Tuesday, April 7, 2015

Jadi Ceritanya...

Jadi ceritanya, ini tulisan random aja. Haha.. Yah, random aja tiba-tiba saya pengen aja gitu, nulis-nulis lagi di sini. Mungkin karena udah seharian ini gak main SW kali ya. ATM rusak, kalau malam di sekitar juga sepi, warung-warung tutup jadi nggak bisa beli pulsa, jadi otomatis seharian nggak bisa internetan dari smartphone dan main Summoner's War kaya biasanya. Hahaha.. Oke lah, penting banget itu saya ceritain segala. Haha. Harap maklum deh, karena visi saya saat ini adalah bukan untuk menulis sesuatu yang berbobot yah, tapi memang murni karena pengen aja tulas tulis apa yang dari tadi lewat-lewat mulu di benak saya.

Hmmh.. Oke. Jadi ceritanya, saya baru saja kesal. Kesal kenapa? Kesal karena hal yang nggak penting sebenarnya. Kesal karena ternyata saya sudah membuang cukup banyak waktu dan energi demi menyimak sesuatu yang hanya memancing emosi saya. Dan sebenarnya kalau dipikir-pikir lagi, ih nggak penting banget saya emosi cuma karenanya! Huff.. Tapi, gimana ya, saya gampang banget emosi sih. Apalagi di masa-masa pergejolakan hormonal ini. Hahaha.. Sebenarnya, bukan emosi yang marah-marah nggak jelas gitu sih. Sebenarnya, lebih ke arah, kecewa. Semua berawal dari berita online. Berita online dengan headline yang sedap dan gurih, yang tanpa membaca isinya aja, udah kebayang, akan seperti apa reaksi-reaksi yang muncul dari pembaca. And thanks to technology, reaksi pembaca itu pun bisa langsung ketahuan, terpampang jelas di kolom komentar, walaupun bisa saja yang meninggalkan komen di sana bukan pembaca sebenarnya. Yah, thanks to technology lagi ya, seakan-akan semuanya bebas dan berhak berbicara apapun. Cuma sayangnya, nggak jarang, yang terjadi malah akun-akun yang (mengaku) pembaca itu, meninggalkan komentar dengan tidak bijak. Iya, tidak bijak. Bukan jadi ajang diskusi yang enak, malah jadi ajang saling ejek dan menjelekkan. Saling hina, saling caci. Ini lah beberapa contohnya..

"Kaum berakhlak emang tipikal *** ini, otaknya di pangkal paha..."

"Eh guoblok! klo Korupsi merugikan negara&rakyat. tp ***blablabla*** (-skip.karena.kepanjangan) termasuk mensubsidi kunyuk2 bodoh seperti anda!!!"

"You know what else they are famous for? For being 100x smarter than smartass like you.." 

Hm.. Cuma karena satu berita itu aja. Idealnya kolom komentar itu kan, biar bisa diskusi nggak sih? Kalau ada yang pro kenapa, kontra kenapa. Siapa tahu dari diskusinya muncul solusi gitu. Tapi kayanya itu cuma ada di angan-angan. Kebanyakan yang kejadian tipikal kaya yang di atas itu deh. Udah akunnya anonim nggak jelas semua. Kita nggak tahu toh, mereka-mereka itu apa benar memang pembaca atau pihak-pihak lain yang 'bekerja' karena ada kepentingan tertentu? Misi untuk mengadu domba? Bisa jadi. Menjatuhkan pihak tertentu? Bisa jadi. Well, di era dunia tanpa batas kaya sekarang, skenario apapun rasanya masuk akal dan bisa kejadian toh. Ya itu lah makanya. Kecewa aja, masih banyak nemu beginian. Walaupun sekarang siapapun berhak untuk bicara, apa harus bicara dengan segitu kasarnya? Kan nggak bertanggung jawab. Jadi kayaknya tuh, orang-orang nggak peduli lagi sama pepatah "mulutmu, harimaumu". Gak takut efek buruknya apa ya? Bisa melukai hati orang lain kan? Bisa juga dituntut terus urusan sama penjara kan? Iya gak? Itu tuh, udah banyak kejadian kan yang cuma karena tulisan di dunia maya, jadi dikurung penjara di dunia nyata. Bisa toh artinya? Apa karena mereka bicara di dunia maya, dan nggak akan bisa ketahuan mereka siapa? Padahal lho, nggak nyaman banget dih ngeliatnya. Bikin kesel lho. Jadi bikin mbatin, Ya Allah, segini rendahnya ta moral orang-orang di negeri saya? Segini nya nggak beretika kalau bicara? Mana yang katanya negara Indonesia, adatnya orang timur, penuh sopan dan santun.. Mbatin ya, mbatin.. Apalagi masa-masa saya gampang emosi begini. Haha.. 

Eh terus ya, abis kesel baca itu berita online, saya nonton TV. Eh lha ya kok, sama.. Yang saya tonton pun, sedang memperlihatkan suasana di mana ada dua orang berseteru. Dua orang, dalam acara pencarian bakat, yang digadang-gadang adalah suatu tampilan acara yang real tanpa rekayasa skenario apapun. Haduh. Cuma karena beda pendapat, harus banget teriak-teriak nggak jelas? Dan kalau pun, pendapat kamu nggak bisa diterima sama orang lain, harus kah tetap memaksakan kalau pendapat kamu itu yang paling benar? Sementara batas benar dan salah itu, dalam menilai seseorang, sulit sekali rasanya untuk dilihat. Menilai seseorang, seobjektif mungkin, pasti ada subjektifnya. Kecuali kalau kaya kita menilai seseorang dengan ujian tertulis misalnya, itu kan jelas, nilainya ya dilihat dari benar salah nya dia jawab pertanyaan. Thaaat's why, nggak usah berlebihan lah kan bisa. Acara itu kan ratingnya tinggi, katanya ditonton baaanyaaaaak orang, anak-anak, dewasa, tua, muda, iya toh? Masa memperlihatkan hal nggak dewasa begitu? Kurang pantas rasanya. Demi apa sih? Rating? Karena kebanyakan masyarakat kita terhibur kalau lihat orang ribut? Sensasi? Harga diri? Padahal udah bagus-bagus itu acara, jadi rusak kan. Karena kesannya jadi urakan. Yang bicara juga jatuhnya, jadi bicara seenak jidat. Bagaimana pun faktanya, kalau dia bicara A, ya yang benar adalah A itu. Orang lain juga harus bilang A itu yang benar. Lho kok maksa?

Sampai sini, kelihatan kan bodohnya saya.. Bisa emosi hanya karena dua hal nggak penting ini. Haha.. Kalau pacar denger, pasti deh saya diceramahi lagi. Ha ha ha.. :p Hm, eh tapi sebenernya saya juga melakukan semacam generalisasi ya.. Belum tentu semua orang seperti itu, walaupun kebanyakan yang saya temui seperti itu. Yah, positive thinking saja, siapa tahu, emang apesnya saya ketemunya sama orang-orang yang sukanya bikin kesal seperti itu. Haha.. Karena toh buktinya, saya juga nemu kok, yang bikin adem di dunia maya. Hehe.. Salah satunya, tumblr milik seseorang, yang entah lah, selalu sukses membuat mata saya siaga membaca seluruh posting barunya yang belum saya baca. Menghibur, mengedukasi, mengetuk pintu hati kadang. Membuat saya bisa lebih sadar lagi, dengan esensi hidup. Iya. Baca tumblr itu, jadi seperti bicara sama Mama, di mana selalu ada transfer ilmu di dalamnya. Alhamdulillah kan ya.. Hehe.. Mau tau akunnya apa? Bisa dilihat di following list saya di blog ini yak. Hehehe..

Nah. Jadi ceritanya, sampai di sini dulu yak. Saya ngantuk. Hahaha.. Dan, belum sempat bikin kuisioner untuk besok dikonsulkan. Hahahaha.. So, thanks for reading this. Bah ha ha ha ha.. Dan, maaf lah ya, kalau saya terlalu nyampah.. :p Akhir kata, see ya next post! ^^

Thursday, January 29, 2015

Curhat Mereka

Saya orangnya seneng curhat. Hampir ke semua orang yang saya kenal, pasti kalau ada apa-apa saya cerita sama mereka. Biar bisa lebih lega. Walaupun emang masalahnya nggak selesai sih. Tapi tadi siang, gantian. Saya yang dicurhati. Dicurhati sama orang yang baru saya temui di hari itu. Sama pasien saya, waktu mereka datang berobat ke saya..

"Suami saya nikah lagi, Dok. Saya lagi sakit, tapi malah ditinggal suami.." ujar salah seorang ibu, yang memiliki kelainan liver.

"Anak saya baru meninggal, Dok. Anak pertama saya.." ujar seorang ibu yang lain, yang sedang berjuang melawan diabetes dan hipertensi nya.

And guess what.. Saya bingung mau respons bagaimana. Padahal udah bolak-balik saya sering curhat. Dicurhati temen-temen juga sering.Tapi kalau udah nangani pasien yang curhat, saya agak mati kutu. Saya hanya boleh berempati, tidak bersimpati. Dan entahlah, dalam beberapa kesempatan, rasanya sulit. Saya takut salah ngomong.

Saya cuma bisa bilang, "Sabar ya Bu.." atau "Biar dibalas di akherat ya Bu.." and another cliche soothing words. Did it help them? I don't know. I just can hope, it did help. I wish.. 

Dan pastinya, saya juga berharap, advis demi advis yang saya berikan, obat demi obat yang saya resepkan, juga pemeriksaan demi pemeriksaan yang saya lakukan, bisa membantu mereka, para pasien saya, untuk bisa sembuh dari sakit yang mereka derita.

Amin. Amin Ya Rabbal Alamin..

Saturday, January 24, 2015

Mamaku Bintang

Mama. Mamam. Mami. Mamski. Begitulah aku panggil Mama. Ganti-ganti gitu deh, sesuai mood dan keinginanku saat itu. Hehe.

Kalau Mama ditanya sukanya apa, pasti jawabnya bingung. Seperti saat kapan hari aku akhirnya punya gaji pertama, dan ingin membelikan Mama sesuatu.

"Ma, kalau tas batik kaya gini suka nggak?" ujarku di suatu saat sambil menunjukkan foto tas batik lucu yang dijual di suatu online shop.

"Hmm, ya, suka."

"Kalau yang sweater ini, bagus nggak Ma? Suka?"

"Ya, suka juga."

"Lebih suka yang mana Ma?"

"Ya, sama aja Kak."

"Hmm, jadi bingung ni Mams mau ngasih yang mana. Hahaha.."

"Ya terserah Kakak aja, Mama mah suka-suka aja kalau Kakak yang kasih.."

Begitulah Mama kalau ditanya. Hehe. Tapi aku cukup tahu apa yang Mama suka. Mama suka baju-baju yang simpel dan nyaman dipakai. Dan karena perawakan tubuhnya yang cukup tinggi besar, Mama lebih sering beli baju di pojok busana laki-laki. Hehe. Mamaku juga hobi membaca. Buku-buku yang ia suka baca, kebanyakan buku biografi tokoh yang tebel-tebel, atau Al Quran. Mama juga seorang pegawai negeri, yang nyambi sebagai dokter hewan di luar jam kerja. Mama nggak buka praktik, tapi on call, tergantung ada pasien yang membutuhkan atau tidak. Sehari-harinya, Mama lebih menghabiskan waktu sebagai pegawai negeri. Kalau ditanya kenapa memilih bekerja seperti itu, Mama pernah berkata,

"Biar pulangnya bisa sore Kak, jadi masih bisa ketemu kamu sama adik-adik kamu."

So sweet kan Mamaku? Hehehe..

Mama itu, semacam gabungan antara absurd dan super. Hehehe. Sebenernya agak susah juga sih ngejelasinnya gimana. Absurd itu, semacam anti mainstream lah ya. Iya, anti mainstream. Mama bukan tipe ibu-ibu yang tiap pagi bikinin Papa secangkir kopi atau masakin anak-anaknya sarapan. Dulu, sempat sih, kepikiran dan agak nggak terima kenapa Mama nggak seperti mama-mama lainnya. Nggak suka masak, hobi tidur, jarang bilang sayang ke anak-anaknya, dan lain-lain, dan lain-lain. Tapi sekarang, perasaan itu mah cerita lama. Hehe.. Seiring aku bertambah besar, aku semakin mengerti dan memaklumi. Semua punya alasan, alasan yang bisa diterima.

Oh ya, aku sama Mama punya satu kesamaan. Kami sama-sama hobi bercerita dan mengomentari apa-apa yang sedang terjadi saat itu. Yup, apa saja. Mulai dari berita di TV, headline koran, sampai perlakuan kakak-kakak kelasku di sekolah, atau tentang pekerjaan Mama di kantor. Kalau sudah ngobrol, wah, bisa sampai tengah malam baru tidur. Dan, selalu ada yang ajaib dalam tiap obrolanku dengan Mama. Iya, ajaib. Karena entah mengapa, aku merasa selalu ada pelajaran yang aku petik dari tiap obrolan kami. Pelajaran tentang hidup.

"Bekerja itu Kak, kamu nggak perlu ngejar uang. Yang penting keterampilan kamu. Uang akan mengalir sendirinya seiring keterampilan kamu meningkat," kata Mama suatu malam. Yang sampai sekarang masih sering aku ingat-ingat, di saat aku sedang kalut memikirkan pemasukan dan pengeluaran.

"Yang pasti, berkomitmen dengan cowok itu punya satu risiko Kak. Patah hati. Dan itu rasanya sakit. Kamu harus siap dengan risiko itu. Kalau pun kamu ngerasain itu, Mama nggak mau ya nanti kamu sampai patah semangat. Kamu tetep harus sisakan sekian persen dari hati kamu, buat kamu sendiri," itu nasihat Mama waktu aku lagi pertama kalinya cowok yang aku suka menyatakan perasaannya.

“Namanya perempuan Kak, harus kuat..”

Ya, itulah Mamaku. Biar nggak suka masak (Papa masih lebih sering masak enak malah di rumah, hehe), dan lebih sering bolak-balik ke luar kota karena pekerjaannya, Mama tetep Mama. Perempuan super dan tangguh. Di saat apapun, bahkan di saat Papa mengalami masa-masa jatuh. Mama tetap tegar, sabar, dan terus berjuang. Semangat juang Mama itu, seperti bintang di langit malam. Selalu terlihat. Berpendar dan indah. Pemikiran-pemikiran Mama itu, selalu membuatku bergumam setuju, dan pada akhirnya aku camkan dalam hidupku. Mungkin dari luar, Mama terlihat cuek dan keras hati. Tapi sesungguhnya, Mamaku adalah seorang wanita yang lembut. Hanya saja, mungkin sulit bagi Mama untuk mengekspresikannya. Hehe..

Ya, itulah Mamaku. Mama yang selalu bersinar, setidaknya menyinari aku, Papa, dan ketiga adik-adikku. Sesuai dengan namanya, Bintang. :)

...
"Tulisan ini disertakan dalam kegiatan Nulis Bareng Ibu. Tulisan lainnya dapat diakses di website http://nulisbarengibu.com