan gue yang tahu deh (melipir, nangis di pojokan, berdoa semoga bisa menjadi lebih baik). Well ditanya gue udah ngelakuin apa buat negara sampai bisa nulis gini pun, paling jawaban gue standar. Hidup, kerja, bayar pajak, bayar zakat. Udeh. Nah makanya, gue bahas di awal kan. Murni karena gue ngerasa nggak enak aja, dan yah, ingin ngeluapin apa yang ada di otak dan hati ini. Jadi, gue cuma bisa minta maklumnya. Haha.. Dan, yah, gue cukup nggak suka ternyata dengan (isi) puisi tsb, dan yah, heran itu tadi. Enggak habis pikir aja. Sangat disayangkan aja, jika memang niatnya baik, tapi ternyata justru menimbulkan perpecahan kan.

Dan satu lagi, masih nggak habis pikir, bagaimana yang mengucapkan menolak jika ia dikatakan SARA, padahal jelas yang dia ucapkan adalah salah satu agama? SARA = suku, ras, agama, kan? Yang intinya nggak boleh menyinggung itu kan? Berkemas di balik kata "fakta" dan "budayawati"? I don't get it. Mungkin memang ilmu gue yang masih kurang, atau umur gue yang masih terlalu muda. But if I can say one more thing again, kalau memang konteks puisi tsb adalah dari orang-orang Indonesia yang tidak tahu agama ini, kenapa, kenapa yang dibahas adalah konde dan kebaya? Selama ini gue kira kebaya dan konde itu aslinya dari Jawa aja padahal (and maybe gue salah yah). Dan kenapa satu agama itu saja yang dibahas? Nggak sekalian agama yang lain? Apa karena oleh penyair, memang hanya itu yang bermasalah? Kenapa mengatakan adzan tidak semerdu tembang? Sementara di saat yang sama, gue sendiri cukup dengar "Allahu Akbar", sudah menjadi lebih tenang. Walaupun jujur, gue juga masih menikmati merdunya tembang jawa yang diputar di nikahan-nikahan. Rasanya cukup kan, dengan katakan jika kidung Ibu Indonesia begitu merdu. Meninggikan saja, tak apa, tapi jangan rendahkan yang lain kan bisa?

Ah sudahlah. Gue sendiri berharap, dan berdoa tentunya. Semoga nggak lagi-lagi ada lah kaya gini ini. Jangan lagi please.. Apalagi di era sosmed kaya gini kan, berita APAPUN gampang sekali nyebar. Yang nggak penting macam ABG joget-joget aja bisa jadi bahan omongan banyak orang, apalagi yang kontroversial macam ini. Imho, people jaman now lebih gampang terprovokasi juga. Rasanya akan lebih bijak untuk tidak memancing perseteruan kan. Hehe..

Sunday, April 1, 2018

(Mencari) Keputusan. Bukan Keputusasaan.

Malam gelap mengiringku.
Berpikir dan merenung dalam.
Dalam diam.
Berpikir lagi, lagi, dan lagi.
Seakan tak ada henti.
Entah sampai kapan.
Karena yang kucari belum juga kutemukan.

Ini malam ke berapa?
Terasa begitu lama.
Terlalu lama.
Aku belum temukan apa-apa.
Kosong.
Buntu.

Gamang.
Masih kurasa.
Teringat kembali pembicaraan yang lalu.
Sudah lalu, namun masih berlaku.
Tidak bisa kutinggal lari, seperti biasa.
Karena tiap hari, aku menghadapinya.

Kabur, bukan solusi.
Diam pun, bukan.
Pura-pura lupa, apa lagi.

Ini tanggung jawabku.
Yang bukan anak kecil lagi.
Walau sulit untuk ku selesaikan.
Walau aku harus lebih sering mengerutkan kening.
Walau aku masih perlu waktu, lagi, dan lagi.
Akan tetap kuemban.
Akan tetap,
kucari jawaban.

Tunggu.
Dan bersabarlah.
Karena aku hanya ingin,
yang terbaik lah yang terlaksana.

Saturday, January 6, 2018

For You, My Lil Smoochie :*

I'll make this one as quick as possible. It's deadlines day for me! Tapi tenang, biar bikinnya cepat, isinya nggak kurang nggak lebih dari apa yang mau Mama sampaikan kok. Mama? Yes, ini posting buat kamu, Nak, Angkasa, Asa nya Mama..:)

Angkasa, kalau kamu besar nanti, terus jadi warganet kekinian dengan segala gadgetnya, jangan heran ya, kalau Mama jarang posting foto-foto Adek waktu kecil. Yah, mungkin bakal ada banyak foto kamu di IG Mama, tapi captionnya nggak menarik atau amburadul. Haha.. Nggak kaya Mama-mama kekinian lain, yang dengan rajin dan niatnya merangkai kata-kata untuk sekadar merekam memori dengan anaknya. SOO SOORRY FOR THAT, YA, SON! TwT Apalagi, kalau kamu jarang nemu Mama posting or sharing kamu udah bisa apa aja umur segini, makan apa aja umur segitu, udah bisa ngomong kapan, atau bisa jalan kapan. Harap maklum ya Nak.

Sesungguhnya, bukan Mama nggak ngerekam itu semua. Bukan Mama pas nggak ada di samping kamu, di saat kamu tumbuh dan berkembang dengan begitu bahagia. Mama cuma malas aja orangnya. Wkwkwk.. And yeah, I don't do share that much. Kalau kamu mau tahu, memory hp Mama itu full sama kamu lho, Dek. Hehehe.. Dan Mama selalu inget, kapan Adek begini, kapan Adek begitu. Hehe..Cuma yah, karena kemalasan Mama itu tadi, semuanya tersimpan begitu aja. Nggak (belum) dirapiin, sampai enak dipandang mata. Hehehe.. Sekali lagi, harap maklum ya Sayang.

Bukan karena kamu nggak hebat lho. Wih, kamu tuh, bayi ajaib laah yaaa buat Mama. Anak Mama yang paling ganteng! Haha, ya iya lah, karena sekarang anak Mama ya baru kamu aja Dek. Dan setiap Mama pastilah memandang anak lelakinya sebagai yang tertampan di dunia. Wkwkwkwk.. Oh ya, ajaibnya di mana? Di semua-semua deh. I don't say that you are perfect, nah, far from that (and yes, I do believe that 'perfect' is only belong to Allah SWT). But you're my best. Best in the world, for me. Kamu adalah jawaban doa-doa Mama, Dek. Makasih ya.. Btw, nih, Mama bocorin sedikit di sini keajaiban kamu menurut Mama yaa. Haha..

Pertama, kamu itu pintar. Hihi.. Lepas dari akan jadi apa kamu nanti, dan walaupun kamu baru berusia 9 bulan-an per hari ini, yes, kamu itu pintar Dek. Feeling Mama bilang sih, kamu itu tipe yang cepat belajar. Kebalikan Mama yang lola nya minta ampun. Mungkin nurun dari Papamu ya Dek. Haha.. Buktinya aja nih, kamu udah bisa ngambil benda kecil pakai 2 jari dari kamu umur 6 bulan lho. Di umur segitu pun, Adek juga udah bisa genggam makanan dengan baik, dan makan sendiri. Haha.. Kalau Mama seriusin BLW paling ya kamu bisa Dek. Tapi maap, Mamamu ini nggak setelaten mama-mama kekinian lain. Jadi ya, kamu makan pakai metode konvensional aja, win-win solution sama yang jagain kamu dan juga beres-beres di rumah. Hehe.. Seenggaknya Mama nggak mau maksa kamu makan ya Nak, Alhamdulillah sampai sekarang kita baik-baik aja dengan cara seperti itu. Hehe.. Ngomong-ngomong pintar, ya itu salah satu kepintaran Adek. Makan. Jujur, kamu tuh nyenengiiin banget kalau pas lagi makan. Semua masakan Mama, yang kalau kata orang lain sih, bisa aja nggak enak dan nggak jelas, mau kamu makan. Baru akhir-akhir ini aja, Mama lihat kamu tutup mulut waktu makan, tapi itu pun cuma sebentar, beberapa saat kemudian kamu mau makan lagi, tanpa Mama paksa. Thank you very much for that ya Dek. Padahal kamu pas lagi sakit. Tapi kok ya kaya ngerti, kalau makan itu penting. Mama terharu..

And then, Adek juga udah paham lho, cara naik-turun kasur dengan baik, dari Adek umurnya sekitar 8 bulan. Awal-awal kamu turun dari kasur itu kepala dulu lho. Tapi lama-lama dibilangin, sekarang tiap turun kasur udah pakai kaki dulu. Udah lebih aman deh. Dan kalau naik kasurnya, wah itu mah Adek udah pinter, bisa sendiri nggak pake diajarin. Haha.. Kamu rajin ngeliatin Mamamu kali ya Nak. Hehehe.. Padahal, dulu Mama sempet worry gitu, kamu kok kayaknya agak telat buat tengkurap dan balik badan dari tengkurap. Yes, apalagi dulu kan kamu seringan digendong ya Dek, jadi parno deh Mama. Tapi ternyata, dari umur 5 bulanan kamu udah bisa duduk sendiri, kepala tegak pula. Dan sekarang, wah umur 9 bulan udah curi-curi berdiri, lumayan bisa berdiri sambil joged tangan di atas selama beberapa detik, hihi. Kamu juga udah bisa jalan merambat, merangkaknya udah kemana-mana, manjat-manjat apapun, buka-buka buku, wah bikin Mama seneng deh. Bisa dibilang pesat juga perkembanganmu ya Nak.

Oh ya, dan satu lagi, kamu itu penyayang yaa.. Hihi.. Jadi, ada satu malam, Mama begadang ngompresin Adek, karena Adek tiba-tiba demam tinggi. That's the first time, kamu sakit demam Dek, tanpa sebelumnya imunisasi. Which is, yes, ini beneran sakit. Malam itu, Adek lagi tidur enak, tiba-tiba kebangun, rewel. Mimik lah Adek seperti biasanya. Tapi, kok udah lama mimik kaya masih gelisah. Mama cek, kok panas, terus Mama ukur panasnya pakai termometer, walah 38.4 Dek.. Ditambah kamu kaya ngelindur gitu, mana Papa lagi jaga malam, panik lah Mama. Langsung aja Mama ambil paracetamol, Mama minumin ke kamu, lha eh kamu malah muntah. Banyaaaaak.. Aduh, rasanya baru itu Mama panik Dek. Biar Mama dokter ya, tetep aja deh, begitu menghadapi anak sendiri yang sakit, kalang kabut ini pikiran. Soalnya itu baru pertama kali kamu sakit sampai kaya gitu Dek. Untunglah Papamu masih bisa dihubungin, seenggaknya langsung kasih saran dan bisa nenangin Mama. Juga pas ada eyang-eyang mu di rumah, jadi Mama nggak terlalu bingung deh. And then kamu berhasil bobo lagi, lebih pulas. Cuma demam mu masih naik-turun, jadi lah Mama semalaman kompres kamu. And guess what, besok paginya, kamu bangun duluan dek. Dan Mama teler-seteler-telernya. Dan ada satu hal yang nggak bakal Mama lupa dari kamu waktu itu. Kamu meluk Mama lumayan lama, sambil senyum-senyum maniiiis banget. Mama kira waktu itu kamu glendotan minta naik ke kasur, ternyata enggak. That was just so sweet, Dek. Hilang sudah lah, capek nya Mama. Hehe..

Jadi, Angkasa, kalau suatu hari nanti, kamu lagi down, nggak semangat, ngerasa minder, mungkin kamu bisa baca tulisan Mama ini. Haha.. Kamu harus ingat, selalu ada Mama dan Papa di belakang kamu. Tambahin, bukan Mama Papa aja lho Dek. Kamu punya keluarga yang selalu sayang sama kamu. Yang bahkan kamu ngeberantakin ini-itu aja semua nggak marah. Kesel sih, tapi ditahan, hahaha.. Yes, karena kamu si Little Precious kami semua.. Ada Eyang, ada Onty, Oncle, Tante, Om, semua sayang Angkasa. Keluargamu (terutama Mama dong :p) ini yang tahu kamu, dari kamu masih berbobot lebih ringan dari beras 5 kg Ind*maret. Hwhwwhw.. Banyak orang sayang dan doain kamu, Dek.. Jadiiiii, semangat terus ya Sayaaaang! :D Semangat dan tumbuh kembanglah jadi anak yang hebat dan berbahagia. I will happy if you're happy too..

So, segini dulu deh tulisan Mama buat kamu. Kapan-kapan Mama cerita-cerita lagi yaa Dek. Hehe.. ILUSM! :*

Diketik pertama di saat Asa masih berusia sekian bulan, diselesaikan di saat Asa ulang tahun yang pertama.

Let It Go (Trying To)

Tbh, ini udah kejadian ke sekian kali. Dari seumur-umur gue koas, iship, lanjut jadi dokter praktik. Harusnya mah, kan usah biasa ya. Pattern nya pun mirip-mirip. Tapi kenapa? Kok rasa yang sama selalu berulang. Rasa yang sama selalu membekas. Dan bahkan rasa-rasa sama yang baru muncul itu kembali menyeret datang rasa-rasa yang dulu sudah saya rasakan. Why.....?

And guess what the best part is. Complicated. Untuk ke sekian kali, saya dapat pasien yang complicated. Rumit. Bahkan sebenarnya, pasien ini bukan murni pasien saya. Saya tidak tangani dari awal. Tapi selalu sama. Not always, though. Sering. Sama seringnya. Sama rumitnya. Rumit, lalu memburuk. Rasanya sudah sekuat tenaga berusaha, tapi at the end, saya masih merasa ada yang kurang.

I know this isn’t professional. I’m trying to be, tapi susah. Di saat saya berusaha kembali mengingat-ingat terapi apa saja yang sudah diberikan, lalu menarik nafas lega, karena setidaknya hal tersebut sudah sesuai dan sudah atas persetujuan supervisor, di saat yang sama (sepersekian detik setelahnya), entahlah nafas kembali berat. Bayangan wajah pasien tadi, yang menyahut saat saya panggil, yang masih berkenan membuka matanya saat saya memeriksa GCS, tangan beliau yang di ambulans entahlah seperti menjabat tangan saya, ucapan terima kasih dari keluarga pasien yang saya terima –(yang rasanya berlebihan untuk saya terima saat itu), sulit sekali ya, saya lupakan. Inginnya saya tinggalkan semua, selepas saya selesai jaga pagi ini dan kembali ke rumah. Tapi ternyata, sulit juga untuk saya lepaskan.

Menjadi dokter memang tidak boleh menjanjikan kesembuhan. Kesembuhan hanyak milik Allah S.W.T., saya percaya itu. Saya hanya perantara, yang bisa berusaha semaksimal mungkin. Tapi jujur, saya sedih sekali. Di saat saya sempat merasa optimis karena menurut saya terdapat perbaikan, dalam sekejap mata, terjadi perburukan. Memang, semua yang terjadi adalah atas kehendak Allah S.W.T. Saya hanya bisa berdoa, semoga yang terjadi, adalah yang terbaik untuk semuanya. Aamiin YRA...

Diketik saat hujan besar, saat masih terperangkap di IGD, dengan segala memori tadi pagi..

Monday, April 17, 2017

Kue Ulang Tahun


Malam, Gie.. Malam, semuanyah.. Gue mau cerita dikit boleh ya, cerita di balik foto yang gue upload di post ini. Hehe.. Yas, itu foto kue ulang tahun gue, dari misua tercinta.. Yang, jujur aja, gue nggak nyangka, dia beneran kasih gue kue macam itu. Hehe..

Beberapa hari sebelum gue tambah umur, si misua nyinggung-nyinggung gitu deh, ditanya-tanya lah gue mau kado apa. Dan emang dasarnya dia mah lebih banyak bercanda (lebih tepatnya ngebercandain gue sampe gue kesel 😅), gue anggap ringan aja lah ya, dan, yes, nggak berharap apapun. Hahahaha.. Seperti biasa, udah didoain aja udah syukur Alhamdulillah..

"Aku mau cake dong. Birthday cake, coklat gitu, ada tiup lilinnya," jawab gue sekenanya begitu dia tanya gue mau apa.

"Hoo.. Kue coklat gimana? Beli di mana?"

"Hmm, di coklatku chocoshop aja," jawab gue lagi, yang emang sih, toko coklat satu itu udah jadi semacam tempat belanja coklat favorit gue selama di Malang. Jadi yah, kaya otomatis aja gitu, pop up in my mind begitu ditanya. Hahaha.. Padahal sih kalau digali (dan dipikir-pikir) lagi, pengen gitu, sekali-kali gue nyobain cheese cake nya dapur coklat atau harvest. Huahahaha..

Oh ya, and you know what, abis itu misua gue bales gimana?

"Oh, emang ada toko itu di Malang ya? Belinya gimana? Online?"

"Ada lah.. Kan emang tokonya di Malang. Aku sering beli di situ. Mesen online juga bisa.."

"Yawes, kalau gitu ntar kamu yang pesen yah. Ta' kasih duitnya, kamu yang siapin.." Dan dia ketawa lebar, macam ginih: 😂 Dan gue kembali speechless seperti biasa, memasang ekspresi andalan macam ginih: 😫

Wajar toh yoo, kalau gue nggak expect apapun dari misua gue kalau begitu caranya. Ahahaha.. Dan percayalah, momen kaya gitu udah macam makanan sehari-hari gue dan dia deh, yang Alhamdulillahnya, tanpa bosan. Wkwkwkwk..

Jadi, bisa dibayangin dong, gue beneran kaget begitu masuk ke ruang keluarga, ada kue ditancepin lilin ulang tahun buat gue. Hahaha.. Apalagi begitu lihat ucapan di kuenya, "my wife", yang berarti itu kue emang asli dari dia, bukan ajakan patungan dari pihak-pihak ketiga kaya biasanya..😅 And seriously, gue speechless.. Bete gue di hari itu langsung hilang. Iya, gue abis bete berkepanjangan pasca nangani pasien waktu jaga, yang, gue ngerasa belum optimal penanganannya. Ngelihat dia, anak gue, juga saudara-saudara lain kumpul di ruang keluarga dan merayakan kecil-kecilan ulang tahun gue, rasanya bahagia. Hehe..

Mungkin hal tsb biasa banget ya bagi sebagian orang lain, super super standar lah bisa dibilang, atau ketinggalan zaman, atau bisa juga ada yang beranggapan there's nothing special dari prosesi macam gituan. Tapi, buat gue, percayalah, hal seperti itu benar-benar istimewa. Ngelihat misua gue yang baik-baik-nyebelin-bikin-pusing-tapi-ngangenin bisa menyediakan waktu dan effort sedemikian rupa buat gue, gue bahagia.. Untuk dia yang bukan tipe cowok so-called so sweet, ini mah prestasi bener deh ya. Hehehe.. Pokoknya, gue nggak nyangka, dan gue bener tersanjung. I feel so special. And thank you so much for that..😊

Akhir kata nih, gue tujukan buat suami tersayang yang mungkin, someday akan baca tulisan ini ya..

Terima kasih. Thank you for making my special day feels waaaay more special, darl.. Bukan karena kuenya sebenernya, tapi karena kamunya. I feel so loved eventhough I know, you'll always be mine. Hehe.. I love you, and I'll always yours. No, not because of that birthday cake. There's no reason at all for me to say such a cheesy phrase here, for you. Hehe.. Sekarang, kamu dan Asa adalah prioritasku, kebahagiaanku. Terima kasih sudah ada, dan mau menemaniku, selama ini, sampai seperempat abad sudah aku diizinkan hidup oleh Allah.. Moga kita panjang umur dan sehat selalu yes, makin tua makin bijaak, grow old together lihat Asa (and adeknya juga, hihi) tumbuh dewasa menjadi orang hebat, ngasih cucu ke kita (hahaha), dan pastinya, ibadah bareeeng, mengejar ridho Allah bareng.. Aamiin YRA..😊

Semoga aku dan kamu selalu berjodoh, I love you, suamiku..😊

Wednesday, February 22, 2017

Kenalan dengan Kata MengASIhi..

"Selamat mengASIhi ya, Mom," sering nggak sih, dengar atau baca ucapan itu dari sesama ibu ke ibu yang baru aja lahiran? Kalo gue sih, sering.

Seiring dengan gue menjadi emak-emak, akhirnya berkenalan juga gue dengan dunia per ASI an. You all know lah yaa ASI di sini maksudnya apa. Yep, air susu ibu, which is makanan rangkap minuman untuk si bayi lucuk, sang anak yang baru gue lahirin. Konon katanya, ASI adalah makanan minuman terhebat untuk bayi-bayi manusia, dengan kandungan gizi dan nutrisi yang sudah dirancang sedemikian rupa oleh Yang Maha Kuasa sehingga sesuai untuk memenuhi kebutuhan si bayi-bayi lucu. Dari segi medis, WHO pun menganjurkan ntuk dilakukannya pemberian ASI saja selama 6 bulan pertama usia anak (ASI eksklusif).

Well gue bukan mau cerita tentang ASI itu begini begitu serta ilmu per ASI an lainnya ya. Kali ini gue mau sharing aja pengalaman gue selama mengASIhi si anak ganteng kesayangan. Untuk dokumentasikan kenangan, syukur-syukur bisa bermanfaat bagi orang lain. Hihi..

Jujur, gue termasuk orang yang minderan. Ditanya tentang ASI, dari sebelum lahiran aja udah ada nggak PD nya. Waktu kontrol hamil terakhir gue ditanya sama DSOG gue apa ASI udah keluar, dan jawabannya belum. Posisi uk 39 minggu. Bukan sesuatu yang nggak wajar sih, tapi bikin kepikiran aja. Artinya kan ya banyak ibu-ibu yang emang udah keluar ASI nya dari awal. Somehow bikin insecure. Waktu persiapan kelahiran di RS pun itu ASI masih belum tampak. Haha.. ASI gue pertama kali keluar saat baby Asa dibalikin ke gue setelah mandi dan dibersihkan di hari kelahirannya. Itu juga pakai dibantu bu bidan RS untuk mengeluarkannya. Daan, perasaan pertama breast feeding ke Dedek tuh, hmm, nano-nano. Haha. Jujur ada sakitnya, tapi juga nggak kalah perasaan takjubnya. Melihat Dedek yang khidmad sekali mimiknya, sambil ngelus-ngelus kepala dia, rasanya amazed aja gitu. Apalagi baru banget selesai lahiran yaak, gue jadi agak drama gitu lah, macam sinetron. Bolak-balik mbatin, ya ampun gue udah punya anak, ya Allah lucunya anak ini, ya Tuhan nggak percaya selesai juga lahirannya, dll dll.

Gue bersyukur, di hari kelahiran Dedek ASI gue udah keluar. Rasa insecure sebelum lahiran hilang sudah. Di saat itu, gue mulai menanamkan pemikiran kalau breast feeding ke bayi adalah suatu yang sudah dirancang sedemikian rupa oleh Allah, ASI adalah hak para bayi, salah satu mekanisme mereka untuk bertahan hidup di dunia, dan oleh karena itu, setidaknya, dapat berjalan dengan alami tanpa banyak drama. Yes, jadi gue PD in aja deh kalau ASI gue cukup. Walaupun sebenarnya gue sendiri waktu itu ya belum ngeh apa tandanya ASI cukup apa enggak. Gue rasanya juga masih belum ngerti bedanya ASI gue keluar dan diminum sama Dedek sama si Dedek yang ngempeng aja. Ya, gue memang se-tidak peka itu. Haha..

Hari berikutnya gue dan baby sudah boleh KRS. Untunglah sebelum pulang ada bidan khusus yang mengajari gue teknik-teknik menyusui dan berbagi bermacam info mengenai menyusui. Jadi nggak bego-bego amat lah ya. Haha.. Walaupun gue juga nggak langsung bisa, masih banyak kagoknya.

Hari demi hari pun berlalu, gue berusaha buat terus nenenin Dedek langsung. Tiga hari pertama di rumah, gue masih dapat fasilitas free home care dari RS. Yup, ada mbak bidan yang berkunjung ke rumah, memeriksa gue dan baby, sambil mengajari cara memandikan dan menjemur si Dedek. Of course gue juga bebas tanya-tanya. Haha.. Di saat itu, gue inget sudah mulai muncul dramanya busui. Hehe. Booby gue gampang bengkak, dan mulai terasa nyeri. Cus deh, tanya ke mbak bidan, dan gue diajari massage payudara. Juga diberi anjuran untuk mengompres dengan air hangat saat mulai terasa nyerinya. Yup, ternyata namanya hidup ya, nggak akan lepas dari drama.. Ahahaha.. Gue yang mikir kalau breast feeding seharusnya lancar jaya tanpa ada masalah, akhirnya nyerah juga begitu makin hari, nyeri makin terasa. Nyeri di sini udah bukan sekadar nyeri kemeng di booby ya, tapi nyeri juga di nipple. Haaahaaa..

Gue nggak pernah nyangka kalau menyusui itu (bisa) sakit. Sakitnya pun nggak kalah sama sakit nya dysmenorrhea. Haha. Apalagi, si Dedek termasuk baby yang gercep masalah susu-menyusu ini. Awal-awal dia lahir, beneran bolak-balik minta nenen lho dia. Beneran tiap dua jam rasanya, dia minta nen. Padahal, nipple gue toh akhirnya lecet juga, dan itu bikin sensasi nyeri-nyeri-nikmat yang luar biasaaaa tiap nyusui Dedek. Macam diiris atau disilet kali rasanya ya. Haha.. Belum lagi, masalah booby gue yang gampang bengkak. Belum ada berapa jam, udah menteng-menteng aja. Sakitnya dobel dobel.. Huks.. Gue inget, awalnya nipple sebelah kiri gue yang sakit parah tiap menyusui. Akhirnya gue parno kan tuh, si Dedek gue nenenin ke yang kanaan terus. Yang kiri akhirnya gue pompa aja biar nggak seberapa bengkak. Tapi ternyata cara gue ini nggak efektif. Haha.. Puncaknya ada di hari ke sekian (lupa tepatnya) usia Dedek, gue nangis kejer kaya anak kecil sambil nyusui dia..

Iyah, nangis. Kejer. Yang nangis berisik kaya anak kecil gitu. Sampai-sampai misua kaget dan langsung lari masuk ke kamar, bingung. Drama banget kan.. Haha.. Waktu itu yang gue rasain cuma sakit. Sakit di mana-mana. Nipple yang kanan juga ternyata ikutan lecet dan jadi sakit, booby kiri bengkak nyut nyut, bekas jahitan juga masih nggak enak rasanya, kepala pusing nggak jelas, dan parahnya lagi badan meriang, demam. Fix, jatoh sakit. Beneran bikin mental break down lah. Parah. Gue mbolak mbalik batin, masih berapa hari jadi ibu kok udah sakiit, Dedek gimana nanti? Seumur-umur jarang demam ya, sekalinya demam saat itu temp gue 39,8 derajat Celcius..😎 Capek, sakit, ngantuk, perasaan bersalah, campur aduk jadi satu. Pengalaman pertama yang nggak akan terlupa rasanya. Baru ngeh, makanya ada kata-kata "pejuang ASI" itu karena itu ya.. Karena memang, intinya semua adalah, perjuangan.

Setelah itu, apa yang gue lakukan? Rasanya gue sampai pada titik pasrah. Berhenti nangis, dan mulai mencari solusi. Untung misua pengertian ya, bolak-balik nyemangatin gue, ngerawat gue yang lagi kaya gitu, tanpa marah tanpa kesal. Gue pun tetep nyusui Dedek langsung. Seengganya gue mikir, masih jauh sakitan kontraksi, nggak apa, nggak apa.. And then, paracetamol 500 mg, bolak-balik gue minum (sesuai dosis lho tapi). Kompres panas buat booby yang bengkak, gue telatenin, pompa, gue jabanin, gue bela-belain deh pokoknya, demi sehat. Walaupun rasanya waktu itu udah pengen nyerah aja, tepar aja, gegoler aja. Haha.. Oh ya, dan satu hal penting, akhirnya gue nenenin juga booby yang bengkak itu ke Dedek. Keputusan itu, murni ya, gue ikut intuisi gue aja. Tiba-tiba aja gue beraniin diri, gue putuskan untuk menerjang rasa sakitnya. Mungkin ini yang dinamakan naluri ibu ya.. Dan Alhamdulillah, kondisi gue berangsur membaik. Seenggaknya, dalam dua tiga hari berikutnya, demam gue turun, dan booby kiri sudah tidak bengkak dan nyeri. Tinggal nyeri nipple lecet saja, Alhamdulillah.. Ternyata, isapan si Dedek jadi salah satu faktor kesembuhan gue. Makasi banyak ya Dedek.. 😊

Dalam perjuangan mengASIhi ini pula, gue akhirnya bertemu dengan profesi baru, konselor laktasi. Ya, karena tidak tahan lagi dengan nipple lecet kanan kiri, juga karena gue sendiri masih banyak bingung dengan teknik dan dunia menyusui, akhirnya gue putuskan untuk datang ke poli laktasi, setelah sebelumnya banyak konsultasi via online. Untungnya konselor laktasi tersebut kakak kelas sendiri, hehe, jadi bisa lebih lepas. Jujur aja gue khawatir kalau posisi atau perlekatan si Dedek selama itu salah, atau Dedek punya kelainan macam tongue tie. Habis, sakitnya kok makin nemen, padahal udah seminggu lewat. Tapi, setelah datang langsung dan diperiksa oleh konselor laktasi tsb, yang ditemukan hanya posisi saja yang perlu sedikit diperbaiki. Perlekatan Dedek sudah baik, lidahnya tidak ada kelainan, berat badan pun naik. Haha.. Emang ini judulnya mah, anaknya pintar nyusu, ibunya yang masih dodol. Hehe.. Hampir dua jam gue, misua, dan Dedek berkunjung ke poli laktasi, dan Alhamdulillah, gue belajar lagi banyak hal mengenai dunia menyusui.

Sekarang, usia Dedek sudah mau dua bulan. Makin pinter nyusunya, makin banyak dan lama. Haha.. Tapi kerasa sih, frekuensinya berkurang. Alhamdulillah, udah nggak berasa lagi sakit macam disilet kaya dulu itu. Menyusui jadi jauh lebih menyenangkan. Sambil ngobrol, cubit-cubit pipinya yang macam pao, ngeliatin mukanya yang innocent, senang lah ya. Cuma yaa, nggak selamanya juga nyusu mulus lancar jaya macam itu. Haha.. Tetep masih ada dramanya, kaya kemarin, tau-tau Dedek ngamuk nggak jelas pas lagi nyusu. Teriak kaya marah gitu, terus nangis. Hueee.. Gue pun masih belum bisa disiplin pumping, paling sehari dua kali pumping ASI itu aja Alhamdulillah. Padahal bulan depan udah mulai kerja nih, udah mulai ninggalin Dedek.. Phew.. Gue masih belum bisa manajemen waktu dengan baik sih ya, dan ya si Dedek pun masih sering itungannya buat nyusu, atau nggak kalau nggak nyusu ya dia perlu digendong, dimandiin, diajak main, diganti popok, nah itu lah, gue belum terlalu pintar bagi waktu. Jadi kalau ada waktu kosong, rasanya mending untuk mandi atau tidur atau makan aja deh, daripada pumping. Haha..

Yah, kira-kira begitulah cerita gue tentang mengASIhi Asa. Banyak dramanya ya? Haha.. Nggak apa lah, namanya hidup, ya pasti ada drama. Dari drama itu lah gue belajar agar lebih baik lagi ke depannya #tsaaaaah #ceileeeeh Hahaha.. Doain yaa gue bisa terus istiqomah mengASIhi Asa sampai lulus S3 ASI. Hehe.. Ya namanya hak nya dia, ya kudu dikasihin kan ya.. Hehe.. Moga-moga aja lancar, nggak ada rintangan yang berarti. Aamiin.. Itu aja dulu cerita gue. Salut bener deh sama seluruh ibu-ibu di dunia, para pejuang ASI, yang bisa mengASIhi anak-anaknya tanpa putus asa.. Salute! Walaupun tetep, nggak kalah hormt gue untuk para ibu di dunia.. Iya memang memberikan ASI adalah perjuangan, tapi dengan menjadi seorang ibu saja, Anda adalah pahlawan. Menjadi ibu toh bukan hanya perkara memberi ASI, begitu banyaaaaaaak hal lain yang perlu diperjuangkan. So, mau ibu kasih full ASI, semi campur sufor, atau full sufor, ibu tetaplah ibu. Pasti mau yang terbaik untuk anak-anaknya, dan tiap ibu, punya pandangan serta pilihan sendiri untuk membesarkan anak-anak.

Akhir kata, see ya at next post! Kuy, semangat terus untuk jadi ibu terbaik bagi anak-anak kita! Semangat semangat semangaaaat!! 😁

Saturday, February 11, 2017

Sedikit dari Emak Baper: Untuk Dedek Asa

Dear Dedek..

Dedek sekarang berusia 3 minggu lebih. Alhamdulillah, Mama udah lebih paham dan mengenal Dedek sekarang, jauh lebih baik dibanding awal-awal Mama dipertemukan dengan Dedek. Mama juga senang banget Dek, udah bisa nyusuin kamu pakai satu tangan, udah bisa gendong kamu tanpa canggung, udah lancar mandiin kamu, ganti popok kamu, dan lumayan bisa ngira jam-jam kamu lapar atau haus. Alhamdulillah.. Sekarang Mama nggak nangis lagi kalau nyusui kamu, Dek, hehe. Iya, dulu kan sempat nyeri banget Mama pas nyusui kamu, karena lecet-lecet di PD Mama. Alhamdulillah, udah nggak seberapa sakit. Sakit-sakit karena PD bengkak juga sudah jarang datang. Untunglah, demam tinggi Mama kemarin-kemarin juga hanya berkunjung tiga hari. Jadi Mama bisa semangat lagi deh main sama Dedek..😊

Dek, Mama mungkin masih jauh dari sosok ibu yang sempurna untuk kamu. Walaupun Mama sendiri tidak percaya kalau sempurna itu ada ya, hehe. Yah, tapi Mama juga nggak tahu, apakah yang Mama lakukan selama ini untuk kamu, sudah bisa dibilang baik atau tidak. Untuk hal itu, Mama minta maaf ya Dek. Tapi percayalah, I'm giving all the best I can do, for you. Yes you, my little priceless one. I love you, dari sejak dulu kamu ada di perut Mama, di saat bahkan Mama belum tahu rupamu seperti apa. Mungkin ini yang mereka katakan "unconditional love" yaa.. Hihi.. Dan Dedek, Mama harap Mama bisa jadi ibu yang baik, sangat baik, untuk kamu ya. Yang bisa menyayangimu selalu, dengan baik, menjagamu, dengan baik, mengajarimu segala sesuatunya, dengan baik, sampai mengantarmu menjadi manusia seutuhnya, yang baik pula, dan bisa menorehkan prestasi serta segudang manfaat baik di dunia ini. Aamiin.. Sama-sama berdoa dan berjuang ya Sayang..😊 Doa Mama selalu menyertaimu, I love you..